LOGINBunyi klakson yang terus menerus membuat pengendara lain mengumpati Jere yang tampak terburu-buru padahal jelas-jelas jalanan memang sangat padat. Pria itu tidak peduli dengan umpatan atau teriakan yang di tujukan padanya karena yang paling penting sekarang adalah segera tiba di rumah keluarga Ella.
"Kenapa jadi kacau begini, sih?"
Dia masih tidak percaya Ella membatalkan pernikahan. Jika berita ini sudah sampai pada pada orang tuanya berarti Ella juga sudah menyampaikan kepada orang tuanya.
"Masa sih dia tega?" ujar Jere masih tidak percaya.
Lolos dari kemacetan, dia menggila saat jalanan mulai sepi. Dan tidak lama dia segera tiba di depan rumah megah dan kokoh berwarna sage putih.
Dia di persilahkan masuk oleh satpam dan langsung di bawa ke ruangan dimana ada kedua orang tua Ella dan satu pria penuh tato di lengannya.
Cecil berdiri dan langsung tepuk tangan menyambut kedatangan mantan calon menantunya itu, "Bagus sekali Jere. Baguuuusss!" ujarnya dengan seringaian yang belum pernah Jere lihat.
Dengan langkah secepat citah, Cecil menghampiri Jere dan langsung menampar pipinya kemudian menendang kakinya hingga membuat Jere berlutut sembari menahan sakit.
Juan langsung berlari dan memeluk istrinya yang hendak menginjak telapak kaki Jere dengan tumit sepatunya.
Melihat adegan itu, Xander teringat kejadian bertahun-tahun lalu saat Cecil menggunakan tumit sepatu menghajar seseorang di club. Pria itu tersenyum dalam diam karena sampai setua ini, anak asuhnya itu masih saja bar-bar.
"Sudah kupesankan agar kau tidak menunjukkan batang hidungmu di hadapanku kalau tidak akan kuratakan seperti aspal tapi dengan beraninya kau datang kesini setelah kau menyakiti putriku, badjingan!"
"Sudah Ma, sudah. Kita bicarakan tanpa emosi."
"Aaahhhk, gimana bisa bicara tanpa emosi sama anj!ng satu ini, cuih!"
Cecil meludah tepat di hadapan Jere namun Jere tidak berani protes bahkan tidak mendongak sedikitpun karena tidak ingin di ratakan.
Dalam posisi menunduknya, dia merapatkan gigi karena kesialan hari ini. Ini bukan pertama kali dia mengabaikan panggilan Ella. Bukan pertama kali juga mengingkari janji tapi kenapa Ella harus datang ke kantornya dan memergoki aksinya yang sedang berc!nta dengan perempuan lain. Sialnya, dua hari lagi adalah hari pernikahan mereka.
Bagai buah simalakama,
Tak lama, terdengar derap langkah terburu-buru dari arah pintu masuk. Jantung Jere semakin berdetak tak karuan begitu mendengar geraman pria yang dia kenali adalah suara papanya.
"Anak s!alan," ujar Jansen seraya mendekat dan menampar Jere hingga terpental ke lantai. Mamanya berteriak tak kuasa melihat keadaan anaknya lalu berteriak agar suaminya menghentikan pukulan.
"Stop Pa, Stop! Dia bisa mati kalau di pukuli terus," ujar wanita itu seraya berlari memeluk anaknya yang sudah lemas dan bibirnya berdarah.
"Mas, Jeng, ayo kita bicarakan baik-baik. Jangan pake kekerasan," ujar wanita itu dengan isak sembari menatap Cecil dan Juan.
"Jang Jeng Jang Jeng, nggak ada Jeng Jeng-an lagi," gumam Cecil tapi dia berbalik dan berjalan menuju sofa.
Juan mempersilahkan keluarga itu duduk agar mendengarkan sesuatu yang membuat mereka semakin mantap membatalkan pernikahan dan tidak akan memberikan maaf pada Jere.
Dengan kerlingan matanya, Xander meletakkan ponselnya di atas meja setelah membuka file rekaman yang dia dapat dari kantor Jere tadi.
"Beb, kamu nggak khawatir sama tunangan kamu tadi? Dia melihat kita dengan jelas loh," ujar seorang perempuan.
"Nggak, kamu tenang saja. I know her well. Paling sekarang dia lagi nangis dan menenangkan diri di apartemennya. Nanti juga akan bersikap baik-baik saja."
"Seyakin itu?"
"Hmmm, Dia sangat mencintaiku. Selain itu, dia nggak akan membuat sesuatu yang bisa mempermalukan keluarganya."
"Bodoh sih menurutku."
"Ya. Tapi untuk saat ini kebodohannya menguntungkan kita kan? Kita akan tetap bisa seperti ini walaupun dia udah tahu."
"Tapi kalian akan menikah dua hari lagi. Setelah itu aku pasti akan di tinggal, kan?" tanya perempuan itu dengan nada sedih-sedih manja.
"Nggak lah. Kamu nggak akan pernah aku tinggalkan. Selama kamu bersikap baik dan menurut, aku akan tetap ada untuk kamu. Cuma itu,.." jawab Jere menggantung."Jangan pernah minta dinomor satukan. Karena itu tidak akan pernah bisa."
Hening sejenak sebelum terdengar suara gresek-gresek.
"Baiklah, aku akan bertahan jadi nomor dua. Tapi jangan mengabaikanku terlalu lama hanya karena Ella ya."
"Iya. Bertahanlah. Apapun yang kamu minta akan aku penuhi, apalagi setelah aku menjadi suaminya, salah satu perusahaan yang tadinya milik Ella, aku yang akan handle. Kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau."
"Kalau aku minta anak?"
"Bisa, tapi apa kamu bisa mengurusnya sendirian saat masih bayi?"
"Carikan aku babysitter saja kalau soal itu," jawab perempuan itu.
Keduanya terdengar terkekeh riang dengan segala rencana jahat mereka. Mendengar rekaman percakapan untuk yang kedua kalinya tetap saja membuat hati Cecil memanas.
Pria yang selama ini di anggap baik dan sangat penyayang ternyata lebih licik dan lebih jahat dari seekor ular.
Matanya menatap tajam Jere yang terus menunduk. Tanpa seorang pun tahu, bahwa sekarang Jere sedang berpikir keras darimana rekaman percakapan itu mereka dapatkan.
Sekilas dia menduga bahwa itu dari Windy -selingkuhannya-.
"Beb, sebaiknya kamu pergi menemui Ella. Dan bilang padanya bahwa kamu di jebak oleh rekan bisnis. Bilang saja aku adalah suruhan rekan bisnismu yang ingin melihatmu hancur. Katakan padanya kalau kamu diberikan obat perangsang jadi nggak sadar sudah melakukan itu pada orang lain," saran si wanita membuat Jere sedikit menggumam.
"Ide yang bagus. Tapi sebelum pergi, bolehkah aku minta sekali lagi? Anggap saja aku masih terpengaruh obat."
Itu adalah akhir dari percakapan mereka dan sebelum rekaman di tutup sempat terdengar decapan dan desa-han kedua orang itu.
Xander mengambil ponselnya dari atas meja kemudian tanpa jeda langsung menelepon seseorang.
Di hadapan banyak orang dia bicara, "Sudah sampai? Bawa masuk kalau begitu."
Mereka tidak tahu apa maksud Xander. Siapakah kira-kira tamu itu?
Interaksi intens pasangan itu hanya berlaku pada saat di kunjungi saja.Setelah Ida pulang ke rumah setelah menginap dua malam, malamnya Bastian langsung kembali ke apartemennya dengan tergesa karena sedari kemarin ponselnya sudah ribut terus dan Ella yakin itu dari kekasihnya.Setelahnya, sampai dua minggu mereka tidak bertemu pun tidak berbagi kabar.Ella sibuk dengan pekerjaannya yang sedang berada di tahap akhir semester sementara Bastian sibuk dengan usaha dan persiapan masuk semester bulan depan.Pasangan aneh memang, selama libur semester pun Ella tidak menggubris Bastian malah dia pergi pelesiran ke Jogja selama seminggu.Menikmati kota wisata itu sendirian dan merasa bahagia.Pergi ke kampus tempat papanya mengajar dimana mamanya juga kuliah disana.Ella tersenyum membayangkan wajah mamanya jaman dulu yang tersipu malu ketika berpapasan dengan papanya."Sampai hari ini aku masih yakin ma yang kecintaan," gumamnya.Dia dan saudaranya tidak percaya seratus persen pada cerita ma
Bastian menatap Ella dengan tatapan lekat sebelum kemudian dia mengalihkan pandangan ke langit-langit.Tak satu pun kata yang bisa dia ucapkan sebagai jawaban untuk pertanyaan Ella.Dia menghela napas panjang kemudian dia mengubah posisi menjadi berhadapan dengan Ella.Dia merapatkan matanya dan mencari-cari apa yang ada di dalam benaknya.Disana dia hanya melihat wajah seseorang yang sedang merajuk manja, sedang marah lalu tersenyum manja lagiSetelah dia membuka mata, dia melihat pahatan wajah Ella yang sangat sempurna sebagai wanita. Sangat membanggakan sekali apabila bisa memiliki Ella sepenuhnya dalam hidup ini. Namun dia tidak merasakan debaran apa pun walau dia hanya berjarak dua jengkal dari Ella."Jika kita pasangan normal, aku adalah pria brengsek yang sampai kapan pun tidak akan kamu temui lagi," ujarnya membuat Ella mengernyitkan keningnya karena tidak paham. Otak cerdasnya tetap tidak sampai."Aku berbaring di dekat kamu sambil bercerita tapi pikiranku sepenuhnya pada ora
"Mami pikir nggak ada orang, kamu lama bangat buka pintunya," ujar Ida ketika pintu sudah di buka.Ella hanya tersenyum sembari melangkah satu langkah di belakang mertuanya."Bastian ada?""Ada Mi. Bantar Ella panggil.""Eh eh, nggak usah. Mami kesini cuma mau lihat kamu aja, bukan dia," ujar Ida sembari cemberut. Melihat tingkah mertuanya yang kekanakan membuat Ella tersenyum geli.Ida duduk di sofa dan melihat sekeliling apartemen. Dalam hati dia bicara "Nggak salah memang aku memilih besan"Perabotan yang minimalis namun langsung terlihat mewah dan mahal."Mami bawain ini buat kalian. Simpan aja di kulkas. Panaskan pas mau makan. Udah sengaja Mami kemas per sekali makan."Wanita itu mengeluarkan beberapa wadah kecil dari goodi bag yang dia bawa tadi dan Ella dengan sigap mengangkatnya ke meja makan agar di tata di kulkas.Tak berselang lama, Bastian keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit berantakan. Penampilannya yang urakan membuat Ida tersenyum simpul karena menduga sesuatu
"Ternyata karena ini kamu kirimkan aku surat pernyataan bercerai? Hahah" Bastian langsung mencerca Ella ketika keduanya berada di dalam lift menuju lantai unit Ella. Sejak keluar dari cafe tadi dan bertemu Bastian di pintu masuk cafe, Ella tidak menyapa tapi Bastian mengikuti langkah Ella hingga mereka berada di lift. Kebetulan yang sangat kebetulan, tidak ada orang lain di dalam lift. "Terserah kamu mau mikir dan ngomong kayak gimana," jawab Ella mengendikkan bahu dan menyenderkan punggungnya di dinding sembari menatap angka yang menunjukkan posisi mereka di dalam lift. Lagi-lagi Bastian mendengus ketika melihat langsung dan mendengar respon Ella pada sindirannya. Dia mendekat pada Ella dan menarik lengan gadis itu dengan kasar, "kamu sadar nggak sih udah menghancurkan hidupku? Tiba-tiba paksa menikah, tiba-tiba cerai. Suka-suka kamu aja." Meski Ella sadar bahwa apa yang Bastian katakan adalah kebenaran, namun dia mencoba sekali lagi berpengang teguh pada alasan yang dia buat k
Selama hampir dua bulan Ella dan bastian tidak bertemu sejak pertengkaran mereka di telepon kapan hari. Setelah Ella mencetak surat perjanjian cerai, dia menandatangani dan mengirimkannya pada Bastian tapi sampai hari ini tidak ada balasan. Beberapa kali orang tua Bastian mengajak Ella hangout dan meminta agar Ella menginap di rumah mereka tapi Ella selalu beralasan sedang sibuk karena pekerjaannya yang sedang banyak di akhir semester.Selama dua bulan ini juga, Ella sudah dua kali di datangi oleh Jere ke apartemen tapi Ella tidak mempersilahkan Jere masuk bahkan tidak mau menyapanya.Kali ini, Jere datang lagi dan memohon agar Ella membuka pintu dan mau bicara dengannya menyelesaikan yang menurutnya belum selesai."Tunggu aku di cafe di bawah. Aku akan datang sebentar lagi," ujar Ella dari balik pintu untuk merespon Jere yang tetap memaksa untuk bertemu dengannya.Lima belas menit kemudian, Ella turun sembari menyandang tas kecil di bahunya yang ternyata berisi alat kejut kecil da
Dering ponsel yang tidak henti-henti membuat Ella menyelesaikan mandinya dengan terburu-buru. Dia mengenakan bathrobe lalu berjalan cepat sembari membungkus rambutnya."Sabar! Sabar!" teriaknya pada ponsel yang berdering itu. "Ya ellah, dia lagi," ujarnya begitu melihat nama pemanggil. Seperti orang tak sabaran, ketika panggilannya tidak di jawab, panggilan selanjutnya langsung berdering lagi. "Hmmm!" "Bukain pintu. Aku di depan." Ella memutar matanya malas begitu mendengar nada sok mengaturnya Bastian. "Aku nggak di apartemen. Kamu balik aja ke apartemen kamu. Aku nggak pulang malam ini." Terdengar tawa sumbang di seberang sana membuat Ella mengerutkan keningnya. "Nggak pulang? Hahaaaa," Tanpa sadar Ella mengangguk mengiyakan. "Lagi dimana kamu? ketemuan sama mantan kamu itu?" "Ngomong apa sih," ujar Ella menanggapi. "Kalau nggak mau ke apartemen kamu, aku kirimkan kode pintu," ujarnya hendak mengakhiri panggilan. Dia malas berdebat dengan Bastian yang ternyata mulutnya t







