Share

MAS?

Penulis: LilyAnnie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-05 16:47:45

Akash memboyong Asha yang kini menjadi istrinya dan Kinasih–Ibu mertuanya, ke rumah pribadi yang letaknya di luar lingkungan keluarga Kurniawan.

Rumah itu cukup mewah untuk ditinggali sebuah keluarga kecil, meskipun tentu tidak semewah rumah keluarga Kurniawan. Sebelumnya rumah itu hanya dihuni olehnya tanpa pengurus rumah tangga. Dua kali dalam sepekan dia akan memanggil jasa bersih-bersih untuk membersihkan rumah.

“Di bawah ada dua kamar, di atas juga ada dua kamar,” ucap Akash saat memasuki ruang tengah. “Di rumah ini tidak ada ART, biasanya akan ada yang datang membersihkan dua sampai tiga kali sepekan,” lanjutnya. 

“Kamarku di atas, Ibu mau tidur di kamar atas atau bawah, terserah," lanjut Akash.

Meskipun Akash bersikap dingin di hadapan orang lain, tapi dengan Kinasih dia masih menjaga hormatnya. Bukan karena Kinasih adalah ibu mertuanya, tapi karena sejak pertama kali Kinasih masuk ke rumah orangtuanya, sejak itu juga Kinasih memberikan perhatian lebih pada Akash. Bukan sekedar sebagai ART pada anak majikannya, tapi selayaknya perhatian ibu pada anaknya.

“Ibu di kamar bawah saja ya.” Akash mengangguk setuju.

“Saya dimana?” tanya Asha sambil menunjuk dirinya. Akash menaikkan sebelah alisnya, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan mencondongkan badannya sedikit ke kuping Asha.

“Kalau kamu mau menjalani pernikahan ini dengan baik, maka kamu tahu kamu harus tidur dimana kan?” bisiknya sebelum kembali menarik diri. Asha menelan salivanya kasar dan mengangguk pelan.

“Sana ikut suamimu, istirahat di kamarnya.” Asha mengekori Akash ke lantai atas, masuk ke sebuah kamar yang lebih luas dari kamar pembantu di rumah keluarga Kurniawan.

Klik.

Asha melihat Akash mengunci pintu kamar dan mendekat ke arahnya.

“Kamar ini kedap suara, apapun yang terjadi di kamar ini hanya kita berdua yang akan tahu,” ucap Akash dengan nada dingin. “Di luar kamar ini, kita akan terlihat seperti sepasang suami istri, tapi di sini kita punya kehidupan masing-masing.”

Asha diam, menunggu Akash kembali bicara.

“Aku tidur di kasur, kamu tidur di sofa.” Asha melihat ke arah sofa yang ditunjuk Akash. “Di ruang ganti ada satu lemari kosong yang belum di isi, kamu boleh pakai. Tapi jangan sekali-kali menyentuh barang-barang milikku,” lanjutnya membuat Asha mengangguk pelan.

“Jangan berharap aku akan menyentuhmu, ingat kesepakatan kita. Tidak akan ada hubungan fisik antara kita sampai aku katakan kalau kita bisa melakukannya.” Asha menatap Akash yang berjalan ke arah kamar mandi. “Satu lagi,” ucap Akash saat berhenti di depan kamar mandi. “Jangan ikut campur apapun urusanku, statusmu memang istriku, tapi kamu gak boleh masuk dalam duniaku.” 

Hancur hati Asha mendengar kalimat demi kalimat yang dikeluarkan Akash. Tapi sesakit apapun, Asha tidak bisa membalas semua perkataannya. Bukankah dia sudah menyetujui semua itu di hotel sebelumnya.

***

Pukul 03.00 pagi Asha terbangun seperti biasanya. Dilihatnya Akash yang tertidur nyenyak dengan pakaian singlet di kasur sambil memeluk guling.

Asha berdiri, berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia lalu mengambil wudhu dan keluar lalu melaksanakan sholat malam–seperti biasanya.

Dilaksanakannya shalat tahajud dua rakaat, untuk bermunajat dan mengadu pada Tuhannya. Diperlama sujudnya, air matanya menetes tanpa disadari.

Selesai dia mengucapkan salam, Asha memuja-muja Tuhannya, melantunkan beberapa dzikir untuk merayu sang pemilik kehidupan. Setelah itu diangkat kedua tangannya ke udara, membaca istighfar, sholawat dan akhirnya melangitka doa.

“Ya Allah, aku percaya ada kebaikan dalam tiap takdir yang Kau tetapkan pada tiap makhluk-Mu.”

"Termasuk pernikahan ini, aku tahu kami memulainya dengan buruk, tapi Kau pasti punya cara untuk menjadikan pernikahan ini menjadi lebih baik.”

“Jadikanlah kami pasangan yang saling mencintai dan saling mengasihi karena-Mu. Berikanlah kami keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.”

“Ya Allah, jadikanlah pernikahan kami sebagai ladang amal dan kebaikan. Berikanlah kami cinta dan kasih sayang yang tulus, serta kekuatan untuk saling menopang dan memahami satu sama lain. Aamiin yaa Allah."

Selesai melaksanakan sholat sunnah, Asha kembali ke sofa tempatnya beristirahat.

“Aku gak tahu apakah pernikahan ini akan berakhir bahagia kelak, apakah akan ada cinta antara kita atau malah hanya permusuhan. Tapi Allah memberikanku gelar sebagai seorang istri dilengkapi dengan tanggung jawab yang harus aku emban. Tidak apa kalau kewajibanmu tidak kamu tunaikan dalam waktu dekat, tapi aku punya kewajiban yang harus aku lakukan Kash,” lirih Asha pada dirinya sendiri sambil melihat suaminya yang masih terlelap.

“Jadi maaf kalau aku memutuskan untuk melanggar kesepakatan yang kita buat, aku akan berjuang dalam pernikahan ini,” lanjutnya.

Asha lalu membereskan sajadah dan mukenanya, lalu kembali membaringkan badannya di sofa. 

“Tuntun aku Allah, permudah jalanku, apapun akhirnya nanti aku serahkan pada-Mu ya Rabb.”

Masih ada waktu sedikit untuk beristirahat sebelum adzan subuh menggema, maka Asha memutuskan untuk kembali tidur.

***

Pagi pukul 07.00.

Asha yang sejak subuh tadi menyibukkan diri di dapur kembali masuk ke kamar dan membawa segelas kopi dan air putih untuk Akash.

Kata Ibu, Akash tidak terbiasa sarapan berat, dia lebih suka menyesap secangkir kopi hitam dan itupun dilakukan di dalam kamar–sendiri.

Saat masuk, Akash sedang ada di kamar mandi. Setelah menaruh kopi, Asha lekas membuka lemari dan mengambil pakaian ganti untuk Akash. Kemeja biru langit, jas dan celana hitam serta dasi biru gelap.

Asha meletakkannya di atas kasur sebelum Akash keluar dari kamar mandi. Setelah itu, dia memilih keluar kamar dan melanjutkan pekerjaannya merapikan rumah bersama Kinasih.

Bersamaan dengan itu Akash keluar dari kamar mandi dan menghirup wangi kopi. Kakinya melangkah ke dekat nakas lalu menyesap kopi yang sudah disiapkan.

“Pas,” lirihnya sambil mengembalikan gelas kopi ke atas nakas.

Saat dia berbalik badan berniat berjalan menuju ruang ganti, sebelah alisnya terangkat saat melihat pakaiannya sudah siap di atas kasur.

Akash tidak berpikir panjang, dia lekas memakai semua pakaian yang sudah disiapkan. 

“Serasi,” pikirnya saat mematut diri di depan cermin.

Selesai berpakaian Akash menghabiskan kopinya, mengambil tas kerja dan keluar dari kamar. Melangkah santai ke ruang depan dan mengambil sepatunya yang masih tertata rapi di rak.

Matanya melirik sekilas pada jajaran sepatu di rak. Bersih, rapi bak belum pernah disentuh debu meskipun hanya secuil.

Satu sudut bibirnya tertarik, meski tidak lama. Karena beberapa detik kemudian Asha datang dan bicara.

“Mas Akash mau bawa bekal ke kantor gak?”

Akash melirik Asha.

“Mas?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   PULANG KE RUMAH

    Setelah hampir satu tahun tinggal di rumah keluarga Kurniawan, melewati banyak cerita seru yang tidak terduga karena rumahnya direnovasi. Pada akhirnya, Akash bisa bernapas lega dan membawa kembali istri, ibu mertua juga kedua anaknya kembali pulang.Rumah itu sudah memiliki wajah yang baru saat mobil berhenti tepat di depan pagar hitam elegan yang kini lebih tinggi dan kokoh. Bangunan rumah tampak lebih besar, dengan sebuah taman bunga dan kolam kecil yang mempercantik tampilan depan rumah.Saat Asha turun dari mobil, bibirnya tidak henti mengucap syukur dan haru saat melihat rumah di hadapannya. “Ini rumah kita, Mas?” tanyanya pelan.“Iya, rumah kita, surga kita,” balas Akash tepat di telinga Asha.“Maa syaa Allah,” bisik Asha.“Waaah, rumahnya besar ya, Yah.” Kali ini, Atha yang ikut takjub. Pria kecil itu bergerak setengah berlari di halaman yang cukup luas untuknya berekspresi. “Waaaah, boleh ajak teman-teman ke sini nanti, Yah?” tanyanya sambil setengah berteriak.Pria kecil yan

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   BAB 298 - 

    Waktu beranjak malam saat Sandy dan anak-anaknya sampai di rumah keluarga Kurniawan. Saat itu, yang datang ternyata bukan hanya mereka. Gema, Bima dan Reksa ikut datang atas undangan Candra.“Selamat datang!” ucap anak-anak antusias menyambut Sandy dan yang lain.Atha sigap mencium punggung tangan mereka, Ara melompat ke arah ayahnya, sementara Kana memeluk kaki ayahnya. Sandy hanya bisa menyungging senyum sambil menatap iri, karena tidak ada yang menyambutnya.“Sepertinya, Kael harus cepat-cepat bisa lari, biar Opa juga ada yang sambut,” kekehnya.Atha beralih dan mencium punggung tangan pria tua itu, begitupun Ara dan Kana yang melepaskan ayah mereka dan beralih memeluk kakek mereka.“Opa menang banyak nih,” ucap Arjuna sambil tertawa kecil.Gema, Bima dan Reksa ikut tertawa melihat pemandangan di hadapannya. Ada rasa yang hangat mengalir di hati mereka saat itu. Gema telah lama kehilangan istrinya, dia punya anak dan cucu, tapi tidak ada yang sehangat ini. Bima, belum pernah membuk

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   BAB 297 - 

    Hari itu, kesibukan hanya terjeda saat anak-anak beristirahat, sementara untuk para ibu di dalam dapur, suasana makin sore justru makin hangat. Terlebih ketika Nania datang dengan membawa bahan makanan lain yang siap diolah.Sementara itu, Kanaya yang saat itu hampir berumur dua tahun langsung bergabung dengan para sepupunya di dalam ruang baca yang sudah disulap jadi tempat bermain.“Hai semua!” Suara cemprengnya menggema saat memasuki ruang baca membuat dua saudara sepupunya menoleh cepat dan berlari menyambutnya. Sementara Asha tetap fokus pada si kecil Kaelan yang saat itu duduk di bouncer. Sepertinya, pria kecil itu jadi kekurangan jam tidurnya karena kehebohan ketiga sepupunya.“Kana bawa cemilan nih, Mas Atha mau?” Dibanding dua kakak sepupunya, Kanaya memang yang paling cepat belajar bicara. Hampir semua huruf dan kosakata sudah jelas terdengar saat dia bicara.“Cemilan apa? Mas Atha kan gak boleh sembarangan loh makannya,” balas Nayara dengan nada posesifnya.“Ini free glu-gl

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   BAB 296 - 

    Arjuna berdiri dengan pelan. Wajahnya tenang, matanya menatap semua yang hadir dengan penuh rasa hormat. Ia mengenakan setelan gelap yang sederhana, tetapi karisma dan wibawanya membuatnya terlihat gagah dan matang.Baru saja namanya terpilih sebagai CEO baru, berdampingan dengan Bima yang akan menjadi wakilnya.Keduanya melangkah ke depan, berdiri berdampingan dan terlihat serasi, meyakinkan, dan siap memimpin.Di belakang mereka, Maha dan Reksa juga berdiri menerima posisi baru yang akan mereka emban. Maha akan menduduki posisi sebagai COO – Chief Operating Officer, mengelola seluruh operasional harian perusahaan. Sementara Reksa ditempatkan sebagai Chief Business Development Officer, memimpin strategi pertumbuhan pasar, akuisisi, dan ekspansi.Hasil ini seolah mengamini berita di media besar yang sudah memprediksi Arjuna sebagai CEO, tapi tidak ada yang menyangka kalau Bima akan naik menjadi Wakil CEO, karena orang lainnya yang diperkirakan memiliki kesempatan besar untuk naik adal

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   PEMILIHAN CEO

    Dalam dua bulan terakhir, telah dilakukan evaluasi pada keempat calon CEO yang telah terpilih. Kabar baiknya, ternyata terobosan yang dilakukan CPM dalam memilih CEO berikutnya ternyata mendapat respon positif. Terbukti dengan nilai saham yang mengalami kenaikan setelah nama keempatnya diumumkan ke publik.Nama Bima dan Reksa cukup menjadi sorotan. Karena tidak seperti biasanya, CPM kali ini membawa nama baru, yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan. Meskipun begitu, beberapa investor nampak mempertanyakan mengapa tidak ada nama Akash diantara semua kandidat yang terpilih.Bahkan Rama–CEO Alpha–salah satu rekanan bisnis besar CPM juga mempertanyakan hal yang sama.“Aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan kenapa menolak tawaran itu Ram, jadi tolong jangan ditanyakan lagi,” ucap Akash saat menerima kedatangan Rama di rumahnya.Rama terkekeh. “Setidaknya aku tahu kalau kamu tidak didiskriminasi,” ucapnya.Akash tertawa. “Tidak sama sekali, mereka sudah memasukkan namaku dalam kandida

  • PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG   PERASAAN REKSA

    Sejak pengumuman resmi mengenai empat calon CEO baru, suasana kantor CPM menjadi jauh lebih sibuk. Suasana yang biasanya tenang teratur, sekarang terasa lebih hidup dengan persaingan sehat yang hadir.Masing-masing divisi yang mengusung nama Chief eksekutif mereka memiliki atmosfer yang lebih panas dibanding hari-hari sebelumnya.Hanya ada satu divisi yang terlihat cukup tenang di tengah riuhnya persaingan kalangan atas.“Kenapa Pak Akash gak masuk bursa pemilihan ya?” tanya seorang staff di divisi Perencanaan dan Engineering yang dipimpin oleh Akash.“Aku dengan Pak Akash menolak,” jawab yang lain.“Sayang banget ya, padahal Pak Akash sudah banyak banget kontribusinya sejak memimpin divisi kita. Lihat kan berapa banyak projek yang kita kerjakan sejak dipegang Pak Akash? Jauh lebih banyak loh dibanding dulu.”Sikap menyayangkan itu tidak hanya datang dari staff divisi, bahkan Reksa yang namanya disebut-sebut menjadi salah satu kandidat yang kuat juga menyayangkan.“Harusnya kamu maju

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status