ログインPagi itu, Samudera adalah orang yang membuka matanya terlebih dahulu. Kesadarannya terkumpul sepenuhnya dalah hitungan detik, begitu merasakan rasa hangat yang ia rindukan selama berminggu-minggu. Samudera menundukkan pandangannya. Di sana, tepat di atas dada bidangnya, sang istri masih tertidur lelap. Seraphine terlihat bersandar sangat nyaman di dadanya, dengan helai-helai rambut panjangnya yang terurai menutupi dada telanjang Samudera. Dan yang paling membuat senyuman Samudera merekah sempurna adalah kedua tangan Seraphine yang masih melingkar di sekeliling pinggangnya. Pemandangan yang sangat sangat dirindukan Samudera saat istrinya kembali bermanja padanya. Samudera memandangi istri cantiknya tanpa henti, sementara tangan kanannya bergerak pelan membelai halus punggung Seraphine yang terbalut piyama. Pria itu menundukkan kepalanya pelan, mendaratkan kecupan-kecipan kecil yang lembut di puncak kepala Seraphine, lalu bergeser ke pelipis dan kening wanitanya tanpa menimbulkan sua
Dua puluh menit kemudian. Seraphine keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang amat segar. Ia telah menanggalkan pakaiannya dan menggantinya dengan setelah piyawa sutra berwarna putih gading favoritnya. Di sisi lain tempat tidur, Samudera sudah lebih dulu berada di atas kasur. Pria itu terlentang di sisi kiri tempat tidur. Seperti kebiasaan tidurnya sejak lama, Samudera hanya mengenakan celana sweatpants panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya topless. Seraphine melangkah mendekati tempat tidur. Meskipun sudah sering melihat bentuk fisik suaminya, tidak bisa dipungkiri bahwa pesona visual seorang leader Motion13 ini selalu berhasil memanjakan matanya. Melihat Seraphine mendekat, Samudera tersenyum hingga lesung pipitnya menyembul sempurna. Pria itu merentangkan tangan kirinya, sebuah undangan terbuka yang dikhususkan hanya untuk tempat bersandar sang istri. “Sini, Sayang…” panggil Samudera dengan suara bariton yang amat rendah dan menenangkan. Seraphi
Sekitar empat puluh menit perjalanan, Maybach hitam itu akhirnya meluncur masuk ke area basement hotel. Begitu selesai memarkirkan mobil, Samudera mematikan mesin V8 mobil tersebut.“Kita udah sampai, Sayang,” bisik Samudera sangat lembut pada istrinya yang memejamkan mata sejak dalam perjalanan.Seraphine membuka kelopak matanya perlahan. Ia membenarkan tatanan rambutnya sebentar, mengambil topi serta tas tangannya, lalu bersiap membuka pintu mobil. Namun, Samudera bergerak lebih dulu. Ia melompat keluar dari kursi kemudi, memutar dengan langkah lebar, dan membukakan pintu untuk istrinya.“Sini, Sayang,” ujar Samudera mengulurkan tangannya di udara.Seraphine menatap kedua mata Samudera sejenak, sebelum menyusupkan jemari lentiknya ke dalam sela-sela jemari Samudera. Ia membiarkan telapak tangannya mendapatkan kehangatan dari genggaman jemari suaminya.Dada Samudera berdesir hangat. Senyuman tulus yang sangat tampan terukir di wajahnya. Pria itu mengencangkan genggaman tangannya deng
Suasana di area parkir VIP Saitama Super Arena malam itu begitu lengang, tertutup dari jangkauan penggemar yang baru saja membubarkan diri setelah konser Day 1 Motion13 selesai. Di sudut parkiran, sebuah SUV Mercedes-Maybach GLS 600 berwarna hitam legam terparkir. Di dalam kabin kemudi, Seraphine Swarna Kirana duduk tenang. Wanita itu telah menanggalkan trench coat formalnya, menyisakan sebuah sweater kasmir berkerah tinggi dan sepasang topi. Di atas pangkuannya terdapat sebuah bento cake minimal berwarna putih gading dengan ukiran krim kustom bertuliskan: Happy 31st Birthday, Samudera. Seraphine menatap layar ponselnya yang menyala di atas konsol tengah. Sebuah pesan singkat masuk dari kontak Manajer Kim—manajer utama Motion13 yang berhasil diajaknya bekerja sama sejak tiga hari lalu tanpa sepengetahuan Samudera. Manajer Kim: Sera, Samudera baru selesai mandi dan ganti baju di dressing room. Gue lagi ngarahin dia ke parkiran VIP bawah sesuai rencana yang lo minta. Dia agak cranky
Seraphine baru sampai kamar pulul 21.58 WIB. Ia duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya.Di Jepang, saat ini sudah pukul 23.58 dini hari menjelang tanggal 8 Agustus.Seraphine merenung sejenak. Dia tahu jadwal resmi dari manajemen Motion13, bahwa anak-anak Motion13 baru saja menyelesaikan latihan panggung stadium Saitama Super Arena sekitar pukul sepuluh malam waktu lokal, dan saat ini kemungkinan besar Samudera sudah berada di dalam kamar hotelnya di Saitama untuk beristirahat.Seraphine membuka aplikasi perpesanan singkat. Ibu jarinya menari di atas layar, membuka ruang obrolan pribadinya dengan kontak bernama "Suami".Pesan terakhir di antara mereka adalah kemarin malam, di mana Samudera mengirimi belasan foto makanan nutrisi yang ia santap serta foto vitamin herbal dari Seraphine yang diminumnya sampai habis, lengkap dengan pesan teks beruntun berisi ungkapan rindu yang setengah memohon. Seraphine saat itu hanya membalasnya dengan satu kata pendek: "Bagus."Seraphine menatap lay
Sudah empat hari berlalu sejak kepulangan Seraphine dari Nagoya. Empat hari yang diisinya tanpa jeda. Segala ppekerjaannya mulai dari tanda tangan puluhan berkas, laporan audit keuangan hingga rapat bersama jajaran direksi dari Seraphine Aesthetic Group—anak perusahaan dibawah Kirana Group yang ia kelola penuh.Seraphine duduk di tegak di balik meja kerjanya. Kacamata berbingkai tipis berwarna rose gold bertengger di pangkal hidungnya, memantulkan pendar biru dari layar monitor iPad Pro dan lembaran dokumen fisik di hadapannya.Ketukan pintu kayu jati tebal di ujung ruangan memecahkan keheningan, disusul oleh derit halus saat daun pintu itu terdorong terbuka.Adrian Baskara Kirana—CEO Kirana Group, melangkah masuk. Pria tegap berusia tiga puluh lima tahun itu sudah menanggalkan jas resminya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung hingga ke siku.“Sera,” panggil Adrian.Seraphine tidak langsung mendongak. Ia membubuhkan tanda tangan elektronik di atas iPad sebelum akhirny
Samudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.Pintu terbuka bahkan sebelum Sam
Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asram
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa arom
Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita c







