LOGINSamudera melebarkan seringainya. “Sebagai leader mereka gue punya satu kewajiban buat jagain mereka dari hal-hal yang bisa ngerusak fokus kerjaan mereka. Mereka itu idol global, kasta mereka di industry ini setara sama posisi kalian di dunia bisnis Jakarta. Jadi… gue cuma mau nitip pesan.”"Gue nggak keberatan kalau kalian mau kenalan, makan malam bareng, atau seru-seruan di Bali. Tapi tolong, jangan macem-macem sama member gue. Jangan pancing mereka pakai permainan gengsi kelas atas yang biasa kalian lakuin di Jakarta. Anak-anak Motion13 itu berharga banget buat gue. Kalau sampai ada salah satu dari mereka yang pulang dari Bali dengan kondisi mental yang berantakan atau kariernya keganggu karena urusan hati sama sirkel lo pada... gue nggak akan segan-segan buat gunain seluruh jaringan bisnis keluarga Wicaksana buat mastiin investasi kalian di beberapa sektor dapet audit ketat."Ultimatum itu diucapkan dengan nada yang sangat tenang, halus, namun sarat akan ancaman nyata yang membuat
Sinar matahari mulai berubah menjadi warna jingga kemerahan, memantulkan cahayanya di atas infinity pool milik Vila Kenanga—unit sekunder yang khusus disewa oleh Samudera untuk menampung rombongan The Inner Circle.Seraphine duduk dengan anggun di atas daybed anyaman rotan putih. Wanita itu mengenakan silk dress longgar berwarna putih tulang yang pas di tubuh rampingnya. Di sekelilingnya, lima sahabat dekatnya—Karin, Anya, Valerie, Gisela, dan Bianca—sedang asyik mengobrol dengan tawa renyah yang khas dari para sosialita papan atas Jakarta.“Sera, serius deh, tas lo tadi baru lagi ya? Perasaan gue belum pernah liat lo pakai itu sebelumnya,” Karin membuka suara sambil memutar tangkai gelas sampanyenya, matanya yang tajam di balik kacamata hitam Tom Ford menatap Seraphine dengan penuh selidik.Seraphine tersenyum tipis. Teringat tadi malam Samudera membuka koper peraknya yang isinya adalah oleh-oleh untuk Seraphine dari Eropa. Salah satunya adalah Birkin 25 berbahan Togo leather dengan
Sore itu, perjalanan ke Bali benar-benar dimulai. Untuk menghindari kepungan kamera paparazzi dan kecurigaan fans yang mungkin muncul, manajemen agensi atas perintah mutlak Samudera mengambil sebuah keputusan. Dua unit jet pribadi mewah diterbangkan sore itu menuju Bandara Ngurah Rai, Bali. Di dalam private jet pertama yang berisikan The Inner Cicrle—Seraphine, Valerie, Anya, Karin, Gisela, dan Bianca—telah lepas landas tiga puluh menit lebih awal. Kini, di dalam kabin jet pribadi yang khusus mengangkut ketiga belas anggota inti grup vokal global Motion13, sang leader tengah duduk di kursi kapten berlapis kulit, menatap tajam ke luar jendela kaca tebal. Jam tangan Patek Philippe Grand Complications dengan strap kulit aligator hitam—hadiah mewah dari Seraphine yang ia terima kemarin pagi di ruang gym privat mereka—melingkar gagah di pergelangan tangan kirinya, berkilau setiap kali terpapar bias cahaya matahari sore. "Bang," panggil Mahesa, suaranya yang berat bergema pelan di antar
Sore hari di kamar utama kediaman Samudera dan Seraphine di Jakarta Selatan. Samudera sudah duduk bersandar pada headboard ranjang dengan sebuah MacBook di pangkuannya. Jemari panjangnya bergerak lincah di atas keyboard, sementara kacamata berbingkai hitam bertengger di hidng mancungnya. Begitu merasakan pergerakan di sampingnya, Samudera langsung menoleh. Ia menurunkan layar laptopnya sedikit, lalu mengulas senyum lebar yang hangat. "Udah bangun, Sayang? Gimana pinggangnya? Masih pegal?" tanya Samudera parau, tangannya terulur untuk mengusap pipi Seraphine yang masih menyisakan rona merah alami pasca-tidur. Seraphine meregangkan tubuhnya di bawah selimut, mendesah pelan saat merasakan otot-ototnya sudah jauh lebih mendingan berkat pijatan Samudera tadi siang. "Udah mendingan. Kamu dari tadi nggak tidur?" "Tidur kok, sempat sejam. Terus kebangun karena ada email masuk dari manajer Motion13 sama agensi," jawab Samudera sembari meletakkan MacBook-nya di meja nakas, lalu menggese
Samudera duduk di dalam bak besar itu, memosisikan tubuhnya bersandar pada dinding marmer, lalu menarik tubuh Seraphine untuk duduk di antara kedua kakinya, menyandarkan punggung polos istrinya langsung pada dada bidangnya. Kedua tangan besar Samudera merayap di bawah permukaan air hangat, mengusap perut rata Seraphine dengan gerakan memutar yang sangat menenangkan."Enak airnya, Sayang?" tanya Samudera, dagunya bertumpu di atas bahu Seraphine, membiarkan napas hangatnya berembus di sekitar leher istrinya."Banget. Airnya pas. Wanginya juga enak," gumam Seraphine, matanya terpejam nyaman. Ia membiarkan seluruh berat tubuhnya ditopang sepenuhnya oleh tubuh kekar Samudera di belakangnya. "Pinggang aku rasanya kayak mau lepas tadi, Sam. Kamu bener-bener nggak ada ampun kalau udah lepas kendali.""Habisnya kamu manis banget di bawah sana, Sera. Sumpah, aku nggak pernah bohong soal seberapa gila aku tiap kali liat kamu ngerespons sentuhan aku," sahut Samudera serak, tangannya yang berada d
Langkah kaki Samudera bergerak pelan melewati anak tangga marmer yang menghubungkan lantai bawah dengan area privat mereka di lantai atas. Keadaan rumah yang sepi sepenuhnya tanpa ada pelayan atas perintah Samudera tempo hari, memberikan kebebasan bagi dua sejoli itu untuk berjalan melintasi koridor luas dalam keadaan telanjang bulat. Seraphine menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Samudera, menghirup sisa-sisa aroma musk dan mint yang bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri. “Sam…” panggil Seraphine, suaranya terdengar sangat serak dan manja. “Apa, Sayangku? Ada yang sakit? Pinggang kamu masih kerasa pegal banget?” "Jangan bohongin aku ya nanti di dalam kamar mandi," bisik Seraphine sambil memilin pelan rambut hitam di tengkuk Samudera yang agak basah. "Kalau kamu tiba-tiba berubah pikiran terus minta ronde ketiga, aku beneran bakal ngunci diri di kamar sebelah seminggu penuh. Aku nggak main-main, Samudera." Samudera terkekeh rendah. “Astaga, Sayang. Ketat banget hukumannya, hm?
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan







