Se connecterBola mata Kian memicing melihat Xavier mengantar Rosalie pulang. Bak seorang ayah yang tidak rela putrinya punya pacar. Ekspresi wajah Kian tak jauh beda."Maaf, Om. Tadi aku pergi sama Ivone. Kemudian dia datang."Kian mengangguk, sebelum memberi kode pada Rosalie untuk masuk. Tinggal dua pria seumuran saling berhadapan."Apa maksudmu mendekati Rosalie? Apa karena kejadian hari itu?" Paras Kian seperti menahan emosi, tangannya berada di pinggang. "Kejadian itu hanya awalnya. Aku pun berpikir setelah malam itu semua akan berlalu. Tapi ternyata tidak. Aku sepertinya menyukai Rosalie."Kian mendengus. "Setelah sekian tahun mengejar Valin, kamu pikir aku akan percaya. Jangan jadikan Rosalie pelarian."Xavier menarik sudut bibirnya. "Lalu bagaimana denganmu? Aku masih mending, bisa berpaling. Kau? Apa selamanya kau akan jadi orang yang mencintainya dalam diam? Kian, sadarlah.""Dia sudah menikah. Aku tidak tahu perasaan mereka berdua. Tapi yang aku tahu, Valin tidak akan mengkhianati p
Manik abu itu berkilat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Benci dan amarah terlihat mendominasi. Namun ada juga secercah kecewa di sana. Valin, perempuan itu bagaimana bisa lebih memilih Zen. Bahkan ketika nyawa Zen nyaris Lucio renggut. Bahkan saat kemungkinan hidup itu hampir tidak ada.Valin, lagi-lagi dengan tangannya sendiri, mengembalikannya. Wanita cantik tersebut dengan sadar membuat sosok yang paling Lucio benci kembali berdiri tegak di hadapannya.Dia benci pada keberuntungan Zen. Dia ingin merebutnya, tapi yang terjadi malah lebih menyakitkan. Sesuatu yang paling dia inginkan, justru balik melawannya.Habis-habisan tanpa pikir panjang. Valin tanpa ragu menyerang Lucio. Tidak peduli jika yang dia hajar adalah seseorang yang sangat mencintainya.Lucio menyadarinya di saat yang krusial. Aneh tapi nyata. Dia jatuh cinta hanya dengan satu tatapan. Seolah dia telah lama mengenal Valin."Menyiksaku? Ini jauh lebih baik dari siksaan manapun yang pernah kuterima."Lucio ters
"Lin, kamu kenapa?" Wajah Alvin berubah panik. Apalagi setelah itu Valin muntah darah. Semua orang histeris melihatnya. Alvin buru-buru menggendong Valin yang tidak sadarkan diri ke sofa. Tidak ada brankar kosong tersisa. Pasien bahkan memenuhi lorong IGD. Menunggu kondisi lebih stabil untuk dipindahkan ke bangsal atau dipulangkan."Lin, ada apa denganmu?" Tanya Alvin kebingungan.Dia baru akan memeriksa ketika dua orang mendekat. "Hei, kalian siapa? Itu apa?" Alvin coba mencegah keduanya saat ingin menyuntik Valin.Tidak ada jawaban, hanya tatapan tajam penuh peringatan yang membuat Alvin mundur teratur. Dia bergidik ngeri waktu melihat senjata api terselip di pinggang keduanya."Ini Effronde. Laporkan pada tuan Lestrange."Sosok yang tak lain adalah Teddy memberi perintah. Pria satu lagi langsung merespon.Di ujung sana, Sylus seketika menggebrak meja. Dia kecolongan lagi. "Suruh Vante dan Bryan mencari tahu pelakunya. Aku akan siksa mereka dengan olivander terbaruku."Bunga olea
"Kau sudah bisa pakai celana sendiri. Jangan memaksaku!""Siapa bilang? Lihat, aku masih kesulitan menunduk. Sakit, Michele. Ayo, aku gak mau rugi bayar kamu!"Michele melirik judes pada Mark. Sosok yang membuatnya stres seminggu ini. Ada saja ulah Mark untuk membuatnya blingsatan, marah juga memaki tanpa henti.Hal paling menyebalkan adalah ketika dia harus membantu Mark memakai celana. Bisa dibayangkan seperti apa salah tingkahnya Michele."Kenapa kamu aneh begitu. Bukannya kamu sudah biasa melihat punya pacarmu."No komen! Michele pilih fokus pada tugasnya yang sungguh menyiksa. Dia diam saja sampai Mark komplit memakai pakaiannya.Percayalah, butuh usaha ekstra kuat bagi Michele untuk menyelesaikannya. Dan itu terjadi berkali-kali. Michele mungkin sebentar lagi akan meledak.Gadis itu membuka laptop dengan kasar, memeriksa lamaran kerja yang dia kirim ke banyak perusahaan.Sudah seminggu, tapi tak satupun merespon. Michele menghela napas. Dia tidak kekurangan uang, Mark membayar g
"Dia suamimu bukan?"Valin nyaris tersedak, sebelum akhirnya mampu menguasai diri. Tentu saja, dokter Keith tahu hubungan dirinya dan Zen. Tinggal menunggu waktu hingga Alvin mengetahui faktanya."Kian Egan, cuma pion untuk mengalihkan perhatian. Kenapa? Kamu takut orang akan menggunjingkan soal kamu dan Zen.""Tidak juga. Aku hanya belum siap go publik.""Padahal kalau kamu buka statusmu, tidak akan ada yang berani padamu. Zen pemilik rumah sakit, siapa yang punya nyali menyinggungnya.""Masalahnya tidak semua orang tahu siapa Zen. Mereka hanya tahu kalau Zen pasien biasa."Alvin menggaruk kepalanya. Benar juga. Posisi Zen saat ini hanya diketahui oleh petinggi rumah sakit. Juga beberapa orang tertentu. Ayahnya saja baru tahu kemarin saat Zen dilarikan ke sektor satu. Melihat kepanikan Kian, dokter Keith jadi bertanya-tanya siapa Zen sebenarnya. Hingga dia mendengar dari percakapan Kian dan Sylus yang kebetulan lewat di depannya. Keduanya menyebut Zen pemilik rumah sakit. "Benar ju
"Aku akan memeriksanya.""Bagaimana lukamu?""Sudah lumayan. Tapi ini benar-benar sakit. Lucio, akan kupatahkan tulang rusuknya satu persatu."Kata Mark dengan gigi bergeletuk menahan emosi. Lucio, nama itu benar-benar membuat darahnya mendidih karena amarah.Tak berapa lama bel unit Michele berdentang. Perempuan yang tengah memasak di dapur itu melongokkan kepala. "Bukalah, asistenku datang membawa keperluanku.""Kau berencana tinggal di tempatku?"Mark mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Michele."Lalu, apa kau sudi pindah ke tempatku? Percayalah tempatku seratus kali lebih baik dari ini," cibiran terasa sekali dalam kalimat Mark."Tidak mau!" Michele menolak, dia pilih membukakan pintu. Menerima satu koper juga sebuah laptop yang Michele tahu harganya mahal.Dia sesaat tertegun melihat koper pakaian Mark."Berapa lama kau akan tinggal di sini. Ingat, aku hanya cuti dua hari.""Kau berhenti dari pekerjaanmu."Michele melotot. "Aku tidak pernah mengundurkan diri. Bagaimana bi
Jari Zen langsung terarah pada Lucio. Pria itu sedang mendekati Valin yang tengah memilih buah."Zen, dia Lucio Costra!" Pekik Adrian saat menyadari siapa pria itu.Netra biru Adrian memicing tajam. Sejak kapan istri baru Daniel menarik perhatian pemimpin sayap kiri."Bagaimana?" Adrian yang sejak
Zen termenung cukup lama. Dia pandangi Valin yang kembali terlelap. "Salahku apa lagi sekarang. Kenapa kamu bilang benci aku."Mungkin karena Zen adalah lelaki yang tidak peka, jadi dia bingung sendiri saat harus memahami kemarahan Valin.Waktu dia menjalin hubungan dengan Audrey. Wanita itu yang m
Jantung Valin serasa berhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Keringat mendadak muncul di dahi. Dia syok, panik juga takut di waktu bersamaan. Bisa dilihat jika paras Valin perlahan kehilangan ronanya.Di hadapannya berdiri Razen Archlight, suaminya. Lelaki yang coba dia hindari dua bulan ini. P
Bola mata Audrey terbelalak tidak percaya. Dia berdiri dengan tubuh tegang tapi otak membeku. Kakinya berhenti di depan pintu sebuah bangunan dengan plakat tertulis Gedung Tulip lumayan besar.Bukan namanya yang membuat Audrey tertegun. Tapi keterangan di bawahnya. "Gedung khusus pasien kanker," gu







