Beranda / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 7 - Tata Krama dan Jarak

Share

BAB 7 - Tata Krama dan Jarak

Penulis: Y. Rs
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 21:28:23

Di rumah bangsawan itu, tata krama bukan sekadar aturan. Ia adalah pagar tak terlihat yang menentukan siapa boleh mendekat dan siapa harus selalu tahu jarak.

Ia mempelajarinya bukan dari buku, melainkan dari teguran halus dan tatapan yang terlalu lama. Dari cara seseorang berhenti bicara saat pelayan mendekat, lalu melanjutkannya kembali ketika pelayan itu menjauh. Dari perubahan sikap yang terjadi bukan karena kata, melainkan posisi tubuh.

Pagi itu, ia mendapat tugas baru—membantu di ruang dalam lebih sering dari biasanya. Tidak ada penjelasan resmi. Hanya perpindahan yang dilakukan pelan, seolah tidak ingin menarik perhatian.

Ia menerima tanpa bertanya.

Ruang dalam memiliki aturan yang berbeda. Langkah harus lebih senyap. Tatapan harus lebih rendah. Gerakan harus terukur, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Ia mengamati semuanya dengan cermat, menyesuaikan diri tanpa kehilangan ritme.

Seorang pelayan baru tampak gugup, beberapa kali salah posisi saat meletakkan nampan. Teguran datang dengan suara rendah, namun cukup membuat ruangan terasa dingin.

Ia memperhatikan jarak berdiri. Tidak terlalu dekat dengan para bangsawan, namun juga tidak terlalu jauh hingga terlihat lalai. Ia memahami bahwa jarak adalah bahasa yang paling jujur di tempat ini.

Suatu ketika, ia diminta menyajikan minuman di saat percakapan sedang berlangsung. Ia melangkah masuk dengan kepala tertunduk, namun telinganya menangkap potongan kalimat yang terucap tanpa sengaja.

“Perubahan itu perlu, tapi tidak semua orang siap,” kata seseorang.

“Kita tidak bicara tentang kesiapan,” sahut yang lain. “Kita bicara tentang kepatuhan.”

Ia menahan langkahnya sepersekian detik, lalu melanjutkan seperti biasa. Kalimat itu tidak mengejutkannya. Dunia selalu bergerak dengan cara seperti itu. Namun mendengarnya diucapkan begitu tenang, begitu yakin, membuatnya semakin memahami tempatnya.

Saat ia hendak berbalik, sebuah suara menghentikannya.

“Tunggu.”

Ia berhenti, menunduk lebih dalam.

“Letakkan di sini,” kata suara itu—tenang, berjarak, tidak meninggi.

Ia mematuhi perintah itu dengan tepat. Tidak ada kesalahan. Namun ketika ia hendak mundur, ia merasakan tatapan singkat yang menimbang. Bukan tatapan yang biasa ia terima. Tidak merendahkan, tidak mengabaikan—hanya menilai.

Ia tidak mengangkat kepala.

Di ruang ini, tatapan balik bisa diartikan sebagai pelanggaran.

Ia melangkah pergi dengan tenang. Namun di dalam dirinya, ia mencatat momen itu. Bukan sebagai peristiwa penting, melainkan sebagai perubahan kecil yang patut diwaspadai.

Di luar ruangan, pelayan senior mendekatinya. “Hati-hati,” katanya pelan. “Di ruang itu, satu langkah salah bisa berarti lebih dari sekadar teguran.”

Ia mengangguk. “Saya mengerti.”

Namun yang ia mengerti lebih dari sekadar peringatan itu. Ia mengerti bahwa ruang dalam bukan hanya soal kedekatan fisik, melainkan kedekatan pada kekuasaan. Dan kekuasaan jarang datang tanpa konsekuensi.

Hari-hari berikutnya, ia semakin sering berada di sana. Ia belajar kapan harus masuk, kapan harus menunggu di ambang pintu. Ia belajar membedakan keheningan yang menandakan izin dan keheningan yang berarti larangan.

Sekali waktu, ia melihat seorang pelayan ditegur hanya karena berdiri terlalu dekat. Tidak ada kata kasar. Hanya senyum tipis dan kalimat singkat. Namun efeknya bertahan lama.

Ia memastikan dirinya tidak mengulangi kesalahan itu.

Di sela-sela kesibukan, ia teringat neneknya lagi. Perempuan tua itu dulu selalu mengajarinya menjaga sikap di rumah orang lain. “Kau boleh ada,” kata neneknya, “tapi jangan pernah lupa bahwa itu bukan rumahmu.”

Ia hidup dengan kalimat itu.

Sore hari, ketika tugas hampir selesai, ia kembali diminta masuk ke ruang dalam. Kali ini hanya untuk mengambil sesuatu. Ia melangkah dengan hati-hati, menjaga jarak seperti biasa.

Namun sebelum ia keluar, suara itu kembali terdengar.

“Kau tahu aturan di ruangan ini?”

Ia berhenti. Menunduk. “Saya berusaha mematuhinya, Tuanku.”

Jawaban itu tidak langsung dibalas. Ada jeda singkat—cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sempit.

“Teruskan,” kata suara itu akhirnya.

Tidak ada pujian. Tidak ada peringatan. Namun kalimat itu lebih berat dari keduanya.

Ia keluar ruangan dengan langkah yang tetap terjaga. Di wajahnya, tidak ada perubahan. Namun di dalam dirinya, ia menyadari satu hal: menjaga jarak ternyata juga bisa menjadi cara untuk diperhatikan.

Malam itu, saat lentera-lentera dinyalakan, ia berdiri di koridor, mengamati bayangannya sendiri di dinding. Bayangan itu tidak besar. Tidak menonjol. Namun ia ada—jelas dan utuh.

Di rumah ini, ia belajar bahwa tata krama bukan hanya soal sopan santun. Ia adalah alat. Dan siapa pun yang memahaminya, memiliki sedikit kendali atas nasibnya sendiri.

Ia memilih berjalan di garis tipis itu.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Cukup untuk bertahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 32 - Getar yang Tidak Diakui

    Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di kediaman utama. Langit cerah, taman dirawat seperti biasa, dan pelayan bergerak mengikuti pola yang telah dihafal tubuh mereka sejak lama. Namun bagi ia, ada sesuatu yang terasa bergeser—bukan pada tempatnya, melainkan pada caranya dipandang. Ia menyadarinya sejak langkah pertama di lorong timur. Sapaan yang biasanya singkat kini menjadi terlalu kaku, atau justru terlalu berhati-hati. Beberapa pelayan menunduk lebih cepat dari seharusnya, sementara yang lain pura-pura sibuk agar tidak perlu berpapasan. Tidak ada sikap terbuka yang kasar, tetapi jarak itu nyata—terbentang halus, dingin, dan disengaja. Ia memahami itu sebagai kelanjutan dari keputusan beberapa waktu lalu. Pemindahan tugas tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa gema. Ia tetap berjalan dengan langkah terukur. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Ia tidak mengubah sikap. Jika dunia di sekitarnya sedang menilai, maka ia tidak akan memberi mereka baha

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 31 - Setelah yang Tidak Diucapkan

    Pagi datang tanpa perubahan yang berarti. Langit di atas kediaman utama tetap kelabu pucat, seolah menahan cahaya agar tidak jatuh sepenuhnya. Udara masih dingin, dan rumah besar itu kembali bergerak dalam keteraturan yang sama—seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun ia tahu, sesuatu telah bergeser, sedikit. Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tugas, melainkan karena pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Tubuhnya mungkin diam semalam, tetapi ingatan bekerja dengan cara yang sunyi dan melelahkan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang sempitnya, merapikan napas sebelum berdiri. Tidak ada gelisah berlebihan. Tidak pula harapan yang tumbuh tiba-tiba. Hanya kesadaran yang lebih tajam—bahwa setelah kemarin, ia tidak lagi berada di titik yang sama. Ia berjalan menyusuri lorong samping seperti biasa. Langkahnya terukur, punggungnya tegak, wajahnya tenang. Namun pagi itu, beberapa pasang mata kembali memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Bukan tajam. Bukan terang

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 30 - Retakan yang Tak Disadari

    Tidak semua perubahan datang dengan suara. Sebagian hadir sebagai pengulangan—hari yang tampak sama, tugas yang kembali berjalan seperti biasa, dan wajah-wajah yang berusaha meyakinkan diri bahwa jarak telah cukup untuk meredam segalanya. Namun, bagi ia yang terbiasa membaca keadaan, ada sesuatu yang terasa berbeda pagi itu. Bukan pada perintah. Bukan pada nada bicara. Melainkan pada cara orang-orang berhenti sejenak sebelum menyebut namanya—lalu melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memahami pola itu. Ketika seseorang tidak lagi dipinggirkan secara terang-terangan, melainkan mulai diperhatikan dengan terlalu hati-hati, itu berarti ia tidak lagi dianggap kecil. Dan kesadaran itu tidak membawa rasa lega. Ia hanya membawa satu pemahaman sunyi: bahwa ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa ia tolak, dan tidak bisa ia sambut dengan gegabah. Di rumah besar ini, perhatian adalah mata uang yang mahal— dan sering kali harus dibayar dengan ketenangan. Tidak ada

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 29 - Harga Dari Diam

    Sementara itu, di sayap lain rumah besar, diam yang sama sedang dipikul dengan cara yang berbeda.Ada keputusan yang tidak diambil karena ragu, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dilindungi sekaligus.Dan di rumah besar itu, tuan muda memahami satu hal sejak lama: setiap langkah yang tampak sederhana bisa berubah menjadi alasan untuk menghancurkan seseorang—terutama mereka yang tidak memiliki nama besar sebagai pelindung.Pagi itu, ia berdiri di beranda samping, memandangi halaman yang mulai dipenuhi aktivitas. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, hingga justru terasa mencurigakan.Ia tahu, perintah pemindahan tugas telah dijalankan. Ia juga tahu, keputusan itu tidak sepenuhnya berasal darinya.Beberapa hari terakhir, tekanan datang tanpa harus diucapkan keras-keras. Dari tatapan para bangsawan yang lebih tua. Dari percakapan singkat yang berhenti ketika ia mendekat. Dari ka

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

    Ada kesepian yang tidak datang karena ditinggalkan secara terang-terangan, melainkan karena orang-orang perlahan memilih menjauh—bukan karena membenci, melainkan karena takut ikut tenggelam dalam sesuatu yang belum tentu bisa mereka pahami. Ia merasakannya sejak pagi itu.Bukan dari satu sikap mencolok, bukan pula dari kata-kata kasar atau perintah terbuka, melainkan dari perubahan kecil yang terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Tatapan yang dulu sekadar lewat kini cepat dialihkan. Percakapan yang biasanya terhenti karena kesibukan, kini berhenti sebelum sempat dimulai.Seolah keberadaannya mulai dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan sopan. Ia tidak menanyakan apa pun.Pengalamannya mengajarkan bahwa pertanyaan sering kali mempercepat kehancuran. Terlalu banyak jawaban yang justru membuka pintu pada prasangka baru. Maka ia memilih diam, seperti yang selalu ia lakukan ketika dunia mulai menguji b

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 27 - Yang Tidak Diucapkan

    Jarak tidak selalu diciptakan dengan langkah mundur. Kadang ia lahir dari ketepatan—dari pilihan untuk tidak berhenti, dari keputusan untuk tidak menoleh, dari kesadaran bahwa terlalu dekat justru akan membuat sesuatu runtuh sebelum waktunya. Dan di rumah besar ini, jarak yang paling berbahaya adalah yang tidak pernah diumumkan. Ia merasakannya sejak pagi itu. Bukan dari satu kejadian besar, melainkan dari rangkaian hal kecil yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan. Jam kerja yang sedikit bergeser. Jalur tugas yang disusun ulang. Lorong-lorong yang sebelumnya bersilangan kini seolah dihindari tanpa instruksi. Tuan muda tidak lagi melintasi lorong samping pada waktu yang sama. Ia mencatatnya tanpa ekspresi. Tidak ada perintah. Tidak ada larangan. Tidak pula sikap dingin yang terang-terangan. Justru sebaliknya—semuanya terlalu tenang. Terlalu terkendali. Seperti jarak yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status