LOGINSeraphine merapikan piyama sutranya yang sedikit kusut. Ia menurunkan kakinya ke lantai berkarpet tebal, melangkah anggun menuju koper Rimowa hitam miliknya yang berdiri di dekat lemari pakaian besar. Seraphine membuka koper, merogoh bagian dalam kompartemen atas lalu mengeluarkan sebuah tas kertas berukuran sedang berwarna hitam tebal dengan pita sutra berwarna emas yang terikat rapi di bagian atasnya. Di balik tas kertas itu, terlihat logo busana kelas dunia bertuliskan Hermès dan sebuah kotak jam tangan mewah dari kayu mahoni berukir elegan. Seraphine membalikkan badannya, berjalan kembali mendekati tempat tidur sambil membawa tas kertas dan kotak kayu tersebut di kedua tangannya. "Ini buat kamu," ujar Seraphine pendek, menyerahkan tas kertas dan kotak mahoni itu ke atas pangkuan Samudera yang sedang duduk bersila di atas kasur. Samudera terpaku. Matanya berkedip beberapa kali. “Ini apa, Sayang?” Seraphine menyandarkan pinggulnya pada tepi meja nakas di samping tempat tidur, m
Pagi itu, Samudera adalah orang yang membuka matanya terlebih dahulu. Kesadarannya terkumpul sepenuhnya dalah hitungan detik, begitu merasakan rasa hangat yang ia rindukan selama berminggu-minggu. Samudera menundukkan pandangannya. Di sana, tepat di atas dada bidangnya, sang istri masih tertidur lelap. Seraphine terlihat bersandar sangat nyaman di dadanya, dengan helai-helai rambut panjangnya yang terurai menutupi dada telanjang Samudera. Dan yang paling membuat senyuman Samudera merekah sempurna adalah kedua tangan Seraphine yang masih melingkar di sekeliling pinggangnya. Pemandangan yang sangat sangat dirindukan Samudera saat istrinya kembali bermanja padanya. Samudera memandangi istri cantiknya tanpa henti, sementara tangan kanannya bergerak pelan membelai halus punggung Seraphine yang terbalut piyama. Pria itu menundukkan kepalanya pelan, mendaratkan kecupan-kecipan kecil yang lembut di puncak kepala Seraphine, lalu bergeser ke pelipis dan kening wanitanya tanpa menimbulkan sua
Dua puluh menit kemudian. Seraphine keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang amat segar. Ia telah menanggalkan pakaiannya dan menggantinya dengan setelah piyawa sutra berwarna putih gading favoritnya. Di sisi lain tempat tidur, Samudera sudah lebih dulu berada di atas kasur. Pria itu terlentang di sisi kiri tempat tidur. Seperti kebiasaan tidurnya sejak lama, Samudera hanya mengenakan celana sweatpants panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya topless. Seraphine melangkah mendekati tempat tidur. Meskipun sudah sering melihat bentuk fisik suaminya, tidak bisa dipungkiri bahwa pesona visual seorang leader Motion13 ini selalu berhasil memanjakan matanya. Melihat Seraphine mendekat, Samudera tersenyum hingga lesung pipitnya menyembul sempurna. Pria itu merentangkan tangan kirinya, sebuah undangan terbuka yang dikhususkan hanya untuk tempat bersandar sang istri. “Sini, Sayang…” panggil Samudera dengan suara bariton yang amat rendah dan menenangkan. Seraphi
Sekitar empat puluh menit perjalanan, Maybach hitam itu akhirnya meluncur masuk ke area basement hotel. Begitu selesai memarkirkan mobil, Samudera mematikan mesin V8 mobil tersebut.“Kita udah sampai, Sayang,” bisik Samudera sangat lembut pada istrinya yang memejamkan mata sejak dalam perjalanan.Seraphine membuka kelopak matanya perlahan. Ia membenarkan tatanan rambutnya sebentar, mengambil topi serta tas tangannya, lalu bersiap membuka pintu mobil. Namun, Samudera bergerak lebih dulu. Ia melompat keluar dari kursi kemudi, memutar dengan langkah lebar, dan membukakan pintu untuk istrinya.“Sini, Sayang,” ujar Samudera mengulurkan tangannya di udara.Seraphine menatap kedua mata Samudera sejenak, sebelum menyusupkan jemari lentiknya ke dalam sela-sela jemari Samudera. Ia membiarkan telapak tangannya mendapatkan kehangatan dari genggaman jemari suaminya.Dada Samudera berdesir hangat. Senyuman tulus yang sangat tampan terukir di wajahnya. Pria itu mengencangkan genggaman tangannya deng
Suasana di area parkir VIP Saitama Super Arena malam itu begitu lengang, tertutup dari jangkauan penggemar yang baru saja membubarkan diri setelah konser Day 1 Motion13 selesai. Di sudut parkiran, sebuah SUV Mercedes-Maybach GLS 600 berwarna hitam legam terparkir. Di dalam kabin kemudi, Seraphine Swarna Kirana duduk tenang. Wanita itu telah menanggalkan trench coat formalnya, menyisakan sebuah sweater kasmir berkerah tinggi dan sepasang topi. Di atas pangkuannya terdapat sebuah bento cake minimal berwarna putih gading dengan ukiran krim kustom bertuliskan: Happy 31st Birthday, Samudera. Seraphine menatap layar ponselnya yang menyala di atas konsol tengah. Sebuah pesan singkat masuk dari kontak Manajer Kim—manajer utama Motion13 yang berhasil diajaknya bekerja sama sejak tiga hari lalu tanpa sepengetahuan Samudera. Manajer Kim: Sera, Samudera baru selesai mandi dan ganti baju di dressing room. Gue lagi ngarahin dia ke parkiran VIP bawah sesuai rencana yang lo minta. Dia agak cranky
Seraphine baru sampai kamar pulul 21.58 WIB. Ia duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya.Di Jepang, saat ini sudah pukul 23.58 dini hari menjelang tanggal 8 Agustus.Seraphine merenung sejenak. Dia tahu jadwal resmi dari manajemen Motion13, bahwa anak-anak Motion13 baru saja menyelesaikan latihan panggung stadium Saitama Super Arena sekitar pukul sepuluh malam waktu lokal, dan saat ini kemungkinan besar Samudera sudah berada di dalam kamar hotelnya di Saitama untuk beristirahat.Seraphine membuka aplikasi perpesanan singkat. Ibu jarinya menari di atas layar, membuka ruang obrolan pribadinya dengan kontak bernama "Suami".Pesan terakhir di antara mereka adalah kemarin malam, di mana Samudera mengirimi belasan foto makanan nutrisi yang ia santap serta foto vitamin herbal dari Seraphine yang diminumnya sampai habis, lengkap dengan pesan teks beruntun berisi ungkapan rindu yang setengah memohon. Seraphine saat itu hanya membalasnya dengan satu kata pendek: "Bagus."Seraphine menatap lay
Samudera sampai rumah tepat saat waktu menunjukkan pukul 17.30. Ia langsung berjalan cepat menuju kamar utama. Senyumannya mengembang hanya dengan membayangkan ada istri cantik yang menunggunya. Begitu pintu kamar terbuka, pandangan Samudera langsung terkunci pada sosok wanita yang sedang bersandar
Setelah liburan singkat bersama Adrian dan keluarganya. Seraphine jauh lebih stabil dalam melakukan pekerjaannya. Wanita cantik itu kembali memimpin rapat dengan tenang dan berhasil membuat suatu keputusan yang menguntungkan banyak pihak. Sore itu, di sebuah studio pilates privat di Kawasan Senopat
Paris, pukul 22.15 malam. Udara di luar Accor Arena menusuk hingga ke tulang, mencapai titik di bawah 5°C. Di dalam gedung, energi ribuan orang baru saja meledak dan menyisakan keheningan yang mendengung di telinga para member Motion13. Samudera baru saja menyelesaikan lagu penutup, encore yang pe
Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel







