LOGINDaniel terbahak diikuti pekikan girang dari Claire.Kalimat tadi bukan hanya diucapkan oleh Valin. Tapi juga oleh Zen yang mendadak muncul di lobi rumah sakit."Ulangi lagi. Atau kau akan mati betulan."Tegas Zen sebelum ekspresi wajahnya berubah lembut ketika Claire memeluk kakinya. "Halo, anak cantik.""Appa.""Heh! Dia bukan papamu!" Protes Daniel tidak terima.Zen menaikkan alisnya. Seolah ingin menantang Daniel. Papa Claire manyun melihat sang putri tampak akrab dengan Zen. Anak itu sama sekali tidak ada takut-takutnya dengan Zen. Padahal Esme sudah beringsut ke sisi Valin. Aura Zen terlalu mengintimidasi Esme."Kalian lebih baik bikin sendiri. Jangan ganggu punya orang.""Nanti kita pasti punya sendiri. Tapi sekarang, biarkan saja dia menempel padaku," balas Zen santai. Dia bebaskan Claire memainkan pin berkilau di dada kirinya.Benda yang tadi pagi dipilih dan disematkan sendiri oleh Valin."Nanti, nanti. Dari kemarin dulu bilangnya nanti. Kau ini tidak capable atau tidak sih.
Claire Elizabeth Heather berjalan dengan langkah menggemaskan ke arah Valin. Siapa yang tidak terpikat pada balita yang rambutnya dikuncir dua itu."Claire, sejak kapan kamu bisa jalan."Claire tidak menanggapi pertanyaan Valin. Gadis kecil itu justru sibuk menciumi pipi Valin. Seolah meluapkan rindu yang telah lama terpendam."Mama," panggil Claire lagi.Bisik-bisik di belakang Valin makin kencang. Mereka sibuk menerka siapa gerangan bayi cantik itu. Apa benar dia anak Valin."Papamu mana?" "Astaga, Claire. Di situ kamu rupanya."Daniel Heather!Semua orang terpekik tertahan. Mendapati salah satu taipan muda negeri ini mendekati Valin dan bayi tadi."Ampun deh. Meleng dikit hilang dia. Dan kau bagaimana bisa kamu temukan dia. Papa saja nyari dari kemarin gak ketemu."Gerutuan Daniel bercampur kelegaan. Mendapati putrinya baik-baik saja adalah salah satu hal membahagiakan di dunia ini."Radar anaknya lebih ampuh dibanding bapaknya," sambut Valin ikut bercanda."Oh, lain kali aku haru
"Apa yang bisa kamu berikan padanya?"Pertanyaan itu membuat Xavier mendongak. Benteng terakhir untuk mendapatkan Rosalie ada di hadapannya. Kian Egan, wali Rosalie. Sosok yang gadis itu panggil om. Lelaki yang sejauh ini belum bisa Xavier kalahkan presensinya dalam hati Rosalie."Semua. Seperti aku telah mengambil miliknya yang paling berharga karena kebodohanku. Aku akan balik memberikan segala yang kupunya untuknya.""Bahkan nyawa sekalipun?" Pangkas Kian cepat.Sebagai orang yang pernah patah hati. Dia tahu rasanya. Sebagai lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia paham betul situasinya. Karena itu, jika Rosalie benar-benar ingin bersama Xavier. Dia akan mengizinkannya. Keputusan ini Kian ambil setelah bergulat lama dengan benaknya sendiri.Bagaimanapun juga, Kian tidak bisa menjaga Rosalie selamanya. Kian sadar akan hal itu. "Jika tuan Egan ingin nyawaku sekalipun. Aku tidak keberatan."Sudut bibir Egan tertarik. "Cinta memang gila," komennya sebelum meneguk wine di ge
"Aneh-aneh saja," gerutu Valin ketika si pelayan baru dipecat saat itu juga. Wanita tersebut menggelengkan kepala. Baru kali ini Valin menyadari kalau dia tidak mau ada perempuan lain menyentuh suaminya. Apalagi sampai Zen tergoda. Dia tak bisa membayangkan Zen tidur dengan sperempuan selain dirinya. Dia tidak sanggup.Saat Valin sibuk dengan kemelut di benaknya sendiri. Mendadak satu pelukan datang dari arah belakang. Valin terkejut sebelum kelegaan memenuhi dadanya."Kamu mengagetkanku.""Sama seperti orang gila tadi. Bisa-bisanya dia masuk ke kamar kita. Lalu coba menggodaku.""Serius kamu tidak tergoda. Dia seksi lo.""Lebih seksi kamu," bisik Zen dengan suara serak."Bohong," sangkal Valin."Aku serius, sayang. Diam saja kamu sudah membuatku tidak waras." Zen mulai menjelajah leher Valin. Dia hirup aroma sang istri kuat-kuat. Zen seolah ingin menghilangkan jejak wanita tadi di tubuhnya."Valin," bisik Zen. Pria itu mulai mencium sang istri. Ciuman yang intens juga lembut."Ka
"Apa kamu tahu kenapa Mark memutuskanmu dulu?"Michele menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sang teman. Dia sedang bersama Audrey. Mencoba menghibur diri setelah rutinitas kerja yang lumayan berat.Atau alasan lain, adalah untuk menghindari Mark. Terutama setelah kejadian mabuk kemarin. Michele benar-benar kehilangan muka. Saat dia bangun dalam keadaan setengah telanjang di sisi Mark. Di kamar pria itu.Bagaimana dia sampai ke sana. Michele sama sekali tidak mengerti. Yang dia ingat adalah dia hampir menghabiskan semua koleksi minuman Mark yang super mahal."Dia merasa tidak pantas untukmu."Michele berdecih. "Tidak pantas lalu menggunakan alasan kalau dia gay untuk mencampakkanku. Keterlaluan." Michele meneguk habis cairan dari gelas kecil di depannya. Bersama Audrey, bisa dipastikan jika minuman yang mereka konsumsi mengandung alkohol."Lalu apa dia benar-benar gay?" Michele tersedak mendengar pertanyaan penuh godaan dari Audrey. Ingatannya kembali ke malam itu. Dia mungkin
Arthur dan Zen diusik. Maka bisa dibayangkan bagaimana kecepatan keduanya menangkap biang keroknya. Dua jam kemudian, seorang pria didorong dengan kasar oleh Mark. Di samping Mark ada asisten Arthur. Pria yang sama kompetennya dengan sang tuan."Serius adikmu sama asistennya Zack?" Bisik Zen setengah mengejek. Sedikit keluar dari topik. Entah kenapa pria itu mendadak kepo soal adik Arthur.Arthur mendengkus. Antara tidak rela dan tidak terima. "Regina mentok sama dia. Daripada dia berakhir seperti Audrey, mending aku turuti saja. Setidaknya, Sandro bukan pria brengsek."Circle pertemanan kalangan elit seringnya berputar di situ-situ saja. Meski tidak dekat, mereka akan tahu cerita atau kabar dari anggota lain.Termasuk kisah Audrey. Beritanya sudah menyebar ke semua keluarga konglomerat yang ada di kota ini. Cerita yang kadang masih menyeret nama Zen. "Dia yang memberi perintah?" Arthur bertanya sambil memandang sosok yang kini ketakutan.Fokus mereka kembali pada si tersangka. Fig
"Antar aku!"Kian terkejut. Dia baru saja mengirim pesan pada Zen. Saat itu Zen sedang membantu Madison dan Mike naik ke taksol."Tapi Zen," kilah Kian panik. Dia bingung ketika Valin sudah masuk ke mobil Kian yang baru saja diantar oleh petugas valet."Dia lagi sibuk sama keluarganya!" Sambar Vali
Dorongan napas kasar terdengar. Zen hampir membanting ponselnya, jika Valin tidak menggeliat dalam pelukan. Pria itu mendengus seraya menjepit hidung Valin. Gemas sekaligus heran. "Aku bingung denganmu. Sebenarnya yang menarik darimu itu apa? Cantik, biasa saja. Seksi, lumayan. Yang lebih bohay ba
Di ruang meeting, ada Kian yang berdiri di samping Ronan. Tampak tenang, bahkan setelah Chris Langton datang membawa rombongannya. Lelaki itu tetap datar walau sadar kalau ancaman besar sedang dia hadapi.Di depan mereka, tampak Chris Langton duduk dengan dagu terangkat. Ekspresinya terlihat sangat
"Puas apanya?" Jawab Valin seraya melangkah pergi.Tapi Zen lagi-lagi menahannya. "Jangan biasakan lari kalau masalah belum selesai.""Siapa yang punya masalah?"Zen memiringkan kepala. Sikap pria itu sudah tak sedingin dulu. Setidaknya pada Valin. Kalau dengan yang lain, jangan tanya."Masih tidak







