Share

15. Apron Itu

Author: Lystania
last update publish date: 2026-06-12 23:28:41
Baru saja keluar dari tempat makan, ponsel. Riana berdering. Wajahnya berubah tegang saat menerima telepon barusan.

“Kamu gapapa kan, pulang sama Mas Dante?” Riana menepuk pelan lengan Niken.

Sedikit terperanjat. Niken mengangguk setuju meski hatinya tak berkata begitu.

“Mas, Aku duluan ya.” Riana pamit pada Dante lantas bergegas pergi.

Niken hanya bisa memandangi Riana yang semakin menjauh, tanpa bisa menahan.

“Jadi toko bayinya dimana?”

“Saya gak tahu, Pak. Saya belum pernah kesini sebel
Lystania

Jangan sampai terulang lagi ya Niken. Malu tahuu

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yuhuu cerita baru... mumpung eps masih sedikit kita marathon bacanya. semoga alurnya gak terlalu panjang n belibet kek yg sebelah ya kak. makasih banyak updatenya, ditunggu update selanjutnya:) wuidihh dokter Dante dpt bonus terus ini dari Niken wkwkwkwk. benar2 menggoda iman ya dok:D
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    88. Jangan Dibahas

    “Pak Dante.” Ucapan Niken langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah dingin. Sudah nyaman dipanggil dengan sebutan mas, rasanya aneh di telinga Dante saat Niken mengucapkan kata pak. Itu sengaja ia lakukan agar Dante bisa sedikit sadar. “Habisin ini dulu,” ucap Dante sembari menyendok dessert coklat itu lagi. Bergantian– menyuap Niken dan dirinya sendiri. Jujur dessert ini memang enak, tapi kalau kebanyakan jadinya bikin perut kurang nyaman. “Saya sudah, Pak,” ucap Niken sembari mengelus perutnya yang mulai tidak nyaman. Refleks Dante ikut mengelus perut Niken. “Apa sih, Mas?” Niken memukul pelan punggung tangan Dante sembari melotot. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka dengan Riana, Evan, dan Bima berdiri di depannya. Untuk beberapa saat mereka diam memperhatikan Niken dan Dante, berharap mereka sadar tapi nyatanya tidak. “Pantas ya, Mas,” celetuk Riana masuk membuat Niken dan Dante terperanjat. Sedikit mendorong Dante, Niken berdiri– sedikit jauh dari kursi Dante.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    87. Berdua Di Ruangan Pribadi

    “Sebentar Mima keluar dulu ya, Sayang,” pamit Niken yang telah rapi, mencium Evan yang masih nyenyak tidur. Ia keluar kamar dengan sangat pelan lantas menyusul Dante yang pasti sudah berada di ruang makan. Duduk di salah satu kursi, Dante tampak serius menatap ponselnya. Sementara di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang belum disentuh sama sekali olehnya. “Mas, mau makan apa?” tanya Niken berdiri di samping Dante siap melayani suaminya itu. “Memangnya kamu gak mau makan sama-sama disini sama saya?” Niken menggigit bibir bawahnya. “Evan masih tidurkan?” tanyanya lagi memastikan. Wanita itu mengangguk pelan seraya menarik kursi tepat di samping Dante. Saat Dante membalik piring yang ada di depannya, Niken reflek berdiri hendak mengambilkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari piring mereka. Masih bisa dijangkau dalam posisi duduk. “Duduk aja. Kamu gak usah tegang kayak gitu.” Mendengar itu Niken kembali duduk, tapi dengan kepala yang menunduk– malu sendir

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    86. Siapin Pakaian

    “Hati-hati di jalan, Mbok. Titip salam buat keluarga,” kata Dante ikut mengantar sampai ke depan rumah. Ia sudah berpesan pada Azka untuk memberikan sejumlah uang pada Mbok Narti untuk membantu biaya pengobatan orang tua Mbok Narti di kampung. “Cepat sembuh ya buat orang tuanya, Mbok. Mbok Narti cepat balik,” ucap Niken tersenyum tulus sambil mengelus punggung wanita paruh baya itu. Mbok Narti mengangguk seraya berpamitan. Berdiri tak jauh darinya, Niken melihat kesedihan di wajah Mbok Tini. Bagaimanapun juga mereka berdua selalu sama-sama, pasti ada rasa kehilangan kalau salah satu pergi. Walau sebenarnya cuma untuk beberapa hari saja. — Menyimpan peralatan makan Evan ke dapur, Niken menghampiri Mbok Tini yang tengah menyiapkan makan malam. Tak tega melihat wanita itu kewalahan, reflek ia membantu memindahkan makanan ke mangkuk dan piring. “Aduh biar Mbok aja, Mbak,” kata Mbok Tini tidak enak. “Gapapa, Mbok,” sahut Niken membawa mangkuk dan piring makanan ke meja makan, kemudian

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    85. Ngigau

    Pasrah. Dante hanya pasrah sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sesekali pria itu terbangun karena merasa kram pada lengannya. Sebenarnya ia bisa saja menarik lengan– bahkan menjauh dari Niken, tapi hal itu tidak ia lakukan karena jujur saja ia merasa nyaman dengan posisi itu. Rasa yang tidak pernah ia dapatkan di pernikahannya dulu. Merasa ada sesuatu yang menempel di dahinya– berkali-kali, Niken lantas memaksa matanya untuk terbuka. Sudah jelas kalau itu adalah bibir Dante yang mengecup dahinya. “Pak … eh, Mas,” ucap Niken tersadar. Ia memperhatikan Dante lalu memperhatikan dirinya sendiri. Posisi mereka memang sangat dekat, hingga apa saja bisa terjadi di antara mereka berdua. “Aduh maaf, Mas. Saya gak sengaja ini,” kata Niken tidak enak berusaha menjauh. “Gapapa.” Dante tak mengizinkan Niken menjauh. “Saya beneran gak sengaja, Mas,” ucapnya lagi mengubah sedikit posisinya– mencoba memberi jarak. Namun semakin Niken mencoba untuk menjauh, Dante malah melakukan ha

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    84. Pelukan Tanpa Sadar

    Pagi ini Agatha bangun lebih pagi. Ia sudah rapi saat keluar dari kamar, lengkap dengan tas yang disampirkan di bahunya. Anita yang baru saja selesai sarapan, heran melihat anaknya sudah rapi sepagi ini. Tidak seperti biasanya. “Kamu mau ikut Mama ke kantor? Pagi-pagi begini sudah rapi,” celetuk Anita merapikan beberapa map yang ada di meja. “Enggak lah. Ngapain aku ke kantor? Aku mau lihat Dante, Ma,” ucap Agatha membuat Anita berpaling menatap anaknya. Wanita paruh baya itu heran. Sudah berkali-kali ia mengingatkan Agatha agar menjauh dari Dante, tapi anaknya itu tetap saja melanggar. “Apa sih yang kamu cari, Agatha? Kamu itu sudah bercerai dari dia! Tolong jangan bikin situasi kita makin sulit!” Agatha terdiam sejenak kemudian mengatakan kalau ia ingin menemui anaknya. Terang saja Anita menggeleng cepat. Ia yakin itu bukan alasan utama Agatha. “Kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau repot soal anak. Lalu kenapa sekarang mau ketemu sama dia? Kamu jangan cari alasan y

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    83. Rekening Gendut

    “Kamu ngapain?” ulang Dante berjalan masuk dan menutup pintu kamuflase itu. Niken menegang sembari mengangkat tubuhnya– berdiri lantas berjalan menjauh dari ranjang. Langkahnya gemetar, menatap pintu yang tertutup itu. Cepat Dante meraih tangan Niken, menahan laju langkah istrinya itu. “Itu … anu … itu, Pak,” ucap Niken terbata-bata, “tadi saya mau lihat-lihat aja. Eh tahu-tahu malah masuk ke sini,” lanjut Niken takut-takut. “Penasaran?” Dante menarik Niken sedikit lebih dekat dengannya. Tentunya hal itu membuat Niken jadi ketar ketir. Apalagi saat ia bisa merasakan kokohnya dada dokter itu. “Gak, Pak,” sahut Niken menggelengkan kepala. Jantung hampir lepas karena detaknya yang begitu kencang. Belum lagi kakinya mulai lemas. “Kita sebaiknya keluar aja, Pak,” pinta Niken tak mau lama-lama berduaan di ruangan ini. Ia tak tahan dengan tatapan dan sikap Dante belakang ini. Semenjak menikah ada-ada saja sikap pria itu yang membuat jantung berolahraga. “Kamu bisa gak sih stop panggi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status