LOGINSekarang Keyla dan Benedict duduk di ruang makan. Duduk berhadapan di meja makan apartement Benedict yang sudah di penuhi makanan. Berbagai macam masakan tersaji di meja berbahan kaca tersebut, entah dari mana asal makanan sebanyak ini, Keyla tidak tahu. Yang pasti Ben membelinya atau apa. Keyla menyendok makan di piringnya. Tidak langsung melahap makananya, gadis itu malah berhenti dan menatap Benedict yang kini sibuk dengan makanan yang berada di piringnya. Mungkin cowok itu merasa jika Keyla tengah menatapnya, mengangkat kepalanya, Benedict bertanya."Kenapa? Nggak suka ya?" Cowok itu ikut menghentikan acara makannya dan menegakkan posisi duduknya untuk menatap Keyla. "Enggak kok." Keyla menggelengkan kepalanya cepat dan salah tingkah, "ini enak." Tambah gadis itu lagi, kali ini merasa bersalah. "Terus kenapa nggak makan?" Tanya Ben lagi dengan kening mengerut, menatap gadis di hadapannya itu dengan netranya yang tajam. "Im just.." jawab Keyla terputus, bingung harus bagaimana
"Gue mau ganti baju dulu." Menunjukkan ke arah kamar yang dia tempati, Keyla menatap Ben yang kini mengangguk. "Oke," kata Benedict setuju. "Jangan lama-lama ya, kita perlu sarapan, elo pasti laper kan."Gantian, kali ini Keyla yang menganggukkan kepala kepada cowok itu untuk menanggapi ucapannya. Berjalan meninggalkan area kamar mandi, Keyla melintasi kamar Benedict dengan langkah cepat. Melirik sekilas ke arah ranjang yang tampak berantakan tanpa dengan sprei putih yang tadi dia lihat kini sudah menghilang. Keyla memilih untuk mengabaikannya dan masuk kedalam kamar melalui pintu yang menghubungkan antara kamar Ben dan kamarnya. Ah, sial. Akhirnya dia benar-benar sendirian sekarang. Batin Keyla kesenangan saat dirinya kini bisa menjauh dari Benedict. Berjalan menghampiri ranjang yang dia tidak dia tiduri semalam, gadis itu menghempaskan tubuhnya di sana. Sangat nyaman. Batin gadis itu sekali lagi, membenamkan kepalanya ke bantal dan memejamkan matanya. Ini seperti di dunia mimp
Masih menggunakan jubah mandi, Keyla duduk di kursi kecil yang berada di depan wastafel. Menghadap ke kaca besar dengan Benedict di belakangnya. Cowok yang juga masih menggenakan jubah mandi sepertinya itu bersikeras untuk membantunya mengeringkan rambut Keyla dengan hairdryer. "Gue bisa sendiri." Kata-kata itu entah sudah terasa sangat tidak asing di antara mereka, dan entah berapa puluh Keyla mengatakannya. Dan begitu pula dengan Benedict, cowok keras kepala itu terus memaksakan kehendak, dan melakukan apapun yang dia suka. Termasuk mengeringkan rambut Keyla. "Diem aja, biar gue yang kerja." Kata Ben santai, dan seolah pekerja profesional mulai mengeringkan rambut Keyla. Membuat gadis itu menghela napas panjang. Suara bising dari hairdryer yang menyala memenuhi indra penndengaran mereka. "Elo ini vampir atau apasih." Gumam Keyla saat mengamati bayangannya di cermin, membuat Ben yang tidak paham dengan arah pembicaraan gadis di hadapannya itu menatap ke depan, mereka sa
Mendengar jeritan Keyla, membuat Benenict yang tengah sibuk dengan sprei bernoda darah itu tersentak kaget saking terkejutnya. Melempar gulungan kain di tangannya itu ke keranjang tempat pakaian kotor, sebelum akhirnya melesat cepat, berlari menuju kamar mandi tempat dimanaya gadis itu tengah berada. Apa yang terjadi? Di lihat dari cara gadis itu berteriak, sepertinya itu adalah sesuatu yang benar-benar buruk, Karena Ben tahu jika Keyla bukan gadis yang suka membesar-besarkan masalah. Memikirkan hal itu membuat jantung Benedict berdegup kencang, meraih handle pintu kamar mandi, cowok itu dengan cepat pintu kaca tersebut dan masuk kedalam. "What happened?" Tanya Benedict saat melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mengamati Keyla yang tengah berdiri di dekat bath up. Cowok itu cukup terkejut saat matanya menemukan Keyla sudah telanjang bulat. Suara Benedict hanya membuat Keyla bertambah histeris. Gadis itu spontan berusaha menutupi dada dan pangkal pahanya dengan kedua tangannya. "
Mematuhi perintah Benedict, Keyla hanya menunggu di ranjang sementara cowok itu menghilang entah kemana. Menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, gadis itu memutuskan untuk mengamati ke sekeliling kamar. Ruangan tempat gadis itu berada sekarang memiliki nuansa hitam putih pada dindingnya dan juga furniture yang tertata rapi si setiap sudutnya. Tempat tidur king size putih, lalu ada sofa hitam tertata di dekat dinding kaca dengan gorden besar berwarna putih juga. Keyla menghela napas saat mengagumi Kamar pribadi Ben yang sangat mewah itu. Entah mengapa rasanya mereka benar-benar hidup di dunia yang berbeda. Dan saat matanya sudah lelah berkeliling, Keyla menundukkan kepalanya, jantungnya seolah berhenti berdetak saat indra penglihatannya itu menemukan noda merah darah pada bagian atas ranjang Ben yang di lapisi oleh sprei berwarna putih. Ya, Tuhan.. jerit Keyla dalam hati dan meraih salau satu bantal yang berada di sampingnya untuk menutupi noda merah tersebut dengan cepat. Wajahn
Jam digital yang terletak di atas nakas samping ranjang menunjuk ke angka delapan lewat empat puluh enam menit saat Benedict keluar dari pintu kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Berbalut handuk yang menutupi bagain bawah tubuhnya, rambut cowok itu masih terlihat basah. Dengan pungung yang terlihat merah-merah bekas cakaran, Benedict Berjalan dengan hati-hati, tidak ingin langkahnya membuat bangun gadis yang masih terlelap di atas ranjang. Benedict menghampiri lemari kaca besar dan meraih satu calana panjang dari tumpukan pakaian tidurnya, memakainya cepat dan melemparkan handuk basah di tangannya ke keranjang baju kotor yang tersedia. Senyum samar terukir di sudut bibirnya saat matanya menatap lagi ke arah Keyla yang masih terlelap di atas ranjang, gadis itu bergelung di bawah selimut tebal seperti bayi, tampak begitu polos dan menggoda di mata Ben. Dia berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang dengan hati-hati, menundukkan kepalanya dan memberi kecupan lembut di pipi







