LOGIN"Uuuggghhh!!" Rasa sakit di kepala karena terbentur saat jatuh membuat Fang Jianheeng memegangi kepalanya, ia melihat ke sekitar namun tatapannya masih buram.
"Kau sudah sadar?" tanya Bibo dengan tubuh manusianya sebagai gadis muda yang terlihat dewasa dengan wajah yang tajam. "Mengapa kau bertanya, sudah jelas dia sadar sekarang!!" kata Sisu dengan tatapan kesal ke arah Bibo, Sisu memiliki tubuh gadis cantik muda dengan tatapan ceria. "Aku di mana?" tanya Fang Jianheeng, ia menatap Bibo dan Sisu bergantian. "Apa... Kalian siluman?" tanya Fang Jianheeng lagi. Karena mustahil rasanya ada dua orang wanita cantik yang mampu bertahan hidup di dalam hutan yang terkenal dengan penghuni siluman dan monsternya. "Kau dirumah kami dan mengapa pertanyaanmu seperti itu? Apa kami terlihat seperti siluman?" tanya Bibo dengan nada sinis. Ia sudah menampakkan sosok manusianya yang cantik tapi masih dikira siluman, ingin rasanya Bibo menjitak kepala gadis muda di depannya. "Tidak, kalian sangat cantik!! Maafkan aku, karena hutan ini terkenal sebagai tempat siluman dan para monster," jelas Fang Jianheeng mengibaskan kedua tangannya. "Haish!! Kakak, kau membuatnya takut..." sahut Sisu lebih ramah. "Nona, jika kami siluman lalu kau ini apa? Bukankah kau juga berada di hutan ini sekarang," kata Sisu menghilangkan prasangka Fang Jianheeng kepada mereka. "Aku... Aku...!!" Fang Jianheeng bingung harus menjawab apa, sepertinya ia sudah membuat kedua wanita cantik itu tersinggung karena perkataannya, 'betapa bodohnya mulut ini!!' bentak Fang Jianheeng dalam hati. "Sudahlah... Jangan terlalu kau pikirkan, mengapa kau ada di tengah hutan?" tanya Bibo lagi, kali ini ia bertanya dengan nada yang ramah. "Aku... Aku dikejar para penagih hutang, mereka akan menjualku jika aku tidak bisa membayar," kata Fang Jianheeng mengakui. Wajahnya terlihat kotor karena belum membersihkan diri, penampilan Fang Jianheeng lebih menyedihkan ketimbang takdir yang kini ia jalani. "Jadi kau berhutang dan tidak bisa membayarnya?" tanya Sisu, ia tak menyangka gadis di depannya yang masih memakai seragam sekolah sudah berani berhutang. "Ayahku yang berhutang, ia lari dengan uang tabunganku dan meninggalkan hutang untukku," Fang Jianheeng meremas kuat roknya, air mata tertahan di pelupuk mata, amarahnya kembali hadir dan membuncah di dadanya. "Gadis malang!! Tapi tenanglah, mereka takkan berani ke sini, tapi bagaimana rencanamu nantinya?" tanya Bibo yang akhirnya merasa kasihan dengan kehidupan Fang Jianheeng yang terdengar menyedihkan. "Aku masih belum berani kembali, aku lebih baik mati ketimbang dijual sebagai wanita malam!!" kata Fang Jianheeng tegas. Bibo menatap Fang Jianheeng dengan perasaan kagum, 'pantas saja ia lari kedalam hutan yang dipenuhi siluman dan monster,' batin Bibo lagi. "Jika kau belum berniat kembali, bagaimana kalau kau membantu kami?" kata Bibo akhirnya. "Aku akan membantu kalian, kalian bahkan telah menolongku, setidaknya aku harus membalas budi," kata Fang Jianheeng lagi, ia bahkan mengganti posisi duduknya untuk mendengarkan lebih jelas bantuan seperti apa yang Bibo inginkan. "Pertama-tama aku Bibo dan ini adikku Sisu, kau berada di rumah siluman ular..." kata Bibo akhirnya. Fang Jianheeng terdiam, bahkan Sisu juga terdiam sementara ia tak menyangka kalau Bibo kakaknya akan mengatakan kebenaran itu. "Kalian siluman?" tanya Fang Jianheeng memastikan. "Benar, kami siluman ular, kau mau melihat sosok silumanku?" tanya Bibo lagi, Fang Jianheeng menggeleng dengan cepat. "Berarti kalian tidak akan membunuhku?" tanya Fang Jianheeng lagi. "Mengapa kau berpikir seperti itu? Bisa saja kami menunggu saat yang tepat untuk memakanmu," kata Bibo lagi dengan nada menggoda, Fang Jianheeng hanya bisa menelan ludah. "Jika kalian berniat membunuhku, seharusnya aku sudah mati sedari tadi..." kata Fang Jianheeng lagi. "Hmm... Kau gadis yang pintar!! Baiklah, jadi apa kau mau membantu kami?" tanya Bibo kembali ke inti pertanyaannya. "Aku tidak punya pilihan bukan, jika aku tak membantu maka aku akan kalian bunuh," kata Fang Jianheeng lagi. Bibo dan Sisu hanya mengangguk setuju pada perkataan Fang Jianheeng, padahal tidak semua yang Fang Jianheeng duga itu benar. Bibo bahkan Sisu tidak berani memakan Fang Jianheeng karena tanda di dahinya. "Karena itu, aku akan membantu kalian semampuku," kata Fang Jianheeng dengan tatapan yang muram. "Apa kau terpaksa membantu kami?" tanya Sisu. Fang Jianheeng menggeleng pelan, "aku takut setelah aku melakukan apa yang kalian minta, kalian akan membunuhku..." "Hahaha!! Manusia yang aneh, bukannya kau berniat mati tadi?" sindir Bibo lagi, Sisu hanya mendelik ke arah kakaknya itu. "Tenanglah... Kami tidak akan membunuhmu, jika kau membantu kami dan berhasil, maka kami akan mengantarkanmu pulang dengan aman," balas Sisu. "Sebelum itu," Bibo mengiris tangannya, darah silumannya yang berwarna kecoklatan terlihat menetes. "Kau harus memakai darahku di bajumu, agar siluman yang lain tidak tau kalau kau manusia," kata Bibo sembari mengelapkan darahnya ke baju Fang Jianheeng. "Ugh!!" Bau amis darah siluman cukup mengganggu indera penciuman manusia, namun karena darah siluman yang Bibo oleskan tidak banyak, maka itu tidak akan berefek apapun kepada Fang Jianheeng. "Aku akan mengambilkan air, agar kau bisa membersihkan wajahmu, tapi jangan bersihkan darah siluman di bajumu..." kata Sisu menjelaskan, Fang Jianheeng mengangguk setuju. Ia mengamati rumah di dalam gua itu, tertata rapi seperti rumah manusia. Jika melihat keadaan rumah ini, maka takkan ada yang percaya kalau mereka adalah siluman. "Ini, bersihkan wajahmu dan rapikan rambutmu," kata Sisu memberikan sebaskom air hangat untuk Fang Jianheeng. "Terima kasih..." Fang Jianheeng membersihkan kotoran yang menempel di wajahnya, karena terjatuh di hutan rambutnya juga terselip beberapa daun kering. Setelah membersihkan wajahnya, Fang Jianheeng menyisir pelan rambutnya dan kembali mengikatnya dengan rapi, tetapi Bibo menggeleng. ilIa mengambil alih rambut Fang Jianheeng, mengurai rambut panjang itu, menyisirnya kembali, mengambil kedua sisi rambut Fang Jianheeng dan membiarkan sebagian tergerai kemudian memasanginya tusuk konde giok air yang terukir indah berwarna hijau muda. Bibir Fang Jianheeng juga diberi pewarna merah alami yang dibawa Sisu, membuat wajah cantik Fang Jianheeng terpampang nyata. Bahkan Sisu maupun Bibo terkejut melihat wajah Fang Jianheeng yang hanya sedikit dibersihkan dan didandani. "Pakai jubah ini, agar seragammu tidak terlalu terlihat," Sisu memberikan sebuah jubah berwarna merah kepada Fang Jianheeng, ia bahkan membantu Fang Jianheeng untuk memakainya. "Lihatlah, ternyata kau sangat cantik!! Jadi siapa namamu?" tanya Sisu kepada Fang Jianheeng yang menatap dirinya di kaca. "Fang Jianheeng..." "Fang Jianheeng, kami bisa memanggilmu Ji-an!!" kata Bibo, Fang Jianheeng mengangguk setuju. Jarang bisa mendengar namanya dipanggil dengan benar, biasanya orang-orang yang tidak menyukainya akan menyematkan berbagai macam panggilan untuknya. Yang jelas panggilan itu tidak akan menyenangkan untuk di dengar. "Ji-an, mari kita berangkat menuju takdirmu!!"Keesokan harinya, langit alam Jien tampak kelabu. Awan hitam bergelayut seolah hendak mengguyur istana dengan hujan. Sejak pagi, denting alat musik dan suara pelayan yang sibuk mempersiapkan pesta terdengar di segala penjuru. Istana besar yang biasanya tampak gagah kini penuh dengan kain sutra dan hiasan bunga. Semua itu untuk sebuah pernikahan yang tidak pernah benar-benar diinginkan Raja Saetan.Pernikahan Raja dengan Ratu Nadita.Di jalan-jalan, rakyat berbisik penuh cemas. Mereka tidak berani mengutarakan ketidaksetujuan dengan lantang, namun tatapan mata mereka menyimpan kritik yang pedas.“Bagaimana bisa seorang manusia diangkat menjadi Ratu Jien?” bisik seorang pria tua.“Bukan hanya manusia, tapi wanita dari alam asing. Ini pertanda buruk,” sahut yang lain.Namun tidak ada yang berani berbicara lebih keras, semua takut dihukum.Sementara itu, di dalam ruang tahanan, Fang Jianheeng duduk dengan wajah pucat. Sejak semalam, hatinya seperti hancur berkeping. Ia mendengar kabar per
Fang Jianheeng duduk terdiam di dalam tahanan yang kini sedikit lebih hangat berkat sihir Siblis. Meski demikian, hatinya tetap terasa dingin seperti es. Ia menatap api kecil yang menyala di sudut ruangan, seolah mencari kehangatan yang tak akan pernah ia dapatkan. "Ceklek!" Suara pintu terbuka membuat Fang Jianheeng mendongak. Namun yang datang bukanlah Siblis, melainkan Ratu Nadita dalam tubuhnya sendiri. Wajahnya... wajah Fang Jianheeng, tersenyum dengan kejam. "Hai, pemilik tubuh yang cantik ini..." sapa Ratu Nadita dengan nada mengejek. "Bagaimana rasanya melihat kekasihmu bermesraan denganku?" Fang Jianheeng mengepalkan tangannya, matanya berkilat marah. Ia mengambil kertas dan pensil yang selalu ia bawa. (Kembalikan tubuhku!) "Oh, tidak bisa sayang. Tubuh ini terlalu berharga untukku. Lagipula, Raja Saetan terlihat sangat menikmati kebersamaan kita..." Ratu Nadita tertawa pelan. "Tadi malam dia menciumku dengan begitu lembut, memanggil namamu sambil memelukku erat..
Sudah beberapa hari ini secara diam-diam Siblis mengurus Fang Jianheeng yang berada di ruang tahanan yang gelap dan kotor. Meski ingin menyelamatkan Fang Jianheeng, Siblis juga tak berani melawan perintah Rajanya. Tak ada yang tau seperti apa perasaan Raja Saetan saat ini, yang pasti semenjak ia menempatkan pelayan bisu itu di dalam tahanan, semenjak itu pula hatinya dilanda kegelisahan. Raja Saetan tidak mengerti, apa perasaannya kepada Fang Jianheeng luntur begitu sampai di alam Jien, mengapa ia tidak merasakan perasaan saat bersama di alam Manusia? Bahkan ia kini lebih memperhatikan pelayan bisu ketimbang Fang Jianheeng yang sedang bersamanya. "Yang Mulia, ada apa? Mengapa kamu memasang wajah muram?" tanya Ratu Nadita, ia tersenyum dengan manis memakai wajah Fang Jianheeng. Raja Saetan terhanyut dalam senyum itu, namun hatinya tetap merasa gelisah. Tak ingin membuat Fang Jianheeng yang kini berada di hadapannya merasa sedih Raja Saetan hanya bisa beralasan. "Aku hanya
Fang Jianheeng duduk di pembaringannya, masih teringat dengan kata-kata Siblis saat menemuinya tadi, bukan hanya memikirkan Raja Saetan, Fang Jianheeng juga memikirkan bagaimana nasibnya kini. Kini ia berada di alam Jien, bagaimana dengan sekolahnya. Tapi Fang Jianheeng yakin Siblis sudah mengatur hal baik untuknya di sana. Ia jadi merindukan banyak hal, ia merindukan rumahnya, merindukan Sisu maupun Bibo, juga teman-teman barunya. Namun yang paling Fang Jianheeng rindukan adalah tatapan lembut Raja Saetan kepadanya. Kini Fang Jianheeng hanya mendapati tatapan tajam dan menyeramkan dari Raja Saetan, membuat Fang Jianheeng teringat seperti apa pertemuan pertama mereka. "Haaah..." Fang Jianheeng hanya bisa menghembuskan napas yang berat, ia ingin keluar dari alam Jien, namun ia juga tidak tau bagaimana caranya. Berada di sini dan melihat Ratu Nadita bermesraan bersama Raja Saetan menggunakan tubuhnya membuat Fang Jianheeng merasa sedih. Terkadang bahkan ia harus menangis secara
Saat ini Fang Jianheeng menjalani hidupnya sebagai pelayan tubuhnya sendiri yang saat ini dikuasai oleh Ratu Nadita.Terkadang ia berjumpa dengan Raja Saetan yang mengunjungi tubuhnya, membuat Fang Jianheeng bersedih. (Mengapa Raja Sae tidak mengenali ku?) "Hei, mengapa kamu berani menatapku seperti itu? Apa kamu tidak diajari aturan istana, pelayan sepertimu dilarang mengangkat wajahmu itu!" kata Raja Saetan ketika Fang Jianheeng kepergok menatapnya. Fang Jianheeng hanya bisa menunduk sedih, ia belum bisa menemukan cara berkomunikasi dengan Raja Saetan saat ini, hanya saja Siblis yang saat ini berada di sekitar Raja Saetan tak bisa membantu Fang Jianheeng. Ratu Nadita mengancam, jika Siblis membongkar rencananya. Maka ia akan langsung membunuh tubuh Fang Jianheeng. "Aku merasa aneh dengan pelayan itu!" kata Raja Saetan sesampainya di ruangannya sendiri. Siblis hanya menjadi pendengar saat ini sebelum Raja Saetan kembali melanjutkan kata-katanya. "Dia menatapku, membuatku serba
Fang Jianheeng terbangun di sebuah kamar, ia menatap sekitarnya, ada pelayan wanita yang melayaninya dengan baik. Namun hal aneh terjadi kepadanya. Fang Jianheeng tidak bisa mengeluarkan suaranya. (Dimana aku?) Fang Jianheeng bertanya-tanya, terakhir kali ia ingat kalau seorang Ratu yang merasuki Nukud Larasati membuatnya tidak sadarkan diri. Entah apa yang telah ia lakukan kepada Fang Jianheeng, bahkan Fang Jianheeng tidak bisa bicara kali ini. Ia menggerakkan bibirnya namun suara tetap tidak keluar. Melihat Fang Jianheeng bangun, pelayan itu mendekat. Pelayan wanita itu memberikan Fang Jianheeng baju seragam yang sama dengan yang ia kenakan dan tersenyum. "Yang Mulia Ratu Nadita memintaku untuk memakai kanmu baju ini, ia ingin kamu melihat sendiri ketulusan yang kamu maksud," kata pelayan wanita itu, namanya Arin, salah satu Jien yang kini menyerupai manusia. Fang Jianheeng menurut dan mengangguk, ia tak bisa menyahut namun ia tau kalau kini ia berada di alam Jien. Fang







