Home / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 7 - Dunia Tanpa Rachel

Share

7 - Dunia Tanpa Rachel

Author: Siez
last update publish date: 2026-07-23 12:55:51

Gerard Winston masih berlutut di tengah lantai kayu yang berdebu itu. Pakaian pasien rumah sakitnya yang tipis sudah kotor, darah dari bekas infus di lengannya menetes pelan ke lantai, dan pelipisnya yang diperban kembali mengeluarkan darah segar.

"Rachel..."

Namanya ia bisikkan seperti sebuah doa yang tidak pernah dijawab.

Di luar, suara ambulans dan suara teriakan para pengawal keluarga Winston semakin mendekat. Tamara Winston yang panik karena putranya kabur dari rumah sakit, menyusul ke sana dengan wajah yang pucat pasi.

"Gerard! Anakku!"

Tamara berlari masuk ke dalam apartemen kosong itu dan memeluk putranya dari belakang. Tubuh Gerard yang tinggi dan dulu selalu hangat, kini dingin dan gemetar seperti es.

"Sayang, ayo pulang. Kita pulang, ya? Lupakan wanita itu. Dia sudah pergi. Dia tidak pantas untuk kamu." tukas Tamara.

Gerard tidak menjawab. Ia membiarkan ibunya memeluknya, tetapi matanya tetap kosong menatap sudut ruangan tempat dulu meja belajar kecil Rachel berada. Di sudut itulah, dulu Rachel sering belajar sambil memakan biskuit murahan, dan Gerard sering menemaninya sambil berpura-pura membaca buku, padahal ia hanya menatap Rachel.

Pada hari itu, di dalam apartemen kosong yang bau apek itu, sesuatu di dalam diri Gerard Winston mati.

Bukan hanya cintanya yang mati. Tetapi Gerard yang ceria juga ikut mati. Kini hanya ada tubuh Gerard tanpa jiwa. Seperti zombie.

*

Setelah kejadian di Bronx itu, Gerard dibawa kembali ke rumah sakit dan dirawat selama dua minggu. Secara fisik, lukanya sembuh dengan cepat. Pelipisnya yang robek karena pukulan Frank Vels dijahit dan meninggalkan bekas luka tipis yang akan menjadi pengingat abadi.

Namun, secara mental, Gerard hancur berkeping-keping.

Ia kembali ke mansion keluarga Winston di Upper East Side, tetapi ia tidak lagi menjadi Gerard yang sama. Ia mengurung diri di dalam kamarnya yang seluas apartemen Rachel dulu. Ia tidak mau kuliah. Ia tidak mau makan. Ia tidak mau bertemu dengan siapa pun.

Richard dan Tamara Winston yang biasanya sangat keras dan berwibawa, untuk pertama kalinya merasa tidak berdaya. Mereka telah mendidik Gerard untuk menjadi pewaris yang sempurna, tetapi mereka tidak pernah mendidiknya bagaimana cara menghadapi patah hati yang begitu dalam.

Gerard mulai membenci kedua orang tuanya. Sangat membenci.

Setiap kali ia melihat wajah ibunya, ia akan teringat kata-kata Rachel di pesan terakhirnya: Ibumu menawarkan aku uang. Aku menerimanya.

Bagi Gerard yang polos, ia menyimpulkan satu hal yang sederhana dan menyakitkan: Ibunya telah membeli Rachel dengan uang. Ibunya telah menghancurkan satu-satunya kebahagiaan dalam hidupnya dengan uang kotor itu.

"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu lakukan itu kepadaku?" teriak Gerard suatu malam ketika Tamara mencoba masuk ke kamarnya membawakan makan malam.

"Gerard, Ibu melakukan itu demi kebaikan kamu, Sayang. Wanita itu tidak selevel dengan kita. Dia hanya gold digger!"

"DIAM! Jangan pernah katakan kata selevel itu lagi di depanku!"

Gerard membanting nampan makanan itu hingga pecah berantakan. Matanya merah karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis.

"Apa Ibu pikir semua orang bisa dibeli dengan uang Ibu? Apa Ibu pikir cinta bisa dibeli?" tanya Gerard penuh emosi.

"Sayang ... ibu hanya melakukan yang terbaik untukmu."

"Bukan untukku! Tapi untukmu sendiri, Ibu! Atau masih pantaskah aku memanggilmu dengan sebutan ibu? Kamu seperti monster, Mrs. Winston. Sangat menakutkan! Dan jangan dekati lagi aku. Anggap saja anakmu ini sudah mati!" bentak Gerard penuh emosi. 

Sejak malam itu, Gerard tidak pernah lagi berbicara dengan ibu. Ia juga tidak berbicara dengan ayahnya. Ia menganggap kedua orang tuanya sebagai musuh yang telah merampas Rachel darinya.

Depresi berat mulai menggerogoti Gerard.

Ia tidak tidur selama berhari-hari. Ketika ia tertidur, ia selalu bermimpi tentang Rachel yang berdiri di bawah hujan dan berkata, "Aku bosan sama kamu." Ia akan terbangun dengan napas terengah-engah dan keringat dingin.

Pikirannya mulai dipenuhi dengan bisikan-bisikan gelap.

"Untuk apa hidup kalau orang yang paling kamu cintai meninggalkan kamu karena kamu tidak berharga? Untuk apa menjadi pewaris Winston Group kalau kamu bahkan tidak bisa menjaga wanita yang kamu cintai?"

Srtt ....

Gerard menyayat pergelangan tangannya dan cairan merah itu mengalir deras yang lama kelamaan membuat penglihatan Gerard semakin buram saja. Pria itu pingsan dan mungkin berharap kalau dia akan pergi dari dunia ini selamanya. Dunia tanpa Rachel seperti neraka saja. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAK BOS MAU CLBK   81 - Gerard Di Rumah Sakit

    Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD

  • PAK BOS MAU CLBK   80 - Kenapa Dia Bisa Pingsan?

    Ibu Kara yang baru sampai, ia melihat Rachel berdiri di ambang pintu dengan perut besar terlihat jelas, langsung menarik tangan Rachel masuk ke dalam gudang, ke balik tumpukan karung pakan ayam yang tinggi."Rae! Masuk! Masuk dulu, Nak! Jangan di sini! Nanti perempuan itu lihat kamu!"Ibu Kara memeluk Rachel erat, menyembunyikan tubuh Rachel yang gemetar di balik karung."Bu... Gerard... dia pingsan, Bu," bisik Rachel dengan suara putus-putus, menangis di bahu Ibu Kara."Ibu tahu, Nak. Ibu lihat. Tapi kamu jangan keluar, Nak. Kamu janji tidak mau memperlihatkan wajah, kan? Kalau kamu keluar sekarang, semua janji kita gagal, Nak. Bayi kamu bisa ketahuan, Nak."Rachel mengangguk di dalam pelukan Ibu Kara, tapi matanya tetap mengintip dari celah karung pakan, melihat Gerard dari kejauhan.Vincent berdiri mematung, melihat dua wanita yang mencintai pria yang sama, dalam versi yang berbeda, berada di tempat yang sama tapi tidak bisa saling mendek

  • PAK BOS MAU CLBK   79 - Lirikan Elena

    "TOLONG!" teriak Vincent dengan suara yang memecah seluruh lembah Millfield. Teriakan panik, teriakan takut, teriakan orang yang merasa bersalah karena hampir saja membongkar kebenaran."Gerard! Hei! Bangun! Gerard!"Tidak ada jawaban. Napas Gerard pendek-pendek, tidak teratur. Wajahnya yang biasanya pucat karena terlalu banyak kerja di ruangan AC, sekarang pucat kebiruan. Bibirnya mulai kering.Elena yang sedang jongkok di kandang ayam dengan sarung tangan plastik, sedang menjelaskan kepada tim quality control tentang standar kebersihan W-Hotel, mendengar teriakan Vincent."Gerard?"Ia menoleh. Telur organik yang sedang ia pegang untuk difoto, jatuh dan pecah di tanah. Kuning telur premium yang harganya lima dolar per butir di New York, pecah begitu saja.Begitu melihat Gerard tergeletak, Elena langsung berlari."Sayang! Ya Tuhan!"Ia berlari dengan rok span hitam dan coat bulu putih, dengan boots mahal yang haknya tingg

  • PAK BOS MAU CLBK   78 - Vincent Bohong

    Vincent menatap Gerard, menatap tongkat hitam berukir W itu, menatap cara Gerard berdiri yang masih tertatih."Serius? Kamu tidak kenal aku?" tanya Vincent bingung."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Pak Vincent?""Harusnya kamu kenal aku. Kita pernah ketemu. Kenapa sekarang kamu seperti tidak kenal sama sekali?" Vincent benar-benar heran.Gerard menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia jujur kepada orang asing tanpa disuruh Zack atau Tamara."Aku amnesia. Setelah kecelakaan beberapa bulan lalu. Sejak itu aku tidak ingat apa-apa. Tidak ingat masa lalu." jelas Gerard.Vincent mengangguk pelan. Wajah tegangnya berubah menjadi prihatin."Oh... jadi begitu. Pantas..."Gerard menatap Vincent lekat-lekat."Jadi, kamu kenal aku? Apakah kita sangat dekat?" tanya Gerard, suaranya mulai pelan tapi menekan.Vincent menggeleng cepat, mencoba terlihat santai."Aku han

  • PAK BOS MAU CLBK   77 - Ke Millfield

    Elena yang tidak menyadari ketegangan itu tersenyum lebar dan melambai ke Gerard."Sayang, sini! Ini dia peternakannya! Bagus kan? Udara segar banget kan?"Gerard berjalan pelan dengan tongkat, mendekati Vincent yang masih melotot."Hi, selamat siang. Kalian dari Kara Farm?" sapa Gerard dengan suara tenang, suara CEO yang dingin, tanpa tahu bahwa pria di depannya adalah orang yang selama ini menjaga wanita yang ia mimpikan setiap malam.Vincent masih tidak bisa berkata-kata.Setelah sapaan awal yang canggung, Elena langsung masuk ke mode profesional. Ia mengeluarkan clipboard, memberi isyarat ke tim quality control untuk mulai foto-foto kandang, cek suhu cooler, dan ambil sampel telur langsung dari sarang."Oke, kita mulai dari kandang ayam ya. Saya mau lihat kebersihan, sirkulasi udara, dan pakan," kata Elena sambil memakai sarung tangan plastik.Tim quality control langsung menyebar. Ibu Kara dan Pak Osborn mengikuti Elena dengan se

  • PAK BOS MAU CLBK   76 - Kedatangan Gerard

    Elena turun dari armrest, jongkok di depan Gerard, memegang kedua lutut Gerard dengan lembut."Ayolah, sayang. Sekali saja. Biar sekalian refresh otak.""Refresh otak?""Iya. Kamu sejak operasi itu selesai dan kamu pulih, kamu terlalu sibuk. Terlalu lelah. Kamu kerja setiap hari, Senin sampai Minggu. Tidak pernah libur. Ayahku juga bilang kamu butuh udara segar, bukan hanya AC kantor."Gerard diam, tidak menjawab.Elena melanjutkan, dengan suara yang dibuat selembut mungkin."Setidaknya bisa melihat alam, sayang. Aku sudah cek di sekitar Vermont banyak tempat yang menarik. Ada hutan maple yang daunnya masih merah, ada danau yang beku, ada peternakan-peternakan kecil yang cantik. Bisa melepaskan penat. Kamu kan suka alam, sayang. Dulu waktu di Wharton kamu suka hiking, kan?"Gerard menatap Elena. Kata hiking terasa asing. Ia tidak ingat pernah suka hiking. Semua cerita tentang Wharton terasa asing. Tapi kata alam, kata melepaskan penat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status