Home / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 6 - Perempuan yang Tidak Bertanya

Share

BAB 6 - Perempuan yang Tidak Bertanya

Author: Y. Rs
last update Last Updated: 2025-12-22 20:43:19

Ia belajar sejak kecil bahwa bertanya tidak selalu menghasilkan jawaban.

Kadang, pertanyaan hanya membuka pintu pada kemarahan. Kadang, ia melahirkan harapan yang tidak pernah dipenuhi. Ia melihat itu pada ibunya—perempuan yang terlalu sering bertanya tentang cinta, tentang perubahan, tentang janji yang tak pernah ditepati. Setiap pertanyaan berakhir dengan penantian, dan setiap penantian berakhir dengan kekecewaan.

Dari ayahnya, ia belajar bentuk lain dari kebisuan. Ia tidak pernah dilarang bertanya secara terang-terangan. Ia hanya diabaikan. Pertanyaannya dibiarkan menggantung, seolah tidak layak dijawab. Sejak itu, ia memahami bahwa bagi sebagian orang, diam adalah cara paling halus untuk menegaskan bahwa seseorang tidak penting.

Maka ia berhenti bertanya.

Kebiasaan itu terbawa hingga ke rumah bangsawan ini. Di tempat di mana perintah jarang diucapkan secara utuh, bertanya bisa dianggap sebagai ketidakmampuan. Ia memilih membaca situasi daripada menunggu kejelasan yang tidak akan pernah diberikan.

Suatu pagi, perintah datang tidak langsung kepadanya. Seorang pelayan senior menyampaikan dengan nada setengah ragu.

“Siapkan ruang dalam. Katanya akan dipakai.”

Pelayan lain berhenti sejenak. “Dipakai untuk apa?”

Ia mendengar pertanyaan itu, namun tidak ikut mengulanginya. Ia tahu, jawaban yang datang nanti—jika ada—akan terlambat.

Ia berjalan menuju ruang dalam, membuka jendela agar udara masuk, lalu menutupnya kembali setengah. Ia membersihkan lantai, merapikan kursi, menata meja dengan kesederhanaan yang terukur. Tidak terlalu resmi, tidak terlalu santai.

Ia menyiapkan ruangan seperti seseorang yang menunggu percakapan penting—namun singkat. Bukan jamuan besar, bukan pertemuan panjang. Pengalaman mengajarinya bahwa perintah samar sering kali menandakan sesuatu yang tidak ingin diketahui banyak orang.

Saat kepala abdi datang memeriksa, langkahnya terhenti.

“Siapa yang menyuruhmu menata seperti ini?” tanyanya.

Nada itu tidak keras. Namun cukup untuk menguji.

Ia menunduk sopan. “Tidak ada perintah rinci,” jawabnya jujur.

Ia tidak menambahkan alasan. Tidak pula membela diri. Ia hanya menyampaikan fakta sebagaimana adanya.

Kepala abdi menatap sekeliling. Tatapannya berhenti pada tirai, meja, dan posisi kursi. Ia diam cukup lama hingga ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.

“Cukup,” katanya akhirnya.

Satu kata itu mengakhiri segalanya. Tidak ada pujian. Tidak ada koreksi. Namun ia tahu—ia tidak salah.

Ia kembali bekerja tanpa perubahan raut wajah. Dalam dirinya, tidak ada rasa menang. Ia hanya merasa lega karena perhitungannya tepat. Di rumah ini, kesalahan kecil bisa berujung pada pemindahan tugas—atau penghilangan perlahan.

Pelayan lain mulai memperhatikannya sejak hari itu. Bukan karena ia banyak bicara, melainkan karena ia jarang keliru. Ada yang menyebutnya beruntung. Ada pula yang menganggapnya terlalu berhati-hati, bahkan licik.

Ia membiarkan semua anggapan itu hidup sendiri.

Ia tahu, perempuan yang tidak bertanya sering kali disalahpahami. Diam dianggap patuh, padahal kadang ia hanya berhitung. Tidak bertanya bukan berarti tidak ingin tahu—melainkan memilih cara lain untuk mengetahui.

Menjelang malam, ia duduk di sudut dapur, membersihkan peralatan sambil mendengarkan percakapan samar para pelayan. Beberapa mengeluh tentang lelah. Beberapa membicarakan gosip kecil. Ia mendengarkan tanpa menanggapi.

Pikirannya kembali pada neneknya.

Perempuan tua itu jarang memberi nasihat panjang. Ia hanya berkata, “Kalau kau bertanya pada orang yang salah, kau hanya akan mendapat luka.” Kalimat itu sederhana, namun terus hidup bersamanya.

Ia belajar bahwa tidak semua orang pantas diberi pertanyaan. Tidak semua orang layak dimintai penjelasan. Dan tidak semua keheningan perlu dipecahkan.

Di rumah bangsawan ini, ia memilih bertahan dengan caranya sendiri. Ia tidak meminta perhatian. Ia tidak menuntut pengakuan. Ia hanya memastikan setiap langkahnya punya alasan yang tidak perlu dijelaskan.

Saat lentera-lentera dinyalakan dan cahaya kuningnya memantul di dinding, ia berdiri, merapikan pakaiannya, dan kembali ke tugas terakhir hari itu. Di wajahnya, senyum sopan tetap terjaga—cukup untuk terlihat patuh, tidak cukup untuk membuka diri.

Ia tahu, suatu hari nanti, sikap ini akan diuji. Akan ada saat di mana diam tidak lagi cukup. Namun untuk sekarang, ia memilih bertahan dengan kebisuan yang terukur.

Ia adalah perempuan yang tidak bertanya.

Bukan karena ia tidak ingin tahu,

melainkan karena ia tahu kapan sebuah pertanyaan hanya akan memperpendek jarak antara dirinya dan kehancuran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 29 - Harga Dari Diam

    Sementara itu, di sayap lain rumah besar, diam yang sama sedang dipikul dengan cara yang berbeda.Ada keputusan yang tidak diambil karena ragu, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dilindungi sekaligus.Dan di rumah besar itu, tuan muda memahami satu hal sejak lama: setiap langkah yang tampak sederhana bisa berubah menjadi alasan untuk menghancurkan seseorang—terutama mereka yang tidak memiliki nama besar sebagai pelindung.Pagi itu, ia berdiri di beranda samping, memandangi halaman yang mulai dipenuhi aktivitas. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, hingga justru terasa mencurigakan.Ia tahu, perintah pemindahan tugas telah dijalankan. Ia juga tahu, keputusan itu tidak sepenuhnya berasal darinya.Beberapa hari terakhir, tekanan datang tanpa harus diucapkan keras-keras. Dari tatapan para bangsawan yang lebih tua. Dari percakapan singkat yang berhenti ketika ia mendekat. Dari ka

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

    Ada kesepian yang tidak datang karena ditinggalkan secara terang-terangan, melainkan karena orang-orang perlahan memilih menjauh—bukan karena membenci, melainkan karena takut ikut tenggelam dalam sesuatu yang belum tentu bisa mereka pahami. Ia merasakannya sejak pagi itu.Bukan dari satu sikap mencolok, bukan pula dari kata-kata kasar atau perintah terbuka, melainkan dari perubahan kecil yang terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Tatapan yang dulu sekadar lewat kini cepat dialihkan. Percakapan yang biasanya terhenti karena kesibukan, kini berhenti sebelum sempat dimulai.Seolah keberadaannya mulai dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan sopan. Ia tidak menanyakan apa pun.Pengalamannya mengajarkan bahwa pertanyaan sering kali mempercepat kehancuran. Terlalu banyak jawaban yang justru membuka pintu pada prasangka baru. Maka ia memilih diam, seperti yang selalu ia lakukan ketika dunia mulai menguji b

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 27 - Yang Tidak Diucapkan

    Jarak tidak selalu diciptakan dengan langkah mundur. Kadang ia lahir dari ketepatan—dari pilihan untuk tidak berhenti, dari keputusan untuk tidak menoleh, dari kesadaran bahwa terlalu dekat justru akan membuat sesuatu runtuh sebelum waktunya. Dan di rumah besar ini, jarak yang paling berbahaya adalah yang tidak pernah diumumkan. Ia merasakannya sejak pagi itu. Bukan dari satu kejadian besar, melainkan dari rangkaian hal kecil yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan. Jam kerja yang sedikit bergeser. Jalur tugas yang disusun ulang. Lorong-lorong yang sebelumnya bersilangan kini seolah dihindari tanpa instruksi. Tuan muda tidak lagi melintasi lorong samping pada waktu yang sama. Ia mencatatnya tanpa ekspresi. Tidak ada perintah. Tidak ada larangan. Tidak pula sikap dingin yang terang-terangan. Justru sebaliknya—semuanya terlalu tenang. Terlalu terkendali. Seperti jarak yan

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 25 - Retakan yang Tidak Terlihat

    Perubahan tidak datang sebagai perintah. Ia datang sebagai keterlambatan kecil—satu tugas yang tidak lagi diberikan pada orang yang sama. Satu nama yang tak lagi dipanggil dalam pembagian kerja pagi. Satu jalur yang tiba-tiba ditutup tanpa alasan yang diumumkan, seolah tak pernah ada sebelumnya. Ia memperhatikan semua itu dari tempatnya berdiri. Bukan karena ingin tahu, melainkan karena kebiasaan hidup mengajarkannya membaca gerak yang tidak diucapkan. Di rumah besar ini, orang jarang disingkirkan dengan suara keras. Mereka dipindahkan perlahan, dipersempit ruang geraknya, lalu dibiarkan saling menabrak hingga lelah sendiri—tanpa pernah tahu siapa yang memulai. Pagi itu, ia kembali ke jalur kerja lamanya—tanpa pengumuman, tanpa serah terima resmi. Ia hanya menerima daftar tugas yang diletakkan di mejanya, seperti biasa. Tidak ada cap khusus. Tidak ada penjelasan tambahan. Hanya kepastian yang sunyi. Ia menjalankan tugas itu dengan tenang. Tangannya bergerak pasti, seolah tidak

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 24 - Titik yang Tidak Diumumkan

    Kain itu ditemukan tanpa suara. Bukan di pagi hari yang ramai, bukan pula saat orang-orang berkumpul. Ia ditemukan menjelang subuh, ketika gudang masih dingin dan cahaya lentera belum sepenuhnya digantikan matahari. Seorang pelayan tingkat bawah menemukannya terselip rapi di rak paling dalam—dibungkus seperti seharusnya, dicatat dengan nomor yang semestinya. Tidak rusak. Tidak hilang. Tidak berpindah tangan. Berita itu tidak diumumkan. Tidak ada lonceng. Tidak ada pemanggilan umum. Hanya bisik yang berpindah dari satu lorong ke lorong lain, pelan dan berhati-hati, seolah setiap kata takut terdengar terlalu jelas. Namun ia tahu—bahkan sebelum seseorang memberitahunya. Ia tahu dari cara orang-orang mulai menarik kembali kata-kata mereka. Dari tatapan yang kini lebih singkat, lebih berhitung. Dari langkah yang sedikit lebih menjaga jarak, seolah keberadaannya kini bukan lagi tempat yang aman untuk diseret ke dalam gosip. Ia tetap bekerja seperti biasa. Tidak ada s

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 26 - Garis yang Mulai Terlihat

    Perubahan itu tidak datang dengan suara. Ia datang dalam bentuk jeda—dalam langkah yang tertahan sepersekian detik, dalam tatapan yang terlalu cepat dialihkan, dalam bisik yang dipotong tepat saat ia melintas. Rumah besar itu masih sama, namun, cara orang-orang memandanginya tidak lagi seragam. Ia merasakannya sejak pagi. Saat baki-baki perak disusun ulang tanpa penjelasan. Saat jalur kerjanya bergeser, sedikit demi sedikit, mendekati ruang yang selama ini hanya dilewati mereka yang dipercaya. Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada pemanggilan resmi. Hanya perubahan kecil yang disengaja. Ia menerima semuanya tanpa menunjukkan apa pun. Tidak bertanya. Tidak menolak. Pengalaman mengajarkannya bahwa rumah sebesar ini jarang memberi sesuatu tanpa maksud, dan jarang pula menariknya kembali dengan terang-terangan. Kepala abdi berdiri di ujung lorong saat ia lewat. Pandangan mereka bertemu sejenak. Tidak ada anggukan. Tidak ada isyarat tangan. Namun, goresan kecil di sudut da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status