Home / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 63. Cinta segitiga

Share

Bab 63. Cinta segitiga

Author: Nanitamam
last update publish date: 2026-04-17 07:10:54
"Waduh, kenapa Tuan Xavier balik lagi?" gumam Donita dalam hati.

Hening.

Suasana di sekitar mereka seketika berubah mencekam. Johan, Donita, dan Kinar serentak menundukkan kepala begitu melihat sosok Xafier yang berdiri tegak di sana.

Mereka tahu, badai besar pasti akan terjadi setelah ini. Sagara pun perlahan mengikuti arah pandang mereka dan mendapati Xafier sedang menatap tajam ke arahnya.

“Kamu merasa sungkan karena ada atasanmu, ya?” tanya Sagara dengan nada santai, seolah tak meny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 66. Kapan memberi cucu?

    “Apa maksud kamu, Xafier?!” tanya Nyonya Dayana.Keningnya langsung mengerut dalam kebingungan, melihat putranya datang dengan raut wajah mengerikan dan langkah yang tergesa-gesa. Tak kalah kaget, Zavira hanya bisa mematung di tempat, jantungnya kembali berdegup kencang tak menentu.Sementara itu, seluruh wajah Xafier memancarkan amarah yang berusaha ia tahan. Tanpa ragu, ia langsung meraih dan menggenggam erat tangan Zavira, lalu menenangkannya dengan suara berat, “Tenang saja. Ada aku di sini, kamu tidak sendirian.”“Hah?!”Zavira melongo tak percaya. Ucapan itu benar-benar membuatnya bingung setengah mati, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan harus bersikap bagaimana.Xafier kemudian mengalihkan tatapannya, menatap Nyonya Dayana dengan sorot mata sedingin es.“Kalau Mama punya masalah atau ingin marah-marah, marahlah sama aku. Jangan pernah melibatkan atau menyakiti Zavira. Dia istriku, dan dia sama sekali tidak bersalah atas apapun!”“Apa-apaan ini?! Kamu ngomong apa sih,

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 65. Salah duga

    "Atau aku akan membawamu ke ranjang sekarang juga. Aku mau melahapmu sampai kamu tidak bisa jalan besok," kata Xafier seraya menggigit kecil telingan Zavira. Bulu kuduk Zavira meremang. Hembusan nafas Xafier terdengar memburu dan membuat wajahnya panas. Ia menelan ludahnya sendiri sambil bergidik. "Pria arogan ini nggak pernah asal ucap. Jika dia sudah bicara begitu, dia pasti melakukannya. Membayangkannya saja pinggang ku langsung ngilu," batin Zavira. "Jadi bagaimana, Sayang?" Xafier memainkan rambut Zavira. "Diam dan duduk di kursi! Aku mau masak dulu. " Zavira melepaskan tangan Xafier dari tubuhnya.Xafier mengangguk namun sebelum pergi ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Zavira. Bola mata Zavira melebar, perasaan nya campur aduk antara kesal dan merasa lucu. "Jangn lama-lama. Aku sudah lapar. ""Iya, Tuan Xafier."Zavira memasak makanan yang hanya ia bisa. Tumisan dan juga telur dadar. Xafier menunggu makanan sambil memangku dagu di atas tangan. "Jadi seperti ini rasanya

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 64. Merajuk

    "Aku harus jawab apa?" gumam Zavira dalam hati. “Jadi, apa yang mau kamu jelaskan?”Kalimat itu terucap lagi. Zavira menatapnya seraya menghela napas panjang. Ia melangkah maju selangkah, hingga jarak di antara mereka nyaris tak tersisa.Matanya kemudian menatap tajam ke arah Xafier. “Aku sama dia tadi cuma makan biasa aja, soalnya dia udah bantuin aku. Itu pun cuma sebagai bentuk terima kasih, nggak lebih.”“Oh ya? Lalu kenapa kalian sampai suap-suapan segala?” potong Xafier, bibirnya maju beberapa senti.“Itu soalnya—” Zavira terdiam sejenak, berusaha merangkai kata yang pas untuk menjelaskan ke pria di hadapannya ini.Tapi Xafier terlihat semakin tak mau sabaran. Ia mendengus keras. “Pasti cuma cari alasan doang, kan?” ucapnya sinis.Wajah dingin yang biasanya selalu dipasangnya kini berubah kaku, tatapannya tajam menusuk seolah mampu membaca setiap detail kejadian tadi. Bahkan rahangnya tampak mengeras, pertanda bahwa emosinya telah naik perlahan-lahan.Zavira yang melihat keada

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 63. Cinta segitiga

    "Waduh, kenapa Tuan Xavier balik lagi?" gumam Donita dalam hati. Hening. Suasana di sekitar mereka seketika berubah mencekam. Johan, Donita, dan Kinar serentak menundukkan kepala begitu melihat sosok Xafier yang berdiri tegak di sana. Mereka tahu, badai besar pasti akan terjadi setelah ini. Sagara pun perlahan mengikuti arah pandang mereka dan mendapati Xafier sedang menatap tajam ke arahnya. “Kamu merasa sungkan karena ada atasanmu, ya?” tanya Sagara dengan nada santai, seolah tak menyadari aura mematikan yang sedang melayang di udara. Ia sengaja menggunakan kata atasan dengan sedikit penuh penekanan. Zavira buru-buru mengangguk cepat, mencari alasan agar bisa lolos. “Benar, Pak. Nggak enak dilihat orang.” Xafier melangkah mendekat dengan langkah tegap namun mengintimidasi. Ia berdeham pelan, namun suaranya cukup terdengar jelas memecah keheningan yang mencekam itu. Matanya menatap lurus ke arah Zavira. “Zavira, bisakah kamu ikut saya?” ucapnya dengan nada datar

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 62. Cemburu

    1.Tanpa aba-aba, ia langsung bergabung dengan yang lainnya. Seluruh wajah hingga telinganya memerah padam. Ditambah lagi dengan gerakannya yang sedikit tergesa-gesa, membuat Johan, Zavira, Kinar, dan Sagara menatapnya serentak. Alis Johan langsung mengkerut bingung. “You kenapa sih?”“Nggak tahu tuh, mukanya kayak habis ketemu oppa-oppa Korea aja,” sahut Kinar.Donita tak langsung menjawab. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha menetralkan degup jantungnya yang berpacu tak karuan.Dalam hati dia teriak, “Iya bener! Aku habis liat cowok ganteng parah, bahkan dia rela megang tanganku lho!”Membayangkan hal itu saja sudah membuat senyum Donita kembali mengembang lebar.Johan buru-buru mendaratkan tangannya di kening Donita, memastikan sahabatnya ini baik-baik saja. “Aman kok ini, tadi kayaknya LCD-nya kena deh,” ujar Johan santai.Donita langsung mencibir. “Asal ngomong aja ah, emangnya aku HP!”“Yah, lagian dari kamar mandi langsung mesem-mesem nggak jelas. You kayak orang ketempe

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 61. Saingan

    "Pak Sagara," gumam Zavira. "Zavira, kamu kenal nih Lekong?" tanya Johan penasaran. Zavira mengangguk. Namun, sebelum Zavira membuka suara, Sagara sudah memperkenalkan diri lebih dulu. "Nama saya, Sagara. saya teman Zavira. Jadi, apa boleh saya bergabung?" Bola mata Kinar, Johan dan Donita berbinar penuh kagum. "Silahkan!" jawab mereka kompak seraya menggeser tempat duduk. Di restoran yang sama dan di waktu yabg sana pula, sebuah rombongan masuk berpakaian rapi. Melihat itu kedatangan mereka yang sepertinya tamu VIP, membuat beberapa pelayan langsung menyambut mereka. “Selamat Datang. Silakan masuk, Tuan,” sambut pelayan dengan sopan. Rombongan itu adalah rombongan Xavier. Xafier melangkah masuk dengan langkah tenang, diikuti Samuel di belakangnya, serta dua orang pria berpakaian formal yang merupakan relasi bisnis yang tadi dijanjikan Daren. “Meja VIP sudah disiapkan,” lanjut pelayan. Xafier hanya mengangguk singkat. Namun langkahnya terhenti karena tatapannya

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 35. Mulai curiga

    “Antarkan saya pulang!” Suara Xafier terdengar tegas dan tidak bisa ditawar lagi dari belakang jok mobil. Samuel langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh kebingungan. Matanya berbinar bingung karena.“Rumah mana, Tuan?” tanyanya dengan nada hati-hati, tangan masih erat menggenggam stir kem

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 34. Bertemu istri sah

    "Ya Allah, jadi wanita ini ibunya Tuan Xafier?" gumam Zavira dalam hati. "Kenapa kalian diam?" tanya Nyonya Dayana bingung. Ia melihat pada Xafier lalu kembali pada Zavira. Tangan Zavira diperban. Baju kemejanya terlihat banyak noda darah. Ada getaran dalam hati Xafier saat melihatnya. Rasa cemas

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 33. Kalian saling kenal?

    “Akhirnya, bisa menghirup udara segar juga!” Donita melepas sabuk pengaman dengan cepat, matanya bersinar melihat mal yang megah berdiri di hadapan mereka.Johan mengangguk. “Sumpah, akhirnya i bisa ke mal setelah sekian lama rempong-rempong sama tuh pekerjaan. Pokoknya, yang penting sekarang bisa

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 32. Ada apa denganmu?

    Xafier menatap Tuan Eshal dingin, lalu mendengus pelan, tapi suara itu cukup untuk membuat udara di ruangan jadi berat. “Papa pasti sudah tahu soal dia, untuk apa aku cerita lagi?” Kata-kata itu membuat Tuan Eshal segera memijat kedua pelipisnya. Wajahnya bukan menunjukkan kemarahan, melainkan ekp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status