Share

Bab 002

last update Last Updated: 2025-10-30 07:55:10

Dengan sentakan pergelangan tangan yang halus dan hampir tak terlihat, secepat kilat menyambar pohon tumbang, ibu jari Dipasena menekan titik persendian di bawah bahu Darma, dan jari tengahnya menyentuh titik pergelangan tangan Agung.

Bukan pukulan, bukan tusukan, melainkan tekanan yang mengalirkan energi internalnya.

Di bawah Titik Angin, Darma merasakan otot-otot di bahunya kaku dan beku, seolah aliran darahnya diganti es. Dia menjerit tertahan, cengkeramannya mengendur.

Di bawah Titik Dingin, Agung merasakan mati rasa menjalar ke seluruh lengannya, seolah lengan itu tiba-tiba menjadi kayu mati, tak bisa digerakkan.

Kedua murid itu mundur, menggenggam lengan mereka yang kesakitan, terkejut melihat Dipasena yang masih berdiri tenang, seolah tak ada yang terjadi.

Ki Lunggana melihat ini dengan pandangan yang gelap. Tujuh Titik Maut di tangan Dipasena jadi luar biasa walaupun masih tingkat dua.

“Serang dia! Siapapun yang menangkapnya akan mendapat derajat yang tinggi!”

Teriakan itu seperti cambuk. Sepuluh murid lain berhamburan maju, membentuk lingkaran yang rapat. Mereka menyerang serentak.

Menggunakan kombinasi Guntur Menyulam Bumi, Tujuh Titik Maut , dan Memanah Elang.

Masing-masing jurus memiliki lima tingkatan, tapi setiap murid berbeda pencapaiannya. Paling tinggi baru tingkat ketiga.

Dipasena kini benar-benar terjepit. Dinding manusia itu terlalu padat, dan jurus-jurus yang datang padanya adalah jurus-jurus yang dia kenal, yang dia kuasai.

Namun, pengkhianatan telah memberinya sayap kegelapan yang tak pernah dia kenal. Dia tak lagi membela diri; dia kini mencari celah.

Dia melompat mundur sejengkal, menangkis dua pukulan yang datang bersamaan dengan telapak tangan terbuka.

Kali ini, dia menyalurkan Tujuh Titik Maut tingkat tiga: Titik Panas dan Titik Kering.

Ketika dia menangkis pukulan itu, telapak tangannya memancarkan gelombang panas yang tak terlihat.

Kedua murid yang pukulan mereka ditangkis merasa telapak tangan mereka seperti dicelupkan ke dalam lahar.

Kulit mereka melepuh, dan rasa sakit itu membuat mereka mundur sambil berteriak.

Dipasena tidak berhenti. Dia berputar seperti topan yang terperangkap dalam sumur.

Gerakannya menjadi seperti tarian kematian, memadukan keindahan jurus Jati Sakti yang sudah dia kuasai.

Dia menyasar murid ketiga yang mencoba menyarangkan sebuah tendangan ke dadanya.

Tendangan itu cepat, tetapi mata Dipasena lebih cepat.

Dia menahan tendangan dengan lengan bawahnya, lalu melompat sedikit, dan dalam sepersekian detik, dia menyentuhkan lututnya pada Titik Mati Rasa di belakang lutut murid itu.

Murid itu limbung, kakinya terasa seperti karet tanpa tulang. Dia jatuh, wajahnya pucat pasi.

Dipasena kini berdiri di tengah kekacauan, dikelilingi oleh tujuh murid yang menahan diri, terkejut, terluka, dan ketakutan.

Mereka melihat Dipasena bukan lagi sebagai murid terbaik, melainkan sebagai iblis yang diselubungi hawa sakti Jati Sakti.

“Kau… kau benar-benar bersekutu dengan Kala Durga!” teriak Ki Lunggana, suaranya mengandung nada kekalahan yang pahit. “Hanya ilmu hitam yang bisa mengubah anak menjadi naga secepat ini!”

Dipasena memandang Ki Lunggana, matanya kini berkaca-kaca, bukan karena air mata, melainkan karena hawa Prana yang berputar liar di sekelilingnya.

“Ki Guru,” kata Dipasena, suaranya parau. “Saya tidak akan melawan sampai mati. Saya tidak akan membalas dendam pada tangan yang pernah memberi saya makan. Tetapi kebebasan adalah napas, dan saya takkan membiarkan kalian mencekiknya.”

Pemuda ini memutar tubuhnya, menarik semua energi yang tersisa.

Dia menggunakan Benteng Pawana pada batas terakhirnya, mengubah energi pertahanan menjadi gelombang kejut yang menyebar dalam radius lima tombak.

Gelombang udara itu, setebal selimut baja, membentur para murid, membuat mereka terhuyung, terjatuh, dan kehilangan keseimbangan.

Dipasena melompat. Dia melompat bukan ke arah pintu gerbang, tetapi ke arah tembok batu di belakangnya.

Dia menyentuh tembok itu dengan ujung jari, menggunakan Tujuh Titik Maut tingkat empat: Titik Celah.

Teknik ini bukan untuk menyerang lawan, tetapi untuk mencari kelemahan struktural.

Prakk!

Tembok itu retak.

Dengan satu dorongan kaki yang kuat, Dipasena melompat melewati kerumunan yang masih terhuyung.

Dia mendarat di atas tembok yang retak, lalu menoleh untuk terakhir kalinya. Dia melihat tatapan murka Ki Lunggana, tatapan benci Ki Gendola, dan tatapan murid-murid lainnya.

Rasa sakit karena tatapan itu lebih tajam dari seribu tusukan keris. Jantungnya berdenyut, mengirimkan api kegelapan yang tak ia kenal ke seluruh urat nadinya.

Dipasena menarik napas. Aroma daun jati yang terbakar kini terasa seperti bau dupa penguburan.

“Aku pergi, Padepokan Jati Sakti,” bisik Dipasena, suaranya hanya bisa didengar oleh angin. “Kalian telah membuat musuh dari murid terbaik kalian. Aku bersumpah. Aku akan kembali. Bukan hanya untuk membersihkan nama. Tetapi untuk menguasai seluruh dunia persilatan. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Aku akan bekerja dalam sepi, dan kalian akan menuai badai yang kuhasilkan!”

Dengan itu, dia melompat turun dari tembok. Tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan rimba, meninggalkan Padepokan Jati Sakti.

Lalu masuk ke dalam rahim malam yang dingin, seorang pengkhianat yang dicap oleh fitnah, seorang murid yang kini harus menjadi Naga di rimba belantara.

Malam itu, hutan di kaki Lawu terasa seolah menelan semua cahaya dan suara.

Dipasena berlari, bukan lagi sebagai seorang pengecut yang lari dari kejaran, tetapi sebagai badai yang mencari tempat untuk meledak.

Luka di hatinya jauh lebih perih daripada gesekan ranting dan batu di telapak kakinya yang telanjang.

Padepokan Jati Sakti telah mengusirnya, membuangnya, tetapi masih ada satu jangkar yang harus ia gapai, satu muara tempat ia berharap menemukan kebenaran.

Anggrawati.

Adik seperguruan, calon istri, kembang padma yang selalu dia jaga dari lumpur dunia persilatan.

Rumah Anggrawati, yang merupakan rumah dinas ayahnya, Barda, seorang penasihat di padepokan, terletak sekitar seratus tombak dari batas hutan, di sebuah desa kecil yang damai, bernama Wiradesa.

Dipasena memperlambat larinya saat mendekati desa. Napasnya, yang sejak tadi dia atur dengan Ilmu pernapasan, kini terasa berat dan tercekat.

Dia memaksa dirinya untuk tenang. Rila lan narima, menerima nasib dengan ikhlas, adalah pelajaran pertama yang ia dapat dari Guru Besar.

Dia harus menjelaskan, dia harus membersihkan namanya di hadapan satu-satunya orang yang ia yakini akan mendengarkan.

Setelah memanjat sebuah pagar bambu yang tertutup lumut, Dipasena mengendap di balik rumpun pisang.

Cahaya dari lampu minyak yang tergantung di teras rumah Anggrawati tampak seperti titik api di tengah kegelapan.

Dipasena melihat bayangan di teras kayu. Bayangan itu bergerak. Si pemuda mencondongkan tubuhnya, menahan napas.

Anggrawati. Dia duduk di bangku kayu jati, rambutnya yang panjang terurai seperti tirai malam.

Namun, di sampingnya, ada bayangan lain. Bayangan itu tinggi, tegap, dan kekar.

Jantung Dipasena terasa seolah dicengkeram tangan raksasa. Siapa itu?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 122

    Gema bisikan parau yang menyentuh gendang telinganya bukan hanya membawa kengerian, melainkan kekacauan pada memori primordial yang telah ia lupakan.Ia tidak memiliki Ibu. Ia adalah pecahan dari entitas abadi. Tetapi bisikan itu mengandung kebenaran dingin, menghubungkan kekuatannya yang merupakan fragmen Dipasena dengan kehadiran Anggrawati.“Diamlah.” Satria Kala menarik dirinya, kakinya menjauh dari bangkai spiritual pemimpin yang terkutuk itu.Matanya menyisir anggota Bayangan Merah yang tersisa; mereka merayap pergi ke dalam kegelapan. Ia membiarkan mereka lolos untuk sesaat.Keutuhan batinnya lebih mendesak untuk diselamatkan dibandingkan menangkap serpihan prajurit rendahan.Inti permasalahan semakin memburuk. Kehadiran Anggrawati di antara mereka yang mencari Ketiadaan berarti peperangan ini adalah sebuah skandal kosmik yang bersifat pribadi.Ia membutuhkan instrumen yang tidak terikat pada emosi manusianya; senjata yang

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 121

    Suara dengung mantra bergetar di udara malam, dingin dan menusuk. Aromanya kini kuat, bau sangit darah spiritual bercampur belerang dari akar-akar jurang yang jauh.Satria Kala menunggu. Ia mengawasi pemimpin itu. Pria itu tampak familiar dalam caranya membawa diri; arogan, dan terbuai oleh kekuasaan temporer yang ia anggap tak tersentuh.Momen ketegangan datang ketika si pemimpin, sambil mengarahkan kristal hitam yang bercahaya di atas kepala para korban, mengucapkan kata-kata peresmian.“Inti Prana adalah fondasi yang kokoh. Ini adalah kurban pertama yang kita serahkan kepada Dia yang segera datang!” teriaknya dengan suara parau.Pada saat itulah Satria Kala melangkah keluar dari lindungan semak pinus. Bukan dengan teriakan, bukan dengan pedang yang terhunus. Ia hanya berdiri, keheningan kehadirannya jauh lebih keras daripada badai mana pun. Setiap anggota Bayangan Merah, yang tenggelam dalam ekstase mantra, tersentak.Pemimpin itu meno

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 120

    Retakan di langit Loka Keseimbangan berhenti meluas.Tepiannya yang hitam pekat mulai menyusut, ditarik oleh esensi Dipasena yang kini menjadi jaring pengaman, tambalan kosmik yang ditenun dari pengorbanan.“Dia tidak lagi Dipasena, sang manusia,” bisik Nirmala. “Dia telah menjadi Keseimbangan itu sendiri.”Ledakan terakhir di kawah Gunung Guntur bukanlah ledakan yang merusak, melainkan ledakan yang memulihkan.Gelombang cahaya putih cemerlang yang membawa esensi Prana murni meletus dari puncak gunung, membubung tinggi ke angkasa sebelum menyebar ke segala penjuru laksana riak di permukaan danau kosmik.Anggrawati terlempar ke belakang oleh kekuatannya, jatuh tak sadarkan diri ke tanah yang kini tidak lagi hitam, melainkan mulai bersinar lembut.Gelombang penyembuh itu menyapu daratan dengan kecepatan angin. Ia melewati pasukan Cakra Baja di kaki gunung.Ki Dandang, yang tadinya memasang wajah dingin dan tegas, kini hany

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 119

    Anggrawati meletakkan tangannya di dada Jagapati yang kokoh. “Tugasmu adalah untuk hidup dan membangun kembali dunia yang akan kuselamatkan, Jagapati. Engkau dan Kirana harus memimpin mereka. Ini bukanlah tugas seorang prajurit. Ini adalah tugas seorang pemimpin.” Ia menatap puncak kawah. “Pergilah sekarang. Setelah ritual ini dimulai, energi yang dilepaskan akan sangat dahsyat. Kalian tidak akan selamat jika berada di sini.” Ia bersiap untuk menyalurkan seluruh esensinya, seluruh napasnya, seluruh jiwanya, ke dalam kristal yang sekarat itu. Di kehampaan kosmik, di hadapan sobekan hitam pekat di langit Loka Keseimbangan, Dipasena menyaksikan setiap momen itu dengan kejernihan yang menyiksa. Ia melihat Anggrawati menghindari pasukan Ki Dandang. Ia merasakan kelelahannya saat mendaki gunung. Dan sekarang, ia melihat kesiapan di matanya —kesiapan untuk mengorbankan dirinya demi dunia yang sekarat karena keberada

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 118

    “Menyingkirlah dari jalan saya,” kata Anggrawati, nadanya kini sedingin baja. “Saya khawatir saya tidak bisa melakukan itu,” sahut Ki Dandang. Ia mengangkat tangannya yang bersarung tangan. “Kembali ke akademi secara sukarela, atau kami akan memaksa Anda. Perlawanan akan dianggap sebagai pembangkangan terhadap dewan.” Anggrawati menatap dinding manusia yang menghalangi jalannya. Di belakang mereka, Gunung Guntur menjulang tinggi, puncaknya yang sunyi seolah memanggilnya, menjanjikan jawaban atau kematian. Di hadapannya, berdiri logika dingin dan kejam dunia yang telah menyerah pada keputusasaan. Bertarung berarti memulai perang saudara di ambang kiamat. Mundur berarti menyerahkan satu-satunya harapan mereka dan membiarkan ribuan jiwa dibakar menjadi abu. Ia harus memilih, dan ia harus memilih sekarang. Pilihan Anggrawati lebih cepat dari sebilah pedang, lebih tegas dari perintah

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 117

    “Itu karena ini bukanlah sesuatu yang berasal dari dunia kita,” gumam Jagapati, matanya yang tajam menatap kosong ke dalam kegelapan di luar jendela. “Ancaman ini terasa seperti datang dari luar bintang-bintang.” Anggrawati tidak menjawab. Tangannya yang gemetar membuka gulungan lontar lain yang tepiannya sudah hancur menjadi serbuk. Teksnya ditulis dalam aksara kuno yang hanya segelintir sarjana yang masih bisa membacanya. Matanya yang lelah menelusuri baris demi baris, mencari sebuah anomali, sebuah petunjuk yang terlewatkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Seluruh arsip ini adalah sejarah dunia persilatan —sejarah perang, perdamaian, dan kekuatan. Tetapi bagaimana jika jawabannya tidak terletak pada sejarah manusia, melainkan pada sejarah bumi itu sendiri? Pikiran itu memicu sebuah gagasan. Ia bangkit dari kursinya, gerakannya kaku karena terlalu lama duduk, dan berjalan menuju bagian perpustakaan yang paling jarang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status