Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 524. KELUARGA BESAR DATANG

Share

524. KELUARGA BESAR DATANG

last update Last Updated: 2026-01-04 12:24:26

“Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.

Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.

“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.

Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.

Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   535. HAMIL?

    Wanda melangkah gontai menuju koridor yang sepi. Di sana, ia membiarkan air matanya tumpah, menangis seorang diri meratapi kehancuran hubungan dengan ibu kandungnya.Sementara itu, di depan ruang penyidik, Cipta baru saja melangkah keluar. Wajahnya tampak lelah namun tetap profesional. “Gendis, sekarang giliran kamu ke ruangan. Nanti baru gantian dengan Rain," ucap Cipta lembut.“Oke, Mas," sahut Gendis. Sebelum melangkah masuk, ia menyempatkan diri memeluk Rain erat, mencari kekuatan sejenak dari suaminya sebelum menghadapi proses hukum yang melelahkan itu.“Bagaimana tadi?" tanya Rain pelan setelah Gendis masuk. Ia masih duduk di samping sofa, menjaga Bima dengan penuh kewaspadaan.“Aman. Yuni memberikan keterangan yang jujur dan sangat kooperatif. Tinggal pemeriksaan terakhir nanti... Mama," jawab Cipta sambil mengalihkan pandangannya pada Bima yang masih tertidur pulas, seolah tak terganggu oleh badai yang sedang terjadi di sekitarnya.Tak lama kemudian, Yuni keluar dari ruang pem

  • PELAN PELAN SAYANG   533. BUKAN HUKUM KARMA

    “Ini... Istri Pak Cipta?” tanya dokter ahli forensik itu dengan nada ragu, saat ia baru menyadari bahwa wanita yang dengan telaten menggendong Bima adalah Wanda. “Iya, benar. Saya sendiri,” jawab Wanda sambil memberikan senyum tipis yang anggun namun tetap terlihat bersahaja. Dokter itu tampak sedikit terkejut dan segera memperbaiki sikapnya. “Oh... mohon izin, Bu Wanda. Mohon izin sebelumnya. Jadi... mereka ini keluarga Anda?” “Iya, Bima ini keponakan saya. Rain adalah adik saya, dan Gendis tentu saja adik ipar saya,” ucap Wanda menjelaskan hubungan mereka dengan jelas, menegaskan posisi Rain dan Gendis di bawah perlindungannya. Suasana di ruangan itu seketika berubah penuh hormat. Salah seorang petugas senior yang sedari tadi memperhatikan Rain tiba-tiba menyela dengan mata membelalak. “Mohon maaf, kami benar-benar tidak tahu kalau kalian satu keluarga. Pak Rain ini... Anda keponakan almarhum Komjen Kevin Wijaya, bukan?" tanya petugas itu, merujuk pada sosok Kevin yang merupa

  • PELAN PELAN SAYANG   532. SEMUA LENGKAP. KETEGANGAN TERJADI.

    Cipta masuk ke ruangan bersama beberapa anggotanya untuk memulai proses pemeriksaan lanjutan. Langkahnya sempat terhenti sejenak saat melihat keluarga besar ibu mertuanya sudah duduk memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. ​“Selamat siang...” sapa Cipta dengan suara berat dan tenang, berusaha menjaga profesionalitasnya meski di hadapan kerabat sendiri. ​“Nah, ini dia Cipta! Bagaimana ini? Apa proses hukum untuk mertua kamu sendiri masih mau dilanjutkan?” tanya sang paman dengan nada yang menuntut, seolah mengharapkan perlakuan khusus. ​Cipta berdiri tegap, merapikan pakaiannya sebelum memberikan jawaban yang lugas. Ia melirik sekilas ke arah Rain dan Gendis yang berada di ruangan sebelah melalui kaca penyekat. ​“Semua berjalan sesuai prosedur, Om. Saya harus menyelesaikan proses awal terlebih dahulu. Berkas laporan sudah lengkap, dan setelah ini tinggal melanjutkan ke tingkat berikutnya,” jawab Cipta tegas. ​“Kami mau penyelidikan ini dihentikan sekarang jug

  • PELAN PELAN SAYANG   531. KELUARGA IBU RAIN DATANG INGIN JADI PENJAMIN?

    Wanda segera mengirimkan foto pelat nomor taksi kepada suaminya melalui pesan singkat. Setelah itu, ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan senyum ramah yang merekah untuk sang sopir. Begitu pintu tertutup dan taksi mulai melaju, ia menyandarkan tubuhnya, mencoba meredam debaran jantung yang tak menentu. “Harusnya hari ini jadi hari yang sangat bahagia, Sayang...” bisik Wanda lirih pada dirinya sendiri. Tangannya merogoh ke dalam tas, lalu jemarinya menarik sebuah benda kecil dari sana. Ia menatap benda itu dengan tatapan haru; sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas. Senyumnya semakin lebar, matanya berkaca-kaca menahan air mata bahagia. “Mungkin jalannya memang harus kayak gini. Sampai di rumah nanti, aku bakal kasih tahu Mas Cipta,” gumam Wanda penuh janji. Ia menyimpan kembali benda berharga itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Meskipun saat ini keluarganya sedang dilanda prahara karena kasus sang mama, kabar tentang kehadiran nyawa baru

  • PELAN PELAN SAYANG   530. MASIH BISA MAKAN ENAK!

    Siang itu, SUV mewah milik Rain meluncur mulus membelah jalanan aspal kota menuju kantor pusat kepolisian. Di dalam kabin yang sejuk, suasana tampak jauh lebih cair berkat tingkah polos si kecil Bima. ​Yuni duduk di baris paling belakang bersama Bima, sementara Rain dan Gendis berada di depan. Sesekali Rain melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi interaksi di belakangnya. ​“Yuni...!” seru Bima, kembali menggoda asisten rumah tangganya itu dengan nada jenaka. ​“Bima... panggil Tante Yuni dong...” ucap Yuni sembari berakting merajuk dan mengerucutkan bibirnya. ​Bukannya patuh, Bima justru tertawa geli. Ia malah melemparkan sebuah boneka kecil ke arah Yuni dengan wajah nakal. ​“Papa, lihat deh. Bima jahil banget,” ucap Gendis lembut. Ia menoleh ke belakang, menyandarkan dagunya di sandaran jok mobil untuk memperhatikan putra semata wayangnya itu. ​“Bima...” tegur Rain pelan namun tegas dari balik kemudi. ​Seketika, Bima langsung duduk manis dan menurut. Ia berhenti melempar m

  • PELAN PELAN SAYANG   529. YUNI DIBAWA SEBAGAI SAKSI

    Rain bersiap mengenakan jaketnya, bersiap menuju klinik untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai psikolog reproduksi. Sebelum melangkah keluar, ia menghampiri istri dan anaknya. “Sayang, nanti habis makan siang kita ke kantor polisi untuk administrasi kelengkapan laporan. Bawa Bima juga, ya. Nanti saya pasti pulang dulu ke rumah buat jemput kalian,” ucap Rain dengan nada lembut namun penuh kepastian. ​Gendis yang sedang menyuapi Bima makanan ringan di ruang TV seketika menghentikan gerakannya. Wajahnya tampak ragu dan sedikit cemas. “Tapi... nanti kita akan bertemu Mama tidak di sana?” tanya Gendis lirih. Ketakutan akan konfrontasi yang menyakitkan masih membekas di hatinya. ​Rain berlutut di depan istrinya, mencoba memberikan rasa aman melalui tatapannya. “Cipta udah mengatur semua kondisi di sana supaya kalian nggak perlu berpapasan langsung. Kamu tenang aja, Sayang. Percayalah sama saya dan Cipta,” ucap Rain menenangkan. ​Ia kemudian merengkuh tubuh Gendis dalam pelukan han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status