Se connecter“Iya, dia adalah anak ketiga dari Ketua Akademi,” jawab Jian tenang.
Mendengar hal itu, Kakek Ma langsung membungkuk cemas. “M-maafkan aku, Tuan Muda! Selama ini aku sudah berlaku sembarangan padamu!”
Arkan dengan cepat menggeleng dan memegang bahu Kakek Ma. “Tidak apa-apa, Kakek. Lagipula, aku hanya dianggap sebagai aib keluarga oleh Ayah. Tolong ... jangan ubah sikap Kakek padaku. Tetaplah seperti biasa.”
Kakek Ma tak habis pikir dengan perlakuan keluarga pimpinan akademi itu. Bagaimana bisa seorang anak kandung dibuang dan diperlakukan sebegitu buruknya?
“Aku tahu Zen dan Lie memang tidak menyukaiku. Apalagi dengan kondisi diriku yang lemah ini ...” lanjut Arkan menunduk pelan.
Guru Jian menepuk bahu Arkan, menghentikan kalimat anak itu. “Makanya, jadilah kuat. Besok kita mulai latihan,” ucap Jian singkat namun tegas, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Arkan dan Kakek Ma.
“Baik, Guru!” seru Arkan penuh tekad.
Arkan berusaha memapah Kakek Ma kembali ke gubuk kecil yang terletak di samping kandang kuda, di halaman belakang akademi. Jaraknya memang lumayan jauh. Walaupun tubuhnya terasa lelah, Arkan tetap sabar memapah Kakek Ma hingga akhirnya tiba di gubuk.
“Istirahatlah, Kek,” tutur Arkan lembut seraya membaringkan Kakek Ma.
“Baiklah, Nak. Aku tidak apa-apa, tidak ada yang terluka parah. Besok kau sudah harus mulai berlatih, jadi kau juga harus banyak beristirahat,” sahut Kakek Ma mengangguk penuh perhatian.
“Baik, Kek,” jawab Arkan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun karena dalam dadanya sudah tertanam tekad membara untuk menjadi kuat.
Sambil berbaring meregangkan otot-ototnya yang pegal, pikiran Arkan menerawang membayangkan sosok Guru Jian yang benar-benar tak terduga. Bahkan obat pemulih yang dulu diberikan Kakek Ma padanya ternyata juga berasal dari sang guru.
‘Apa Guru sudah mengenalku sebelum ini?’ batin Arkan penasaran.
‘Kalau memang sudah kenal, ia pasti tahu kalau aku ini lemah dan tak berguna. Lalu ... kenapa ia tetap mau mengangkatku sebagai muridnya?’
Arkan benar-benar tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik tindakan Guru Jian. Namun, mengingat tutur kata dan pembawaannya yang begitu bijaksana, Arkan yakin dari dasar hatinya bahwa Guru Jian bukanlah orang jahat.
Pertanyaan itu ia simpan untuk ditanyakan langsung kepada sang guru besok. Arkan sudah tidak sabar menunggu pagi tiba. Namun, karena rasa lelah yang amat sangat menimpa tubuhnya, ia akhirnya tertidur lelap.
Pagi harinya, Arkan bergegas bersiap untuk masuk ke area dalam akademi. Guru Jian bertugas di bagian perpustakaan, ia tidak memiliki kelas khusus maupun ruangan pribadi untuk mengajar.
Saat Arkan baru saja tiba di depan gerbang, tiba-tiba Zen mendorong tubuhnya dengan kasar. Padahal, Arkan sama sekali tidak menghalangi jalan. Hal itu murni karena rasa benci dan kesal di dada Zen—ia benar-benar tak sudi melihat sosok Arkan berada di tempat itu.
“Minggir, sampah! Kau menghalangi jalanku!” bentak Zen dingin.
Arkan memilih diam sambil sekuat tenaga menahan amarah yang membakar dadanya. Ia sadar betul, jika ia meluapkan kemarahannya sekarang, hal itu sama sekali tidak akan menguntungkan dirinya. Dengan tenang, ia hanya bergeser memberi jalan dan tetap membisu.
Namun ternyata, hinaan itu tak berhenti sampai di situ. Akibat provokasi dari Zen dan Lie, murid-murid akademi lainnya ikut-ikutan berani. Tanpa segan, mereka mendorong tubuh Arkan dan beramai-ramai mengeroyoknya dengan perundungan.
“Dasar sampah! Kenapa sampah seperti kau masih berani datang ke sini?!” teriak salah satu murid sembari mendorong bahu Arkan.
“Si Lemah! Tidak tahu malu!” cemooh yang lain, diiringi gelak tawa riuh.
“Pulang saja sana! Tempat ini bukan untuk orang tak berguna seperti kau!”
Arkan dihujani makian dan dorongan dari segala arah. Namun, di tengah kepungan tawa dan hinaan murid-murid itu, ia hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat, menahan rasa sakit dan panas di dadanya.
Arkan memilih mengabaikan mereka dan mempercepat langkah kakinya. Akhirnya, ia tiba di perpustakaan akademi. Tanpa membuang waktu, ia langsung menemui Guru Jian yang sedang berada di sana.
“Pagi, Guru,” sapa Arkan membungkuk hormat.
“Kau sudah datang?” sahut Kakek Jian menoleh. Ia lalu memperhatikan kondisi tubuh Arkan sejenak. “Coba kulihat ... ternyata kau memiliki Akar Roh tingkat rendah. Syukurlah!”
Mata Arkan seketika terbelalak bingung. Memiliki Akar Roh tingkat rendah adalah sebuah kemalangan di dunia kultivasi, lantas apa yang harus disyukuri dari hal itu?
Melihat ekspresi muridnya, Guru Jian tertawa ringan. Tangan tuanya memegang sebuah kitab kuno yang tampak lapuk—sepertinya ada suatu hal penting yang sedang ia teliti sejak tadi.
“Aku baru saja mempelajari isi kitab kuno ini,” jelas Guru Jian sembari mengelus janggutnya. “Orang dengan Akar Roh tingkat rendah sebenarnya memiliki Jiwa Harmoni yang sangat tinggi. Makanya, kau tidak memiliki Qi yang melimpah. Qi-mu rendah, selaras dengan tingkat Akar Roh milikmu.”
“Lalu ... apakah kondisi ini masih bisa diperbaiki, Guru?” tanya Arkan cemas sekaligus berharap.
“Tentu saja bisa,” jawab Guru Jian mantap. “Kita akan mencari Hewan Roh untuk memperbaiki dan memperkuat pondasi tubuhmu.”
Guru Jian kemudian membuka salah satu halaman kitab dan memperlihatkan tingkatan Hewan Roh kepada Arkan:
Roh Biasa
Roh Elit
Roh Raja
Roh Kaisar
Roh Legendaris
“Jadi ... aku bisa memiliki kekuatan yang jauh lebih besar jika berhasil menangkap Hewan Roh tingkat tinggi?” tanya Arkan memastikan.
“Iya, betul,” sahut Guru Jian menanggapi. “Kau hanya perlu mencari Hewan Roh tingkat Raja untuk bisa menyetarakan kekuatanmu dengan Zen.”
Arkan mengangguk-angguk mengerti. Namun, dahinya perlahan berkerut saat menyadari sesuatu.
“Tapi ... itu pasti sangat sulit, kan? Hewan Roh tingkat Raja tentu tidak mudah untuk didapatkan,” ujar Arkan, menyadari hambatan besar baru yang harus ia hadapi.
“Tidak ada yang sulit. Bersiaplah, kita akan segera mencarinya,” ujar Guru Jian seraya berkemas. Rencananya, mereka akan pergi ke Hutan Bulan Perak—sebuah tempat yang menjadi sarang bagi banyak Hewan Roh tingkat tinggi.
Arkan pun bergegas bersiap mengikuti sang guru. Keduanya berjalan melangkahkan kaki keluar dari kawasan akademi menuju hutan tersebut. Arkan, yang selama ini tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di luar akademi, dibuat takjub dengan suasana dunia luar. Banyak aktivitas kehidupan dan hilir mudik orang-orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Apa kau belum pernah keluar sama sekali sebelumnya?” tanya Guru Jian, menyadari binar kagum di mata muridnya.
“Belum pernah, Guru. Ini pertama kalinya untukku,” jawab Arkan jujur.
“Wah, ini benar-benar luar biasa ...” gumam Guru Jian terkekeh pelan. Sembari menuntun perjalanan mereka menuju Hutan Bulan Perak yang masih berada di bagian timur, ia mulai menjelaskan gambaran dunia kepada Arkan.
“Tempat yang kita pijak ini adalah Benua Tianyuan. Dunia ini terbagi menjadi lima wilayah besar:
Wilayah Timur
Wilayah Barat
Wilayah Selatan
Wilayah Utara
Wilayah Tengah
Di setiap wilayah, berdiri kokoh berbagai akademi dan sekte-sekte besar. Dan Akademi Cakrawala tempat kita berada saat ini merupakan akademi nomor satu di seluruh Wilayah Timur.”
Arkan mendengarkan penjelasan Guru Jian dengan takjub. Ternyata, benua tempat ia tinggal begitu luas dan menyimpan begitu banyak hal yang belum pernah ia bayangkan.
Tanpa terasa, mereka berdua akhirnya tiba di pintu gerbang area perbatasan. Guru Jian memperlihatkan sebuah token khusus kepada penjaga agar dapat melintas.
Arkan memperhatikan bentuk token tersebut dengan mata tak berkedip. Ukirannya sangat rumit dan memancarkan aura tersendiri—benar-benar berbeda dari token umum yang biasa digunakan oleh para murid maupun pengajar di akademi.
Melihat Arkan yang menatap benda di tangannya tanpa berkedip, Guru Jian tersenyum tipis dan memberi tahu, “Ini adalah token khusus. Hanya orang-orang dengan tingkat kultivasi tinggi yang bisa memiliki token seperti ini.”
“Mmm ... kalau boleh tahu, tingkat kultivasi Guru sendiri berada di tingkat apa?” tanya Arkan penasaran.
Guru Jian kembali tersenyum misterius. “Sebenarnya, kurang sopan jika kau langsung menanyakan tingkat kultivasi seseorang secara gamblang. Biasanya, sesama kultivator tingkat tinggi bisa saling menilai hanya dari mengamati aura atau jenis Hewan Roh yang dimiliki lawan bicaranya.”
Ia lalu menepuk pelan bahu muridnya itu. “Kau akan mengetahuinya sendiri suatu hari nanti, saat kau sudah berhasil memasuki dunia kultivasi.”
Arkan mengangguk mengerti. Meski rasa penasarannya membuncah, ia berusaha keras untuk memendamnya.
Mereka terus melangkah masuk lebih jauh ke dalam hutan. Suasana Hutan Bulan Perak yang tadinya cukup ramai di area luar, perlahan-lahan berubah menjadi sepi dan sunyi seiring makin dalamnya langkah mereka.
“Mulai dari area ini, kita akan sangat jarang bertemu dengan manusia,” ujar Guru Jian seraya menatap sekeliling.
“Padahal tadi dekat gerbang masih banyak orang, Guru ...” komentar Arkan memperhatikan sekitarnya.
“Iya, itu karena area dekat pintu gerbang masih tergolong aman. Orang-orang biasanya hanya berlatih ringan sambil memburu Hewan Roh tingkat rendah di sana,” jelas Guru Jian.
“Berarti ... semakin dalam kita masuk, tingkat Hewan Roh yang menghuni tempat ini akan semakin tinggi?” tanya Arkan memastikan.
“Iya, kau benar. Dan tentu saja, tingkat bahaya yang mengintai kita juga akan makin besar.”
Arkan mengepalkan tangannya, menguatkan tekad di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan langsung dibawa menerobos hutan dengan Hewan Roh tingkat tinggi seperti ini. Selama ini ia hanya terkurung di lingkungan akademi tanpa tahu apa pun tentang betapa luas dan kejamnya dunia kultivasi yang sebenarnya.
Tiba-tiba, dari balik sebuah batu besar, muncul sesosok Serigala Bulu Perak.
Arkan dibuat terpukau oleh penampakan hewan tersebut. Namun, terbuai oleh rasa takjubnya, ia tanpa sadar malah melangkah maju tanpa aba-aba.
Insting ketajaman Hewan Roh terhadap ancaman membuat Serigala Bulu Perak itu mendadak balik menyerang! Arkan yang terkejut langsung bersiap pasang kuda-kuda untuk melawan. Akan tetapi, Guru Jian dengan sigap mendahuluinya, menghantamkan tombaknya ke arah serigala itu. Kecepatan gerakan serigala tersebut amat tinggi hingga ia berhasil melompat menghindar.
Melihat kekuatannya yang tak sebanding, Arkan bergegas berlari mundur mencari tempat aman.
Di saat yang sama, Guru Jian kembali mengayunkan tombaknya dengan presisi mematikan. Kali ini, hantaman tombak itu mengenai telak tubuh sang serigala, membuatnya terhempas dan tergeletak lemas di tanah.
“Jangan diganggu, kita tidak memburunya,” ucap Guru Jian tenang, memilih untuk tidak menghabisi nyawa hewan itu.
Arkan mengatur napasnya yang memburu, lalu bertanya bingung, “B-bukankah itu Hewan Roh, Guru?”
“Ya, tapi itu hanya tingkat Elit,” sahut Guru Jian santai.
Bulu kuduk Arkan seketika berdiri mendengarnya. ‘Hewan semengerikan dan secepat itu ... hanya tingkat Elit?! Seberapa berbahaya Hewan Roh tingkat Raja yang sedang kami buru ini ...?’ batin Arkan bergidik ngeri.
“Iya, dia adalah anak ketiga dari Ketua Akademi,” jawab Jian tenang.Mendengar hal itu, Kakek Ma langsung membungkuk cemas. “M-maafkan aku, Tuan Muda! Selama ini aku sudah berlaku sembarangan padamu!”Arkan dengan cepat menggeleng dan memegang bahu Kakek Ma. “Tidak apa-apa, Kakek. Lagipula, aku hanya dianggap sebagai aib keluarga oleh Ayah. Tolong ... jangan ubah sikap Kakek padaku. Tetaplah seperti biasa.”Kakek Ma tak habis pikir dengan perlakuan keluarga pimpinan akademi itu. Bagaimana bisa seorang anak kandung dibuang dan diperlakukan sebegitu buruknya?“Aku tahu Zen dan Lie memang tidak menyukaiku. Apalagi dengan kondisi diriku yang lemah ini ...” lanjut Arkan menunduk pelan.Guru Jian menepuk bahu Arkan, menghentikan kalimat anak itu. “Makanya, jadilah kuat. Besok kita mulai latihan,” ucap Jian singkat namun tegas, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Arkan dan Kakek Ma.“Baik, Guru!” seru Arkan penuh tekad.Arkan berusaha memapah Kakek Ma kembali ke gubuk kecil y
Sosok itu melangkah maju dengan amat pelan, sadar betul bahwa Tian Hao tidak mengenali wajahnya dengan jelas.“Aku ...,” ucap pria tua itu dengan suara pelan namun terdengar mantap di tengah aula yang hening. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian menghampiri Arkan yang berdiri mematung di sana.Tian Hao memperhatikan pergerakan itu dalam diam, tatapannya dingin dan tajam. Ia tidak mengenali, bahkan tidak pernah berurusan dengan orang tua tersebut. Ia terus mengamati setiap jengkal langkah si guru tua, menduga-duga apakah selama ini ada sosok di akademinya yang terlewat dari pengawasannya.“Oh ya ... namaku Jian,” ujar pria tua itu memperkenalkan diri dengan senyum tipis. “Kebetulan satu tahun lagi aku pensiun, dan sudah beberapa tahun ini aku tidak aktif mengajar di akademi ini.”Mendengar alasan yang terkesan sekadarnya itu, Tian Hao hanya terdiam dengan dengusan tipis. Baginya, siapa pun gurunya tidak akan berpengaruh apa-apa—memang tidak ada yang bisa diperbaiki dari seorang anak
“Hentikan!!!” teriak Arkan bergetar penuh kemarahan.Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kencang ke arah kedua penjaga itu, berniat menahan mereka. Namun, salah satu penjaga menyenggol dan mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga Arkan yang masih lemah kembali tersungkur ke tanah. Menepis rasa sakitnya, ia bangkit meringis dan kembali mengejar kedua penjaga itu.“Apa yang kalian lakukan pada Kakek Ma?!” bentak Arkan dengan napas terengah-engah.“Jangan halangi kami! Ini perintah langsung dari Ketua!” gertak penjaga itu dingin, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.Arkan seketika mengepalkan tangannya. Rasa kesal dan amarah membakar dadanya, apalagi saat melihat Kakek Ma hanya bisa tertunduk pasrah diseret menuju aula utama. Tidak ingin tinggal diam, Arkan bergegas menyusul mereka menuju aula.Di dalam aula, atmosfer terasa begitu menekan.“Ternyata ini pencurinya,” ucap Tian Hao datar. Ia adalah Ketua Akademi Cakrawala—pria yang terkenal tegas, dingin, dan selalu mengutamakan
Srak srak srakDi depan halaman sebuah akademi, Arkan memegang sapu bambu itu, menjadi kesehariannya. Tidak ada yang tahu jika dia merupakan anak ke-3 dari pemilik akademi.Keberadaannya memang tidak diakui oleh keluarganya karena sejak lahir ia memiliki qi yang sedikit, qi sebagai fondasi awal seseorang bisa berkultivasi. Jadi, ia dibuang oleh keluarganya sendiri.Tian Hao yang merupakan ayahnya pun mengabaikan Arkan. Ia tinggal di akademi hanya untuk bersih-bersih dan ia bahkan tinggal di gubuk dekat kandang kuda. Hanya ada satu orang kakek yang peduli padanya, kakek itu merupakan penjaga kuda di akademi.Hari mulai sore, ia berniat kembali ke belakang akademi. Namun sial, ia dihadang oleh Zen dan Lie yang merupakan kedua kakaknya.Zen menarik kerah Arkan dengan keras lalu membantingnya ke tanah tanpa perikemanusiaan.“Mau ke mana kau, adik kecil? Belum juga latihan sudah mau pulang!” cemooh Zen dengan tatapan licik dan senyum meremehkan.“Aku sudah selesai membersihkan semua...” sa







