INICIAR SESIÓN“Rumah sakit jiwa?” tanya Rain dengan mata membelalak, terkejut mendengar penuturan Hendri yang terasa seperti hantaman baru baginya. “Ya, aku sudah siapkan rujukan. Ini demi kesehatan mental Mama kamu, Rain. Rumah sakit jiwa enggak semenyeramkan itu,” ucap Hendri mencoba memberi pengertian, suaranya tenang namun mengandung desakan situasi yang genting. “Enggak, saya enggak bisa membiarkan Mama saya di sana... karena... saya berpikir kalau Mama saya di sana dalam jangka waktu yang lama, penyakitnya justru akan semakin parah. Situasi, lingkungan sekitar, dan... pasien di sana, itu semua akan memengaruhi mental Mama saya, Hendri!” ucap Rain dengan nada yang mulai meninggi, tersirat ketakutan besar di balik argumennya. Rain bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir di ruangan kantor Hendri sambil menggelung lengan kemejanya. Ia membayangkan ibunya yang kini harus berada di antara jeritan pasien lain dan jeruji besi yang lebih ketat dari lapas. Baginya, menempatkan Martha di san
“Sementara tidak menerima kunjungan dulu, ada masalah di lapas wanita!” ucap petugas lapas pada rekannya dengan nada panik. “Masalahnya apa?” “Salah satu tahanan melakukan tindakan kejahatan. Ibu Martha, tahanan di lapas blok C2,” ucap rekannya itu sembari bergegas mengambil perlengkapan medis tambahan. Mendengar pembicaraan sepintas itu, jantung Rain seakan berhenti berdetak. Tanpa pikir panjang, ia dan Rangga segera menerobos masuk menuju ruangan yang kini dijaga ketat oleh polisi dan sipir bersenjata. “Dilarang masuk, Pak!” tegas salah seorang petugas, merentangkan tangan untuk menghadang Rain dengan wajah keras. “Itu ibu saya!” tegas Rain dengan suara menggelegar yang sarat akan keputusasaan. Ia mendorong barikade petugas, menerobos masuk dengan paksa, dan langkahnya seketika mematung saat melihat pemandangan di depannya. Martha tengah terduduk lemas di lantai dengan kedua tangan terborgol ke belakang. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab oleh air mata yang terus mengal
“Kok...?” gumam Martha lirih. Matanya terbelalak menatap ujung jarum panjang itu. Di sana, di atas logam perak yang mengilat, ia seolah melihat cairan merah kental yang merayap turun. Dengan napas tersengal, ia segera meletakkan jarum itu di atas meja hingga menimbulkan bunyi dentang yang cukup keras. “Kenapa, Bu Martha?” tanya sang pelatih yang menyadari kegelisahan mendadak di wajah Martha. “Enggak, anu...” ucap Martha gugup. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menghalau bayangan mengerikan itu. Saat ia melihat kembali ke arah meja, jarum itu tampak normal. Tidak ada darah, hanya benang wol merah yang melilit di sana. “Kenapa, Bu? Apa ada kesulitan?” tanya pelatih itu lagi, memastikan. “Enggak kok, enggak apa-apa. Maaf merepotkan, ya...” ucap Martha, mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. “Ah, enggak masalah kok, Bu. Ayo, sekarang dilanjutkan lagi,” ucap pelatih itu sembari tersenyum ramah, lalu berpindah ke peserta lain. Mar
“Ya, halo?” sahut Rain tepat saat mereka berdua baru saja tiba di depan pintu utama gedung lapas. Ia melambatkan langkahnya, memberikan ruang bagi percakapan di telepon yang tampaknya cukup mendesak. Di saat yang bersamaan, ponsel di saku Rangga pun bergetar. Ia melihat nama istrinya di layar. “Ya, kenapa, Sayang?” sahut Rangga lembut begitu mendengar suara Della di ujung telepon. Ia berhenti melangkah, menjaga jarak agar tidak mengganggu Rain yang tampak mulai sibuk membahas proyek perusahaannya dengan nada serius. “Oke, saya kemungkinan belum bisa hadir. Saya wakilkan kepada Pak Rasyid dan Pak Angga,” ucap Rain menutup percakapan dengan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya sebagai pemimpin meskipun pikirannya sedang terbagi oleh kondisi sang ibu. Rain segera menoleh ke belakang, mendapati Rangga yang masih asyik berbicara di telepon. Ia kemudian memutuskan untuk duduk di sebuah kursi kayu panjang yang terletak di lorong, menunggu Rangga menyudahi panggilannya dengan santai samb
Dua orang petugas kepolisian bersiap mengantar Martha kembali ke sel. Suasana di koridor lantai empat itu terasa dingin, seiring dengan langkah kaki yang bergema di atas ubin porselen. “Nanti, kamu ke sel Mama, kan?” tanya Martha dengan suara bergetar. Ia menatap Rain seolah putranya adalah satu-satunya pegangan realitas yang ia miliki di tengah kekacauan memorinya. “Iya, Mama. Nanti Rain ke sana. Rain ada urusan sama Rangga sebentar, setelah itu langsung menemui Mama,” ucap Rain seraya memeluk ibunya dengan erat sebelum mereka benar-benar berpisah. Ia menghirup aroma rambut ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun hampir kehabisan. Martha mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu saat ia mulai melangkah pergi, dikawal ketat oleh dua orang polisi menuju blok tahanan. Punggungnya yang semakin ringkih terlihat begitu kontras dengan dinding beton penjara yang kokoh. “Rain, ini sih gawat,” ucap Rangga dengan nada rendah yang sarat akan kecemasan. Ia mengera
Suasana di ruangan itu seketika menjadi dingin dan sunyi. Martha masih terpejam, namun napasnya mulai memberat, seolah jiwanya sedang ditarik paksa kembali ke lorong waktu yang paling ia hindari. Ingatan tentang kematian Brawijaya bukan sekadar memori, melainkan luka menganga yang kembali berdarah. “Apa yang Tante lihat?” tanya Rangga pelan. Suaranya nyaris berbisik, takut memecah konsentrasi Martha yang sedang berada dalam kondisi semi-trans. Jemari tangan Martha bergerak gelisah, mencengkeram kain roknya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan gerakan patah-patah, seolah sedang memindai sebuah ruangan yang hanya ada di dalam kepalanya. “Putih...” ucap Martha pelan. Suaranya terdengar hampa. “Tembok putih,” ucapnya lagi. Bayangan rumah sakit tempat Brawijaya mengembuskan napas terakhir mulai memanifestasikan diri dengan jelas. Bau karbol dan kesenyapan yang mencekam seolah merayap masuk ke indra penciumannya. “Bu- bunga...” Ucap Martha saat melihat bunga putih di dal







