Share

96. Sampai Di Rumah

Author: Lystania
last update publish date: 2026-10-06 20:56:10
Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya.

“Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tang
Lystania

iya, lusa sebentar lagi kok dok xixixi

| 8
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk tp berharap kakak author updatenya besok lagi, bukan ikutan lusa juga kek harapan Dante. xixixixi mksh updatenya kakak syng:*
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    96. Sampai Di Rumah

    Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    95. Mendadak Kedatangan Tamu

    “Saya? Kenapa?” Niken menarik tangannya seraya mengambil jarak dari suaminya. Namun semakin ia menjauh, pria itu juga semakin mendekatinya. “Memangnya saya bau jadi kamu jauh-jauh dari saya?” Dante membaui badannya lalu melemparkan pandangan pada ibunya Evan itu. Menggelengkan kepala, hendak beranjak dari sofa tapi Dante meraih tangan Niken– menyentakkannya hingga wanita itu sukses mendarat di dalam pangkuan Dante. “Saya mau istirahat, Mas.” Niken berusaha melepaskan diri. Netranya menatap Dante dengan mata ngantuk. “Ya sudah ayo kita tidur,” ajak Dante tapi tak bergerak dari posisinya. Ia menatap Niken penuh arti. “Memangnya Mas Dante mau tidur sama kami bertiga? Tidur sendiri lah!” seru Niken memukul pelan tangan Dante berharap suaminya itu melepaskannya. Dante berdecak sembari menggelengkan kepala. Tangannya menyusup ke bawah paha Niken lantas mengangkatnya– masuk ke dalam kamar. “Saya mau sama Evan, Mas,” kata Niken saat Dante menurunkannya dengan lembut di atas kasur

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    94. Diam-diaman

    Setelah mengatur ulang jadwalnya di rumah sakit, pagi ini mereka pergi menuju puncak untuk merayakan ulang tahun Evan. Sebelumnya Riana sudah memesan satu villa untuk mereka menginap di sama sampai hari minggu. Memasukkan tas ke dalam bagasi, mereka pamit lantas pergi. Dante sengaja memilih pergi di hari jumat pagi untuk menghindari macet. Sebelum masuk tol, mobil yang Dante kemudikan melipir di salah satu minimarket untuk membeli makanan ringan untuk menemani perjalanan mereka. “Biar aku yang jaga Evan di mobil,” kata Riana yang duduk di kursi belakang, bersama Evan di carseat. Mau tak mau Niken turun menemani Dante masuk ke dalam minimarket. Membawa keranjang di tangannya, Niken mengikuti kemana kaki Dante melangkah. “Kamu gak mau apa-apa?” Dante berbalik menatap Niken yang sedari tadi tidak mengambil apa-apa. Terus-terusan dilihat oleh Dante, ia lalu mengambil beberapa snack dan minuman secara acak. Kembali berjalan menyusuri etalase, saat melihat minyak telon ia teringat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    93. Wira Tahu

    Tangannya bergerak– meraba kedua sisinya. Tak ada siapa-siapa. Niken terbangun hanya sendirian di atas kasur. Netranya yang masih berat, ia paksa untuk terbuka. “Kemana?” Ia menyusuri setiap sudut kamar, tapi tidak menemukan Dante. Turun dari tempat tidur, Niken berjalan ke arah jendela kaca dan membuka sedikit gordennya. Terlihat pohon dan dedaunan diluar basah, sepertinya tadi malam hujan. Ia menghela nafas berkali-kali. Kegusuran tadi malam masih saja menghantuinya. Ada sedikit rasa bersalah tapi– “M-mas.” Wanita itu tercekat saat Dante tahu-tahu sudah memeluknya dari belakang. Dengan perasaan takut ia menoleh– mendongak menatap suaminya. Pria itu tersenyum. Untuk beberapa detik mereka saling menatap, hingga Niken lebih dulu mengalihkan pandangannya. “Saya siapin pakaian buat Mas Dante ya,” kata Niken mendorong pelan dada suaminya yang masih basah. Dari depan pintu terdengar Riana. “Aku tutup lagi, tenang aja!” seru Riana menutup pintu tak ingin mengganggu. Niatnya ingin men

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    92. Berdua Saja

    Memastikan dirinya sudah terlihat rapi di depan kaca, Niken memutar kunci pintu lantas keluar. Baru satu langkah keluar dari kamar mandi, detak jantung berpacu cepat saat netranya menangkap bayangan seorang pria yang tidak mengenakan baju. Keningnya berkerut menatap pria itu dari belakang. “Mas, kenapa gak pakai baju?” tanya Niken polos saat Dante berbalik. Ia baru saja mencolok kabel untuk mengisi daya ponselnya. Niken jadi bingung sendiri harus ngapain. Baru kali ini mereka hanya berdua di kamar, tanpa kehadiran Evan. “Panas,” sahut Dante naik ke salah satu sisi kasur. “Tapi kan ac nya nyala, Mas. Saya juga sudah siapin baju,” kata Niken mengambil baju yang masih teronggok di atas kasur kemudian menyimpannya di dalam lemari. Berjalan ke sisi tempat tidur yang lain, Niken ragu untuk naik. “Saya ambil Evan aja ya, Mas. Kasihan Evan kalau nanti kebangun karena haus,” ucap Niken coba-coba berharap Dante luluh. “Riana juga pasti sudah siapin susu buat Evan. Kan asi perah kamu masih

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    91. Kulineran

    Memarkir mobilnya agak jauh karena kawasan yang padat, mereka lalu berjalan menyusuri jalan sambil melihat-lihat makanan yang menarik perhatian. “Tapi ini kebanyakan goreng-gorengan, Mas. Emangnya gapapa?” tanya Niken memastikan. Secara Dante adalah seorang dokter yang pasti menjaga kesehatannya. "Gorengan kan juga makanan ... enak lagi. Walau gak sehat kalau dimakan setiap hari," sahut Dante, "ambil aja yang itu, saya juga mau," lanjut Dante menunjuk penjual gorengan yang berada di sebelah kiri Niken. Tak tinggal diam, Niken mendekat lantas menunjuk beberapa gorengan dengan isian daging serta mayones. Tak lupa ia meminta cabe rawit dalam jumlah yang banyak. Dante cepat mendekat ketika pesanan Niken sudah siap dibungkus. "Makasih, Pak," kata Dante menerima kembalian. Jalanan yang cukup padat dengan pejalan kaki, membuat Niken beberapa kali hampir terjatuh karena terdorong orang di belakang. Sigap, Dante menggenggam jemari tangan istrinya lantas membawanya melipir ke salah sat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status