Share

Bab 3

Sesampainya di rumah aku menangis dengan suara keras. Uang yang diberi Marsha tadi aku tinggal di meja, juga tidak membalas pesan itu melainkan langsung memblokir. Semua terjadi di luar kendali, aku semakin terluka.

Berulang kali aku mengembus napas kasar karena dada terasa sesak. Mata menatap langit-langit kamar seraya mengingat kenangan indah di awal pernikahan. Rafan yang penyayang dan perhatian membuatku terlena hingga tidak pernah berpikir akan diduakan.

Ada telepon dari Rafan, ini yang ke delapan kalinya. Terpaksa aku mendekatkan ponsel ke telinga dan terjawab otomatis. "Ada apa?" tanyaku dengan suara serak.

"Jangan usik Marsha. Aku mohon." 

Lelaki yang aku anggap sebagai matahari penggerak mimpi semakin merobohkan benteng pertahananku. Ia benar-benar tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya jika memohon demi perempuan lain.

Aku terngungu. Tidak ada kata yang pantas terucap. Rafan lebih mencintai Marsha. Andai bisa marah kepada takdir, pasti sudah aku lakukan sejak kenyataan pahit ini terungkap.

"Malam ini aku tidak pulang," lanjut Rafan lagi.

"Kenapa? Menginap di rumah Marsha? Jangan lakukan itu atau aku akan mati detik ini juga!"

"Kamu gila, Lin?"

Aku tidak menjawab malah langsung mematikan sambungan telepon. Biar saja Rafan bingung harus melakukan apa karena jika aku mati, tamat riawayatnya. Lagi pula siapa yang akan bunuh diri hanya karena hal sesepele ini?

Memang aku mencintai lelaki itu, tetapi jika diduakan apakah tidak pantas sirna? Sekalipun ia mengejar hingga ke neraka, aku tidak ingin kembali kecuali benar ingin berubah dan melupakan Marsha. Perempuan itu adalah benalu dalam rumah tangga kami.

***

Pukul sebelas malam Rafan baru pulang. Aku sengaja menunggu karena dipaksa. Tidak apa-apa jika malam ini harus kembali beradu mulut, aku bukan perempuan salihah yang sabar ketika diduakan. 

Dia datang membawa martabak telur kesukaanku, jelas sekali ingin menyogok. "Makan!" titahnya.

Sebagai perempuan, untuk masalah makanan tentu sulit menolak. Dengan santai kuraih kotak martabak itu dan menyantapnya seperti tidak ada masalah. Rafan mendekat, lalu bertanya, "apa yang sudah kalian bahas?"

"Tentang kamu yang berkelahi dengan suami Marsha dulu sampai babak belur. Aku jadi tahu ternyata dulu luka di wajah itu bukan karena dikeroyok preman." Aku menjawab santai, sebenarnya sedang mengontrol emosi.

Rafan diam, lalu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin dia menghindar karena ketahuan berbohong, sementara aku masih berusaha santai sambil menikmati martabak yang dibawa. Sayang sekali jika diangguri apalagi makanan kesukaan.

Sebenarnya aku makan ini untuk menambah tenaga. Kalau dalan keadaan lapar, Rafan bisa menyudutkanku. Jadi, sebelum adu mulut terjadi, memang baiknya mengisi perut dulu.

Dua puluh menit kemudian, Rafan sudah selesai. Dia duduk di tepi ranjang di sampingku. "Bagaimana kalau Marsha tinggal di sini? Aku tidak tega meninggalkannya sendiri di rumah," lirih Rafan tanpa menatap wajahku.

"Lalu aku akan diperlakukan seperti babu di sini karena ada istri muda yang bertingkah seperti ratu?" timpalku emosi.

"Marsha tidak seperti yang kamu pikirkan, Lin."

Aku berdecih. "Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan? Harusnya sadar sebagai lelaki, kalau yang kamu lakukan itu tidak adil. Mau poligami, tetapi adil aja enggan!"

Lelaki bermata sipit itu langsung berdiri, aku melakukan hal yang sama agar tidak ditindas. Memang sakit hati membuat kaki tidak mampu menopang berat badan, tetapi jika tidak memaksakan diri akan semakin besar resikonya. Kami saling menatap tajam serupa elang yang ingin memangsa.

"Marsha itu cinta pertamaku, sulit melupakannya. Kamu tidak punya mantan, tentu seenak jidat meminta move on."

"Jika Marsha masih kamu cintai, maka pilih salah satu di antara kami. Aku tidak sudi diduakan apalagi dinomorduakan!" tegasku meski suara terdengar gemetar.

Rafan mengaku mencintai Marsha, tetapi tidak ingin menjatuhkan talak padaku. Alasannya sudah jelas, tentu hanya karena mertua yang terlalu sayang pada menantu satu-satunya. Aku tersenyum miris mendengar penuturan Rafan, seharusnya sebagai lelaki yang pernah ditinggalkan bisa mengerti apa yang aku rasakan sekarang.

Tanganku terkepal kuat menahan amarah. Kaki beringsut mundur hingga sampai di dekat pintu. Dengan gerak cepat tangan kiriku meraih kenop dan keluar dari kamar. Tempat yang sangat aku rindukan untuk kami memadu kasih kini menjelma neraka yang menyakitkan.

"Raline!" panggil Rafan ketika aku hendak melangkah ke pintu utama. Memang niat malam ini kabur saja daripada harus seatap dengan Marsha. Aku bahkan risih menganggapnya sebagai adik madu. "Sekali lagi kamu melangkah, maka jatuh talak satu untukmu!" ancam Rafan. 

Aku menoleh sinis. "Kenapa kamu menahanku? Jika karena ibu dan ayah, bukankah lebih bagus jika mereka tahu agar yang sakit bukan aku saja? Kamu berani menikahi Marsha, seharusnya tidak menghindari resiko!"

Ada banyak masalah yang bisa hadir jika Marsha benar-benar tinggal di sini. Perempuan itu terlalu angkuh sehingga bisa semakin melukai hati. Waktu ketemu di cafe saja sudah jelas ia mengejek.

"Diam dan masuk kamar!"

"Istrimu yang kucel karena tidak pernah ke salon itu salah siapa?" Aku tertawa renyah. "Salah suami yang tidak memberi uang lebih karena menafkahi janda muda," ledekku.

Rafan mengembus napas kasar, lalu melangkah masuk dapur karena ponselnya berdering. Aku bisa menebak yang menelepon tengah malam adalah Marsha. Sebenarnya sudah rutin mereka lakukan, tetapi aku tidak menyangka kalau lawan bicaranya adalah perempuan masa lalu yang sudah dinikahi secara siri.

Kaki menuntun mengikuti Rafan dari belakang. Benar ia sedang menelepon menghadap kulkas. Suaranya terlaly kecil, jadi tidak bisa mendengar sedang membicarakan apa. Baru saja ingin kembali ke kamar, suara Rafan terdengar marah.

"Iya, aku akan menceraikannya setelah berhasil meyakinkan ibu sama ayah kalau yang salah itu Raline. Kamu yang sabar, jangan langsung mengancam!" 

Rasa keingintahuan yang tinggi memang kerapkali melukai hati. Aku menyesal menguping Rafan, tetapi fakta itu membuka hati untuk mengambil sikap yang lebih bijak. "Ceraikan aku!" teriakku tidak bisa menahan gemuruh dalam dada.

Ponsel di tangan Rafan jatuh ke lantai. Matanya membulat sempurna, pasti tidak menyangka jika aku akan menguping. Matanya melirik ke kanan dan kiri seperti sedang berusaha mencari alasan. Namun, itu semua percuma.

Aku mendekat, lalu memungut ponsel Rafan yang panggilannya masih terhubung ke Marsha. "Tenang saja, Marsha. Tidak lama lagi kamu akan memiliki Rafan seutuhnya!" tegasku ketika menemelkan ponsel di telinga.

Sebelum Rafan berhasil merampas ponsel itu, aku membanting kasar ke lantai. Dia marah, semburat merah terukir jelas di matanya. Napasnya bahkan memburu, tetapi aku sama sekali tidak takut.

"Jangan marah, Fan! Bukannya ponsel itu aku yang beli karena gajimu habis untuk biaya berobat ibu?" tanyaku dengan nada suara mengejek. Aku memang tidak punya pekerjaan, tetapi tidak terlahir dari keluarga miskin.

Rafan menelan saliva, tangannya gemetar. Aku kembali membuka suara. "Tidak mengapa kalau kamu ingin menjatuhkan talak malam ini. Aku justru senang karena tidak harus menjadi istri pecundang sepertimu!"

"Tidak! Bukan begitu!" teriak Rafan, lalu memungut ponsel yang sudah hancur itu dan membawanya ke kamar.

Aku tidak lagi bisa mengikuti karena kaki seakan terpaku di bumi. Luka kian menganga. Andai saja boleh marah kepada takdir, sudah pasti kulakukan. Tuhan, ujian ini benar-benar meminta hati untuk bersabar.

Bersambung

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Siti Aminah
ga asyiik critanya msa ud digampar ud gtu diselingkuhi msih aj bodoh...
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
g usah banyak drama. harga diri mu udah diinjak2 msh aja ngebacot. pantas aja kamu diperlakukan kayak sampah krn memang layak
goodnovel comment avatar
Tri Wahyuni
lebih baik kmu kumpulkan semua klga kmu dn juga klga Rafan dn juga gundik nya ..kmu suru ngoming Rafan d dpn k du klga ..biar tau semua perbuata Rafan ..
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status