“Wah, wah, wah… sakit apa coba nih?” ucap mereka hampir bersamaan, wajahnya penuh senyum bahagia saat melihat Gendis. “Aku kangen kalian, deh…” sahut Gendis sambil tersenyum lebar lalu memeluk teman-temannya satu per satu. Rain hanya tersenyum tipis, hatinya hangat melihat Gendis begitu bahagia bersama sahabat-sahabatnya. “Halo, Mas Rain, apa kabar nih…” ucap Dian, lalu disusul Putri dan Gina yang juga ikut menyapa ramah. “Kabar saya baik,” jawab Rain sopan. “Kalian duduk santai dulu di sofa, ya. Aku mau makan dulu, disuapin sama Mas suami,” ucap Gendis sambil melirik jahil ke arah ketiga temannya. “Iya deh… mentang-mentang sekarang dapat yang ehem…” goda Putri sambil menahan tawa. “Iya nih, beda banget auranya sekarang,” timpal Gina sambil melirik Gendis penuh arti. “Nggak sia-sia kenalin kalian. Gara-gara konsultasi, jadinya… berisi nih?” tambah Dian sambil tertawa kecil. “Gendis, ada gosip!” seru Dian dengan mata berbinar. “Gosip apaan?” tanya Gendis sambil meli
“Mas… punya kamu terlalu keras,” ucap Gendis sambil tersenyum, meremas-remas ‘senjata’ panjang dan besar milik Rain. “Kamu nggak akan pernah punya ‘senjata’ ini dari laki-laki lain selain punya saya, Sayang,” ucap Rain sambil tersenyum nakal, kemudian memeluk Gendis erat, wajahnya dekat dengan leher istrinya. “Oh ya?” ucap Gendis sambil tersenyum nakal, menatap Rain dengan mata berbinar. “Iya. Saya buat kamu mendesah, kamu minta saya lebih keras, dan saya buat kamu sampai lemas lagi,” balas Rain, tatapannya nakal sambil melirik selang infus yang masih menempel di pergelangan tangan Gendis. “Coba… buktikan sekarang, Mas,” ucap Gendis menggoda, bibirnya menantang. “Oh… jadi mau tes kecil-kecilan?” sahut Rain, lalu langsung meremas dada Gendis dan menghisapnya lembut. “Ah… Mas…” desah Gendis pelan, tubuhnya menggeliat tipis, senyumannya tak bisa disembunyikan. “Ini enak, Mas… um… ah… lagi, Mas…” ucap Gendis sambil menikmati setiap sentuhan Rain pada dadanya yang mendadak me
“Sebelumnya cuma… susah bangun aja,” ucap Rain ringan. Dokter tiba-tiba tertawa kecil, disusul kedua perawat yang akhirnya tidak tahan lagi menutup mulut mereka. “Hahaha… aduh maaf, saya jadi ketawa. Oke, Pak Rain. Saya permisi dulu. Semoga istrinya lekas sembuh, dan… tolong usahakan untuk pelan-pelan saja ya,” ucap dokter sambil tersenyum lebar, lalu menjabat tangan Rain. “Siap, Dok,” ucap Rain tegas, walau bibirnya akhirnya ikut menahan senyum. Di luar kamar VIP rumah sakit. “Kalian tahu nggak, kamar nomor 2 Melati itu pasien sakit apa?” tanya seorang perawat pada staf lainnya dengan wajah penasaran. “Yang suaminya ganteng tadi kan? Yang gendong istrinya?” sahut perawat lain yang tampak penasaran. “Iya, itu,” jawab perawat pertama, menahan senyum. “Sakit apa?” tanya yang lain makin ingin tahu. “Pingsan karena kecapekan melayani suami di ranjang,” bisik perawat itu, lalu buru-buru nutup mulutnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Astaga!” seru mereka bersamaan, matan
“Sakit?” tanya Rain, ia menyelimuti tubuh Gendis dengan hati-hati setelah keduanya lelah bercinta. “Aku cuma capek, Mas…” ucap Gendis lirih sambil memejamkan mata. Tubuhnya terkulai, masih dibalut selimut tebal, tanpa sehelai pakaian pun melekat. “Apa saya terlalu kuat tadi?” tanya Rain, suaranya terdengar panik melihat calon istrinya begitu lemah. “Mungkin aku yang terlalu lemah buat melayani kamu, Mas,” ucap Gendis sambil tersenyum tipis. Namun, tatapan matanya jelas menyimpan lelah yang tak bisa ia sembunyikan. “Saya minta maaf, Sayang…” ucap Rain, menundukkan kepala dengan penyesalan yang dalam. Ia sadar, hasratnya yang berlebihan sering membuat Gendis kewalahan. “Aku harus terbiasa menghadapi suami aku ini yang punya nafsu terlalu… besar,” ucap Gendis sambil mengangkat tangannya, menyentuh lembut wajah Rain, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh lemah tak sadarkan diri. “Sayang? Sayang, kenapa! Sayang!” ucap Rain panik, mengguncang tubuh Gendis yang terpejam. Dengan sig
“Gendis tidak bermoral, Pa...” ucap ibunya dengan tatapan mata yang penuh kekecewaan, dingin menusuk. “Tapi jangan membenci anak sendiri. Seharusnya kita luruskan dan perbaiki, bukan kita jauhi,” ucap ayah Gendis, suaranya berat namun lembut mencoba meredakan. “Dia yang memilih menjauh dari kita! Harusnya dia yang berpikir lurus, bukan kita...” ucap ibunya penuh penekanan, nadanya meninggi. “Setidaknya kasih dia kesempatan untuk berbenah,” ucap ayah Gendis dengan nada penuh harap, seakan memohon. “Selagi dia masih memilih lelaki itu, Mama rasa logikanya tidak akan berguna, Pa! Sudah hilang... sejak dia berpikir untuk berhubungan khusus dengan psikolog reproduksi itu,” ucap ibunya dengan suara bergetar, lalu meletakkan cangkir teh dengan kasar sebelum meninggalkan ruang TV menuju kamar, menahan gejolak emosi. “Yah, sudahlah... Mungkin dia belum bisa menerima kenyataan. Tapi aku tahu—dia kangen sama Gendis, anak perempuan di rumah ini...” ucap ayahnya lirih sambil memandangi punggu
Hari berganti, pagi menyapa Rain dan Gendis dari kontrakan. “Um... Jam berapa ini?” ucap Gendis yang baru saja membuka matanya dan melihat jam tangan Rain tergeletak di atas meja sudut. “Jam lima... Kesiangan,” gumamnya lalu mengecup kening Rain sebelum segera beranjak dari ranjang. “Mas... Kamu kerja, kan?” ucap Gendis sambil bercermin, mengganti pakaian tidurnya dengan kaos oblong dan celana panjang, lalu menguncir rambutnya dan menuju kamar mandi. “Aku beli sarapan dulu, ya!” serunya. Ia mencium bibir Rain sekilas lalu meninggalkan kamar sambil membawa dompet. Saat Gendis keluar rumah, ia disambut dengan senyuman paling manis oleh Angga yang ternyata sedari tadi menunggunya. “Hi, ayang...” sapa Angga dengan nada menggoda. “Kaget! Mas mau ke rumah saya?” tanya Gendis sambil tersenyum tipis. “Kebetulan, mau ajakin kamu jajan sarapan pagi. Mumpung... Tukang pukul kamu kayaknya masih bobok,” bisik Angga pelan. “Saya bilangin ke Mas Rain, nih,” ucap Gendis sambil terse