Masuk"Jadi apa jawabanmu?"Michele mengalihkan topik pembicaraan. Setelah Audrey sejak tadi mencecar soal perasaannya setelah Mark Hudson meninggal."Jawaban soal apa?" Audrey balik bertanya. "Soal lamaran Yuan. Coba cerita, bagaimana rupa Bibi Zhang saat tahu kamu datang lagi ke sana?""Aku belum memberi jawaban."Michele mendesah kecewa. "Kalau begitu, cerita soal Bibi Zhang. Dia pasti kaget lihat kamu."Audrey tidak menjawab. Hanya angannya yang kembali melayang ke malam itu. Waktu dia dibawa Yuan pulang ke rumahnya.Rumah itu. Audrey menghela napas ketika Yuan menghentikan mobil di depan sebuah kediaman dengan arsitektur khas negeri tirai bambu."Turun," titah Yuan tegas.Pria itu keluar mobil lebih dulu. Bertepatan dengan pintu rumah Yuan terbuka. Seorang gadis mengenakan cheongsam warna biru cerah dengan sumringah menyambut Yuan.Audrey memutar bola matanya malas. Dia tetap diam di tempatnya. Tidak ingin terlibat drama sang mantan. Pandangan Audrey menyapu tempat itu. Kenangannya k
"Valin!"Teriakan datang dari arah depan. Diikuti Kian yang berlari menyongsong tubuh istri Zen. Wanita itu mendadak limbung. Diikuti Sylus dan Nick.Nick mengambil alih kendali atas Lucio yang raganya lemas tapi masih sadar. Semua anak buah Lucio dipaksa bertekuk lutut. Mereka yang coba melawan langsung dihabisi saat itu juga."Ada apa dengannya?" Kian menopang Valin yang lemah tanpa daya."Efek dopingnya habis. Bawa dia pulang," balas Sylus setelah menyuntikkan serum bening melalui lengan Valin."Apa yang kau berikan padaku?" Pertanyaan Lucio membuat mereka menoleh.Setelah Kian menghilang dari pandangan. Fokus mereka beralih pada Lucio."Hanya semacam obat untuk melemahkanmu. Tenang saja, kau tidak akan mati. Sampai Zen sendiri memutuskan, hukuman apa yang akan diberikan padamu.""Dia tidak akan hidup!"Lucio mengerang ketika Nick menggetok kepalanya dengan gagang pistol. "Asal kau tahu ya. Dia selamat, Valin sendiri yang menyelamatkan suaminya."Cibiran Nick membuat hati Lucio se
Meski tidak seimbang dalam hal gender, tapi Valin tidak masalah."Kebetulan sekali. Aku memang ingin melawanmu."Sudut bibir Valin tertarik. Kesempatan ini yang dia tunggu. Lucio tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa. Karena itu Valin harus memikirkan alternatif lain jika ingin membalas dendam pada Lucio."Kalau kamu kalah, kamu harus jadi milikku," ucap Lucio dengan keyakinan tingkat tinggi."Tuan Lucio yakin sekali akan menang melawanku."Tawa Lucio menguar. "Tentu saja. Asal kamu tahu, aku sudah lama menunggu hari di mana kamu menyerahkan diri padaku."Tentu saja, Lucio pikir akan sangat mudah mengatasi Valin. Seorang dokter biasa. Tanpa basic pertahanan diri. Lucio menganggap Valin hanya wanita yang kebetulan jadi istri Zen.Di tentu tidak akan menduga kalau ada campur tangan takdir dalam pernikahan keduanya. Pasti ada tujuan kenapa dua orang dipersatukan dalam ikatan tali pernikahan.Tuhan tidak asal menjodohkan makhluknya. Ada alasannya kenapa mereka bisa bersama.Untuk Valin
Vante hanya bisa menipiskan bibir saat banyak senjata terarah padanya. Vante dikeroyok, tapi tak ada ketakutan sama sekali di wajahnya.Pria dan wanita bersenjata di depan Vante adalah mereka yang tadi cosplay jadi pejalan kaki. Setelah mobil pergi, mereka balik menodong Vante.Pemuda yang sampai detik ini tidak ada takutnya sama sekali. Vante tetap berdiri dengan kepala tegak, menantang pada mereka yang merasa bisa saja mengancam hidupnya."Anak buah Lucio Costra memang payah. Kecuali main keroyokan, kalian tidak punya keahlian lain.""Berani kau menghina tuan kami!" Hardik satu dari mereka."Tuan kalian bukan hanya perlu dihina. Jika dibutuhkan, dia harus dimusnahkan." Kokangan senjata terdengar serempak. Mereka tentu marah mendengar ucapan kalem tapi penuh provokasi dari Vante.Mereka siap menghabisi Vante sesuai perintah tuan mereka. Namun hal itu belum sempat terjadi. Ketika Vante dengan santai menarik senjata dari pinggangnya.Adik Valin yang tiap hari berkutat dengan keyboard
Yang disapa hanya menoleh. Tanpa ingin menyudahi kegiatan panas mereka. Meski acara bermesraan mereka terjeda, posisi keduanya tidak berubah. Sang pria tetap menempel pada tubuh si perempuan."Sunny, kau menyuruhku ke sini buat apa? Kalau hanya untuk menontonmu bermesraan dengan dia, aku akan bawa Rosalie pulang."Kata Xavier seraya memandang datar pada Sunny. Sang mantan dari masa kuliah.Sunny tertawa, sebelum melambaikan tangan pada Rosalie. Sosok yang memegang ujung pakaian Xavier di bagian pinggang. Tampak ketakutan, dengan mata memindai sekelilingnya."Sini, duduk sini," panggil Sunny."Jangan meracuninya," desis Xavier penuh peringatan.Sunny kembali tertawa. "Kau protektif sekali padanya." Perempuan itu tertawa perih, mengingat Xavier tidak pernah memperlakukan dirinya sedemikian rupa di masa lalu."Oke, cium dia. Baru aku akan biarkan kalian pergi.""Jangan ngaco kamu." Xavier merasakan Rosalie memegang erat lengannya. Dia tahu Rosalie jarang bahkan belum pernah pergi ke temp
Dua beradik itu tampak panik. Terlebih Valin. Dia takut hal buruk terjadi pada suaminya. Bahkan Vante yang biasanya acuh dengan Zen. Kali ini tampak cemas. "Jangan kenapa-napa, Zen," doa Valin dalam hati.Suasana makin tegang ketika mereka bertemu brankar dengan tubuh pasien tertutup kain. Pasien meninggal. Valin membeku dengan pikiran mendadak blank."Maaf, Tuan. Jalur khusus ke ruang pemulasaraan jenazah kebetulan sedang diperbaiki. Sekali lagi maaf, jika mengganggu kenyamanan kalian.""Tunggu dulu, itu pasien dari ruang VVIP satu?" Vante bertanya dengan jantung berpacu cepat."Oh, bukan. Identitas pasien tidak boleh kami beritahukan. Kecuali pada pihak keluarga. Yang jelas, pasien ini bukan dari ruang VVIP satu."Kelegaan seperti disiramkan ke dada Valin dan Vante. Setidaknya bukan Zen yang log out."Kenapa Kakak memandangku begitu?" Tanya Vante ketika mereka telah berada di ruangan Zen.Jika status pasien masih dalam perawatan intensif alias setara ICU. Akan ada pembatas transpar
"Ihhh, gak kena!"Valin nyaris melempar tumpukan gelang di tangannya. Dia ada di sebuah wahana permainan lempar gelang. Di mana gelang yang dilempar harus menyangkut di tiang dengan nomor tertentu. Nomor itulah yang menentukan jenis hadiah yang akan Valin dapat.Tapi sejak sepuluh menit lalu, tak s
"Bagus kalau kalian saling kenal. Aku tidak perlu mengenalkan kalian lagi," seloroh dokter Keith, pria itu kembali ke kursinya."Papa, dia yang kuceritakan waktu itu," kata Alvin."Papa?" Valin merespon tidak percaya."Iya, dia papaku," aku Alvin sambil menggaruk kepala. "Tapi di rumah sakit ini ti
"Aku tidak bisa lama-lama. Valin menunggu di mobil.""Jadi sesuaikan yang datang dengan permintaan?" Kian mengulangi instruksi Zen. Pria itu tampak sibuk dengan tabletnya. Sepertinya ada banyak hal yang sedang dia urus."Betul. Kita memang punya teknologi kriopreservasi. Tapi biayanya akan melambun
"Suka?" Kutip Valin sambil mengerutkan dahi. Wanita itu lantas melihat ke arah Zen. Lelaki yang sejak tadi mengikuti tanpa sepatahkatapun terucap."Iya, Kakak suka tidak padanya?" Suara Vante membuat Valin kembali melanjutkan langkah. Dengan Zen lagi-lagi membuntuti."Tidak tahu," balas Valin akhir







