MasukSatu minggu kemudian. “Ke mana semua orang?” tanya Zavira pelan saat langkahnya memasuki ruangan divisi finance.Biasanya, bahkan sebelum jam kerja benar-benar dimulai, ruangan ini sudah penuh suara keyboard diketik cepat, tumpukan berkas yang dipindah-pindah, keluhan kecil dari karyawan yang dikejar deadline. Tapi sekarang, sunyi. Zavira masuk lebih dalam. Ia menoleh ke kanan kiri dan tidak ada siapa pun. Semua komputer mati.“Seriusan ini, pada ke mana sih?” gumamnya bingung.Baru saja ia ingin berbalik keluar. Tiba-tiba terdengar suara. “Kejutan!!!”“WELCOME BACK!!!”Lampu tiba-tiba menyala terang. Dan suasana suram berganti ceria. Suara teriakan terdengar dari sekelilingnya. “DUARRR!”Suara proven party meletus bersamaan. Kertas-kertas warna-warni beterbangan di udara. Zavira refleks membeku di tempat.Jantungnya berdetak cepat dan ia terdiam memandangi orang-orang yang bersorak barusan. Otaknya seperti butuh beberapa detik untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Satu per s
Xafier duduk di samping ranjang, satu tangan memegang mangkuk sup hangat, satu lagi menyodorkan sendok ke arah bibir Zavira. Matanya tak berpaling dari Zavira. “Buka mulutmu,” titah Xafier singkat.Zavira menatapnya datar. “Aku bukan anak kecil.”“Kalau bukan anak kecil, harusnya kamu bisa makan sendiri dari tadi,” balas Xafier tanpa emosi, tapi sendoknya tetap bertahan di depan bibir Zavira.Zavira mendengus pelan, tapi akhirnya membuka mulutnya juga. Ia mengunyah sup sambil memutar bola mata malas akan tetapi hatinya terasa hangat. Xafier tidak berhenti. Ia mengambil lagi satu sendok. “Lagi.”Zavira mengerjapkan mata. “Banyak amat, Tuan. Mau buat aku gemuk, ya? Udah.”"Sudah aku bilang. Jangan panggil aku, tuan!" serah Xafier mengingatkan. Matanya menatap tajam Zavira. "Maaf, aku bingung harus manggil apa," cicit Zavira. "Di kampung mu, orang memanggil apa pada suaminya?""Aa, akang ada juga yang manggil ayah, atau abi."Xafier tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun, mempe
Murti kembali masuk ke dalam karena ingin bicara sesuatu. Xavier sampai melirik ke arah Murti sesaat. “Izin saya memberi saran, Tuan.”“Apa?” tanya Xafier singkat, namun tidak setajam biasanya.Murti menatapnya sebentar, lalu menghela napas pelan sebelum melanjutkan. “Menurut saya, Nona Zavira butuh ruang sendiri.”Xafier mengernyit. Tatapannya berpindah dari Murti ke wajah Zavira, lalu kembali lagi. “Maksudmu?”Murti merapatkan kedua tangannya di depan perut, mencoba memilih kata-kata yang tidak menyinggung, tapi tetap jujur. “Jangan terlalu membatasi pergaulannya, Tuan. Biarkan dia bertemu teman-temannya, keluarganya, tanpa batasan. Zavira bukan burung yang harus di kurung.”Kalimat itu membuat Xafier sedikit tegang. “Aku tidak pernah melarang dia,” potongnya cepat.Murti mengangguk pelan, namun tidak mundur. “Memang tidak secara langsung, Tuan,” balasnya hati-hati. “Tapi Tuan merahasiakan keberadaan Nona Zavira dari semua orang.”Xafier terdiam.“Secara tidak langsung, itu membua
“Jangan pikirkan masalah orang tuaku. Mereka setuju atau tidak, itu urusan mereka.” Ia berhenti sejenak, matanya menatap lurus ke depan. “Kamu hanya cukup berada di sampingku.”Kalimat itu sederhana, tapi berat untuk Zavira terima. Ia menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk.“Iya,” lirihnya.Namun di dalam hatinya, tidak sesederhana itu. Ia tahu betul, dunia Xafier bukan dunia yang mudah untuk dimasuki. Bukan hanya soal kekayaan tapi juga tentang keluarga, status, dan pandangan orang-orang di sekitarnya.“Kalau nanti mereka tidak menerima aku, apa aku sanggup bertahan?” batinnya.Mobil akhirnya memasuki halaman rumah besar milik Xafier. Gerbang terbuka disambut dengan lampu taman menyala dan pemandangan yang cukup indah. Kebun yang terawat dan beberapa bunga mekar indah. Namun begitu mobil berhenti dan pintu terbuka, Zavira turun perlahan. Lalu tiba-tiba pandangan matanya berkunang-kunang. Kepalanya berdenyut hebat seperti dipukul dari
“Ma, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan suara lemah dan kondisi kacau. Ia menoleh ke arah Melinda dengan mata memohon. Namun alih-alih mendapat pelukan atau simpati, yang ia dapat justru sentuhan keras di kepalanya.Plak!“Sudah cukup drama kamu!” hardik Melinda sambil menoyor kepala Sherina. “Tanda tangan cerai itu keputusan paling benar yang bisa kamu ambil sekarang! Jangan macam-macam lagi Sherina. Jika Xavier bergerak lebih jauh lagi, kita akan hancur!”Sherina tertegun. “Mama, aku nggak mau cerai. Aku nggak bisa kehilangan Mas Xafier.”Melinda mendengus kesal. “Kehilangan?” ulangnya sinis. “Sejak kapan kamu punya dia untuk bisa dibilang kehilangan? Kamu berjuang sendirian selama ini, Sherina! Udah cukup!”Ucapan itu seperti pisau yang langsung menusuk jantung Sherina. Ia menggeleng cepat, air matanya semakin deras. “Dia suamiku, Ma! Aku istri sahnya!” bantahnya keras.Di sofa seberang, seorang pria duduk dengan santai, kaki disilangkan, satu tangan bertumpu di sandaran
"Ya ampun, jadi bisa dibilang pernikahannya dengan Nona Sherina hanya sandiwara," gumam Zavira. Tiba-tiba, tangan Xafier bergerak mendekat ke arah Zavira. Wanita itu sampai kaget melihat pergerakan tangan Xavier yang mengarah padanya. Benar saja, Xavier menggenggam tangan Zavira.Zavira langsung tersentak kecil. Tubuhnya menegang seketika. Ia menatap tangan mereka yang saling bertaut dengan ekspresi kaget bercampur bingung. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba? Banyak pertanyaan yang berenang di kepala Zavira. “Tuan Xa—Xafier?” Suaranya terdengar ragu.Xafier tidak langsung menatapnya. Tatapannya masih tertuju pada batu nisan di depan mereka. Namun genggamannya tidak dilepas.“Aku minta maaf.”Zavira kebingungan. Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba Xavier meminta maaf? Mata Xavier yang sendu dan penuh genangan air mata itu menatap retina Zavira. “Untuk semuanya. Untuk awal pertemuan kita, untuk cara aku memperlakukan kamu.”Zavira mengerjapkan mata beberapa kali. Ia tidak menyangka, pri







