Share

99. Status Baru

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-07-02 19:45:37

Fajar POV

Kugenggam tangan Maya semakin erat.

"Jangan dengarkan satu kata pun dari mereka."

Tangannya masih gemetar. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Melihat keadaannya seperti itu, dadaku terasa diremas begitu kuat.

Aku menggeser tubuhku, berdiri sepenuhnya di depan Maya seolah menjadi tembok yang melindunginya.

"Aku bilang cukup," ucapku lagi dengan suara dingin.

Raisa mendengus sinis.

"Wah... hebat sekali. Dokter Fajar sekarang jadi pahlawan perempuan murahan."

Bella tertawa k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
mau melakukan apa Maya?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    101. Makan Malam Bersama

    Fajar POV"Jadi kalian di sini?"Aku dan Maya menoleh bersamaan.Rizal berdiri di samping meja sambil tersenyum tipis. Ia masih mengenakan setelan kerja yang rapi, sepertinya baru selesai menghadiri sebuah pertemuan."Zal?" sapaku sambil berdiri untuk menyalaminya."Kebetulan banget." Rizal melirik Maya. "Halo, Maya."Maya menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.Beberapa saat kami berbasa-basi. Rizal sempat mengatakan permintaan maafnya atas apa yang sempat terjadi. Dia menyesal masih menyimpan video Maya hingga video itu malah diketahui oleh Raisa dan juga disebarkan.Maya terlihat gelisah sebentar tapi wanita berhati lapang itu dengan mudah memaafkan Rizal."Tapi aku janji aku tidak akan tinggal diam, aku tetap akan melakukan sesuatu agar nama baikmu bisa pulih. Aku akan meminta bantuan sahabatku yang seorang influencer agar membuat beberapa VT yang nantinya akan menjelaskan semua latar belakangmu dan bagaimana video itu sampai ada.""Aku yakin dalam waktu tak terlalu lama tak ada

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    100. Merayakan Kebebasan

    Maya POV"Katakan kamu mau ke mana memangnya?" tanya Fajar yang sudah penasaran.Tapi aku tersenyum kecil sebelum kemudian memandangi lembar akta cerai yang masih berada di tanganku.Namaku.Nama Mas Angga.Dan satu kalimat yang menandai berakhirnya ikatan yang selama ini begitu menyiksa.Rasanya aneh.Bukan bahagia yang meledak-ledak.Bukan pula sedih yang menghimpit.Melainkan... lega.Lega karena akhirnya aku tidak lagi hidup sebagai seseorang yang terus menunggu keajaiban dari orang yang tak pernah benar-benar menghargai keberadaanku.Aku menarik napas pelan."Bagaimana perasaanmu sekarang?"Aku menoleh untuk menatapnya."Hm?""Alhamdulillah ...," jawabku singkat sambil menghela nafas panjang.Fajar melirikku seraya mengulas senyuman tipis."Pasti kamu lega kan?"Aku mengangguk pelan."Kamu masih mau mengantarku kan?""Kemana?"Aku menggenggam erat map berisi akta cerai."Aku ingin menemui Mas Angga."Fajar tampak terdiam beberapa detik.Tatapannya menelusuri wajahku, seolah memas

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    99. Status Baru

    Fajar POVKugenggam tangan Maya semakin erat."Jangan dengarkan satu kata pun dari mereka."Tangannya masih gemetar. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Melihat keadaannya seperti itu, dadaku terasa diremas begitu kuat.Aku menggeser tubuhku, berdiri sepenuhnya di depan Maya seolah menjadi tembok yang melindunginya."Aku bilang cukup," ucapku lagi dengan suara dingin.Raisa mendengus sinis."Wah... hebat sekali. Dokter Fajar sekarang jadi pahlawan perempuan murahan."Bella tertawa kecil."Yang kami katakan juga bukan fitnah. Videonya memang benar milik dia."Beberapa orang mulai berbisik-bisik. Sebagian mengeluarkan ponsel, merekam keributan yang terjadi.Aku menatap mereka satu per satu."Kalau kalian masih punya sedikit rasa malu, berhentilah mempermalukan seseorang yang sudah berusaha bangkit."Bella malah menggeleng."Aku benar-benar heran."Tatapannya berpindah kepada Maya, lalu kembali kepadaku."Apa sih istimewanya perempuan ini? Cantik? Di luar sana banyak wanita y

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    98. Kembali Mendatangi Maya

    Fajar POV"Fajar!"Suara Maya terdengar penuh keterkejutan.Aku berhenti tepat di depan lapaknya. Tatapanku tak sedikit pun beralih dari pria berambut cokelat yang berdiri hanya beberapa langkah darinya."Siapa dia?"Pertanyaanku terdengar datar, tetapi rahangku mengeras.Maya tampak gugup."Fajar....""Aku tanya, siapa dia?"Pria itu justru melangkah maju dengan tenang."Aku—""Maaf."Maya buru-buru memotong ucapan pria itu.Tatapannya beralih kepadanya."Hans... tolong pulang dulu."Aku mengernyit.Jadi namanya Hans.Pria itu terlihat enggan bergerak. Tatapannya malah tajam memindaiku. Aku membalasnya dengan sorot mata yang sama tegasnya."Kenapa kamu memintaku pergi? Apa karena dia? Siapa lagi dia Maya?" tanya pria itu terasa seperti seseorang yang selalu ingin mengendalikan segalanya."Tak semua hal harus aku ceritakan sama kamu," ucap Maya lugas, "aku mohon pergilah jika kamu masih peduli sama aku."Suara Maya begitu pelan, namun penuh permintaan.Hans mengembuskan napas panjang.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    97. Mencari Maya

    Fajar POVAku masih berdiri mematung di tengah rumahku yang kini terasa kosong.Pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, masih berharap jika bayangan Maya akan berkelebat di ruangan ini.Nyatanya suara panggilanku tetap saja tak ada sahutan. Maya sudah benar-benar pergi.Aku merasa dipecundangi. Maya telah membohongiku. Dia seperti sudah tak mengindahkan aku lagi.Dadaku mulai terasa semakin sesak."Ke mana kamu pergi, May?" gumamku lirih.Aku langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Maya.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Tetap tidak diangkat.Aku mengusap wajah dengan kasar.Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalaku.Apa yang membuat Maya mendadak pergi? Padahal semalam kami mengobrol panjang dan dia tak ada tanda-tanda akan pergi.Aku sedikit menyesal kenapa tadi tak berpamitan pada Maya saat akan pergi ke rumah sakit. Karena tadi pagi pintu kamar Maya masih tertutup dan aku pikir dia masih tidur.Jika tahu begini seharusnya aku mengunci pintu rumah ini, dan mengurung M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    96. Kepergian Maya

    Fajar POV"Jadi kamu akan menceraikan aku?"Suara Raisa bergetar, tetapi bukan karena sedih.Melainkan karena amarah yang mulai meledak tanpa kendali.Aku menoleh ke arah Rizal. Wajah sahabatku itu langsung mengeras. Tatapannya tampak pasrah, seolah tak pernah membayangkan rahasia itu akan terbongkar dengan cara seperti ini."Zal... jawab aku!" bentak Raisa sambil mencengkeram lengan suaminya.Rizal melepaskan tangan itu perlahan."Aku memang berniat mengajukan gugatan cerai."Kalimat itu terdengar pelan.Namun cukup untuk membuat dunia Raisa seakan runtuh."Apa?"Raisa mundur beberapa langkah sambil menggeleng keras."Kamu bohong... kamu pasti bohong!""Aku tidak sedang bercanda.""Tidak!" teriak Raisa histeris. "Aku selama ini jadi istri yang selalu menemani kamu! Apa kurangnya aku?"Rizal menarik napas panjang."Kamu pikir saja sendiri," sergah Rizal geram."Pasti karena perempuan itu, kan!" tuduh Raisa histeris."Kamu benar-benar sangat menyebalkan, kenapa kamu tak mau introspeksi

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    88. Menemukan Dita

    Maya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belak

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    80. Masih Kehilangan Dita

    Maya POV"Jar, anakku masih belum aku temukan."Suaraku terdengar pecah.Meski Salman dan Angga sudah tertangkap, kenyataannya Dita masih belum ada di hadapanku.Itulah yang membuat dadaku tetap terasa sesak.Fajar mengusap puncak kepalaku perlahan."Polisi sudah menangkap mereka, May. Sekarang mer

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    73. Salah Paham

    "Apa yang sedang kalian lakukan?"Sontak aku dan Fajar menoleh bersamaan. Di dekat kami Bu Halimah sudah memberikan tatapan tajam penuh sorot curiga.Aku segera menggeser tubuhku menjauh saat Fajar telah melepaskan dekapannya.Pancaran kecewa semakin ketara terunggah di kedua netranya, Bu Halimah k

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    71. Perhatian Fajar

    Maya POV"Ibu sangat bangga dengan Fajar. Kuharap tak ada yang mengusik pencapaiannya saat ini."Kalimat itu terus terngiang di telinga. Aku segera merasa itu adalah tanda agar aku bisa tahu diri.Mungkin beliau tidak bermaksud apa-apa.Mungkin juga aku yang terlalu sensitif.Tapi semakin kupikirka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status