ログイン
"Im Kwan, kau sudah kembali? Kenapa kau tahu aku sedang di sini? Apakah ada yang memberitahumu? Aku khawatir kau tidak kembali, syukurlah, kau sudah kembali, aku merindukanmu."
Cang Sin bicara demikian seraya memeluk tubuh Im Kwan, wanita yang akan dinikahinya setelah ia mewarisi ilmu inti ayahnya. Namun, belum lagi Cang Sin puas dengan apa yang ia lakukan pada sang kekasih, tiba-tiba saja, tubuh Im Kwan berubah menjadi patung perempuan, dan bersamaan dengan itu, sebuah kekuatan mendorong tubuh Cang Sin hingga ia terpental dan menubruk dinding batu goa di mana ia sedang melakukan pencarian ramuan obat di tempat tersebut untuk obat-obatan herbal yang akan diolah ayahnya menjadi obat. Cang Sin belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, namun ia buru-buru bangkit sambil memegangi dadanya yang berdenyut sakit akibat terpental tadi, dan ia berusaha untuk mencari keberadaan sang kekasih yang tidak nampak di mana-mana. "Im Kwan! Kau di mana?!" teriaknya berulang kali, namun bukan suara sang kekasih yang menanggapi teriakan darinya tapi suara seseorang yang menghardiknya dengan nada suara yang sangat terdengar terbalut dengan perasaan marah. "Manusia lancang! Kau masuk ke sini, sudah aku izinkan, tapi kau berani memeluk patung perempuan penunggu tempat ini! Kau, akan aku kutuk seumur hidupmu!" Sekelebat bayangan hitam terlihat mata Cang Sin, disertai dengan teriakan melengking yang mengucapkan kata-kata tadi padanya. Cang Sin melompat mundur tidak mau diserang oleh bayangan hitam tersebut, tapi perkiraannya salah. Ia mengira, bayangan hitam yang sekarang berwujud jelas di depan matanya itu ingin menyerangnya dengan pukulan, tapi ternyata tidak. Seorang perempuan berjubah hitam berdiri tegak di hadapannya. Ia mengacungkan tongkat di tangannya ke arah Cang Sin, seolah memberikan peringatan pada Cang Sin untuk diam saja di tempatnya. "Maaf, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berbuat sesuatu yang buruk di tempat ini, aku tidak berniat menyentuh patung perempuan itu, aku minta maaf." Cang Sin berusaha untuk menjelaskan apa yang dilakukannya pada perempuan berjubah hitam tersebut agar perempuan itu tahu ia tidak melakukan sesuatu yang buruk di tempat itu. "Dasar manusia! Sudah melanggar pun masih melakukan pembelaan, patung perempuan itu tersingkap, tidak memakai penutup lagi, kau yang menyingkapnya! Otakmu kotor! Kau sudah melanggar ketentuan masuk ke tempat ini, kau tidak akan lolos dari hukuman!" Baru saja perempuan berjubah hitam itu bicara, sekelebat bayangan hitam kembali datang dan tahu-tahu di tempat itu berdiri Cung Sin, kakak kembar Cang Sin hingga membuat Cang Sin mengerutkan keningnya mengapa kakak kembarnya itu bisa ikut berada di tempat di mana ia juga berada? "Kak Cung Sin? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau bilang, kau tidak bisa ke tempat ini karena ada urusan di perbatasan? Mengapa kau ada di sini? Kau mengikutiku?" tanya Cang Sin bertubi-tubi. Mendengar pertanyaan sang adik kembar, Cung Sin hanya melirik Cang Sin sesaat, setelah itu, ia mengalihkan pandangannya pada perempuan berjubah hitam yang ada di hadapannya. "Mohon ampun pada Dewi Lembah Seribu Obat, adikku ini memang sedang dikuasai pikiran kotor karena sudah lama tidak bertemu dengan calon istrinya yang sedang pergi entah kemana, sebagai putra dari pendekar tersohor, aku mewakilinya untuk meminta maaf, bisakah, kami pergi sembari membawa tanaman obat yang dibutuhkan oleh perguruan kami?" Cung Sin berkata sembari menjura hormat pada perempuan berjubah hitam yang ia sebut dengan Dewi Lembah Seribu Obat. Menyadari ia dibela oleh sang kakak kembar, Cang Sin yang tadinya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan jadi lega dan diam-diam mengucapkan terima kasih pada kakak kembarnya yang biasanya tidak pernah bersikap hangat padanya tersebut. Cang Sin tidak menyangka, Cung Sin membelanya hingga ia yakin perempuan berjubah hitam itu pasti akan memaafkan dirinya. Namun sebenarnya, ia tidak terima dikatakan memiliki pikiran kotor seperti yang disebutkan sang kakak kembarnya tadi padanya. Meskipun apa yang dikatakan oleh Cung Sin itu benar bahwa, calon istrinya, Im Kwan sangat dirindukannya semenjak tidak kembali setelah pamit padanya untuk ke perbatasan, tapi Cang Sin masih bisa mengatasi perasaan itu untuk tidak melakukan pelanggaran. Akan tetapi, yang tadi adalah sebuah hal yang tidak terduga. Sosok Im Kwan begitu nyata hingga ia mengira perempuan itu menyusulnya ke lembah seribu obat lalu ia sontak memeluk perempuan tersebut karena terlalu rindu. Bagaimana mungkin tiba-tiba sosok kekasihnya berubah menjadi patung perempuan terlarang yang memang ditabukan untuk disentuh apalagi dibuka kain yang menutupi tubuh patung perempuan yang terpahat tanpa pakaian di lembah itu? "Punya pikiran kotor seharusnya tidak diutus ketempat ini! Kalian pikir tempat ini milik siapa saja yang butuh obat? Adikmu itu sudah melanggar! Seseorang yang melakukan pelanggaran akan tetap mendapatkan hukuman dan adikmu itu harus menerimanya!" Dewi Lembah Seribu Obat itu kembali mengacungkan tongkat yang ia pegang pada Cang Sin. Bibirnya komat-kamit membaca mantra, tapi Cang Sin buru-buru menjatuhkan diri ke hadapan sang perempuan berjubah hitam itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tolong, maafkan aku, Dewi! Aku benar-benar tidak berniat kotor ketika aku masuk ke sini! Niatku hanya menjalankan perintah dari ayahku, mengambil daun obat, setelah itu pergi, tolong maafkan khilaf yang sudah aku lakukan, aku tidak tahu jika patung perempuan itu bisa berubah...." Cang Sin berusaha menjelaskan, agar perempuan berjubah hitam itu memaklumi apa yang ada dilakukannya. Akan tetapi, wajah perempuan berjubah hitam itu tetap garang seperti sebelumnya. Penjelasan Cang Sin tidak membuatnya puas sedikitpun. Tangannya masih mengacung pada Cang Sin dengan tongkat yang sejak tadi di arahkan pada Cang Sin. "Patung perempuan ini tidak pernah berubah menjadi apapun! Kakakmu mungkin benar, kau berpikir kotor setelah melihat patung ini karena patung ini telanjang, kau berimajinasi bahwa patung ini kekasihmu yang menghilang, lalu kau memeluknya, benar-benar tindakan yang kotor, kau tetap akan dihukum! Bersiaplah menerima hukuman!" Setelah bicara seperti itu pada Cang Sin, perempuan berjubah hitam itu kembali komat-kamit membaca mantra masih sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Cang Sin yang posisinya tetap bersimpuh seperti tadi. Dari tempatnya, Cung Sin tidak bergerak sama sekali meskipun adik kembarnya ingin ia melakukan sesuatu agar perempuan berjubah hitam itu mengurungkan niatnya untuk memberikan hukuman. Cang Sin masih saja meminta keringanan pada perempuan tersebut untuk memaafkan dirinya. Namun, dari ujung tongkat yang diarahkan pada Cang Sin. Keluar asap hitam dan asap hitam itu langsung menyerbu ke arah Cang Sin hingga tubuh Cang Sin lenyap terselimuti asap hitam tersebut tanpa terlihat sama sekali!Melihat apa yang dilakukan oleh Cang Sin itu semua dicegah oleh Im Kwan khawatir saat mereka bersentuhan rasa sakit itu kembali menyerang dan memperburuk keadaan Cang Sin yang sudah terluka. Menyadari Im Kwan menolak saat ia ingin memeluk perempuan tersebut, Cang Sin membuang napas. Wajahnya terlihat sedih dan ia menahan diri untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya pada tubuh sang kekasih. "Aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar tentang Dewi Lembah Seribu Obat, tapi satu hal yang harus kau tahu, aku tetap ingin berusaha agar terlepas dari kutukan ini."Cang Sin mengucapkan kalimat tersebut dan Im Kwan mengarahkan pandangannya pada Cang Sin. "Jika ternyata kau tetap tidak bisa memusnahkan kutukan itu, bagaimana?""Aku tidak akan menikah dengan siapa pun, tapi kau boleh menikah dengan pria yang kau sukai karena aku tak berhak untuk menahanmu dengan keadaanku yang seperti ini."Im Kwan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Cang Sin. Namun, karena ia tahu mereka adala
"Mereka adalah orang-orang di kelompokku sendiri. Selama ini mereka tidak merestui pernikahanku dengan Boyen, tapi karena kami punya rencana untuk membuat Boyen gagal dalam misinya, aku terpaksa menikah dengan pria itu."Penjelasan Lien Er membuat Cang Sin dan Im Kwan saling pandang. "Ternyata apa yang kukatakan waktu itu benar, kau memang tidak sungguh-sungguh untuk menjadi pengikut iblis. Kau melakukan itu untuk sebuah rencana." Cang Sin menanggapi apa yang dikatakan oleh Lien Er, dan Lien Er tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh pria tersebut sehingga darah di mulutnya keluar kembali. "Kau memang pandai menebak situasi, Cang Sin. Tapi sejujurnya, saat kau menolak perasaanku, aku berpikir untuk benar-benar menjadi pengikut iblis itu. Tapi kemudian aku sadar, jika itu kulakukan aku akan membuat kelompokku malu pada negeri ini.""Hei! Kau terang-terangan sekali mengungkap perasaanmu pada kekasih orang?!" kata Im Kwan merasa cemburu dengan pernyataan Lien Er. Lien Er s
"Lengan ini tidak bisa disembuhkan, Cang Sin. Meskipun obat yang kau berikan itu manjur, tetap saja tidak akan bisa mengembalikan lenganku seperti semula. Sudahlah. Tidak usah menghiburku. Sekarang buka bajuku! Kau harus memeriksa kristal itu memang musnah atau justru masuk ke dalam jantungku. Jika itu terjadi, kau harus mengambil jantungku lalu hancurkan. Karena kalau kau tidak melakukannya, aku akan berubah menjadi iblis seperti Lucifer."Panjang lebar Lien Er bicara seperti itu pada Cang Sin. Hingga membuat Cang Sin jadi bingung harus bagaimana ia menuruti apa yang diperintahkan oleh Lien Er padanya karena ia seorang laki-laki."Apalagi yang kau tunggu? Lakukan! Kau ingin semuanya terlambat dan perjuanganmu membuat perbatasan bebas dari pengikut iblis sia-sia?" Suara Lien Er terdengar membuyarkan lamunan Cang Sin yang saat itu masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa melakukan hal yang diperintahkan Lien Er tapi tidak secara langsung membuka pakaian perempuan tersebut. Pria
Kristal keabadian. Benda itu ada di tangan Lien Er hingga Raja Iblis Bo bergegas mendekat ke arah sang istri tapi gerakannya terhenti seketika saat Lien Er mencengkram kristal di tangannya dengan kuat, dan Raja Iblis Bo berteriak keras seolah jantungnya diremas oleh sesuatu yang menyakitkan."Lihat, kau sekarang kesakitan, bukan? Jika kau tidak percaya kristal ini justru membuat kita semua musnah, aku akan memperlihatkan bagaimana cara kerja kristal ini pada orang yang ingin dikuasainya!"Suara Lien Er terdengar tapi Raja Iblis Bo mencegah hal itu dilakukan oleh Lien Er, karena ia tidak mau kristal tersebut menjadi terkontaminasi kekuatannya jika itu dilakukan oleh Lien Er. "Jangan kau lakukan apa pun pada kristal itu, Lien Er! Berikan saja padaku! Jika kau memberikan kristal itu, aku akan melupakan semua perbuatan kurang ajar mu itu! Berikan padaku!"Suara Raja Iblis Bo terdengar lantang saat mengucapkan kalimat itu pada Lien Er. Tapi tetap saja, Lien Er tidak mau melakukan apa yang
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tubuhnya jadi meleleh?" tanya penjaga ruang perenungan itu pada Zaiho. "Ini bukan tubuh asli Kak Cung Sin. Raja Iblis Bo memanfaatkan kekuatan yang ia berikan pada Kak Cung Sin untuk menguasai tubuhnya."Zaiho menjawab pertanyaan sang penjaga ruangan itu, dan penjelasannya membuat kedua penjaga ruangan tersebut terkejut. "Jadi, sekarang Kak Cung Sin ada di luar perguruan?" tanya mereka dengan wajah yang terlihat khawatir. Bagaimana tidak khawatir? Jika guru besar mereka tahu mereka tidak bisa menjaga Cung Sin, bukankah itu adalah sebuah keteledoran?"Iya. Kak Cang Sin menghubungiku lewat batin, dia sekarang sedang berhadapan dengan Kak Cung Sin. Sekarang kalian bereskan saja tempat ini. Aku akan coba untuk melakukan perintah Kak Cang Sin agar bisa menarik kembali Kak Cung Sin kembali."Mendengar perintah dari Zaiho, kedua penjaga ruang perenungan itu mengiyakan. Selama perguruan sedang terguncang karena Cang Sin dianggap tewas di perbatasan
"Kalau kau menggunakan kekuatan inti yang kau dapatkan dari para pendekar wanita itu secara berlebihan, kau akan celaka, Cang Sin!"Begitu suara Dewi Lembah Seribu Obat terdengar di telinga Cang Sin, hingga Cang Sin mengurungkan niatnya untuk mengerahkan kekuatan inti yang sekarang ada di dalam tubuhnya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Raja Iblis Bo. "Bagaimana dengan Kak Cung Sin jika aku tidak melakukan apa yang dia inginkan?" tanya Cang Sin pada sang dewi."Itu resikonya. Ketika ia sudah bekerjasama dengan Raja Iblis Bo, maka ia sudah tahu resiko apa yang akan terjadi padanya, jadi kau, tidak perlu memikirkan hal itu.""Tidak. Meskipun apa yang kau katakan itu benar, tapi dia tetap kakakku yang harus diberikan kesempatan untuk berubah.""Apakah kau akan bersikap seperti ini jika orang itu bukan saudaramu?""Tentu saja! Setiap orang yang ingin berubah harus diberikan kesempatan itu.""Memangnya Cung Sin mau berubah? Dia jelas-jelas mengajakku bekerjasama. Lalu dengan Raja Ib







