로그인Valin menggertakkan gigi. Apalagi salahnya sekarang. Bukannya dia boleh keluar untuk urusan pasien darurat. Kenapa sekarang pria itu marah.Apa Valin harus duduk di rumah terus setelah jam kerja selesai. Lalu mengabaikan panggilan darurat dari rumah sakit. Itu sama artinya dengan dia melanggar sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Dia bisa dikenai sanksi."Harusnya aku tidak meminta pernikahan ini," sesal Valin sambil keluar dari gedung sektor satu. Matanya sempat berkaca-kaca saat mendongak ke atas. Dia berharap Vante baik-baik saja. Semoga setelah ini dia bisa menengok adiknya."Razen Archlight!" Sebutnya penuh dendam. Tepat ketika kaki Valin keluar lobi gedung sektor satu, sebuah mobil berhenti tepat di depannya."Masuk!" Titahnya sang pengemudi tegas, tanpa ingin dibantah.Valin menahan bara kemarahan di dada. Pria di depannya baru memblokir aksesnya masuk ke sektor satu. Kalau Valin tidak menurut, dia tidak tahu lagi apa yang akan Zen lakukan padanya.Seperti tidak diberi pil
"Tidak. Ada keadaan darurat di rumah sakit. Ivone baru menghubungi saya."Langkah Valin terhenti. Dia cukup terkejut mengetahui Zen ada di rumah. Padahal beberapa waktu lalu pria itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya."Jangan bohong!" Desis Zen penuh nada ketidaksukaan."Tuan bisa memeriksanya. Saya yakin, Tuan bisa melakukannya." Valin berbalik pergi, mengabaikan Zen yang amarahnya terpancing walau sedikit. Valin sendiri kembali sibuk dengan ponselnya. Tumpukan emosi dan tuntutan kewajiban yang harus dia sandang sebagai seorang dokter, membuat Valin nekat melawan Zen.Dia tidak berpikir akan konsekuensi dari perbuatannya. Dia sangat marah dengan sikap Zen yang dia nilai terlalu egois.Valin berjalan menuju gerbang komplek dengan rasa cemas menghantui. Tidak ada taksi online yang sudi menjemputnya. Sementara waktu terus berjalan."Ivone, aku tidak bisa menemukan taksol. Apa ada dokter lain yang free?" Valin bertanya dengan wajah kebingungan."Lin, dokter Andrew free, tapi ist
Sementara itu di luar ruangan Vante. Valin berontak dalam pelukan Zen. Dia meronta ingin melepaskan diri. Tapi rengkuhan Zen terlalu kuat untuk dia lawan. "Lepaskan aku! Aku ingin melihat Vante!" "Tidak!" Tegas Zen tanpa kompromi. "Tuan, dia adik saya. Saya ingin bersamanya." "Nanti!" Satu kata yang membuat Valin bertambah liar. Zen sempat terkejut dengan perubahan kekuatan Valin. Tapi itu tidak lama, sesaat kemudian Valin menangis dalam dekapan Zen. Yang meski kuat tapi tetap menyisakan kelembutan bagi Valin. "Dengarkan aku! Tidak bisakah kamu menjaga emosi Vante. Dia sangat memerlukan itu untuk pemulihannya." "Jangan jadi kakak yang bodoh. Apa kamu tidak bisa sedikit menurunkan egomu. Tunggu sampai dia sembuh, setelah itu kamu bisa bertemu dengannya." Perkataan Zen membuat Valin kembali menitikkan air mata. "Jangan menangis. Jangan cengeng. Kamu yang lemah membuat Vante merasa bersalah!" Kalimat Zen begitu tajam, pedas tapi menyuguhkan sebuah fakta yang tidak mampu disan
Semua orang menoleh ke arah pintu. Di mana Kian berdiri dengan tangan masuk ke dalam saku. Tatapannya sama mengancamnya dengan sang tuan.Mike mundur ke belakang sang mama. Sementara Madison tubuhnya gemetar. Kian dan Zen sama sadisnya. Madison tidak pernah mendapat sikap ramah dari dua orang itu.Jika tidak ingat tujuannya menempel pada Zen demi sang putra. Madisonpasti sudah menjauh, sejauh mungkin dari Zen atau Kian."Apa tadi dia bilang?" Kian bertanya pada Valin."Ibu dari anak tuan Zen," balas Valin kalem.Madison membelalakkan mata. Dia tidak menyangka kalau Valin adalah tipe pengadu. "Benar kau bilang begitu?" Tembak Kian setengah mencibir."Be-benar begitu. Janjinya seperti itu," jawab Madison terbata."Tapi tuan Zen tidak pernah menyebut Mike anaknya atau bakal jadi anaknya. So, lebih baik kau mundur, jangan pernah muncul di sini. Apalagi membuat kekacauan seperti ini.""Dia kemarin melakukannya, dan Zen tidak marah." Sela Madison tidak terima.Kian melipat tangan di depan
Langkah Zen terhenti demi mendengar pertanyaan Valin. Kakak Vante masih berdiri dengan tubuh tegang dan napas memburu. Perdebatannya dengan Zen barusan. Seluruh pendapat Zen yang baru saja dia dengar, cukup untuk menunjukkan kalau Zen bukanlah orang yang murah hati. Apalagi punya belas kasih.Kejam adalah sifat yang sejak awal Valin temukan dalam diri Zen. Selain itu dominan, tidak sudi dibantah adalah karakter yang harus Valin hadapi.Sebagian besar argumen Zen memang benar. Valin tidak menyangkal akan hal itu. Hanya saja, dia tidak percaya. Ada manusia sekonsisten Zen yang sama sekali tidak tersentuh hatinya.Hati pria itu dingin, bahkan mungkin beku. Valin tidak apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Zen. Hanya saja sikap Zen membuat dada Valin sesak.Dan kini rasa sesak itu berubah jadi debar tak terlukiskan. Ketika Zen berjalan mendekatinya. Valin sontak menahan napas kala aroma mahal Zen kembali melingkupi dirinya.Tatapan pria itu tajam, tapi ada sesuatu yang sulit Valin jela
Lima jam berlalu. Langit di luar kamar Vante sudah berubah pekat. Valin menghela napas berkali-kali. Perasaannya tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi pada adiknya.Valin berulang kali melihat ke arah pintu. Berharap ada sesiapa saja yang melintas. Dia ingin bertanya soal operasi Vante. Tapi kamar Vante dan lorong di depan tempat itu sama sunyinya.Kegelisahan Valin kian memuncak. Dia sungguh takut. Takut jika dia kehilangan sang adik. "Ayah, Ibu, jangan bawa Vante pulang. Aku perlu dia untuk bertahan di dunia ini."Doanya dengan telapak tangan saling terkait. Mata hazelnya terpejam dengan tubuh menghadap langit malam.Tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Valin menoleh, dia lekas menyambut tubuh Vante yang masih tidak sadarkan diri."Vante," sebutnya dengan air mata berlinang."Maaf, Nyonya. Ada sedikit masalah dengan operasi Tuan Vante. Tapi kami berhasil mengatasinya. Dia akan sadar besok pagi. Jadi Nyonya bisa pulang untuk istirahat. Kami akan mengawasinya. In







