LOGINIa bangun lebih pagi dari biasanya.Bukan karena gelisah, melainkan karena tubuhnya terbiasa berjaga sebelum perintah datang. Ada jeda singkat setelah ia membuka mata—sepersekian detik ketika ia lupa di mana dirinya berada. Jeda itu cepat berlalu, namun cukup untuk meninggalkan rasa dingin di dada.Ia duduk, merapikan pakaian, lalu berhenti.Tangannya sempat gemetar saat mengikatkan pita kecil di pergelangan. Bukan gemetar yang mencolok. Bahkan jika ada orang lain di ruangan itu, mungkin tidak akan diperhatikan. Ia sendiri hampir mengabaikannya, seandainya tidak terlalu mengenal tubuhnya.Ia menarik napas lebih dalam.Tidak ada kenangan buruk yang muncul. Tidak ada bayangan masa lalu yang jelas. Hanya sensasi samar—seperti ber
Tekanan tidak selalu datang dalam bentuk larangan. Sering kali ia hadir sebagai penataan ulang—lebih halus, lebih sulit dibantah.Pagi itu, ia menerima daftar tugas yang sama seperti kemarin, namun dengan satu perbedaan kecil: namanya diletakkan di baris paling akhir, ditulis ulang dengan tinta yang lebih muda. Tidak salah. Tidak keliru. Hanya dipindahkan.Ia memperhatikan itu tanpa mengernyit.Di lorong-lorong, orang-orang tetap menyapanya seperti biasa—nada sopan, senyum singkat, tidak berlebihan. Namun, ia merasakan sesuatu yang lebih terukur. Seolah setiap interaksi telah melalui pertimbangan: cukup dekat untuk terlihat wajar, cukup jauh untuk aman.Ia bekerja tanpa menoleh.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa kejutan yang mencolok. Justru karena itulah ia mulai waspada. Tidak ada perubahan jadwal yang ekstrem, tidak pula pemanggilan mendadak yang mengundang tanya. Ia kembali pada tugas-tugas yang tampak biasa—membersihkan lorong samping, mengantar dokumen ringan ke ruang penyimpanan, membantu persiapan jamuan kecil yang tidak melibatkan bangsawan utama. Semua tampak seperti rutinitas yang ia kenal. Namun ia tahu, sesuatu yang telah bergerak tidak pernah benar-benar kembali diam. Ia merasakannya dari cara beberapa pelayan kini lebih berhati-hati saat berada di dekatnya. Mereka tidak menjauh secara terang-terangan, tidak pula mencoba mendekat. Hanya menjaga jarak yang terlalu terukur—jarak orang-orang yang ingin aman dari salah sangka. Langkah mereka sedikit melambat saat berpapasan dengannya. Percakapan terhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Hal-hal kecil, nyaris tak berarti bila berdiri sendiri. Namun,
Pagi datang dengan ritme yang nyaris sama seperti kemarin. Lonceng dapur berbunyi pada waktu yang sama, langkah para pelayan berirama di lorong-lorong panjang, dan udara rumah besar itu tetap dingin oleh keteraturan yang tidak pernah benar-benar ramah. Namun bagi ia, pagi itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena sesuatu yang terjadi. Melainkan karena sesuatu yang tidak lagi terjadi. Ia berdiri di titik biasa menunggu arahan, namun namanya tidak dipanggil pertama. Ia menunggu dengan sikap yang sama—tangan terlipat rapi, kepala sedikit menunduk, punggung tegak tanpa menantang. Ia dipanggil belakangan. Ketika akhirnya mendapat tugas, daftar yang diberikan tidak salah. Tidak berlebihan. Bahkan tampak masuk akal. Namun, urutannya diubah. Jalur kerjanya dipatahkan menjadi beberapa bagian kecil, seolah keberadaannya perlu terus berpindah agar tidak menetap terlalu lama di satu ruang. Ia menerima tanpa bertanya. Ia tahu, rumah ini jarang menghukum secara langsung. Ia lebih suka me
Keputusan itu datang tanpa suara. Ia tidak diumumkan dengan lonceng atau perintah lisan. Tidak pula dibacakan di hadapan para pelayan seperti keputusan-keputusan lain yang biasa disampaikan dengan nada resmi dan jarak yang jelas. Keputusan itu hanya hadir sebagai perubahan kecil—hampir tak terlihat—dalam daftar tugas yang ditempel di papan kayu dekat dapur belakang, di antara catatan minyak lampu dan jadwal pengiriman bahan makanan. Ia melihatnya pagi itu, sepintas, saat langkahnya melambat melewati lorong sempit yang masih menyisakan bau kayu lembap. Awalnya ia mengira matanya keliru membaca, atau mungkin daftar itu diperbarui tanpa maksud tertentu. Namun, ketika ia mendekat dan membaca ulang, dadanya mengeras perlahan. Namanya masih ada di sana. Namun, posisinya bergeser. Tidak turun secara terang-terangan, tidak pula dinaikkan sebagai bentuk penghargaan. Hanya dipindahkan ke pinggir, ke bagian yang tidak lagi bersentuhan dengan hal-hal yang memerlukan kepercayaan atau kehadira
Hari-hari setelah itu berjalan seperti air yang mengalir di bawah permukaan—tenang di atas, namun menyimpan arus yang sulit ditebak.Ia kembali pada rutinitasnya. Bangun sebelum cahaya menyentuh jendela, mengenakan pakaian kerja yang sama, menyusuri lorong-lorong yang telah dihafal kakinya. Namun kini, setiap langkah terasa sedikit lebih diperhatikan. Bukan oleh satu pasang mata saja, melainkan oleh banyak kesadaran yang diam-diam mengamati.Pada suatu titik, ia berhenti di depan pintu ruang penyimpanan, menunggu pelayan lain keluar terlebih dahulu. Biasanya, hal itu tidak perlu. Namun kini, ada jeda yang tak terucap—keraguan singkat sebelum seseorang memilih untuk berjalan melewatinya atau memberi jalan.Seorang pelayan perempuan sempat membuka mulut, seolah hendak menyapa, namun menutupnya kembali. Ia menunduk cepat, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun.Ia tidak merasa tersinggung. Namun, ia mencatatnya. Hal-hal kecil seperti itu tidak muncul tanpa sebab.Ia tahu, jarak sedang diaja







