Mag-log inDua beradik itu tampak panik. Terlebih Valin. Dia takut hal buruk terjadi pada suaminya. Bahkan Vante yang biasanya acuh dengan Zen. Kali ini tampak cemas. "Jangan kenapa-napa, Zen," doa Valin dalam hati.Suasana makin tegang ketika mereka bertemu brankar dengan tubuh pasien tertutup kain. Pasien meninggal. Valin membeku dengan pikiran mendadak blank."Maaf, Tuan. Jalur khusus ke ruang pemulasaraan jenazah kebetulan sedang diperbaiki. Sekali lagi maaf, jika mengganggu kenyamanan kalian.""Tunggu dulu, itu pasien dari ruang VVIP satu?" Vante bertanya dengan jantung berpacu cepat."Oh, bukan. Identitas pasien tidak boleh kami beritahukan. Kecuali pada pihak keluarga. Yang jelas, pasien ini bukan dari ruang VVIP satu."Kelegaan seperti disiramkan ke dada Valin dan Vante. Setidaknya bukan Zen yang log out."Kenapa Kakak memandangku begitu?" Tanya Vante ketika mereka telah berada di ruangan Zen.Jika status pasien masih dalam perawatan intensif alias setara ICU. Akan ada pembatas transpar
"Audrey."Yuan menahan lengan Audrey. Perempuan itu hendak berbalik pergi. Audrey sama sekali tidak peduli dengan teriakan ibu Yuan."Apa?""Ayo menikah."Semua orang terbelalak. Termasuk Audrey sendiri."Kak Yuan!""Zhang Yuan! Kalau kau berani menikahinya aku tidak akan mengakuimu sebagai anak," ancam sang ibu."Bukankah Ibu selalu ingin menantu yang kaya?"Pernyataan Yuan membuat Yeye terbelalak. "Apa itu benar, Bi?""Bu-bukan begitu." Ibu Yuan gelagapan mendengar pertanyaan Yeye."Biar aku kasih tahu. Dia cari menantu yang bisa dia kendalikan. Benar begitu, Nyonya."Ibu Zhang mendadak pucat."Yuan, ibumu tidak akan setuju dengan hubungan kita. Jadi, kita tak bisa menikah."Senyum Audrey terbit sangat lebar. Pun dengan Yuan."Tapi aku tetap ingin menikahimu. Bagaimana?" Tantang Yuan dengan alis terangkat."Heh, dia tidak akan setuju." Audrey tidak percaya Yuan bersikeras ingin menikahinya."Masa bodoh," ujar Yuan tanpa pikir panjang."Yuan! Apa kamu sudah tidak menganggap aku sebag
"Dia masih dalam masa pemulihan. Tapi nekat mau menangani Zen.""Kau tahu kalau Valin itu sama seperti Zen. Sama-sama keras kepala. Kalau dia ingin sesuatu harus dia dapatkan."Kian dan Bryan masih adu debat soal kondisi Valin yang drop paska operasi Zen. Saat ini wanita itu sedang ditangani oleh dokter obgyn. Dengan Aiden turut andil di dalam sana.Satu hal yang membuat Kian dan yang lain saling pandang. Heran dengan sikap Aiden."Dan ancaman baru muncul. Aiden, dia menyukai Valin." Sylus muncul dari kamar Valin. Pria itu tentu saja punya peran penting dalam tiap tindakan medis yang berhubungan dengan kesehatan para rekannya. Termasuk Valin.Dia baru saja memastikan kalau Valin baik-baik saja. Sama seperti Zen, Shane dan Mark. Mereka berada di bawah pengawasan ketat Sylus dan tim rumah sakit."Mereka harus segera go publik. Atau keadaan makin runyam." Bryan menanggapi ucapan Sylus."Sebenarnya ini bukan masalah mereka belum go publik atau sudah. Meskipun semua orang mengetahui status
Ibarat pasukan, dermaga selat Hermas adalah pangkalan militer. Dari sana Lucio mengontrol lini bisnisnya. Jika tempat itu diusik, Lucio akan kehilangan kontrol atas segalanya.Komunikasi, pengintaian, strategi pengiriman. Lucio dan kelompoknya bakal keteteran. Seperti makhluk hidup yang kehilangan inderanya. Bisnis Lucio kemungkinan bisa lumpuh total."Pindahkan semua data ke sini. Kita tidak bisa kehilangan bisnis kita," perintah Lucio meluncur seketika."Kita akan coba," balas Jack cepat."Apa maksudmu coba?" Lucio memicingkan mata. Seingatnya mereka telah membeli sistem pertahanan yang diklaim paling canggih saat ini. Data mereka dijamin aman, tidak akan musnah, rusak, dicuri apalagi dimanipulasi.Rupa Jack berubah pucat. Dia tahu Lucio akan marah, tapi dia tidak punya pilihan selain memberitahu tuannya."Sistem kita juga diserang. Dan skill yang menyerang seimbang dengan Machintos."Lucio ingin meledak saat itu juga. Dia tahu, sistem terus berkembang. Harusnya dia tidak heran jik
"Coba kamu pikirkan, apa hubungan mereka. Bukannya Valin itu pacarnya Kian Egan. Dan siapa tadi, Razen Archlight, dia itu asistennya Kian Egan. Kalau aku tidak salah. Tapi Valin malah mesra banget ke dia.""Dia panik sekali tadi."Maria dan Ivone berbincang setelah huru hara di IGD berakhir. Keduanya dapat istirahat satu jam, bergantian dengan yang lain.Andrew dan Alvin belum kembali setelah akhirnya dipanggil naik ke sektor satu untuk membantu operasi Zen."Atau, Valin selingkuh sama si Zen ini." Ivone seperti mendapat pencerahan."Sembarangan kamu. Kalau Kak Valin selingkuh, Kian Egan pasti ngamuk. Apalagi mereka so sweet banget di depan mata. Kalau aku, sudah aku bejek-bejek mereka." Maria menyangkal tudingan sang teman.Ivone terdiam sambil memandang langit-langit kantin rumah sakit. Seolah berpikir. "Rumit. Kisah cinta Valin sejak dulu memang runyam." "Nasib jadi orang cantik dan pintar. Ke mana-mana selalu jadi rebutan. Lihat Xavier sebelum oleng ke Rosalie. Juga Adrian sebelu
Tidak!Hati Valin menolak seketika. Perempuan itu tanpa diduga naik ke atas tubuh Zen. Semua orang menganga melihat tingkah Valin."Valin!" Kian merespon dengan cepat.Namun sebelum ada tindakan lebih lanjut. Tangan Valin telah bergerak, melakukan pacu jantung manual."Razen Archlight, siapa bilang kau boleh mati!""Kau tidak boleh mati!""Tidak, tanpa izinku!""Kau bilang cuma aku yang boleh melukaimu.""Bangun! Aku bahkan baru menembakmu sekali!""Razen Archlight! Aku perintahkan kamu untuk kembali! Kembali kataku!"Gerakan terakhir lebih kepada pukulan dibanding pacu jantung. Valin terengah, tenaganya habis. Tapi monitor tetap tidak berubah.Garis lurus itu masih jadi mimpi buruk bagi Valin. Air mata Valin tumpah di dada Zen. "Bangun, aku bilang bangun," ucapnya dengan tangan terus memukul ringan dada Zen.Tangisnya pecah. Saat itu hanya Kian yang berani mendekat. Yang lain terpaku menyaksikan adegan barusan. Siapa Razen Archlight, lalu apa hubungannya dengan Valin.Kenapa perempu
"Dasar tidak berguna!"Chris menghabisi semua orang yang ia bawa ke tempat Zen hari itu. Dia benar-benar marah, kesal sampai ingin mengancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Rencana yang dia susun sangat rapi, dipatahkan dengan mudah oleh Zen. Pria itu seolah sudah tahu rencananya. Hingga upaya
"Razen Archlight, uhuk!!""Diamlah!" Raung Zen penuh kemurkaan.Valin tersedak ketika Zen menenggelamkannya di kolam begitu mereka tiba di The Dream. Perempuan itu gelagapan kala Zen tak kunjung membiarkannya naik.Pria itu literally "memandikan" Valin dari segala kotoran yang menempel di tubuh san
"Jangan! Saya mohon jangan lakukan itu," Rud memohon dengan darah menetes di lantai. Harusnya dia langsung dilarikan ke rumah sakit. Lukanya harus ditangani, supaya darahnya berhenti keluar. Tapi siapa yang peduli.Bahkan Valin yang berada dalam pelukan Zen acuh pada keadaan Rud."Kenapa aku harus
"Kak!"Maria kian mengeratkan pegangannya di lengan Valin. Ketakutan di wajahnya terlihat nyata. Ditambah rasa tidak nyaman mulai merayap di tubuhnya.Dari lantai dua, Ethan mengarahkan senjata kepada Valin. Wanita itu berdiri menjadi tameng bagi Maria. Mati, Valin tidak takut. Yang penting Vante







