Share

BAB 6 - PAGI PERTAMA

Penulis: Jesi Sanctuary
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-02 20:02:08

Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.

Delapan.

Angka itu langsung menampar kesadarannya.

Isteri.

Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.

Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.

Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.

“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”

Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.

Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jangan panggil Nyonya, Bu. Kayak tua banget akunya.”

Natri tertawa kecil, tampak berpikir. “No…na? Kalau Nona Karuna?”

Karuna meringis. Itu juga terasa aneh.

“Aku panggil Ibu, pakai Ibu aja ya–”

“Lho, jangan, Non.” Natri cepat menggeleng. “Panggil Bibi saja. Seperti Den Rajendra.”

Karuna ingin protes lagi, tapi melihat ekspresi tulus wanita itu, akhirnya ia menyerah. “Yaudah… Bibi.”

“Silahkan makan, Non.” Lalu dengan begitu Natri kembali ke pekerjaannya yang tertunda di atas wastafel.

Karuna duduk di meja makan dan langsung terpaku. Meja itu tampak penuh dan hidup untuk ukuran sarapan–roti panggang dengan selai cokelat, sepiring nasi goreng hangat lengkap dengan telur mata sapi serta potongan melon dan semangka segar yang tersusun rapi di sisi meja. 

“Makasih, yaa, Bi.”

“Sama-sama, Nona Karuna.”

Tetapi, masing-masing dari mereka hanya ada satu piring.

Sesuatu yang sejak semalam berusaha ia abaikan kembali menyelinap ke kepalanya–jelas dan menjengkelkan.

Suara rendah Rajendra yang terlalu dekat. Sentuhannya yang terlalu nyata. Tatapan tenangnya yang tidak berubah sedikit pun meski jarak mereka nyaris tak masuk akal. 

Karuna langsung mengerutkan hidung.

Astaga.

“Apaan sih…” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia menunduk, menekan bibirnya kuat-kuat seolah itu bisa menghentikan pikirannya sendiri. Meski, percuma. Ujung telinganya sudah terlanjur panas.

“Nggak penting,” bisiknya lagi, kesal pada diri sendiri. “Nggak usah dipikirin.”

Karuna mengambil gelas, menuang air putih. “Tapi dia … nggak sarapan?” tanyanya tanpa sadar menyeletuk.

Natri muncul dari dapur, mengeringkan tangan dengan lap kecil, tak disangka menyambut pertanyaan tak disengaja milik Karuna. “Oh, Den Rajendra sudah selesai sarapan. Biasanya jam tujuh sebelum berangkat, Non.”

Karuna ber-oh kecil.

Tujuh pagi?

Bahkan di hari libur? Pria itu bukannya mengambil cuti, ya?

“Hari libur juga begitu, Bi?”

Natri baru hendak menjawab ketika langkah kaki terdengar dari arah anak tangga.

“Oh, itu Den Rajendra.”

“Bibi pamit dulu ke halaman belakang, ya, Non, Den.”

Karuna melihatnya.

Dengan tampang datarnya itu, Rajendra sudah rapi mengenakan kemeja biru lembut, jas hitam, sepatu pantofel mengkilap, dan tas kerja di tangan.

Pria itu menghampiri meja makan, berhenti tepat di samping kursi Karuna. “Saya ada call meeting dadakan,” katanya langsung, tanpa pembuka. 

Karuna mengerjap. “Sekarang?”

Rajendra mengangguk.

Tatapannya kini turun perlahan–dari wajah Karuna yang tanpa riasan, ke rambutnya yang masih berantakan, lalu ke piyama merah muda berbahan katun bergambar bintang laut yang masih melekat di tubuhnya.

Entah mengapa, arah tatapan Rajendra membuat Karuna langsung melotot.

“Kenapa lihat-lihat gitu?!”

Rajendra berkedip sekali, lalu mengangkat sebelah alisnya–jelas tidak mengerti mengapa Karuna tiba-tiba memekik marah.

Tetapi Karuna sudah terlanjur salah paham, baginya tatapan itu sejajar dengan penghakiman caranya berpakaian. Ia buru-buru merapikan ujung piyamanya, meski nyaris tidak ada yang bisa diselamatkan, lalu mendecih pelan. 

“Aku masih begini karena emang nggak ada jadwal kerja, bukan karena males!” katanya cepat. “Salah kamu juga, habis acara kayak kemarin malah langsung kerja?! Orang normal tuh istirahat!”

Namun balasan Rajendra hanya berupa,

Nggak ada yang nilai kamu.”

Hal yang sukses membuat Karuna menggertakkan gigi tanpa sadar.

Ia baru akan membuka mulut lagi ketika Rajendra sudah lebih dulu membuka dompetnya. Tanpa banyak penjelasan, pria itu mengeluarkan sebuah kartu dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Karuna.

Sebuah kartu kredit hitam.

Karuna terdiam, alisnya terangkat.

“Saya lupa kasih semalam,” ujar Rajendra. “Untuk kebutuhan rumah, juga kebutuhan kamu.”

Karuna mengeryit. “Kebutuhan aku?”

Rajendra mengangguk singkat. “Kebutuhan perempuan.”

Ya?

Kalimat itu sebenarnya cukup sederhana, juga terdengar menguntungkan bagi sebagian orang. Namun, tidak bagi Karuna. Sesuatu dalam dirinya jelas terusik pelan. Alih-alih senang, yang muncul justru rasa tidak nyaman.

Sekonyong-konyong, Karuna berkacak pinggang tak sabaran. “Kamu pikir... aku nggak punya uang?”

“Aku kerja, ya!” lanjut Karuna, nadanya naik tanpa sadar. “Aku bahkan masih pegang kerjaan Bandung. Kepindahan kerja di sini juga lagi aku urus. Aku bisa penuhin semua kebutuhanku–tanpa bantuan kamu. Aku bahkan bisa boros pakai uangku sendiri!”

Hening hinggap.

Rajendra menarik napas pendek, bukan kesal–lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk memperpanjang sesuatu yang menurutnya sederhana; di waktu yang masih pagi ini. “Udah?”

Kening Karuna berkerut. “Udah apa?!”

“Saya nggak bilang kamu nggak bisa.”

“Terus ini apa?” Karuna mengambil kartu itu lalu mengangkatnya.

Rajendra menggeser lengan kemejanya, melirik arlojinya ringkas, lalu menatap Karuna lurus. “Saya nggak ada waktu berdebat,” ucapnya. Karuna hendak menyela, tetapi pria itu melanjutkan sebelum ia sempat membuka mulut.

"Pakai kartu itu." Intonasinya jelas dan tegas.

Lalu, begitu saja, Rajendra mengangkat kembali tas kerjanya dan melangkah menuju pintu utama meninggalkan Karuna. Tanpa menunggu jawaban. Tanpa menoleh lagi.

Karuna berdiri di tempatnya, masih memegang kartu itu erat-erat. Yang awalnya menggantung di udara, kini jemari itu turun ke sisi kanan tubuh.

Suara pintu terdengar, beberapa waktu kemudikan mesin mobil dinyalakan–merangsek masuk ke telinga Karuna seperti radio rusak.

“…nyebelin banget,” gumamnya pelan.

Bagaimana bisa pria itu selalu datang, mengatur segalanya, lalu pergi begitu saja?

Jesi Sanctuary

Jangan lupa tunggu kelanjutan kisah Rajendra dan Karuna di sini, ya! Semoga hari kalian selalu menyenangkan! Pernikahan Dadakan dengan Mantan BAB 6; 𐙚°.ᐟ To Be Continue.

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 7 - VACUUM DAN NODA YANG PAHIT

    Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 6 - PAGI PERTAMA

    Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 5 - MALAM TAK WARAS

    Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 4 - PESTA PERNIKAHAN

    Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 3 - OBROLAN IRONIS

    Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 2 - PERTEMUAN KELUARGA

    Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status