Partager

19. Dipaksa Pulang

Auteur: Lystania
last update Date de publication: 2026-06-17 12:04:41
Ada rasa kesal karena Riana tak langsung menjawab pertanyaannya, malah bermain teka-teki. Secara tidak langsung Riana menyuruh Dante untuk mengecek ponselnya. Pria itu lalu merogoh saku celananya.

[Mas, aku jalan dulu sama Niken dan Evan.]

Itu adalah pesan yang Riana kirimkan padanya pukul lima sore. Dante terdiam sejenak, mencoba mengingat hal apa yang ia lakukan saat itu.

Saat itu ia tengah visit ke beberapa pasien, bukan sedang operasi seperti yang Riana katakan. Selesai visit pasien, ia k
Lystania

Pak Dokter kesambet apa nih kira-kira, kok gitu banget yaa(•ˋ _ ˊ•)

| 3
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
carsun18106
eh iya dante blm resmi cerai ya? cepetan lah resmikan perceraian itu, sekaligus urus gak asuh anak, biar kelak ibunya evan ngga seenaknya datang trs minta anakny
goodnovel comment avatar
carsun18106
udh ada rasa tp msh bingung ya pak dok
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
idih marah2, ntar bucin Lo pak baru tau rasa
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    19. Dipaksa Pulang

    Ada rasa kesal karena Riana tak langsung menjawab pertanyaannya, malah bermain teka-teki. Secara tidak langsung Riana menyuruh Dante untuk mengecek ponselnya. Pria itu lalu merogoh saku celananya. [Mas, aku jalan dulu sama Niken dan Evan.] Itu adalah pesan yang Riana kirimkan padanya pukul lima sore. Dante terdiam sejenak, mencoba mengingat hal apa yang ia lakukan saat itu. Saat itu ia tengah visit ke beberapa pasien, bukan sedang operasi seperti yang Riana katakan. Selesai visit pasien, ia ke ruangan dokter bersama, lantas mereka sepakat untuk makan steak di luar. “Lalu Evan dimana?” tanya Dante lagi. Riana membersihkan mulutnya dengan tisu. “Mereka ada di nursery room.” Riana menunjukkan arah ruangan itu dengan dagunya. Tanpa komando, Dante berjalan ke arah yang Riana tunjuk tadi. Dari luar jelas terlihat sebuah ruangan dengan pintu berwarna cerah bertuliskan nursery room– ruangan yang sedang ia cari. Ia tak mungkin langsung masuk dan menemui Niken di dalam. “Permisi, Pak. Ada

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    18. Restoran

    Niken kembali duduk di kursi, bersamaan dengan datangnya Mbok Tini yang merapikan peralatan makan mereka. Rasanya seperti sedang di sidang karena telah melakukan kesalahan yang besar. Ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap Dante. “Jadi kamu bilang apa sama Riana?” Dalam tunduknya, mata Niken membulat. Ia menggigit bibir bawahnya. Tak tahu harus bilang apa. Dante memundurkan sedikit kursi, meletakkan salah satunya di atas meja– menunggu jawaban dari wanita yang ada di depannya itu. Dua jemari tangannya mengetuk meja kaca, karena Niken tak kunjung bersuara. Satu kali ketukan. Dua kali ketukan. Di ketukan ketiga Niken mengangkat wajahnya. “Kamu takut sama saya?” Dante mengeraskan rahangnya menatap Niken. Nafasnya memburu, karena memang ia takut. Ia masih tak bersuara. “M-maaf, Pak.” Suaranya terbata. “Kamu minta saya pindah dari kamar saya sendiri? Maksudnya apa?” Rasanya Niken ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia sama sekali tidak pernah berpikir

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    17. Makan Siang Bersama

    Dante mengambil bantal dan menyandarkan punggungnya. Nafasnya masih memburu karena perdebatan kecil dengan Riana tadi. Sebenarnya ia tidak pernah dan tidak berniat untuk membuat Niken tidak nyaman berada di kamarnya. Toh ia selalu mengecek CCTV dulu sebelum masuk ke kamar. Kalaupun ada satu ketika ia tiba-tiba masuk dan membuat Niken terkejut, ia semua diluar kendalinya. Terdiam beberapa saat, jemari tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur. Pria itu membuka aplikasi pesan dan membaca pesan dari Azka. [semuanya, termasuk rekaman cctv sudah saya kiriman ke Pak Broto.] Dante hanya mengirimkan dua huruf– ya, untuk membalas pesan dari Azka barusan. Ia kemudian beralih ke aplikasi lain. Beberapa saat layarnya menampilkan garis melingkar yang berputar, kemudian layarnya berubah menampilkan kondisi kamarnya. Tampak Niken tengah mondar-mandir sambil menggendong Evan. Keningnya berkerut melihat hal itu. Ia lantas ke menu pengaturan dan menekan tombol mic

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    16. Ceroboh

    Niken masih berdiri di depan cermin. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak ingin dilabeli sebagai wanita murahan apalagi disebut wanita penggoda– dengan statusnya yang seorang janda. Tapi tunggu dulu, meskipun ia seorang janda bukan berarti ia wanita yang suka mengumbar tubuh untuk menarik lawan jenis. Dari arah ruang tengah, terdengar suara televisi yang menyala. Niken sempat menengok, memastikan siapa yang sedang berada di sana. Bergegas ia masuk ke kamar setelah tahu kalau Dante yang berada di sana. “Selamat malam, Sayang.” Niken menempelkan dua jarinya di bibir, kemudian mendaratkan dua jarinya tadi ke pipi Evan. Ia merebahkan diri diatas kasur. Merasakan lembutnya permukaan kasur dengan tangannya, Niken memejamkan mata. Nafasnya terdengar teratur hingga akhirnya ia terlelap. Dalam tidurnya ia merasa, rambutnya sedang dibelai oleh seseorang. Begitu nyaman. Bibirnya melengkung manis merasakan belaian yang cukup lama itu. Belaian yang tak pernah ia rasakan saat berumah tangga dulu

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    15. Apron Itu

    Baru saja keluar dari tempat makan, ponsel. Riana berdering. Wajahnya berubah tegang saat menerima telepon barusan. “Kamu gapapa kan, pulang sama Mas Dante?” Riana menepuk pelan lengan Niken. Sedikit terperanjat. Niken mengangguk setuju meski hatinya tak berkata begitu. “Mas, Aku duluan ya.” Riana pamit pada Dante lantas bergegas pergi. Niken hanya bisa memandangi Riana yang semakin menjauh, tanpa bisa menahan. “Jadi toko bayinya dimana?” “Saya gak tahu, Pak. Saya belum pernah kesini sebelumnya,” kata Niken berkata jujur. Pusat perbelanjaan yang berada di tengah kota dengan segala brand ternama di dalamnya, sudah pasti orang-orang tertentu saja yang berani ke sini. Dante melihat ke segala arah. Netranya menyusuri setiap toko yang tertangkap matanya. “Ada di lantai tiga.” Dante mendorong lebih dulu stroller itu menuju lift, diikuti Niken yang menggendong Evan di belakangnya. Setibanya di lantai tiga, mereka masuk ke salah satu toko bayi yang berada tak jauh dari lift. Begitu

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    14. Makan Di Luar

    “Bos.” Suara Azka membuat Dante berpaling. Sementara itu Niken yang tengah berjalan menuju sofa, menghentikan langkahnya. Azka berpaling menatap Niken dan menyapanya. Senyum pria itu begitu manis, membuat Dante yang melihat hal itu tidak suka. “Bawa Evan ke kamar.” Suara Dante barusan spontan membuat Niken melanjutkan langkahnya. Pun saat Niken melintas di depan Azka, pria itu masih berusaha menyapanya. Sembari menggendong Evan, Niken hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala, lalu masuk ke kamar utama. Dante menatap tajam ke arah Azka yang perlahan mendekat ke arahnya. “Kamu kesini mau ngapain? Kalau cuma mau menarik perhatian dia– gak usah,” ujar Dante menunjuk kamarnya, tempat Niken berada. Azka memamerkan giginya lantas duduk dengan jarak yang cukup dekat dengan Dante. “Maaf, Bos. Habisnya penasaran sama Niken,” ucap Azka blak-blakan membuat Dante menatapnya penuh emosi. Azka kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan beberapa foto yang bisa membantu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status