Share

Bab 82 (21+)

Author: yourayas
last update publish date: 2026-06-02 18:11:26

Samudera memagut bibir istrinya dengan ritme yang dalam dan menuntut. Lidahnya menelusuri setiap inci rongga mulut Seraphine. Samudera seolah tidak memberikan ruang untuk istrinya bernapas.

"Sam... mmmh..." rintih Seraphine tertahan, napasnya terengah-engah begitu Samudera melepaskan pagutan mereka.

“Sam... jangan disini,” bisik Seraphine, kedua tangannya masih berada di bahu kokoh suaminya.

“Kenapa, Sayang?” Samudera menyunggingkan senyum nakalnya. Ia merendahkan suaranya. “Ini rumah kita.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 158

    Pukul satu siang tepat, pintu Presidential Suite bernomor 4001 diketuk pelan dari luar. Seraphine yang sedang merapikan tas tangannya berjalan mendekati pintu dan membukanya. Di luar, lima sahabatnya—Anya, Valerie, Karin, Gisela, dan Bianca—sudah berdiri anggun dengan gaya busana streetwear-luxury masing-masing, siap untuk menguasai pusat perbelanjaan Nagoya. "Siang, Queen!" sapa Valerie ceria, melangkah masuk pertama kali sambil mengibaskan rambut cokelatnya. "Gimana tidur semalem? Nyenyak di atas penderitaan suami?" Karin terkekeh sinis, menyusul masuk sambil melipat tangan di dada. "Gue liat dari muka lo yang udah segeran gini, kelihatannya drama semalem berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan Kirana Group." "Masuk dulu," sahut Seraphine tenang, memberikan ruang bagi para sahabatnya untuk melangkah ke ruang tamu yang luas. Gisela mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu matanya terhenti pada kasur tambahan (extra bed) berukuran single yang masih sedikit kusut d

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 157

    Pukul sembilan pagi tepat, bel pintu suite kembali berbunyi. Seraphine berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu.Di luar, berdiri Dokter Hendra—dokter pribadi tim medis agensi yang mendampingi Motion13 selama tur Asia—bersama Yosua dan Mahesa."Pagi, Kak Sera," sapa Mahesa berbisik pelan dengan senyum canggung, memegang tas medis milik Dokter Hendra. "Kita boleh masuk?""Masuk," sahut Seraphine dingin, melangkah mundur memberikan jalan.Yosua masuk terlebih dahulu, matanya langsung tertuju pada Samudera yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menghabiskan gelas jus apelnya. Begitu melihat piring-piring di atas meja makan yang sudah bersih dan rapi, helaan napas lega yang teramat sangat keluar dari bibir sang vice-leader."Demi Tuhan... piringnya bersih," gumam Yosua menepuk dadanya sendiri, menatap Mahesa dengan mata berbinar. "Gue gak halu kan, Hes? Leader kita beneran makan nasi sama sup?""Gak halu, Bang!" bisik Mahesa kegirangan. "Pawangnya ada di sini, ya jelas dimakanlah!"S

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 156

    Pukul tujuh pagi, Seraphine sudah terbangun. Ia sudah mandi dan berganti pakaian—mengenakan sweater oversized berbahan cashmere berwarna gading dan celana kulot sutra hitam. Rambut panjangnya dijepit seadanya di belakang kepala, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Seraphine berdiri di dekat jendela besar, di samping extra bed tempat Samudera masih terlelap. Ia memegang cangkir berisi espresso yang masih hangat, menyesapnya perlahan sambil menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota Nagoya yang mulai disibukkan oleh lalu lintas pagi hari. Di belakangnya, suara pergerakan selimut dari atas extra bed memecah kesunyian. Samudera terbangun. Pria itu mengucek matanya yang masih agak bengkak, lalu mengedarkan pandangan di dalam kamar yang temaram. Begitu matanya menemukan punggung semampai Seraphine yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, senyum lega langsung terukir di wajah tirusnya. Pria itu menyingkap selimut putih tebal, berdiri dari tempat tidur tambahan yang sempit it

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 155

    Samudera membeku. "Maksud kamu... apa, Sayang?"Seraphine berjalan menuju area sudut kamar tidur utama. Di sana, di samping tempat tidur king size mewah berseprai putih, sudah berdiri sebuah extra bed (kasur tambahan) berukuran single yang telah dirapi-rapikan oleh staf hotel lengkap dengan selimut dan bantal tebal.Seraphine menunjuk kasur single itu dengan dagunya."Itu tempat tidur kamu malam ini," tegas Seraphine tanpa keraguan.Samudera membelalakkan matanya, merasa seolah baru saja disiram air es di tengah musim dingin. "S-Sayang?! Kamu bercanda kan?! Itu kasur tambahan!""Aku gak pernah bercanda soal batas kepemilikan aku," sahut Seraphine dingin. "Kamu udah jujur, aku udah dengar penjelasan kamu, dan aku udah kasih kamu makan. Tapi bukan berarti aku udah maafin kamu seratus persen. Dosa kamu belum bersih, Samudera."Samudera membelalakkan matanya, rasa terkejut dan ketakutan seketika menyambar dadanya. "S-Sayang?... Di extra bed? Kenapa gak di kasur utama sama kamu?""Karena a

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 154

    Seraphine melipat kedua tangannya kembali, menatap suaminya dengan kilat amarah yang kini terarah pada hal lain."Dan soal nyiksa diri kamu selama lima hari ini? Kamu gila atau gimana, Samudera Adikara?" tegur Seraphine tajam, suaranya naik satu oktav. "Gak mau makan, cuma minum suplemen dari aku, buang makanan dari chef, pingsan di panggung Osaka, dan bikin seluruh member Motion13 kayak mau mati serangan jantung... Kamu pikir itu cara yang jantan buat minta maaf?!"Seraphine melangkah mendekati Samudera, memukul dada tegap suaminya dengan kepalan tangannya sendiri.Buk! Buk!"Kamu bodoh, Samudera Adikara!" omel Seraphine, suaranya gemetar hebat. "Kamu pikir aku marah cuma gara-gara masa lalu kamu?! Iya, aku jijik! Aku benci setengah mati ngebayangin kamu pernah sama cewek lain! Tapi yang bikin aku tambah gila itu tingkah kamu lima hari belakangan ini!"Samudera membiarkan Seraphine memukul dadanya. Ia tidak sedikit pun mencoba menghindar atau menangkis pukulan-pukulan itu."Kamu gak

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 153

    Kamar hotel Seraphine sangat luas, didominasi oleh warna-warna netral dan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap kota Nagoya dari ketinggian. Samudera tersenyum simpul, tahu persis selera mahal istrinya.Pandangan Samudera tidak berhenti pada Seraphine yang kini melepaskan blazer-nya, menyisakan silk camisole berwarna gading dan celana bahan berpotongan tinggi yang menutupi tubuh semampainya.Seraphine berjalan menuju sofa tengah, duduk di sana sambil bersedekap dada dan menatap suaminya. “Duduk, Samudera,” perintah Seraphine dingin.Samudera melangkah mendekat. Bukannya duduk di sofa kosong di sebelah Seraphine, pria itu justru berlutut di atas karpet bulu tepat di depan kaki Seraphine. Kedua tangan besarnya bertumpu di atas paha Seraphine, mendongak menatap wajah istrinya dengan tatapan paling pasrah.Seraphine menatap suaminya dari atas. Membiarkan pria yang dipuja oleh puluhan juta orang di seluruh dunia ini berlutut sukarela di depan kakinya."Sekarang," ujar Seraphine

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 35

    Pagi di Singapura disambut dengan aroma kopi premium dan udara tropis yang segar dari balkon suite hotel tempat mereka menginap. Seraphine sudah bangun sejak pukul tujuh pagi, kebiasaan sebagai CEO tidak membiarkannya tidur terlalu lama meskipun ia sedang berada di masa "liburan paksa". Ia baru saj

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 34

    Begitu bus berhenti di depan sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, Samudera tidak lantas bisa bersantai. Sebagai leader, tanggung jawabnya berlipat ganda. Saat member lain mulai berebut mengambil koper dan kunci kamar, Samudera langsung ditarik oleh Manajer Lee dan tim produksi lokal."Sam, ada pe

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 32

    Bab 32Samudera menutup pintu mobilnya dengan helaan napas berat. Ia berdiri sejenak di samping mobil, merapikan penampilannya sejenak dan menarik napas panjang udara pagi Jakarta yang lembap. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi paket-paket yang sudah disiapkan oleh Seraphine semala

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 31

    Alarm di nakas kamar mereka, berbunyi tepat pukul 04.00 pagi. Samudera adalah yang pertama kali membuka mata. Ia tidak langsung mematikan alarm, melainkan menatap langit-langit kamar sejenak. Menyadari bahwa dalam hitungan jam, ia tidak akan lagi mencium aroma vanilla dan sandalwood yang kini menjad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status