INICIAR SESIÓNJangan sampai terulang lagi ya Niken. Malu tahuu
Baru saja keluar dari tempat makan, ponsel. Riana berdering. Wajahnya berubah tegang saat menerima telepon barusan.“Kamu gapapa kan, pulang sama Mas Dante?” Riana menepuk pelan lengan Niken.Sedikit terperanjat. Niken mengangguk setuju meski hatinya tak berkata begitu.“Mas, Aku duluan ya.” Riana pamit pada Dante lantas bergegas pergi.Niken hanya bisa memandangi Riana yang semakin menjauh, tanpa bisa menahan.“Jadi toko bayinya dimana?”“Saya gak tahu, Pak. Saya belum pernah kesini sebelumnya,” kata Niken berkata jujur.Pusat perbelanjaan yang berada di tengah kota dengan segala brand ternama di dalamnya, sudah pasti orang-orang tertentu saja yang berani ke sini.Dante melihat ke segala arah. Netranya menyusuri setiap toko yang tertangkap matanya.“Ada di lantai tiga.” Dante mendorong lebih dulu stroller itu menuju lift, diikuti Niken yang menggendong Evan di belakangnya. Setibanya di lantai tiga, mereka masuk ke salah satu toko bayi yang berada tak jauh dari lift. Begitu masuk ke
“Bos.” Suara Azka membuat Dante berpaling. Sementara itu Niken yang tengah berjalan menuju sofa, menghentikan langkahnya.Azka berpaling menatap Niken dan menyapanya. Senyum pria itu begitu manis, membuat Dante yang melihat hal itu tidak suka.“Bawa Evan ke kamar.”Suara Dante barusan spontan membuat Niken melanjutkan langkahnya. Pun saat Niken melintas di depan Azka, pria itu masih berusaha menyapanya. Sembari menggendong Evan, Niken hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala, lalu masuk ke kamar utama.Dante menatap tajam ke arah Azka yang perlahan mendekat ke arahnya.“Kamu kesini mau ngapain? Kalau cuma mau menarik perhatian dia– gak usah,” ujar Dante menunjuk kamarnya, tempat Niken berada.Azka memamerkan giginya lantas duduk dengan jarak yang cukup dekat dengan Dante. “Maaf, Bos. Habisnya penasaran sama Niken,” ucap Azka blak-blakan membuat Dante menatapnya penuh emosi.Azka kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan beberapa foto yang bisa membantu memperc
“Jangan bilang kalau ini Pak Dante,” gumam Niken dalam hati. Tak berani bergerak, ia membiarkan sejenak tangannya berada dalam genggaman orang itu. Berharap tangannya akan segera dilepas, nyatanya tidak. Ia lalu membalikkan badannya dan menatap ke arah tangannya. Benar saja itu Dante. Entah kapan pria itu sampai di rumah. Tidak terdengar suaranya sama sekali. Niken sempat tertegun beberapa detik, saat menatap wajah Dante yang tampak letih. Tidurnya sangat dalam sehingga bisa melakukan sesuatu yang tidak ia sadari. “Huffhh….” Niken menarik nafas lega saat tanganya terbebas bersamaan dengan posisi tidur Dante yang berubah. Pria itu berguling agak ke tengah memberikan cukup ruang untuk seseorang tidur di sampingnya, dekat dengan box Evan. Tunggu. Namun hal itu tidak mungkin dilakukan Niken. Ia tidak seberani itu untuk tidur di kasur yang sama dengan Dante. Lain ceritanya kejadian tempo lalu. Meski sudah diberikan izin untuk tidur di kamar utama, hal itu tidak akan Niken lakukan kala
Dari tempatnya duduk bersama Evan, Niken bisa melihat kalau Dante baru saja keluar kamar. Itu artinya ia bisa membawa Evan ke kamar utama untuk mandi. Wanita itu terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan melihat peralatan mandi Evan sudah siap di dekat bak mandinya. Sudah dapat dipastikan kalau ini adalah pekerjaan Dante. Penuh kelembutan Niken membuka pakaian Evan dan membuang popoknya ke dalam bak sampah. “Kita mandi dulu ya, Sayang. Coba lihat… semuanya sudah disiapin sama papanya Evan. Jadi anak ganteng ini tinggal mandi.” Niken lalu mengusap setiap inci kulit Evan dengan sabun bayi. Sabun yang memiliki wangi yang begitu menenangkan jiwa. Selesai membilas Evan dengan air hangat, ia membungkus bayi mungil itu dengan handuk dan membawa ke atas tempat tidur. Senyum tak lepas dari wajah Niken menatap betapa lucu dan beruntungnya Evan. Meski belum sempat merasakan kasih sayang ibu kandungnya, tapi ia tinggal bersama ayah yang seorang dokter lengkap dengan segala fasilitas dan kenya
Tiba di rumah hampir pukul setengah sepuluh, Niken berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak sabar menidurkan Evan di dalam boxnya. Sejak keluar dari rumah sakit, entah kenapa ia jadi sangat mengantuk. Langkahnya lalu melambat saat hampir tiba di kamar. Rasanya seperti ada orang yang berjalan tepat di belakangnya. Berhenti sebentar, Niken kemudian memutar badannya. Matanya membulat melihat Dante berdiri persis di belakangnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Apa yang sedang Dante lakukan hingga harus mengikutinya sampai ke depan kamar, pikir Niken dalam hati. “Evan gak demam kan?” Pertanyaan konyol bagi seorang dokter yang sebenarnya tahu kalau vaksin yang diterima anaknya adalah vaksin diatas standar. Vaksin yang tidak akan menimbulkan efek samping seperti demam. Untung saja Niken awam soal itu. Reflek Niken menempelkan punggung tangannya ke dahi Evan yang masih tidur dalam gendongannya. Niken menggeleng. “Suhu badannya normal, Pak.” Melihat Dante yang masih be
Selang beberapa menit, perawat datang membawa catatan di tangannya, disusul Niken dan Evan. Dokter Akbar membaca catatan yang diberikan perawat tadi. Bibirnya tersenyum dengan kepala yang mengangguk kecil. Dokter itu lantas meminta perawat tadi menyiapkan peralatan dan vaksin untuk Evan. “Apa?” Dante menatap Akbar penuh tanya. Akbar lalu menunjukkan isi kertas itu pada Dante. Alis Dante berkerut lalu mengambil kertas dari tangan Akbar. “Sepertinya Evan cocok dengan susunya.” Akbar melirik ke arah Niken dan Dante bergantian dengan senyum menggoda. Tak menggubris Akbar, Dante memperhatikan catatan itu. Membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada di dalamnya. Bibir Dante melengkung– senang karena berat dan tinggi badan anaknya berangsur naik. Dibandingkan saat ia lahir, berat badannya sekarang naik cukup signifikan. Dari arah tempat tidur terdengar suara tangisan. Evan baru saja selesai divaksin. “Bayinya di kasih susu aja, Bu,” ujar perawat itu tersenyum. Usul perawat itu benar







