分享

BAB 108 - KOLAM RENANG

last update publish date: 2026-05-26 14:47:16
Karuna membuka kelopak matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah jam dinding yang tergantung tepat di hadapan ranjang–pukul delapan malam. Keningnya langsung mengerut samar.

Loh, sudah selama itu ia tertidur?

Karena yang terakhir kali Karuna ingat, jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Saat itu Rajendra belum juga selesai meeting. Katanya, ada diskusi tambahan dengan beberapa pemimpin divisi lain yang harus ia pantau langsung. Karuna yang awalnya hanya ingin merebahkan tubuh sebe
Jesi Sanctuary

Terima kasih sudah membaca dan memberi feedbacks! Nantikan kelanjutan kisah ˗ˏˋ ♡ ˎˊ˗Rajendra dan Karuna˗ˏˋ ♡ ˎˊ˗ ya! Pernikahan Dadakan dengan Mantan; to be continued۫ ꣑ৎ!

| 喜歡
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 127 - CELEMEK YANG TAK MASUK AKAL

    Ternyata kunjungan ke vendor ketiga itu berlangsung jauh lebih cepat dari yang mereka duga. Catatan-catatan yang semula Karuna kira akan memakan waktu panjang, nyatanya terselesaikan dalam hitungan jam saja. Para pengrajin begitu sigap menjelaskan segala detail produksi, bahan, hingga penyesuaian warna yang sempat menjadi kekhawatiran tim mereka.Langit Bandung berpayung semburat keemasan yang hangat, seolah ikut melepas lelah. Beberapa rekan Karuna masih berbincang santai dengan pihak vendor, suara tawa ringan mereka sesekali terbawa angin. Karena sudah check out dari hotel sejak sore tadi, rencana pun berubah–mereka akan lekas pulang setelah ini.Karuna berdiri di antara Rhea dan seorang staf vendor ketika ponselnya bergetar pelan di dalam tas. Ia menunduk, dan begitu melihat nama yang terpampang di layar, napasnya tanpa sadar tertahan.Rajendra.Rhea melirik sekilas, alisnya terangkat tipis, namun tak mengatakan apa-apa. Karuna buru-buru memalingkan wajah, jantungnya berdegup sediki

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 126 - DOSA BESARNYA

    “Agung adalah satu-satunya orang yang mengundang Ayah datang ke rumahnya untuk bercerita. Tanpa syarat,” lanjutnya dengan emosi yang kian pudar, bagai nyala lilin yang kehabisan sumbu.Suara Hartono tak lagi tegas seperti semula. Ada sesuatu yang luruh di dalamnya, seperti dinding tanah yang lama menahan beban rahasia hingga akhirnya runtuh pelan-pelan. Ia menunduk sejenak, memandangi kedua tangannya yang saling bertaut di atas lutut, seolah di sana tersimpan seluruh dosa yang tak terucap.Sebuah kilatan ingatan melintas, membuat wajahnya melembut, “Di rumahnya, Ayah bertemu dengan Serena,” katanya.Rajendra menatap sang ayah dengan dada naik-turun dengan napas yang tertahan. Nama itu masih terasa asing sekaligus akrab di lidahnya. “Dan kalian merencanakan ini semua?”Hartono menggeleng pelan. “Serena saat itu masih menyelesaikan studi strata pertamanya. Mendengar itu, Ayah langsung teringat kamu–kamu yang juga sedang menempuh pendidikan yang sama. Sementara Serena, anak itu memang sed

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 125 - HARTONO DAN KETIDAKSEMPURNAANNYA

    Rajendra melangkah keluar dari lift di lantai sebelas, tempat di mana udara seolah lebih berat, dingin, dan penuh bayang-bayang masa lalu. Koridor panjang itu, dengan lantai marmer mengkilap yang memantulkan cahaya lampu sorot, terasa seperti buah kenangan yang tak pernah benar-benar pudar.Ini adalah area menuju ruangan utama sang Ayah sekarang.Beberapa karyawan yang berpapasan menyapanya dengan hormat–senyum tipis, anggukan kepala, “Selamat siang, Pak Rajendra”. Namun ia tak membalas. Wajahnya tegang, rahang mengeras, mata hitamnya menatap lurus ke depan seolah membawa beban seluruh nama Witjaksana di pundaknya. Hanya langkah kakinya yang tegas memecah keheningan, pantofel itu bergerak seirama angin yang menyentuh jas formal miliknya.Di ujung koridor, pintu kayu mahoni besar terbuka. Di balik meja kerja yang luas, Hartono Witjaksana duduk di kursi kebesarannya–sebuah singgasana dari kulit hitam dengan penuh kekuasaan.“Kamu benar-benar datang,” kata Hartono.Rajendra tersenyum tip

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 124 - WAJAH YANG TAK ASING

    Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya, Karuna lebih banyak menatap keluar jendela. Bukan karena ia ingin mengabaikan Pratama, tetapi karena duduk di kursi depan mobil atasannya membuatnya tak tahu harus berbuat apa. Di hadapannya, jalanan Bandung mulai menggeliat pelan–beberapa toko baru membuka pintu.Pratama mengemudi dengan tenang dengan sesekali melirik kaca spion, mengatur laju mobil, dan membiarkan hening mengisi ruang di antara mereka. Sampai akhirnya Pratama membuka suara.“Jadi, sejak kapan kamu pindah ke Jakarta?”Karuna menoleh padanya, “Ya, Pak?” ulangnya sebab sejak tadi benaknya terbang entah ke mana.“Kalau rumah orang tua kamu di Bandung,” ujar Pratama, masih menatap jalan, “berarti kamu ini asli Bandung?”“Oh.” Karuna mengangguk kecil. “Iya, Pak. Saya lahir dan besar di Bandung,” akunya.“Kemudian pindah ke Jakarta untuk kuliah, begitu?”“Enggak juga,” ujar Karuna tersenyum tipis, menggeleng setelahnya. “Saya belum lama tinggal di Jakarta. Terus karena beberap

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 123 - DIRINYA BENAR BERKHIANAT?

    Matanya sontak terbuka lebar.Karuna tersentak di ranjang hotel, napasnya tersengal-sengal. Pipinya serta-merta membara hebat, panas hingga menjalar ke telinga. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ia buru-buru menekan kedua telapak terbuka ke wajahnya, merasakan betapa panas dan merah kulitnya.Ya Tuhan… itu mimpi…Tubuhnya masih terasa panas dan sensitif, terutama di bagian bawah yang masih berdenyut pelan, tetapi sensasi itu kian pudar begitu ia sadar semuanya hanya khayalan. Malu. Mengapa ia seperti remaja puber yang bermimpi sekotor itu?Beruntung, ia tak sampai rasakan basah di sela kaki. Sebab jika iya, apa yang harus ia katakan pada Rhea yang masih terlelap di sebelahnya dan masih asyik menjelajah alam mimpi?Tanpa menunggu lebih lama, Karuna bergegas turun dari ranjang. Kakinya menapak lantai dingin kamar hotel–ia harus ke kamar mandi, ia butuh air dingin segera. Karuna menyalakan lampu kamar mandi, kemudian menutup pintunya pelan-pelan agar tidak membangunkan Rhea. Di depan

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 122 - MEMBANDING-BANDINGKAN

    “Beda jauh banget sama gue, Rhe.”Topiknya membuat Rhea yang sejak tadi masih bersemangat menelusuri satu per satu jejak Serena di layar laptop, mendadak terhenti. Jemarinya menggantung di udara. Ia menoleh, menemukan Karuna tidak lagi melihat layar dengan rasa penasaran yang sama. Sesuatu berubah di wajah ayu itu. Tatapan Karuna tampak jauh lebih redup. Seolah setiap foto, pencapaian, pun detail milik seorang Serena Eleanor Ayodhya tak lagi menjadi gaung informasi, melainkan cermin yang diam-diam memantulkan kekurangannya sendiri. “Lo ngomong apa, sih, Runa? Nggak suka deh gue lo kayak gini.”Karuna hanya mengedikkan bahu. Jemarinya kini menggantikan Rhea untuk menggulir beberapa unggahan yang nyentrik di netranya.“Lo lihat aja, Rhe,” gumamnya. “S1 di luar negeri. S2 juga. Kampusnya top di Inggris.” Ia berhenti pada salah satu unggahan, membaca beberapa keterangan di sana dengan mata yang terasa semakin berat. “Terus ini? Perusahaan lini kosmetik punya dia?”Rhea turut serta menat

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status