Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 619. DISERANG BALIK. BUKTI KUAT, LAWAN TAMAT?

Share

619. DISERANG BALIK. BUKTI KUAT, LAWAN TAMAT?

last update Last Updated: 2026-02-05 09:36:22

“Jadi... kami baru tahu kemarin malam kalau video lama kami itu digunakan untuk kejahatan,” ucap Andrew sembari menatap Angga dan Shasha bergantian. Tangannya menggenggam erat tangan Gina, seolah mencoba menyalurkan kekuatan atas rasa malu dan penyesalan yang membuncah.

“Terus keluarga juga yang lihat video itu duluan, dan mereka langsung kasih tahu kami berdua. Yang bikin kami kaget adalah narasi di dalam video itu sendiri. Dan yang pasti... kami merasa salah kalau kami pilih diam. Kami kasi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   632. APA MARTHA BENAR-BENAR BERUBAH? MERAGUKAN.

    “Jadi, Cipta sama Wanda mau pindah?” tanya Martha siang itu, sembari menikmati makan siang bersama anak, menantu, dan cucunya. “Iya, Ma. Dinas di sana,” ucap Wanda sambil mengunyah makanannya perlahan. “Tapi tenang, Ma. Dekat kok, Surabaya,” sahut Gendis menimpali, juga sembari menikmati hidangan yang dibawa oleh Rain. Sementara itu, Rain dan Cipta tampak asyik berbincang mengenai pekerjaan dan rencana kepindahan tersebut. Mereka menikmati makan siang dengan lahap, sementara Bima duduk manis di samping ayahnya sambil sesekali menjalankan mobil mainan kecilnya di atas meja. Suasana rutan yang biasanya dingin dan kaku, siang itu sama sekali tidak membuat mereka risih. Malahan, momen tersebut terkesan hangat dan santai, seolah-olah mereka sedang berpiknik atau berlibur bersama di tempat biasa. “Mama cuma bisa berdoa dari sini supaya kalian bahagia dan sehat di sana, ya. Jaga baik-baik kandungan kamu, Wanda. Gendis juga, ini anak kedua, kamu harus sehat, ya,” ucap Martha penuh kas

  • PELAN PELAN SAYANG   631. KUNJUNGAN KE RUTAN. BIMA BERTEMU MARTHA.

    “Kalau boleh tahu, Ibu Martha sendiri kenapa bisa sampai di dalam sel?” tanya salah satu penghuni rutan itu pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh bising suasana rutan sambil tangannya terus mengusap kedua lutut yang tampak gemetar.Martha terdiam sejenak. Ada gurat ketakutan yang mendalam bercampur rasa sedih yang menyesakkan dada saat ia kembali memutar memori kelam tentang kejadian yang menyeretnya hingga harus ditahan.“Maaf kalau saya lancang bertanya begitu, Bu. Habisnya, saya lihat Ibu Martha ini bukan dari kalangan seperti kami—yang miskin, lapar, dan tertinggal. Kami melakukan semua kejahatan itu karena terpaksa, hanya untuk sekadar bertahan hidup, sampai akhirnya... ya, berakhir di sini,” ucap penghuni rutan itu lagi sembari menunduk dalam, mengenang getirnya kemiskinan yang membuatnya nekat melanggar hukum, dengan melakukan pencurian kecil demi memberi makan anak-anaknya.Martha tersenyum pahit, ada rasa malu yang merayapi hatinya. “Justru itu yang membuat saya merasa lebih

  • PELAN PELAN SAYANG   630. MARTHA DAN DUA TEMAN BARU DI PENJARA.

    “Mama sudah pindah ke rutan,” ucap Cipta pagi itu dalam percakapan telepon bersama Rain. Suaranya terdengar jauh lebih tenang setelah proses administrasi yang melelahkan itu akhirnya selesai. “Oke. Thanks ya, Cipta. Jangan lupa, jam makan siang mampir ke sana. Kita makan bareng Mama juga,” sahut Rain sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan dumbbell di samping kursi di ruang gym pribadinya. Napasnya masih sedikit memburu, dan ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang basah oleh peluh keringat, menampakkan hasil latihan paginya yang intens. “Sama-sama, Rain. Aku juga nanti ke rutan, jemput Wanda dulu dari kantor,” ucap Cipta mengakhiri pembicaraan sebelum menutup sambungan telepon. Rain mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahu. Kabar kepindahan Mama ke rutan setidaknya memberikan kepastian hukum yang lebih jelas. Meski tempat itu bukan tempat yang ideal bagi seorang ibu, Rain berkomitmen untuk memastikan Mama mendapatkan perlakuan yang layak selama masa

  • PELAN PELAN SAYANG   629. SAMPAI GENDIS MENYERAH, RAIN TETAP TAK BERHENTI!

    Gendis memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya meremas seprai dan rambut Rain secara bergantian. Tubuhnya melengkung, merespons sentuhan panas yang diberikan suaminya. “Ouh... Mas... Aaah... Um...” Gendis mendesah parau. Kepalanya mendongak ke atas, mengekspos leher jenjangnya saat Rain mulai memberikan kecupan-kecupan basah dan hisapan yang dalam di dadanya. Gairah yang sedari tadi mereka tahan di dalam mobil kini tumpah tak terbendung. Bunyi kecupan yang intim terdengar jelas di keheningan kamar, menandakan betapa Rain sangat merindukan setiap jengkal tubuh istrinya. “Um...” Rain hanya mengerang rendah. Ia benar-benar tenggelam dalam setiap sesapan yang ia berikan, seolah ingin menyesap habis seluruh aroma vanila dan kehangatan yang menguar dari kulit Gendis. Nafsunya berkobar, mengaburkan segala rasa lelah yang sempat menghinggapinya. “Aaah....” Desahan Gendis kembali lolos saat jemarinya kini berpindah, mencengkeram bahu tegap Rain, menuntun pria itu untuk terus menjelajahi

  • PELAN PELAN SAYANG   628. ASI DULU!

    “Ya udah, kamu jangan berhenti isap dada aku nanti, walaupun nggak ada ASI-nya lagi,” ucap Gendis dengan nada yang pasrah namun penuh kasih sayang. “Iyalah. Harus... Menyenangkan suami kan wajib, Sayang,” sahut Rain dengan seringai tipis di wajahnya. “Memang kamu doang yang mau disenangin? Aku juga dong... Kamu juga harus jilatin punya aku, kan kamu suka juga sama yang ini, um?” ucap Gendis balik menggoda, membuat suasana di dalam mobil semakin panas meski AC menyala cukup kencang. “Aduh, pengen cepat sampai rumah jadinya kalau gini. Kita cari jalan yang nggak macet, Sayang,” ucap Rain sambil tertawa pelan, napasnya sedikit memburu membayangkan malam yang akan mereka lalui. Gendis ikut tertawa, merasa menang karena berhasil menggoda suaminya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke layar dashboard di mobil, jemarinya lincah mengutak-atik sistem navigasi. Dengan bantuan GPS, ia mencari jalur alternatif agar mereka bisa segera sampai ke rumah dan menuntaskan "janji" mereka sebelum

  • PELAN PELAN SAYANG   627. PERAYAAN UNTUK PARA PEJABAT YANG MASUK PENJARA

    “Rain, gimana?” tanya Cipta yang baru saja tiba dengan langkah tegap. Napasnya masih sedikit memburu setelah menghadiri konferensi pers yang cukup alot terkait kasus Reza, atasannya. “Ya... kalah telak. Dia nggak bisa berkutik lagi sekarang,” ucap Rain sambil tersenyum tipis, sebuah ekspresi lega yang jarang ia perlihatkan. Ia melangkah bersama Cipta menuju ruang tunggu, di mana Gendis dan Bima sudah menanti mereka. “Akhirnya... tinggal tunggu sidang aja. Dan artinya... tugas aku udah selesai,” ucap Cipta sambil mengembuskan napas panjang. Beban berat di pundaknya sebagai pelindung keluarga Rain selama badai fitnah ini berlangsung seolah terangkat seketika. “Kamu jadi masih harus berangkat ke Surabaya?” tanya Rain pada iparnya itu, menatap Cipta dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Ya, mau gimana lagi. Aku ikuti aja peraturan dari Reza, walaupun dia sekarang malah terjerat kasus. Wanda sama aku sudah siap berangkat hari Sabtu nanti,” ucap Cipta mantap. Meski situasinya iro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status