LOGINMaya POV"Jar, bolehkah aku meminta waktu?"Kalimat itu akhirnya berhasil keluar dari bibirku setelah sekian lama bergulat dengan perasaanku sendiri.Aku melihat sorot mata Fajar yang sempat menegang perlahan berubah. Bukan kecewa.Justru sebaliknya.Senyum hangat itu kembali mengembang di wajahnya.Benar-benar tulus."Jadi... itu artinya aku masih punya harapan?"Aku ikut tersenyum kecil."Aku nggak bilang begitu.""Tapi juga nggak bilang tidak."Jawabanku membuatnya terkekeh pelan."Kalau begitu, aku anggap itu sebagai kabar baik."Aku menggeleng geli."Dasar."Entah kenapa melihat wajahnya yang begitu bahagia membuat dadaku ikut terasa hangat.Sudah lama aku tidak melihat seseorang merasa begitu senang hanya karena sebuah kesempatan kecil.Fajar mengusap tengkuknya sambil tertawa pelan."Aku pikir tadi kamu benar-benar mau menolakku.""Aku sampai nyiapin mental."Aku menatapnya."Aku memang belum siap.""Aku masih belajar berdamai dengan masa lalu.""Aku takut...""Sangat takut."T
Fajar POV"Jadi kalian di sini?"Aku dan Maya menoleh bersamaan.Rizal berdiri di samping meja sambil tersenyum tipis. Ia masih mengenakan setelan kerja yang rapi, sepertinya baru selesai menghadiri sebuah pertemuan."Zal?" sapaku sambil berdiri untuk menyalaminya."Kebetulan banget." Rizal melirik Maya. "Halo, Maya."Maya menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.Beberapa saat kami berbasa-basi. Rizal sempat mengatakan permintaan maafnya atas apa yang sempat terjadi. Dia menyesal masih menyimpan video Maya hingga video itu malah diketahui oleh Raisa dan juga disebarkan.Maya terlihat gelisah sebentar tapi wanita berhati lapang itu dengan mudah memaafkan Rizal."Tapi aku janji aku tidak akan tinggal diam, aku tetap akan melakukan sesuatu agar nama baikmu bisa pulih. Aku akan meminta bantuan sahabatku yang seorang influencer agar membuat beberapa VT yang nantinya akan menjelaskan semua latar belakangmu dan bagaimana video itu sampai ada.""Aku yakin dalam waktu tak terlalu lama tak ada
Maya POV"Katakan kamu mau ke mana memangnya?" tanya Fajar yang sudah penasaran.Tapi aku tersenyum kecil sebelum kemudian memandangi lembar akta cerai yang masih berada di tanganku.Namaku.Nama Mas Angga.Dan satu kalimat yang menandai berakhirnya ikatan yang selama ini begitu menyiksa.Rasanya aneh.Bukan bahagia yang meledak-ledak.Bukan pula sedih yang menghimpit.Melainkan... lega.Lega karena akhirnya aku tidak lagi hidup sebagai seseorang yang terus menunggu keajaiban dari orang yang tak pernah benar-benar menghargai keberadaanku.Aku menarik napas pelan."Bagaimana perasaanmu sekarang?"Aku menoleh untuk menatapnya."Hm?""Alhamdulillah ...," jawabku singkat sambil menghela nafas panjang.Fajar melirikku seraya mengulas senyuman tipis."Pasti kamu lega kan?"Aku mengangguk pelan."Kamu masih mau mengantarku kan?""Kemana?"Aku menggenggam erat map berisi akta cerai."Aku ingin menemui Mas Angga."Fajar tampak terdiam beberapa detik.Tatapannya menelusuri wajahku, seolah memas
Fajar POVKugenggam tangan Maya semakin erat."Jangan dengarkan satu kata pun dari mereka."Tangannya masih gemetar. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Melihat keadaannya seperti itu, dadaku terasa diremas begitu kuat.Aku menggeser tubuhku, berdiri sepenuhnya di depan Maya seolah menjadi tembok yang melindunginya."Aku bilang cukup," ucapku lagi dengan suara dingin.Raisa mendengus sinis."Wah... hebat sekali. Dokter Fajar sekarang jadi pahlawan perempuan murahan."Bella tertawa kecil."Yang kami katakan juga bukan fitnah. Videonya memang benar milik dia."Beberapa orang mulai berbisik-bisik. Sebagian mengeluarkan ponsel, merekam keributan yang terjadi.Aku menatap mereka satu per satu."Kalau kalian masih punya sedikit rasa malu, berhentilah mempermalukan seseorang yang sudah berusaha bangkit."Bella malah menggeleng."Aku benar-benar heran."Tatapannya berpindah kepada Maya, lalu kembali kepadaku."Apa sih istimewanya perempuan ini? Cantik? Di luar sana banyak wanita y
Fajar POV"Fajar!"Suara Maya terdengar penuh keterkejutan.Aku berhenti tepat di depan lapaknya. Tatapanku tak sedikit pun beralih dari pria berambut cokelat yang berdiri hanya beberapa langkah darinya."Siapa dia?"Pertanyaanku terdengar datar, tetapi rahangku mengeras.Maya tampak gugup."Fajar....""Aku tanya, siapa dia?"Pria itu justru melangkah maju dengan tenang."Aku—""Maaf."Maya buru-buru memotong ucapan pria itu.Tatapannya beralih kepadanya."Hans... tolong pulang dulu."Aku mengernyit.Jadi namanya Hans.Pria itu terlihat enggan bergerak. Tatapannya malah tajam memindaiku. Aku membalasnya dengan sorot mata yang sama tegasnya."Kenapa kamu memintaku pergi? Apa karena dia? Siapa lagi dia Maya?" tanya pria itu terasa seperti seseorang yang selalu ingin mengendalikan segalanya."Tak semua hal harus aku ceritakan sama kamu," ucap Maya lugas, "aku mohon pergilah jika kamu masih peduli sama aku."Suara Maya begitu pelan, namun penuh permintaan.Hans mengembuskan napas panjang.
Fajar POVAku masih berdiri mematung di tengah rumahku yang kini terasa kosong.Pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, masih berharap jika bayangan Maya akan berkelebat di ruangan ini.Nyatanya suara panggilanku tetap saja tak ada sahutan. Maya sudah benar-benar pergi.Aku merasa dipecundangi. Maya telah membohongiku. Dia seperti sudah tak mengindahkan aku lagi.Dadaku mulai terasa semakin sesak."Ke mana kamu pergi, May?" gumamku lirih.Aku langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Maya.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Tetap tidak diangkat.Aku mengusap wajah dengan kasar.Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalaku.Apa yang membuat Maya mendadak pergi? Padahal semalam kami mengobrol panjang dan dia tak ada tanda-tanda akan pergi.Aku sedikit menyesal kenapa tadi tak berpamitan pada Maya saat akan pergi ke rumah sakit. Karena tadi pagi pintu kamar Maya masih tertutup dan aku pikir dia masih tidur.Jika tahu begini seharusnya aku mengunci pintu rumah ini, dan mengurung M
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu.“Mau dibawa ke mana rumah tangga kita ini?”Kalimat itu menggantung di udara, menekan dadaku seperti beban yang tak terlihat. Aku menatap wajah Mas Angga lama, mencoba mencari sisa-sisa keyakinan yang dulu pernah kumiliki.Namun yang kutemukan hanya kelel
POV Maya Aku sedang duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela ketika ponselku berdering. Nama Andien muncul di layar. Dengan antusias, aku segera mengangkatnya.[“Ya, Ndien, ada apa?” tanyaku pelan.Namun bukan suara santai yang kudapat, melainkan wajah Andien yang tampak ragu di layar v
Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang terasa begitu asing.Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, padahal semalam… aku yakin tak ada apa pun yang tersisa di antara kami selain kehangatan.“Hans…” ulangku, lebih pelan.Akhirnya dia menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat. Setiap
Aku sama sekali tak mundur. Aku malah menunggu meski kutahu dia mendekat dengan sorot mata yang menyiratkan hasratnya yang membara.Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti seseorang yang dipaksa menyerah. Tidak ada lagi dorongan untuk melawan, tidak ada lagi air mata yang diam-di







