Share

Bab 5

"Bangun, Sayang!" titah Rafan. Aku menggeliat sambil memaksa mata untuk terbuka. Meski berat, mau bagaimana lagi karena ini pasti sudah pukul tujuh.

"Sudah jam berapa?" tanyaku memastikan begitu melihat sinar mentari yang sangat menyilaukan mata.

"Jam sembilan pagi. Marsha aja sudah selesai memasak, Lin." Jawaban Rafan spontan menepis kantuk.

Gegas aku ke kamar mandi, mencuci wajah dan sikat gigi. Setelah itu, melangkah cepat ke luar menuju dapur. Kosong. Tidak ada Marsha di sini. Aku menatap kesal pada Rafan yang tertawa kecil. 

"Apa maksudmu, Fan?" tanyaku penuh selidik.

Ia pun menjelaskan kalau susah membangunkanku. Jadi, ada ide baru dengan cara menyebut nama Marsha. Aku memanyunkan bibir karena kesal merajai hati. Sementara Rafan, ia terus tertawa lepas. Jantung berdegup tidak normal.

Apa dia tidak menyadari bahwa perempuan mana pun akan cemburu kika kekasihnya atau lelaki yang dia cintai menyebut nama perempuan lain sekalipun itu hanya sebuah candaan?

Oh, tolonglah! Kenapa semua lelaki sama? Tidak ada yang benar-benar peka dengan keinginan perempuan. Mereka cuek, tetapi sedikit peduli. Entalah, aku menjadi bingung dibuatnya.

Satu bal yang pasti adalah aku terpesona apalagi sikap lembutnya telah kembali. Tidak ada yang tahu ini hanya sandiwara agar aku tidak mengajukan permintaan cerai atau semalam Rafan merenungi kesalahannya. Satu yang aku yakini adalah tadi malam ia tidak kembali ke kamar.

"Sebentar lagi ibu akan sampai, tidak usah repot memasak sesuai titah beliau. Ingat, jangan beritahu ibu tentang Marsha, Lin. Jangan menyebut namanya atau sesuatu yang lebih dari itu," jelas Rafan yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman.

"Oh, ternyata sikap baikmu kembali hadir karena ibu akan datang, Fan?" tanyaku, lalu bertepuk tangan, "kamu bisa jadi aktor juga ternyata."

"Raline, aku mohon ... jangan pancing emosiku." Lelaki itu berucap lirih. Aku hanya menarik sudut bibir ke atas.

Tidak lama kemudian, deru mobil terdengar memasuki halaman rumah. Segera aku masuk kamar dan menyambar jilbab merah muda, kemudian ke luar menyusul Rafan. Beliau datang berdua dengan senyum semringah.

Aku langsung menyalami kedua mertua dan mengobrol ringan sambil menggandeng tangan ibu masuk rumah. Kami duduk di ruang tengah sementara Rafan membantu ayah mengeluarkan barang dari mobil.

"Bagaimana kesehatanmu, Nak? Ibu bahagia ketika Rafan bilang kamu sudah hamil." Mata ibu mertua berbinar. Aku mengerutkan kening karena bingung terutama mengingat lima hari lalu baru selesai dari haid.

"Maksud Ibu apa?"

Ibu menjelaskan semuanya. Ternyata beliau meminta kami mengunjunginya ketika weekend, tetapi Rafan menolak dengan alasan aku tidak bisa bepergian karena sedang hamil muda. Makanya, mereka memutuskan untuk datang ke sini.

Mata ibu semakin berbinar kala bercerita tentang kehamilan. Aku menunduk, ternyata Rafan sudah berani membohongi kedua orangtuanya hanya untuk menghabiskan waktu bersama Marsha. Air mata jatuh membasahi pipi.

Ibu mertua memegang daguku dan msngangkatnya hingga mata kami saling beradu untuk beberapa detik. "Kamu terluka?"

Aku menggeleng. "Tidak, Bu. Aku baik-baik saja."

"Naluri seorang ibu dan perempuan, kamu tidak bisa mengelak. Ceritakan pada ibu, Lin. Ibu siap mendengarkan sekalipun karena kesalahan Rafan."

Binar di mata ibu mertua seketika redup, aku merasa bersalah. Namun, bukankah yang paling pantas disalahkan di sini adalah Rafan? Ia telah melakukan kesalahan besar, melukai hati istri juga berbohong pada orangtuanya.

"Ceritalah, ibu tidak akan langsung marah padamu atau Rafan," desak ibu. Air mata aku seka karena mendengar suara ayah dan Rafan. Mereka masuk rumah.

"Nanti saja, Bu. Takutnya jika ayah tahu, emosinya tidak bisa dikendalikan," bisikku berusaha tersenyum. Ibu mengangguk, matanya menyiratkan luka.

Dua lelaki yang wajahnya mirip itu duduk di dekat kami. Ayah selalu tersenyum, aku tahu ia sangat bahagia karena sudah lama menantikan cucu dari kami. Berbeda dengan ibu, kini senyum tipis pun enggan terukir di bibirnya yang mulai keriput.

"Kalau lahiran nanti, di rumah ayah saja. Kasian istrimu kalau harus mengurus anak kalian sendiri." Kalimat ayah kembali membuatku menunduk dalam.

"Raline tidak akan kerepotan, Yah." Rafan menjawab pendek. Tiba-tiba prasangka lain hadir dalam benar. Mungkin saja istri yang dikata hamil muda adalah Marsha bukan aku, makanya tidak ingin perempuan itu ditinggal sendirian.

Seandainya kedua mertua tidak menganggap aku seperti anak kandungnya, sudah pasti saat ini suaraku sudah menggema karena marah kepada dunia yang begitu kejam. Namun, luka tidak akan sembuh ketika mertua malu dengan ulah anaknya sendiri.

"Rafan juga membahas rencana liburan kalian nanti. Kamu benar mau ke Jepang, Lin?" tanya ayah. Mataku membulat dan menggelengkan kepala karena takut berbohong. Kini alis lelaki berumur setengah abad itu saling bertaut.

"Iya, Raline kemarin bilang mau ke Jepang. Mungkin sekarang sudah lupa lagi, 'kan?" Rafan menoleh padaku dengan mata yang memaksaku mengangguk.

Tidak! Membohongi mertua adalah dosa, jadi aku tetap menggeleng. Kaki kananku diinjak Rafan, spontan air mata jatuh membasahi pipi. Ia melakukan ini semua pasti demi Marsha. Aku dijadikan kambing hitam di hadapan orangtuanya.

Aku meremas baju karena tersulut emosi. Rafan meminta orangtuanya masuk kamar untuk beristirahat saja. Aku yakin semua itu untuk menghindari pertanyaan yang bisa menimbulkan amarah ayah. Pandai sekali lelaki ini sekarang, aku jadi semakin muak.

"Ikut aku!" titah Rafan menyeret tanganku masuk kamar. Setelah di kamar dia mendorong hingga jatuh ke ranjang. Pinggang terasa nyeri, tetapi aku tidak ingin menangis. "Ikuti sandiwara ini, Lin. Aku tidak mau rencana liburanku dengan Marsha gagal gara-gara kamu!"

"Siapa yang hamil?" tanyaku tanpa mengindahkan kalimatnya.

"Tidak usah bertanya, aku tahu kamu bisa menebak sebenarnya siapa yang hamil. Jadi, sekarang kamu harus nurut. Aku akan bersikap baik selama ibu dan ayah ada di sin–"

Ketukan di pintu memotong kalimat Rafan. Jantungku berdegup cepat, luka merebak semakin cepat. Rafan membuka pintu, ternyata itu ibu mertua. Ia meminta anak semata wayangnya untuk keluar membeli nasi bungkus.

Setelah Rafan pergi, ibu masuk kamar dan langsung memelukku. Ia berusaha menenangkan, mengingatkan bahwa Rafan akan kembali seperti dulu. Beliau memintaku bersabar untuk beberapa saat.

"Ibu tahu kamu sedang terluka, meski belum tahu apa penyebannya. Sore nanti ketika ayahmu dan Rafan keluar, kamu harus ceritakan semuanya."

Aku mengangguk. "Iya, Bu. Maafkan aku tidak bisa menjadi menantu seperti yang Ibu inginkan," lirihku.

"Tidak, kamu sudah seperti yang ibu harapkan. Jika Rafan yang bersalah, maka ia yang harus diberi hukuman. Bukan kamu," jelas ibu. Aku bernapas lega untuk sesaat karena tahu perawakan ibu yang memang tegas jika ada masalah serius.

Bersambung

Comments (5)
goodnovel comment avatar
Septy Hadiana Wahyunizzar
Bolot amat ch jdi cewe , bikin emosi banget sama ke tololan nya
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
bisa bikin si raline itu pintar dikit g. kayak sampah busuk aja
goodnovel comment avatar
Bintu Hasan
emg ada kaya gtu kak..yg aku kenal
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status