Masuk"Yang di Valley of Death sudah dimusnahkan. Mereka malah nyusul kemari. Cari mati mereka!"Mark menggeram penuh kemarahan. Dia dan yang lain sedang berada di depan ruang operasi. Tembakan tadi menembus leher Kian. Urat nadi di lehernya terkoyak. Para dokter di dalam sana sedang bertarung dengan waktu juga takdir Kian."Tenang saja. Orang-orang kita pasti akan segera menangkapnya." Shane membalas sambil menoleh ke arah Jody yang menangis dalam pelukan Ivone."Kita akan membuat mereka membayar sepuluh kali lipat." Mark tampak emosi sekali.Kian itu paling jarang terluka. Karena dia memang tidak dinas di lapangan. Fokus Kian adalah menghandle urusan administrasi. Tapi sekalinya terluka sampai membuat semua orang panik. Untung saja kejadian tadi tepat di parkiran rumah sakit. Hingga cepat dapat penanganan. Jika tidak, nyawa Kian bisa saja tak tertolong."Bagaimana keadaannya?" Lexi bertanya sambil mengedikkan kepala.Mark dan Shane pilih menyingkir ketika mereka kedatangan Lexi dan Caleb
Jantung Zen serasa berhenti berdetak. Suara itu terdengar sangat familiar di telinganya. Ditambah aroma yang mendadak memenuhi indera penciuman Zen. Aroma yang membawa jutaan debar juga kilasan ingatan di benaknya. Walau samar."Va-Valin," panggil Zen ragu.Sosok itu berpindah ke hadapan Zen. Pria itu mengikuti tiap gerak wanita berambut panjang hingga duduk di lantai. Matanya tak berkedip sama sekali. Seolah Zen takut jika dia mengerjapkan netra birunya, Valin akan menghilang dari jangkauannya."Jangan di bawah," ujar Zen begitu dia mampu menguasai diri."Aku tidak berdiri lama. Zen." Valin mendongak dengan tangan terulur mengusap wajah sang suami. Keduanya menangis. Sama-sama menumpahkan rasa yang hampir empat bulan terpendam. Meski ada balut tidak percaya juga di dalamnya. Valin menatap Zen dengan rasa syukurnya. Sedang Zen dengan binar takjubnya. Benarkah wanita cantik di depannya ini adalah istrinya. Perempuan yang kata Vante mampu membuat Zen cemburu buta karena banyak yang
"Taruhan kok hati," gumam Jody tak habis pikir.Gadis itu sudah kembali ke apartemen. Jody menolak ikut ke tempat Kian. Saat ini dia sedang duduk termenung di tepi jendela kamarnya.Hal itu sudah dia lakukan selama hampir setengah jam sejak pulang dari bioskop. Acara yang membuat mereka mengalami kram perut. Saking banyaknya tertawa.Jody masih belum bisa terima perasaan Kian. Ada yang masih mengganjal di hati gadis itu. Sejatinya dia setuju dengan kalimat Valin.Dia tidak akan menyerahkan hatinya pada orang belum selesai dengan masa lalunya. Lebih baik dia hidup tanpa cinta dari pada harus berbagi rasa dengan wanita lain. Meski itu hanya bayangannya saja.Ribet? Biarkan saja. Toh Jody yang menjalani, bukan orang lain.Jody masih asyik melamun, sampai tak menyadari ada orang lain masuk ke unitnya. Kian, lelaki itu tak mendapati Jody di manapun. Jadi dia asal masuk saja ke kamar Jody.Sudut bibirnya tertarik melihat Jody duduk melamun di dekat jendela. "Mikirin aku ya?"Jody nyaris te
"Mereka pikir aku tidak tahu. Aku tahu." Valin menitikkan air mata. Di depannya ada Vio yang mengusap lelehan bening itu di pipi."Dia baik-baik saja. Katanya insecure jika mau bertemu Tante. Insecure itu apa?"Valin tersenyum tipis. "Tidak percaya diri. Jadi kapan Tante bisa lihat dia lagi?""Nanti aku kirimkan waktunya. Sulit sekali mengecoh Papa dan yang lainnya. Mereka ketat banget mengawasi."Valin mengusap sayang kepala Vio. Bocah manis inilah yang jadi perpanjangan matanya."Kalau Tante rindu, Tante bisa lihat dia rekaman kamera," bisik Vio.Valin mengangguk. Dia kemudian berjalan mendekati kasir setelah selesai memilih. Tentu saja setelah membenahi tampilannya."Jadi, kita ke mana lagi?" Bryan bertanya dengan lagaknya yang sok bossy. Maklum dia lelaki satu-satunya di sana."Makan," seru Valin dan Vio bersamaan.Dan di sinilah mereka berada. Sebuah restoran Asia yang menunya sebagian besar bercita rasa pedas."Itu apa gak terlalu pedas?" Ivone bergidik ngeri melihat Valin meny
"Ada apa, Lin? Tumben kemari?" Sembari bertanya Sylus melirik diam-diam ke lantai dua. Di mana Zen duduk di tepi kaca sambil memperhatikan Valin, istrinya.Hati Zen berdesir. Diakah istrinya. Perempuan yang kerap muncul di benaknya. Saat dia sama sekali tak ingat siapa dirinya.Perempuan yang kata mereka sangat dia cinta. Sampai rela korbankan nyawa asal wanita itu selamat.Di bawah sana. Sosok bergaun biru itu sedang menginterogasi Sylus."Dia hamil berapa bulan?" Tanyanya melihat perut buncit Valin."Delapan bulan. Saat jatuh ke sungai hari itu dia sedang hamil tiga bulan. Beruntung dia dan bayinya baik-baik saja.""Sudah pasti itu anakku?"Teddy melihat ke arah Zen. "Kamu ingin melakukan tes?""Aku hanya ingin memastikan.""Dia setia menurutku. Yang suka bejibun tapi dia pilih setia padamu. Kalau kamu minta tes DNA lakukan diam-diam. Jika dia tahu, itu akan menyakitinya.""Kamu peduli padanya?"Teddy memutar bola matanya malas. Hilang ingatan saja cemburuannya tidak juga ketinggal
Karena Marsha tidak punya siapa-siapa. Dan kebetulan bersama Caleb, jadilah pria itu yang mengurus semua administrasi Marsha.Marsha tidak sempat dibawa balik ke fasilitas atau ke cabang EH. Sebuah rumah sakit swasta dekat gedung apartemen Caleb jadi pilihan pria itu.Meski demikian Caleb sempat berkoordinasi dengan Sylus. Hingga pria itu bisa menghubungi koleganya di rumah sakit tersebut.Berhubung di sana tidak ada yang mengenal Caleb dan Marsha. Pihak rumah sakit menyebut keduanya sebagai pasangan suami istri. Caleb juga yang menandatangani persetujuan operasi sesar untuk Marsha. "Tapi, saya bukan."Sanggahan Caleb dia telan kembali ketika seorang dokter keluar dari ruang operasi. "Bagaimana, Dokter?""Bayinya sudah meninggal saat kami lahirkan. Tuan yang sabar ya. Kalian masih muda, bisa punya anak lagi di lain waktu."Caleb bengong sambil menggaruk kepala. "Punya anak lagi? Di lain waktu? Apa-apaan ini!" Gerutu Caleb dalam hati."Lalu dia bagaimana?""Istri Anda masih belum sad
"Tunggu dulu, Lin. Kamu akhir-akhir ini aneh. Kamu menghindariku?"Zen menahan tangan Valin di tengah tangga. Valin yang terkejut, nyaris jatuh berguling menuruni tangga ketika ia terserimpet kakinya yang lain.Untungnya Zen sigap menahan pinggangnya hingga wanita itu selamat dari hal buruk. "Kamu
"Cerai katamu?!"Valin meringis dengan mata memandang horor pada Zen. Paras lelaki itu berubah mengerikan, seperti iblis dari neraka. Sorot matanya merah penuh amarah. "Iya, aku mau cerai darimu!""Di dalam mimpimu!" Zen menggertakkan gigi.Berani sekali Valin berniat minta cerai darinya. Tertutup
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey menin
"Percaya? Kau berusaha menghabisi Vante, apa hakmu minta aku percaya padamu!"Valin kian mengeratkan genggaman pada senjata di tangannya. Tubuh Valin gemetar begitu menyadari apa yang dia pegang. Benda itu, benda itu yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal dengan tragis. Sylus menyadari reaks







