Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 7 - MAS, INI KEMEJA BARU, YA?

Share

7 - MAS, INI KEMEJA BARU, YA?

last update Last Updated: 2025-07-15 16:02:43

Sudah terhitung sejak konsultasi, suami Gendis akhirnya tiba di rumah. Ia membawa koper milik suaminya seraya menaruh di pekarangan rumah.

“Mas, ada undangan syukuran,” ucap Gendis sambil mengangkat koper dan menaruhnya di dalam kamar, lalu melangkah keluar menuju ruang makan.

“Iya, udah tahu kok dari Mama,” balas Raka datar, kemudian duduk di ruang makan.

Tatapan Gendis mengarah ke pakaian Raka yang terasa asing baginya.

“Mas, baju baru, ya?” tanya Gendis sambil meletakkan sarapan di hadapan suaminya.

“Baju lama, kok,” ucap Raka tenang, lalu meneguk teh hangat.

“Oh... soalnya aku ngerasa nggak pernah tahu baju itu,” Gendis tersenyum tipis, lalu ikut meneguk susu hangat.

“Mungkin kamu yang lupa apa aja isi lemari pakaian,” ucap Raka, datar.

“Um, iya. Tapi... aku merasa nggak pernah tahu baju itu. Aku juga nggak pernah beli baju itu,” ucap Gendis sambil menatap pakaian Raka lebih dalam.

“Jadi maksudnya kamu... baju ini dari mana?” tanya Raka, suaranya berubah dingin.

“Ma...” Gendis menelan kata berikutnya. Ia teringat pesan dari Rain—untuk berhenti terlalu sering meminta maaf.

“Aku cuma nggak pernah lihat baju itu, Mas,” ucapnya pelan.

“Kamu pikir ini dari perempuan lain?” tanya Raka menatap tajam.

“Bukan... tapi—”

“Aku pulang ke rumah dengan harapan kita bisa baik-baik saja, tanpa debat! Tapi kamu... kamu selalu curiga! Aku kerja keras melebihi waktu demi masa depan, Gendis!” ucap Raka, nada suaranya mulai meninggi.

“Mas, aku cuma nggak tahu soal baju itu. Bukan berarti aku nuduh Mas yang aneh-aneh,” Gendis mencoba tenang, meski nadanya mulai gemetar.

“Kamu itu akhir-akhir ini bikin aku marah, tahu nggak?! Dari mulai kamu merengek pengin hamil sampai kamu mikir aku selingkuh! Kamu kelewatan, Gendis!” bentak Raka.

“Tapi... apa salahnya kalau aku pengin hamil? Kamu suami aku, Mas! Aku istri kamu! Itu normal!” Gendis mulai menangis.

“Jadi menurut kamu... aku nggak normal?” Raka membalas dengan amarah, tangannya menghantam meja makan.

“Aku cuma pengin kayak istri-istri lainnya, Mas...” Gendis menyeka air matanya, tangisnya pecah.

“Kamu harusnya bersyukur! Tanpa kerja, kamu bisa hidup dari keringat suami kamu! Dan tahu nggak kenapa kita belum punya anak? Karena sifat kamu yang kekanak-kanakan itu! Kamu terlalu manja! Kamu lupa umur kamu berapa? Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu selalu berlagak kayak gadis kecil! Dari situ aja, kamu belum pantas jadi ibu!” bentak Raka dengan suara menggelegar, sebelum ia berdiri dan meninggalkan Gendis menuju kamar utama.

Gendis terduduk, diam di kursinya, menggenggam gelas susu yang kini sudah dingin. Matanya basah, hatinya remuk. Tak ada lagi kata yang bisa diucap—hanya diam, luka, dan air mata.

Gendis masih duduk di kursinya, memandangi gelas susu yang kini dingin. Matanya tak berkedip, tubuhnya membeku.

Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Sayang, kemejanya muat kan? Besok jangan lupa, anterin aku ke butik, Ya. Uang yang semalam udah aku pindahin ke rekening tabungan..”

Gendis menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

Matanya memanas.

“Ini apa mas!” teriaknya. Suara di seberang terdengar lantang. Gendis baru saja mengajak perang.

“Kamu apa-apaan sih? Suami pulang malah kamu ajakin ribut!” ucap Raka dengan tegas sambil melirik Gendis yang berdiri dihadapannya.

Gendis melirik layar, “Mas? ini buktinya! Entah ini perempuan atau laki-laki tapi cukup jelas kalau memang pakaian ini yang kamu pakai bukan pilihan aku!”

Wajahnya memerah karena amarah. Ia langsung meletakkan ponsel itu diatas ranjang, tepat di hadapan wajah Raka.

Raka meraih ponselnya dan melihat isi pesan itu. Namun dengan santai ia menjawab, “Huh, ini teman aku satu kontrakan disana.”

“Oh iya? Jadi dia yang mengurusi kamu selama disana? pantesan betah bolak-balik ke luar kota!” ucap Gendis dengan lantang.

“Kenapa? Salah dimana kalau aku bolak-balik keluar kota? Kamu pikir mudah cari uang. Gendis, kamu sadar diri! pengeluaran buat kamu itu banyak, nggak sedikit!” ucap Raka yang baru saja berdiri tepat dihadapan Gendis.

“Banyak? Yang banyak itu pengeluaran Mama kamu!” ucap Gendis dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.

“Eh, kamu jangan bawa-bawa Mama aku, Ya! Toh selama ini aku selalu kasih kamu uang?” ucap Raka yang tak terima dengan ucapan Gendis.

“Karena Mama kamu setiap dua minggu sekali selalu minta uang sama aku! Dia bilang itu juga amanah dari kamu, Mas!” jawab Gendis dengan penuh penekanan.

“Oh jadi kamu nggak terima kalau orang tua aku minta uang sama aku melalui kamu?” ucap Raka sembari menunjuk wajah Gendis dengan jari telunjuknya.

“Karena kamu menuduh aku seolah aku ini udah menghabiskan uang kamu!” ucap Gendis dengan suara meninggi

“Kamu melawan aku sekarang? Udah hebat?” ucap Raka yang kemudian meremas rambut Gendis dengan kuat.

“Akh! Lepas! Sakit!” ucap Gendis sambil meringis dan memegangi tangan Raka.

“Okey, aku lepasin! Tapi ingat, jangan pernah lagi kamu melawan aku! Jadilah istri penurut!” ucap Raka yang kemudian mendorong tubuh Gendis ke atas ranjang lalu kemudian ia melucuti pakaian istrinya itu dengan kasar.

“Jangan! Aku nggak mau, Mas! lepas!” ucap Gendis yang berusaha melawan dan berlari dari kamar.

“Kamu mau anak dari aku, kan? iya kan? kamu merengek minta anak, mau samaan kayak istri lainnya! ini!” ucap Raka dengan lantang hingga ia tega memukul wajah Gendis lalu memasukkan dirinya tanpa ampun. Tanpa pemanasan. Tanpa ucapan sayang.

Gendis menangis, tubuhnya bergetar hebat dan ia merasa hancur dibalut rasa sakit yang tak bisa ia ucapkan lagi dengan kata-kata selain air mata.

Raka dengan kasar memperlakukan tubuhnya layaknya sebuah barang bahkan lebih rendah daripada wanita penghibur sekalipun.

Setelah merasa puas, ia meninggalkan Gendis dengan tubuh yang rapuh diatas ranjang.

“Aku minta ini yang terakhir. Jangan pernah lagi melawan suami kamu dan tutup mulut kamu. Aku nggak segan kasih kamu rasa sakit lebih dari itu,” ucap Raka sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya seolah baru saja menyentuh barang kotor.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Kenny Sihyanti
Raka mulutnya seperti perempuan
goodnovel comment avatar
Nurul
ngeri ya...
goodnovel comment avatar
Dara Tresna Anjasmara
amit-amit ya kak...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   532. SEMUA LENGKAP. KETEGANGAN TERJADI.

    Cipta masuk ke ruangan bersama beberapa anggotanya untuk memulai proses pemeriksaan lanjutan. Langkahnya sempat terhenti sejenak saat melihat keluarga besar ibu mertuanya sudah duduk memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. ​“Selamat siang...” sapa Cipta dengan suara berat dan tenang, berusaha menjaga profesionalitasnya meski di hadapan kerabat sendiri. ​“Nah, ini dia Cipta! Bagaimana ini? Apa proses hukum untuk mertua kamu sendiri masih mau dilanjutkan?” tanya sang paman dengan nada yang menuntut, seolah mengharapkan perlakuan khusus. ​Cipta berdiri tegap, merapikan pakaiannya sebelum memberikan jawaban yang lugas. Ia melirik sekilas ke arah Rain dan Gendis yang berada di ruangan sebelah melalui kaca penyekat. ​“Semua berjalan sesuai prosedur, Om. Saya harus menyelesaikan proses awal terlebih dahulu. Berkas laporan sudah lengkap, dan setelah ini tinggal melanjutkan ke tingkat berikutnya,” jawab Cipta tegas. ​“Kami mau penyelidikan ini dihentikan sekarang jug

  • PELAN PELAN SAYANG   531. KELUARGA IBU RAIN DATANG INGIN JADI PENJAMIN?

    Wanda segera mengirimkan foto pelat nomor taksi kepada suaminya melalui pesan singkat. Setelah itu, ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan senyum ramah yang merekah untuk sang sopir. Begitu pintu tertutup dan taksi mulai melaju, ia menyandarkan tubuhnya, mencoba meredam debaran jantung yang tak menentu. “Harusnya hari ini jadi hari yang sangat bahagia, Sayang...” bisik Wanda lirih pada dirinya sendiri. Tangannya merogoh ke dalam tas, lalu jemarinya menarik sebuah benda kecil dari sana. Ia menatap benda itu dengan tatapan haru; sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas. Senyumnya semakin lebar, matanya berkaca-kaca menahan air mata bahagia. “Mungkin jalannya memang harus kayak gini. Sampai di rumah nanti, aku bakal kasih tahu Mas Cipta,” gumam Wanda penuh janji. Ia menyimpan kembali benda berharga itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Meskipun saat ini keluarganya sedang dilanda prahara karena kasus sang mama, kabar tentang kehadiran nyawa baru

  • PELAN PELAN SAYANG   530. MASIH BISA MAKAN ENAK!

    Siang itu, SUV mewah milik Rain meluncur mulus membelah jalanan aspal kota menuju kantor pusat kepolisian. Di dalam kabin yang sejuk, suasana tampak jauh lebih cair berkat tingkah polos si kecil Bima. ​Yuni duduk di baris paling belakang bersama Bima, sementara Rain dan Gendis berada di depan. Sesekali Rain melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi interaksi di belakangnya. ​“Yuni...!” seru Bima, kembali menggoda asisten rumah tangganya itu dengan nada jenaka. ​“Bima... panggil Tante Yuni dong...” ucap Yuni sembari berakting merajuk dan mengerucutkan bibirnya. ​Bukannya patuh, Bima justru tertawa geli. Ia malah melemparkan sebuah boneka kecil ke arah Yuni dengan wajah nakal. ​“Papa, lihat deh. Bima jahil banget,” ucap Gendis lembut. Ia menoleh ke belakang, menyandarkan dagunya di sandaran jok mobil untuk memperhatikan putra semata wayangnya itu. ​“Bima...” tegur Rain pelan namun tegas dari balik kemudi. ​Seketika, Bima langsung duduk manis dan menurut. Ia berhenti melempar m

  • PELAN PELAN SAYANG   529. YUNI DIBAWA SEBAGAI SAKSI

    Rain bersiap mengenakan jaketnya, bersiap menuju klinik untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai psikolog reproduksi. Sebelum melangkah keluar, ia menghampiri istri dan anaknya. “Sayang, nanti habis makan siang kita ke kantor polisi untuk administrasi kelengkapan laporan. Bawa Bima juga, ya. Nanti saya pasti pulang dulu ke rumah buat jemput kalian,” ucap Rain dengan nada lembut namun penuh kepastian. ​Gendis yang sedang menyuapi Bima makanan ringan di ruang TV seketika menghentikan gerakannya. Wajahnya tampak ragu dan sedikit cemas. “Tapi... nanti kita akan bertemu Mama tidak di sana?” tanya Gendis lirih. Ketakutan akan konfrontasi yang menyakitkan masih membekas di hatinya. ​Rain berlutut di depan istrinya, mencoba memberikan rasa aman melalui tatapannya. “Cipta udah mengatur semua kondisi di sana supaya kalian nggak perlu berpapasan langsung. Kamu tenang aja, Sayang. Percayalah sama saya dan Cipta,” ucap Rain menenangkan. ​Ia kemudian merengkuh tubuh Gendis dalam pelukan han

  • PELAN PELAN SAYANG   528. DITEKAN OLEH MERTUA, PROSES HUKUM TETAP BERJALAN.

    ​“​Gendis! Gendis, tolong Mama!" Teriakkan histeris Ibu Martha menggema di sepanjang koridor saat rekan Cipta mulai menggiringnya menuju pintu garasi. Suaranya penuh dengan nada memerintah sekaligus keputusasaan, berharap menantunya itu akan luluh. ​Gendis hanya bisa menggeleng pelan dengan tatapan kosong. Ia tidak bergeming. Hatinya memang sakit, namun logikanya jauh lebih kuat. Ia tahu bahwa keputusan ini sudah final; hukum harus berjalan demi keamanan putra kecilnya. Segala bentuk manipulasi emosional tidak akan bisa mengubah keadaan lagi. ​​“Gendis... kamu yakin dengan semua ini?" tanya salah seorang bibinya dengan suara parau sembari menyeka air mata. Wanita tua itu tampak gamang melihat saudara iparnya dibawa oleh petugas polisi. ​“Yakin, Tante. Ini satu-satunya jalan supaya Mama sadar..." jawab Gendis dengan suara bergetar. Ia terisak, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak pecah lebih hebat lagi. ​“Kalau terus dibiarin dengan alasan keluarga, Mama nggak akan pe

  • PELAN PELAN SAYANG   527. IBU RAIN DIBAWA KE KANTOR POLISI.

    “Jadi... kedatangan saya ke sini pagi ini bukan mewakili keluarga, melainkan sebagai penegak hukum bersama rekan saya. Hal ini berdasarkan laporan resmi dari Rain dan istrinya mengenai tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh Ibu Martha Sudibyo,” ucap Cipta. Suaranya terdengar tenang namun sangat tegas, memancarkan otoritas khas seorang perwira. ​“Apa-apaan ini? Tapi Cipta... kita ini keluarga,” sela paman Rain dengan nada panik, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa menantu di keluarga mereka sendiri kini berdiri sebagai lawan hukum bagi kakaknya. ​Cipta menatap pamannya dengan sorot mata yang tak goyah. “Begini, Pak. Saya di sini berdasarkan laporan dari orang tua korban. Bahwa semalam, tepatnya pada pukul...” Cipta menjeda kalimatnya sejenak sembari mengambil tablet yang disodorkan oleh asistennya. ​Ia mulai membaca draf laporan tersebut dengan saksama. “Pada pukul dua belas lewat lima belas menit, telah terjadi dugaan tindakan fisik yang menyebabkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status