Partager

3. Guru Baru

last update Date de publication: 2026-07-31 20:04:33

Sosok itu melangkah maju dengan amat pelan, sadar betul bahwa Tian Hao tidak mengenali wajahnya dengan jelas.

“Aku ...,” ucap pria tua itu dengan suara pelan namun terdengar mantap di tengah aula yang hening. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian menghampiri Arkan yang berdiri mematung di sana.

Tian Hao memperhatikan pergerakan itu dalam diam, tatapannya dingin dan tajam. Ia tidak mengenali, bahkan tidak pernah berurusan dengan orang tua tersebut. Ia terus mengamati setiap jengkal langkah si guru tua, menduga-duga apakah selama ini ada sosok di akademinya yang terlewat dari pengawasannya.

“Oh ya ... namaku Jian,” ujar pria tua itu memperkenalkan diri dengan senyum tipis. “Kebetulan satu tahun lagi aku pensiun, dan sudah beberapa tahun ini aku tidak aktif mengajar di akademi ini.”

Mendengar alasan yang terkesan sekadarnya itu, Tian Hao hanya terdiam dengan dengusan tipis. Baginya, siapa pun gurunya tidak akan berpengaruh apa-apa—memang tidak ada yang bisa diperbaiki dari seorang anak 'tidak berguna' seperti Arkan.

Guru tua bernama Jian itu sebenarnya adalah sosok yang terasingkan di Akademi Cakrawala. Sudah sejak lama ia menarik diri dari urusan mengajar murid-murid berbakat, memilih untuk menghabiskan hari-harinya terkurung di perpustakaan demi mempelajari dan mendalami berbagai kitab-kitab kuno.

Semua guru yang ada di aula seketika tertawa terbahak-bahak melihat Jian melangkah maju. Ejekan dan cemoohan meriamkan sudut-sudut ruangan.

“Kau tidak tahu seberapa buruk kemampuan anak itu?! Apa kau sama payahnya dengan Arkan?” gelak salah seorang guru senior.

“Jian! Kau hanya menyia-nyiyakan sisa masa pensiunmu!” timpal guru lainnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Berbagai suara sumbang dan kata-kata menyakitkan bergema di dalam aula, namun semua itu benar-benar tidak berpengaruh sedikit pun bagi Jian. Pria tua itu tetap berdiri tenang dengan raut wajah teduh, mantap mengajukan dirinya untuk mengajari Arkan.

Tian Hao tertawa keras dan dingin. Ia sungguh tidak menyangka akan ada orang sefaktual dan sepayah Jian yang bersukarela mengajari anak yang dianggap sebagai 'aib keluarga' itu.

“Baiklah!” seru Tian Hao menghentikan riuh tawa di aula. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah Arkan. “Hukuman Kakek Ma akan ditangguhkan selama satu tahun ke depan! Buktikan kemampuanmu dalam jangka waktu itu ... dan jangan terus-menerus menjadi aib keluarga ini!”

Mendengar kata 'aib keluarga', banyak guru muda yang terkejut karena baru mengetahui fakta itu. Namun, hal tersebut bukanlah rahasia bagi para tetua dan Jian. Mereka sudah sejak lama tahu bahwa Arkan adalah anak ketiga Tian Hao yang lahir tanpa kemampuan berkultivasi.

Melihat Tian Hao tanpa ragu merendahkan darah dagingnya sendiri di hadapan publik, para guru pun ikut mencemooh Arkan. Bisik-bisik bernada remeh langsung menjalar cepat di antara mereka.

“Mana mungkin anak cacat seperti dia sanggup?” bisik seorang guru sembari terkekeh.

“Aku berani bertaruh dia akan mati konyol! Sekarang saja Zen sudah menembus Tingkat Raja Roh. Bagaimana bisa Arkan mengejarnya hanya dalam waktu satu tahun?” timpal guru lainnya, menggeleng-gelengkan kepala meragukan.

“Aku juga tidak yakin ... Tapi anak itu benar-benar gila. Berani sekali dia menyela dan menantang Ketua secara terbuka.”

“Kau benar, dia hanya menggali kuburannya sendiri.”

Ejekan dan pandangan sinis terus dilontarkan para guru sewaktu mereka berjalan beriringan meninggalkan aula, mengekor di belakang Tian Hao. Zen dan Lie pun melangkah pergi begitu saja tanpa berpaling, hanya menyisa pendar tatapan dingin yang sarat akan penghinaan. Mereka membiarkan Arkan berdiri terpaku bersama Jian di tengah aula yang kian hampa.

Aula yang megah itu perlahan berubah menjadi makin hening dan hampa. Begitu semua orang benar-benar pergi, ketegangan yang selama ini menopang tubuh Arkan seketika runtuh. Kakinya terasa lemas tak berdaya, lututnya gemetar hingga ia hampir saja ambruk ke lantai.

“Kau tidak apa-apa, Nak? Duduklah dulu,” kata Jian lembut sembari menahan tubuh Arkan.

“Terima kasih ... Terima kasih sudah mau menerimaku, Guru,” bisik Arkan pelan. Dengan napas tersengal, ia merangkak pelan lalu duduk di lantai bersama Kakek Ma yang terkulai lemah.

Jian hanya tersenyum tipis menatap Arkan. Tak banyak sepatah kata pun yang disampaikannya saat itu, ia memilih memperhatikan interaksi antara Arkan dan pria tua di sampingnya.

“Apa Guru ... tidak menyesal memilihku sebagai murid?” tanya Arkan lirih, menundukkan kepalanya tak berani menatap sang guru.

Jian menatap Arkan lekat-lekat. Matanya yang senja memancarkan kebijaksanaan sekaligus ketegasan yang tenang.

“Seorang guru hanyalah pendamping, Arkan. Yang menentukan kau bisa atau tidak itu adalah dirimu sendiri,” jawab Jian perlahan namun menusuk sampai ke dalam dada. Ia kemudian memajukan tubuhnya sedikit. “Jadi, sekarang aku yang bertanya padamu ... apa kau sanggup meningkatkan kultivasimu dalam waktu satu tahun?”

Arkan tertunduk makin dalam, meremas jemarinya yang gemetar. Lidahnya terasa kelu. Sejujurnya, tadi ia hanya bergerak secara impulsif demi menyelamatkan Kakek Ma yang terdesak—ia sama sekali tak tega melihat pria tua penolong itu dihukum mati di depan matanya. Kini, kenyataan pahit dari keputusannya mulai menghimpit dadanya.

“Jika kau punya keyakinan bahwa semua itu bisa dilalui, aku pun demikian. Aku melihat keberanianmu tadi, dan sebagai seorang guru, tentu saja itu membuat semangatku kembali berkobar,” ujar Jian dengan tersenyum hangat. “Di usiaku yang sudah senja ini, masih diberi kesempatan untuk mengajar seorang murid ... itu sungguh hal yang luar biasa.”

Arkan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengangkat wajahnya yang tadinya lesu. “Baiklah, Guru! Aku akan berusaha sekuat tenaga!”

“Ingat, nyawa Kakek Ma sekarang ada di tanganmu,” lanjut Jian, suaranya berubah tegas dengan tatapan penuh penekanan. “Jadi kau harus berlatih jauh lebih keras dari siapa pun. Dan ingat, aku tidak akan memanjakanmu seperti yang dilakukan Kakek Ma selama ini.”

Arkan sedikit terkejut, lalu mengerutkan dahinya cemas. “Apakah Guru ... sudah mengenal Kakek Ma sebelumnya?”

“Tentu saja aku kenal. Apalagi dia selalu bersikap sangat baik padamu,” jawab Jian santai sembari terkekeh pelan.

“Hah ...?” Arkan memiringkan kepalanya bingung. Tatapannya berpindah-pindah dari Jian ke Kakek Ma. Rasanya, ada begitu banyak rahasia dan hal yang tidak ia ketahui tentang latar belakang gurunya yang baru ini.

“Apa aku terlihat seperti orang jahat?” tanya Jian mendadak, menangkap raut bingung Arkan yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

Arkan gelagapan dan menggeleng cepat. “T-tidak, Guru! Hanya saja ... saya kira para guru yang tinggi hati di sini tidak akan sudi mengenal bawahan seperti kami.”

Jian terkekeh pelan, lalu menyahut dengan nada tenang namun penuh arti, “Siapa yang menyebut kalian bawahan? Di mata langit dan bumi, semua orang punya harkat dan derajat yang sama. Yang membedakan hanyalah jalan kultivasi yang mereka pilih.”

Arkan mengangguk pelan. Ternyata pandangan Jian begitu luas dan bijaksana. Ia benar-benar merasa kagum pada guru barunya itu.

Ia lalu berpaling dan menatap Kakek Ma dengan raut khawatir. “Kau tidak apa-apa, Kakek Ma?” tanya Arkan cemas, memeriksa kondisi Kakek Ma dengan tangan gemetar.

“Tidak apa-apa ... Aku bahkan sebenarnya sudah siap mati hari ini,” sahut Kakek Ma seraya menghela napas pasrah.

“Kakek ini selalu saja terlalu baik kepada semua orang, bahkan rela mempertaruhkan nyawa sendiri,” gumam Arkan pelan.

“Aku juga merasa heran mengapa Ketua Akademi tiba-tiba menyeretku ke sini,” bisik Kakek Ma bingung.

Jian yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara, “Sebenarnya, obat yang kau berikan pada Arkan waktu itu adalah milik akademi. Mungkin Zen tahu ada orang yang diam-diam memberi obat pemulih pada Arkan. Kedua anak itu tidak akan tinggal diam jika tahu ada orang yang menolong adiknya.”

“Adiknya ...?” tanya Kakek Ma terperanjat, baru pertama kali mengetahui status asli Arkan yang sebenarnya.

Begitu pula dengan Arkan, ia tak kalah terkejut saat menyadari bahwa obat pemulih yang diberikan Kakek Ma dulu ternyata berasal dari Jian. Tatapannya tertuju pada sang guru tua yang berdiri tenang di hadapannya.

‘Siapa sebenarnya Jian ini ...?’ batin Arkan, rasa penasaran yang teramat besar makin membuncah terhadap sosok guru barunya itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    4. Berburu Hewan Roh

    “Iya, dia adalah anak ketiga dari Ketua Akademi,” jawab Jian tenang.Mendengar hal itu, Kakek Ma langsung membungkuk cemas. “M-maafkan aku, Tuan Muda! Selama ini aku sudah berlaku sembarangan padamu!”Arkan dengan cepat menggeleng dan memegang bahu Kakek Ma. “Tidak apa-apa, Kakek. Lagipula, aku hanya dianggap sebagai aib keluarga oleh Ayah. Tolong ... jangan ubah sikap Kakek padaku. Tetaplah seperti biasa.”Kakek Ma tak habis pikir dengan perlakuan keluarga pimpinan akademi itu. Bagaimana bisa seorang anak kandung dibuang dan diperlakukan sebegitu buruknya?“Aku tahu Zen dan Lie memang tidak menyukaiku. Apalagi dengan kondisi diriku yang lemah ini ...” lanjut Arkan menunduk pelan.Guru Jian menepuk bahu Arkan, menghentikan kalimat anak itu. “Makanya, jadilah kuat. Besok kita mulai latihan,” ucap Jian singkat namun tegas, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Arkan dan Kakek Ma.“Baik, Guru!” seru Arkan penuh tekad.Arkan berusaha memapah Kakek Ma kembali ke gubuk kecil y

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    3. Guru Baru

    Sosok itu melangkah maju dengan amat pelan, sadar betul bahwa Tian Hao tidak mengenali wajahnya dengan jelas.“Aku ...,” ucap pria tua itu dengan suara pelan namun terdengar mantap di tengah aula yang hening. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian menghampiri Arkan yang berdiri mematung di sana.Tian Hao memperhatikan pergerakan itu dalam diam, tatapannya dingin dan tajam. Ia tidak mengenali, bahkan tidak pernah berurusan dengan orang tua tersebut. Ia terus mengamati setiap jengkal langkah si guru tua, menduga-duga apakah selama ini ada sosok di akademinya yang terlewat dari pengawasannya.“Oh ya ... namaku Jian,” ujar pria tua itu memperkenalkan diri dengan senyum tipis. “Kebetulan satu tahun lagi aku pensiun, dan sudah beberapa tahun ini aku tidak aktif mengajar di akademi ini.”Mendengar alasan yang terkesan sekadarnya itu, Tian Hao hanya terdiam dengan dengusan tipis. Baginya, siapa pun gurunya tidak akan berpengaruh apa-apa—memang tidak ada yang bisa diperbaiki dari seorang anak

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    2. Aib Keluarga

    “Hentikan!!!” teriak Arkan bergetar penuh kemarahan.Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kencang ke arah kedua penjaga itu, berniat menahan mereka. Namun, salah satu penjaga menyenggol dan mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga Arkan yang masih lemah kembali tersungkur ke tanah. Menepis rasa sakitnya, ia bangkit meringis dan kembali mengejar kedua penjaga itu.“Apa yang kalian lakukan pada Kakek Ma?!” bentak Arkan dengan napas terengah-engah.“Jangan halangi kami! Ini perintah langsung dari Ketua!” gertak penjaga itu dingin, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.Arkan seketika mengepalkan tangannya. Rasa kesal dan amarah membakar dadanya, apalagi saat melihat Kakek Ma hanya bisa tertunduk pasrah diseret menuju aula utama. Tidak ingin tinggal diam, Arkan bergegas menyusul mereka menuju aula.Di dalam aula, atmosfer terasa begitu menekan.“Ternyata ini pencurinya,” ucap Tian Hao datar. Ia adalah Ketua Akademi Cakrawala—pria yang terkenal tegas, dingin, dan selalu mengutamakan

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    1. Menjadi Sasaran Ejekan

    Srak srak srakDi depan halaman sebuah akademi, Arkan memegang sapu bambu itu, menjadi kesehariannya. Tidak ada yang tahu jika dia merupakan anak ke-3 dari pemilik akademi.Keberadaannya memang tidak diakui oleh keluarganya karena sejak lahir ia memiliki qi yang sedikit, qi sebagai fondasi awal seseorang bisa berkultivasi. Jadi, ia dibuang oleh keluarganya sendiri.Tian Hao yang merupakan ayahnya pun mengabaikan Arkan. Ia tinggal di akademi hanya untuk bersih-bersih dan ia bahkan tinggal di gubuk dekat kandang kuda. Hanya ada satu orang kakek yang peduli padanya, kakek itu merupakan penjaga kuda di akademi.Hari mulai sore, ia berniat kembali ke belakang akademi. Namun sial, ia dihadang oleh Zen dan Lie yang merupakan kedua kakaknya.Zen menarik kerah Arkan dengan keras lalu membantingnya ke tanah tanpa perikemanusiaan.“Mau ke mana kau, adik kecil? Belum juga latihan sudah mau pulang!” cemooh Zen dengan tatapan licik dan senyum meremehkan.“Aku sudah selesai membersihkan semua...” sa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status