Home / Romansa / PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN / BAB 5 - MALAM TAK WARAS

Share

BAB 5 - MALAM TAK WARAS

last update Last Updated: 2026-02-24 01:27:10

Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. 

Pantas.

Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. 

Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. 

“Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. 

Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan dua. Di sudut matanya, ada bilik ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih, ada counter modern, juga kabinet dorong lengkap. 

Dari kacamata seorang yang juga penyuka desain ala Karuna–rumah ini memang sangat maskulin dengan dominasi warna abu, magohani, dan hitam pekat.

“Kamar kamu?” setidaknya, ia juga harus tahu letak kamar suami bohongan-nya ini. 

“Lantai dua, sebelah kamarmu.”

“Sebelah?” alisnya terangkat. “Sebelah yang … sebelahan?”

Rajendra mengangguk singkat.

"Kita sebelahan?"

Tapi rasa-rasanya, pertanyaan Karuna itu salah tempat. Lihat bagaimana kini Rajendra yang hanya menatapnya datar, tapi rautnya jelas tak mengenakan. 

Karuna berdehem. Keningnya menekuk, bibirnya mencebik, lalu ia mengangkat kedua tangan sedikit. “Ya!” ralatnya cepat. “Ini rumah kamu, semerdeka kamu!”

Rajendra tak lagi menanggapi. Hanya mengalihkan pandangan. Hening menggantung di tepian udara. Karuna menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain, bertumpuk. Meski ia terlihat dan terdengar seperti singa liar jika itu soal Rajendra, berada di kediaman seseorang untuk pertama kalinya membuat dirinya sungkan sendiri.

Canggung.

Gadis itu menggaruk kepala. “Kamu … inget perjanjian kita, ‘kan?”

Karuna tahu Rajendra mendengarnya. Terlihat dari bagaimana pria itu yang kini duduk di atas sofa abu–langkah kecil Karuna mengikuti. Dengan jarak aman yang cukup untuk satu manusia kelewat tenang dan satu manusia krisis emosi.

Karuna beranikan dirinya melirik Rajendra dari samping. Karuna mulai menghitung dengan jari. “Kamar terpisah. Kita punya waktu masing-masing. Kamu nggak bisa atur jam kerja aku, begitu pun sebaliknya.” 

Jarinya terlipat satu per satu, “kita nggak saling ribet. Nggak saling ngurus. Nggak perlu sok peduli. Dan … dan apa pun yang pernah kejadian dulu, lupain aja."

Meski suara itu sempat mengecil di akhir, setidaknya Karuna bisa mengungkapkan apa yang ia mau.

Lalu, mungkin dengan pipi yang cukup panas–astaga. Karuna membuang pandang ke arah lain. “Dan paling penting–nggak ada sentuhan dalam bentuk apa pun.” Karuna membasahkan bibirnya yang kering. “Apa pun itu, termasuk kebutuhan biologis–itu bukan tanggung jawab aku."

Rajendra mengangguk, sekali. “Ya.”

Lalu, dengan waktu yang nyaris ofensif–pria itu malah sibuk membuka layar ponsel, mengetikkan sesuatu yang tak Karuna mengerti di sana. Seolah ada yang lebih penting dari apa yang sedang mereka bicarakan sekarang.

Rajendra menghela napas pelan, akhirnya kembali menatap Karuna. “Ya, bagus kalau dari awal kita punya batasan yang jelas.”

Meski Karuna harus menelan pil pahit di lidah sebab setelahnya, pria itu tanpa basa-basi angkat kaki dari sofa dan naik ke lantai dua. 

Sekali lagi, meninggalkan Karuna dengan mulut menganga tak percaya. 

Gila.

Pria itu sudah benar-benar berubah, ya?

***

Demi semesta alam.

Apa kesalahan yang dilakukannya?

Karuna menggerutu, ekspresinya kusut. Ia membalikkan tubuh, membiarkan punggungnya terpantul cermin wastafel, sementara kepalanya menoleh ke arah yang sama.

Jarinya kembali meraba ke belakang, berusaha menarik resleting gaun itu.

Gagal.

Ia coba lagi.

Masih gagal.

Kuasanya hanya sampai sejajar tulang belikat dan berita buruknya, posisi itu jelas tidak cukup untuk membebaskan dirinya dari gaun sialan ini.

Karuna mendesah frustasi. “Kenapa gini, sih!?”

Karuna memejamkan matanya erat, ide gila terlintas untuk menggunting gaunnya saja, “tapi ini mahal banget, Tuhan. Gaji gue tiga bulan,” decaknya tak suka.

Rajendra.  Nama itu muncul begitu saja di kepalanya, namun, Karuna langsung menggeleng cepat.

Tidak. Seratus persen tidak!

Pertama, pria itu tadi meninggalkannya dengan kesan dingin yang ia sendiri tak suka. Kedua, meminta Rajendra membuka resleting di punggungnya terdengar seperti adegan murahan. 

“Dikit lagi … dikit lagi …,” gumamnya penuh harapan palsu.

Nyatanya, benda kecil itu tidak bergerak.

Mata Karuna memejam. Baik. Mari realistis. Tidur dengan daun pengantin yang panjang seperti ini hanya akan membuatnya seperti kepompong. Tentu ia akan sumpek dan kepanasan. Di rumah ini juga tidak ada Marlina, satu-satunya yang bisa ia pintai tolong hanya Rajendra.

Karuna mengambil napas panjang. “Cuma resleting.”

Gadis itu akhirnya menatap pintu kamar mandi. Menggertakkan gigi tanpa sadar, “cuma minta minta tolong. Habis itu selesai. Nggak ada apa-apa. NOL.”

***

Karuna mengetuk tiga kali.

Ya Tuhan.

Belum ada balasan.

Memejamkan mata erat, Karuna melakukannya lagi, namun kali ini lebih kencang. “Rajen–Kak?” Ia meringis sendiri. Kira-kira, harus panggil apa, sih? Suami kontrak? Tuan rumah? Yang punya wajah paling menyebalkan sedunia? 

“RAJENDRA, TOLONG!”

Demi semesta dan isinya, suaranya memantul dramatis bak aktris papan atas.

Pintu kamar terbuka.

Rajendra muncul dengan ekspresi datar yang condong ke arah tidak senang, tidak bersahabat. Meski tampilannya sudah jauh lebih manusiawi dengan kaos pendek dan celana bahan–bukan lagi jas pernikahan–itu tidak mengurangi aura CEO galak yang siap memecat orang. Karuna tebak pria ini sudah selesai mandi, lihatlah rambutnya yang basah itu.

“Nggak perlu teriak-teriak,” katanya. “Kamu ini kenapa–”

Kalimat Rajendra putus saat pandangannya turun ke gaun panjang yang masih membungkus tubuh isterinya. 

Ya, tubuh isterinya.

Tiba-tiba juga, mulut Karuna terasa kaku, tidak tahu bagaimana cara menyampaikan keluhannya. 

Sunyi.

Hening yang terlalu lama untuk situasi sekonyol ini, hingga, Rajendra menghela napas, “Ada apa?” suaranya dalam, tapi penuh kontrol dan serius menanggapi mengapa Karuna bisa sampai di depan kamarnya seperti ini.

Karuna berdehem.

“Hm,” katanya pelan. Lebih pelan lagi, “kejebak.”

Rajendra mengangkat alis tipis. 

Menelan ludah, Karuna menunjuk punggungnya sendiri. “Resletingnya nggak bisa kebuka. Kamu bisa bantu buka, nggak?”

Lalu, Rajendra menghela napas pelan. Satu tangannya naik memijat kening, seolah sedang menimbang, sebelum akhirnya mundur beberapa langkah dan membuka pintu kamarnya lebih lebar. 

“Ya?” Karuna merasa bodoh karena tak tahu apa arti gerak tubuh Rajendra. 

“Masuk.”

Nada suaranya datar. Wajahnya juga. Itu membuat Karuna terpaku sejenak. Lalu, seakan takut pria itu berubah pikiran, ia cepat-cepat melangkah masuk. Jemarinya saling menggenggam canggung di depan perut.

Maniknya tanpa sadar berkeliling. Ruangan itu didominasi warna gelap—tak jauh berbeda dari ruang tengah. Rapi. Minim dekorasi. Sangat Rajendra.

Karuna mendongak saat menyadari Rajendra sudah berdiri di depan cermin.

Tanpa banyak kata, Karuna mengambil posisi di depannya, membiarkan Rajendra leluasa melihat punggungnya.

Dengan seluruh harga diri yang tersisa.

Tanpa sadar, netra Karuna melirik ke arah cermin–memperhatikan perbedaan tinggi mereka. Puncak kepalanya hanya mencapai pundak Rajendra, sedikit di bawahnya.

Pandangan pria itu turun ke pundak Karuna yang tertutup surai panjang. “Sebelah mana?” tanya Rajendra singkat.

Karuna menelan ludah. 

Jemari lentiknya meraih rambut sendiri, lalu menyampirkannya ke satu sisi bahu, memperlihatkan punggung polosnya. “Macet. Nggak tahu. Tiba-tiba aja.”

Rajendra menatapnya sesaat lewat cermin.

Ada tarikan napas tipis yang lolos dari bibir Rajendra. Atau mungkin hanya imajinasi Karuna yang kebanyakan nonton drama.

Karuna diam.

Sampai ia merasakan jemari Rajendra bertemu kulitnya saat pria itu mencari ujung resleting. Sentuhan Rajendra dingin.

Dan terlalu nyata.

Belum lagi hembusan napas Rajendra yang–sialnya–terasa samar di tengkuknya. Karuna memejamkan mata sebentar. “Bisa … nggak … sih?” katanya pelan, netranya berkedip beberapa kali, berusaha tetap terdengar normal.

“Tunggu.”

Namun, situasi itu membuat Rajendra bergerak mengikuti instingnya sendiri.

Rajendra sedikit menunduk, mendekat ke punggung Karuna untuk mengamati sumber masalahnya. Alisnya berkerut tipis.

Benang kecil tersangkut di sela besi resleting. Alih-alih mencari alat, Rajendra mendecakkan lidah pelan. Lalu, dengan keputusan yang mungkin akan ia sesali setelahnya–ia menjepit benang itu dengan giginya dan menariknya pelan. 

Berhadapan langsung dengan kulit Karuna, memotong menggantikan peran gunting

Srek.

Benang putus.

Karuna yang tadinya ingin bersikap ramah karena ia sedang meminta tolong, sontak saja melotot. “RAJENDRA– kamu ngapai–”

Tapi, Rajendra tetaplah Rajendra. Pria itu dengan efisien mundur selangkah, sesaat setelah dirasanya benang itu sudah tak lagi jadi masalah.

Yang berbeda malam itu hanya napas Karuna yang terdengar lebih cepat dan rona di pipinya yang jelas memerah. 

Rajendra menurunkan tangan, bantuannya sudah selesai. 

“Udah malam. Tidur.”

Hening.

Rajendra mengatakannya seperti perintah paling biasa di dunia–tanpa menyadari efek sampingnya.

Hanya Karuna yang mengerti kenapa napasnya terasa aneh, kenapa wajahnya mendadak panas. Jadi, sebelum situasinya makin memburuk–setidaknya bagi Karuna–gadis itu memilih satu-satunya jalan dari sisa kewarasannya.

Kabur.

Langkahnya terlalu cepat untuk ukuran orang yang baru saja ditolong. Bahkan ia belum sempat berterima kasih. Pintu kamarnya ditutup sedikit lebih keras daripada yang diperlukan–Karuna kelabakan. Tanpa sadar, di balik pintu itu, satu telunjuknya ikut bergerak, meraba bagian yang baru saja ‘dibereskan’.

Tercekat dirinya.

Di sana, basah.

Lembab. 

Lalu ia menutup muka dengan kedua tangan.

Dan sialnya—

Brengsek. Pria itu menyentuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 7 - VACUUM DAN NODA YANG PAHIT

    Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 6 - PAGI PERTAMA

    Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 5 - MALAM TAK WARAS

    Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 4 - PESTA PERNIKAHAN

    Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 3 - OBROLAN IRONIS

    Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 2 - PERTEMUAN KELUARGA

    Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status