LOGINLampu tidur di sudut ruangan masih menyisakan pendar jingga yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit kamar. Suasana hening, hanya ada deru halus AC dan suara napas Samudera yang mulai stabil di sampingnya. Namun, bagi Seraphine Swarna Kirana, keheningan ini justru terasa bising. Pikirannya berlarian seperti mesin yang kehilangan rem.Seraphine masih terjaga. Ia berbaring miring, membelakangi Samudera, meski lengan kokoh pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, menarik tubuhnya untuk tetap menempel pada dada bidang yang hangat itu. Kulit mereka masih bersentuhan, menyisakan jejak-jejak panas dari pergulatan intens beberapa saat lalu.“Apa yang baru aja gue lakuin?”Pertanyaan itu berputar berkali-kali di kepalanya. Seraphine, CEO dingin dalam negosiasi bisnis, kini merasa asing dengan dirinya sendiri.Ia menatap lengan Samudera di perutnya.Dua kali.Dalam rentang kurang dari seminggu, ia telah menyerahkan benteng pertahanannya kepada pri
Lampu tidur di sudut ruangan masih menyisakan pendar jingga yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit kamar. Suasana hening, hanya ada deru halus AC dan suara napas Samudera yang mulai stabil di sampingnya. Namun, bagi Seraphine Swarna Kirana, keheningan ini justru terasa bising. Pikirannya berlarian seperti mesin yang kehilangan rem.Seraphine masih terjaga. Ia berbaring miring, membelakangi Samudera, meski lengan kokoh pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, menarik tubuhnya untuk tetap menempel pada dada bidang yang hangat itu. Kulit mereka masih bersentuhan, menyisakan jejak-jejak panas dari pergulatan intens beberapa saat lalu.“Apa yang baru aja gue lakuin?”Pertanyaan itu berputar berkali-kali di kepalanya. Seraphine, CEO dingin dalam negosiasi bisnis, kini merasa asing dengan dirinya sendiri.Ia menatap lengan Samudera di perutnya.Dua kali.Dalam rentang kurang dari seminggu, ia telah menyerahkan benteng pertahanannya kepada pri
Samudera menunduk, mulai mencium istrinya. Awalnya, ciuman itu terasa seperti sebuah tantangan—kasar dan penuh tuntutan. Seraphine sempat menahan napas, tangannya mengepal di kemeja Samudera, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. Namun, saat lidah Samudera menyapu bibirnya, pertahanan itu runtuh seketika.Seraphine membalas. Ia bukan tipe wanita yang pasif. Jemarinya naik ke tengkuk Samudera, menarik pria itu lebih dalam ke dalam pagutannya. Suara kecipak halus memenuhi keheningan kamar, bercampur dengan napas mereka yang mulai memburu. Ciuman itu berpindah, turun ke rahang tegas Samudera, lalu ke leher jenjang Seraphine yang selalu menjadi titik lemahnya."Sam... pelan-pelan..." gumam Seraphine hampir tidak terdengar saat tangan Samudera mulai menanggalkan pakaian yang menghalangi kulit mereka.Keringat bercucuran di pelipis Samudera. Di bawahnya, Seraphine tampak cantik sekali dengan pipinya yang merona, bibirnya yang bengkak karena ciuman-ciuman menuntut, dan matanya sayu.
H-1 sebelum keberangkatan Motion13 ke London. Rumah besar itu biasanya terasa sunyi, namun malam ini atmosfernya berbeda. Di lantai dua, tepatnya di walk-in closet Samudera yang luas, dua koper besar ukuran extra large dengan merek rimowa sudah terbuka lebar di atas lantai.Seraphine berlutut di depan salah satu koper. Tangannya yang ramping bergerak lincah menata kantong-kantong jaring transparan. Sejak dua hari lalu, ia seolah mengambil alih tugas manajer Samudera dalam hal packing. Sebagai seorang wanita yang terbiasa mengatur strategi bisnis, Seraphine membawa ketelitian itu ke dalam koper suaminya."Sam, suplemen herbal ini diminum tiap pagi sebelum latihan. Jangan sampai lewat. Stamina lo bakal anjlok kalau cuma ngandelin kopi," ujar Seraphine tanpa menoleh. Ia sedang memasukkan botol-botol kecil berisi cairan ginseng merah ke dalam kompartemen khusus.Samudera, yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan celana joging abu-abu tanpa atasan, bersandar di bingkai pintu. Ia m
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Samudera baru saja menutup laptopnya setelah menyelesaikan beberapa urusan agensi. Ia menoleh kea rah ranjang, menatap Seraphine yang tampat tidur sangat nyenyak.Sudah tiga jam Seraphine istirahat, tetapi Samudera tidak mempermasalahkannya. Seraphine memang butuh istirahat setelah apa yang mereka lakukan semalam.Samudera berdiri mendekati ranjang, lalu berjongkok di samping wajah Seraphine. Ia memperhatikan bibir istrinya yang sedikit terbuka, teringat bagaimana rasanya ciuman mereka semalam.“Sayang banget,” bisik Samudera pelan. Ia mengulurkan tangan, dengan sangat lembut mengusap pipi Seraphine.Perlahan, Seraphine mengerjap. Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah Samudera. Pria itu tersenyum tepat di depan wajahnya.“Sam?” suara Seraphine serak.“Hm?” sahut Samudera dengan suara beratnya, tangannya terangkat merapikan helai rambut Seraphine yang berantakan. “Gimana? Lebih mendingan?”Seraphine mencoba duduk, kali ini ia
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di seluruh tubuhnya. Seraphine meraih piyama itu dengan tangannya, mencoba memakainya sendiri dengan kekuatan tersisa supaya dia tidak terlihat terlalu bergantung pada Samudera.Satu menit… dua menit… tiga menit…Seraphine menghela napas lega begitu berhasil mengancingkan kemeja piyamanya hingga ke atas. Ia segera menarik selimut kembali, bermaksud untuk kembali memejamkan mata karena dia off duty hari ini.Tepat pada menit kelima. Pintu terbuka. Tidak ada ketukan. Samudera melangkah masuk membawa laptopnya dengan wajah yang sangat menyebalkan bagi Seraphine.“Waktu habis,” kata Samudera sambil melirik jam tangannya. Pandangannya beralih ke Seraphine yang sudah rapi. “Oh, ternyata istri gue ini
Setelah piring nasi goreng itu bersih tak tersisa. Samudera berdehem pelan. “Kita jalan milih furniture sekarang?” Seraphine yang selesai minum, mengangkat alis. Dia meletakkan gelas dengan anggun. “Sepagi ini?” tanya Seraphine heran karena masih pukul sepuluh lewat sedikit. Samudera mengangguk.
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menyinari wajah tampan Samudera. Ia adalah yang pertama kali terusik oleh kesadaran. Kelopak matanya masih terasa berat karena masih tersisa kelelahan semalam setelah resepsi panjang, tetapi perlahan matanya terbuka. Ia menge
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela







