Se connecter"Apa Tante belum tahu?" Suara Lucas begitu lantang, matanya sempat melirik kearah Raiden yang sekarang terdiam penuh makna. Jarinya mengepal di samping tubuh,menahan amarah yang sejak tadi hendak meluap. "Tolong jelaskan kepada Tante, apa maksud dari perkataan Lucas?" ibu Hagia menatap Raiden penuh tanda tanya, raut wajahnya yang tegas menggambarkan sikap ingin tahunya yang begitu besar. Sedangkan Hagia, berdiri tak nyaman di samping kekasihnya. Ia takut, jika ibunya tahu sekarang Raiden bekerja sebagai pelayan restu itu akan hilang. belum lagi jika ibunya tahu, mobil dan segala aset yang pernah Raiden tunjukan beberapa Minggu lalu saat melamarnya kini sudah tak ada lagi. "Bu, Lucas itu tidak tahu apa-apa," jelas Hagia "Lucas tidak mungkin bohong." Sanggah wanita paruh baya itu dengan cepat. "Kenapa kau harus menutupi kenyataannya hagia? Kenyataan di mana Raiden sekarang bekerja menjadi pelayan di kafe?" Tepat saat itu juga, ibu Hagia menutup mulutnya tak percaya. "Raiden, kau b
"Antarkan aku pulang," ucap Hagia pada akhirnya. Raiden menatap perempuan itu dengan tatapan bingung. Bagaimana tidak, perempuan itu yang memintanya untuk bertemu, dan berjanji tak membahas masalah pernikahan tapi sekarang Hagia sendiri yang juga meminta untuk pulang. Terkadang, pria memang harus serba salah demi seorang perempuan. Pemuda itu akhirnya mengangguk pasrah, sebelum benar-benar mengantarkan Hagia pulang ia tak lupa membayar pesanan. Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Raiden mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang, sementara Hagia duduk di belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Biasanya, perempuan itu akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari. Hari ini tidak. Mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Raiden beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, bayangan siluet Jasmine di depan kafe ke
Perdebatan itu belum benar-benar berakhir. Sepasang kekasih itu masih saling menatap dengan emosi yang sama-sama belum mereda. Tidak ada lagi suara tinggi, tetapi keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih menyesakkan. Masing-masing mempertahankan keyakinannya sendiri, seolah tidak ada yang bersedia mundur selangkah. Raiden mengepalkan jemarinya di atas meja. Di dalam kepalanya hanya ada satu pemikiran, harus tetap melanjutkan pernikahan itu. Apa pun yang terjadi. Sementara Hagia juga tidak bergeming. Ia tidak sedang menolak menikah, hanya tidak ingin lelaki yang dicintainya terus memikul beban seorang diri. Sebenarnya keegoisan mereka lahir dari cinta yang sama. Namun anehnya justru membuat keduanya semakin saling melukai. Di tengah keheningan itu, tatapan Raiden tanpa sengaja bergeser ke arah luar kafe. Saat itulah matanya menangkap sesosok perempuan baru saja membuka pintu sebuah mobil mewah. Hanya sesaat, yang
Setelah beberapa minggu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Jasmine akhirnya meminta izin kepada Zen untuk keluar. "Boleh aku bertemu klien sore ini?" Zen yang sedang merapikan dasinya langsung menghentikan gerakannya. "Klien?" Jasmine mengangguk. "Pertemuan ini cukup penting." "Aku hanya sebentar." lanjutnya, agar suaminya memberikan izin. Pria itu terlihat berpikir beberapa saat. Tatapannya sempat turun ke arah perut Jasmine yang masih belum memperlihatkan perubahan berarti. "Jangan terlalu lama. Kalau sudah selesai langsung pulang." Jasmine tersenyum lembut. "Iya. Aku janji." "Kalau badanmu terasa tidak enak, langsung telepon aku." "Baik." Zen mengusap pelan rambut istrinya sebelum akhirnya membiarkan Jasmine pergi. **** Mobil Jasmine berhenti di depan sebuah kafe. Langkahnya turun
"Aku ingin bertemu denganmu." Suara Hagia terdengar pelan dari seberang telepon.Raiden yang sedang duduk di teras rumah menatap langit sore tanpa benar-benar memperhatikannya. Jemarinya memainkan gantungan kunci motor di tangan, sementara pikirannya masih dipenuhi berbagai angka yang tak kunjung menemukan jalan keluar.Ia mengembuskan napas panjang."Hagia, jangan sekarang.""Kenapa?" tanya perempuan itu lirih.Pemuda tersebut memejamkan mata beberapa detik."Karena aku tahu. Kalau kita bertemu, ujung-ujungnya kita akan membahas pernikahan lagi."Beberapa saat tidak ada jawaban. Hanya suara embusan napas Hagia yang terdengar pelan di seberang sana. "Aku tidak akan memaksamu, hanya ingin bertemu."Raiden tetap diam."Hanya sebentar. Aku juga ingin meminta maaf."Kalimat terakhir itu membuat Raiden membuka mata."Aku minta maaf. Karena mungkin selama ini aku belum benar-benar
"Kenapa?" Jasmine memecah keheningan dengan nada yang terdengar polos. Kepalanya sedikit dimiringkan, seolah benar-benar tidak memahami alasan di balik reaksi mereka yang begitu tergesa-gesa. Ratna berkedip beberapa kali. "I-itu..." Suara perempuan itu mendadak kehilangan kelancarannya. Bibirnya membuka, lalu kembali menutup, seakan sedang mencari alasan yang paling masuk akal. Adik iparnya menunggu tanpa mendesak. Tatapannya bergantian berpindah dari Ratna kepada Intan. "Makanan seenak ini..." Ratna akhirnya berdeham pelan, berusaha menguasai dirinya kembali. "Rasanya sayang kalau diberikan kepada para bibi." Alis Jasmine terangkat tipis. "Oh ya?" "Iya." Ratna memaksakan senyum. "Kami sengaja membelinya khusus untukmu." Jasmine mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut. "Kenapa memangnya? Aku dan Zen tidak pernah membeda-bedakan makanan kami dengan makanan yang dimakan para bibi," ucapan itu membuat Ratna kehilangan kata-kata. Tatapannya hanya melirik sekilas ke arah Intan. Da
"Baiklah... aku mau." Suara Raiden terdengar pelan, tetapi cukup jelas di tengah kamar yang sunyi. Jasmine langsung menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus terlihat di wajahnya. "Kau serius?" tanyanya memastikan. Raiden menelan ludah sebelum mengangguk pelan. "Aku akan beru
Jasmine menatap layar ponselnya sebentar sebelum berkata santai, "Nomor rekeningmu." Raiden masih belum sepenuhnya sadar. Dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi perbankan lalu menyerahkan ponselnya. Di sampingnya, pria bertubuh besar yang sejak tadi menagih utang ikut memperhatikan dengan cur
Saat orang-orang lain sibuk mengejar wanita kaya seperti Jasmine, dirinya malah ingin kabur. “Tidak,” ucapnya tegas. “Maaf, kau salah orang.” Tanpa memberi kesempatan Jasmine bicara lagi, Raiden segera berjalan keluar. Pintu kamar tertutup pelan. Menyisakan Jasmine yang hanya diam menatap keper
Jasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata b







