Se connecter“Hentikan!!!” teriak Arkan bergetar penuh kemarahan.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kencang ke arah kedua penjaga itu, berniat menahan mereka. Namun, salah satu penjaga menyenggol dan mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga Arkan yang masih lemah kembali tersungkur ke tanah. Menepis rasa sakitnya, ia bangkit meringis dan kembali mengejar kedua penjaga itu.
“Apa yang kalian lakukan pada Kakek Ma?!” bentak Arkan dengan napas terengah-engah.
“Jangan halangi kami! Ini perintah langsung dari Ketua!” gertak penjaga itu dingin, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
Arkan seketika mengepalkan tangannya. Rasa kesal dan amarah membakar dadanya, apalagi saat melihat Kakek Ma hanya bisa tertunduk pasrah diseret menuju aula utama. Tidak ingin tinggal diam, Arkan bergegas menyusul mereka menuju aula.
Di dalam aula, atmosfer terasa begitu menekan.
“Ternyata ini pencurinya,” ucap Tian Hao datar. Ia adalah Ketua Akademi Cakrawala—pria yang terkenal tegas, dingin, dan selalu mengutamakan hasil.
Sebelum Tian Hao menjatuhkan hukuman, tiba-tiba Arkan datang menerobos masuk. Terlihat sangat jelas luka-luka di tubuhnya yang belum sembuh, dengan penampilan yang kacau dan tak rapi. Ia berjalan tertatih-tatih melintasi lantai aula.
Arkan tahu betul sifat sang ayah. Pria itu pasti tidak akan segan-segan memberikan hukuman mati untuk kesalahan sepele sekalipun. Oleh karena itu, sebelum keputusan mematikan itu terucap dari mulut ayahnya, Arkan segera mempercepat langkah kakinya—mengabaikan rasa nyeri yang menusuk tubuhnya—untuk maju dan berlutut di hadapan sang ayah.
Sebenarnya ia tidak membenci Arkan secara pribadi, tetapi rasa kecewa mendalam merintangi hatinya saat mengetahui Arkan hanya memiliki Qi yang sangat sedikit dan mustahil untuk berkultivasi, di saat anak-anak seusianya sudah mampu mencapai tingkat tinggi.
Melihat Kakek Ma tersudut di tengah aula, Arkan langsung menyeruak maju ke depan tanpa rasa takut.
“Tolong hentikan semua ini!” seru Arkan lantang dengan suara gemetar, berusaha melindungi Kakek Ma dengan tubuhnya sendiri.
Tian Hao tersenyum miring—sebuah senyuman sinis penuh remeh—melihat anak keduanya itu berani berdiri menantang dan membela seseorang tepat di hadapannya.
“Kau berani muncul di hadapanku?” kata Tian Hao dingin. Ia lalu mencoba menyapu tubuh Arkan menggunakan daya penglihatannya, memeriksa energi tenaga dalam Qi yang mengalir di dalam tubuh Arkan. Hasilnya nihil, aliran Qi anak itu ternyata masih tetap sangat lemah.
“Tolong lepaskan Kakek Ma...” pinta Arkan memohon, matanya menatap sang ayah penuh penekanan.
“Untuk apa aku melepaskan seorang pencuri?” sanggah Tian Hao datar, tanpa ada belas kasihan sedikit pun di raut wajahnya.
Sebenarnya Tian Hao bisa saja acuh dan sama sekali tidak mendengarkan perkataan Arkan. Namun, terlintas rasa penasaran yang picik di benaknya: ia ingin melihat seberapa jauh anak lemah ini sanggup berjuang demi melindungi seseorang. Melihat tingkat Qi Arkan yang begitu rendah saja sudah cukup untuk membuat dada Tian Hao kembali bergejolak kesal.
Niat kejam pun terlintas di kepalanya. Pria itu ingin mempermainkan Arkan, menikmati penderitaan dan ketidakberdayaan putranya sendiri.
“Dia tidak mencuri!” tegas Arkan membela, suaranya naik satu oktav menahan sesak di dada.
“Anak ini... benar-benar tidak tahu diri,” gumam Tian Hao menggeser tatapannya yang tajam. Ia kemudian bersedekap dan menatap Arkan dengan penuh tekanan aura. “Tunjukkan nilaimu di hadapanku! Aku akan mempertimbangkan hukuman untuk Kakek Ma jika kau bisa membuktikannya. Apa yang bisa kau buktikan padaku?”
“Kalau hanya untuk membuktikan kekuatan, biarkan dia berduel denganku saja, Ayah!” selak Zen tiba-tiba dengan senyum culas dan tatapan yang meremehkan.
Zen merupakan kakak pertama Arkan. Ia adalah seorang jenius kultivasi yang tingkatannya sudah mencapai Raja Roh—sebuah pencapaian luar biasa yang jaraknya bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan Arkan yang bahkan belum mencapai tingkat apa pun.
Berbeda pula dengan Lie, kakak kedua Arkan. Ia memang tidak sejenius Zen, tetapi Lie dikaruniai bakat Qi tingkat Tinggi. Hal itu membuatnya mampu meningkatkan tingkatan kultivasinya dengan mudah hingga hampir setara dengan Zen.
Lie lebih suka mengikuti setiap tindakan Zen, membekor dengan setia dan ikut merendahkan Arkan secara terang-terangan. Padahal, ia tahu betul bahwa Arkan adalah saudara kandungnya sendiri. Rasa bangga atas kekuatannya membuat emosi dan rasa kasih sayangnya sebagai seorang kakak pupus, digantikan oleh kesenangan sadis saat menginjak-injak Arkan.
Dalam penilaian tingkatan bakat di dunia kultivasi, terdapat beberapa jenjang kualifikasi:
Rendah
Menengah
Tinggi
Jenius
Monster
Sementara Zen berada di puncak sebagai seorang Jenius, Arkan diakui dunia hanya memiliki bakat tingkat Rendah.
Arkan benar-benar terpojok sekarang. Ia paham betul bahwa mustahil baginya untuk menang melawan Zen, tetapi keinginan kuat untuk menyelamatkan Kakek Ma terus bergelora di dadanya.
Di saat yang sama, bisik-bisik dari para guru yang memenuhi aula mulai bersahut-sahutan, membuat suasana semakin memanas.
“Pelayan itu besar sekali nyalinya!” bisik salah seorang guru sambil menggeleng tak percaya.
“Hush! Dia bukan pelayan!” potong guru di sebelahnya pelan.
“Lalu siapa dia? Bukannya dia memang tukang bersih-bersih kandang kuda?” saut yang lain penuh kepenasaran. “Aku lihat dia selalu menyapu halaman. Dengan tingkat Qi serendah itu, beraninya dia berbicara begitu di depan Ketua! Rasakan itu!”
“Pelankan suara kalian! Kalau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam!” tegur seorang guru senior mencoba menenangkan pertikaian.
Namun, cemoohan lain tetap terlontar tajam, “Cih, dasar saja pelayan rendahan!”
Suara bisikan yang kian riuh di sekelilingnya makin membuat Arkan merasa terdesak. Namun, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ada di dalam dirinya.
“Beri aku waktu tiga tahun untuk berlatih ... untuk bisa melawan dia!” seru Arkan lantang dengan mata menatap lurus, penuh ketegasan yang mengejutkan semua orang.
“Apa kau bercanda?!” potong Zen geram dengan tawa mengejek, tampak tak sabar untuk segera menghabisi Arkan di tempat.
“Tentu tidak!” tegas Arkan tanpa ragu. Ia menatap Zen tajam sembari melontarkan sindiran pedas, “Aku menghargaimu sebagai seorang jenius. Apa kau tidak malu melawan aku yang bahkan tidak memiliki kekuatan?”
Zen terdiam seketika. Menggeram menahan amarah, ia sadar perkataan Arkan ada benarnya. Namun, hatinya luar biasa kesal. Di hadapan para guru yang menyaksikan, namanya pasti akan ikut tercoreng dan dicap pengecut jika ia menghabisi Arkan yang tak berdaya saat ini.
Zen lantas mengalihkan pandangannya, menatap ke arah sang ayah. Tian Hao yang memperhatikan raut wajah Zen tahu betul bahwa putra sulungnya itu teramat kesal dan tak sudi menunggu terlalu lama.
“Satu tahun,” pangkas Tian Hao dingin, memberi keputusannya tanpa memberi ruang untuk bantahan.
Arkan menghembuskan napas berat, lalu menerima syarat itu walau terasa mustahil. “Baiklah ... Tapi untuk berlatih, aku butuh seorang guru. Aku juga tidak memiliki hewan roh, bagaimana aku bisa berkultivasi untuk melawannya?” tantang Arkan, suaranya bergetar menahan tekanan dari aura sang ayah.
Mendengar permintaan Arkan yang dinilainya tak tahu diri, amarah Zen kian melonjak hingga ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan hampir saja melayangkan tinju keras tepat ke muka Arkan.
Namun, sebelum tinju itu mendarat, Tian Hao dengan cepat menghentikan Zen, menahan lengan putranya dengan cengkeraman dingin.
“Banyak guru di sini,” bisik Tian Hao memperingatkan Zen agar menjaga wibawa keluarga, lalu berpaling menatap ke arah kerumunan guru.
“Siapa yang mau menjadi guru anak ini?!” tawar Tian Hao dengan suara keras dan menggelegar, menggema ke seluruh sudut aula.
Aula seketika menjadi hening mencekam. Tak ada lagi bisikan, tak ada pula suara apa pun. Semua yang hadir terdiam membisu sambil saling melempar pandangan ragu ke arah kanan dan kiri. Tak ada satu pun dari para guru yang berani mengacungkan tangan atau menyanggupi untuk menjadi guru bagi Arkan.
Tian Hao tersenyum puas menyaksikan keheningan itu, menikmati momen saat tak ada satu pun guru yang mau menampung anak yang dianggapnya tak berguna itu.
Namun, di tengah kepuasan Tian Hao, tiba-tiba sebuah tangan terangkat tinggi ke atas dari barisan bangku yang paling belakang. Dari tempat yang redup itu berdiri seorang yang tampak samar dan tak begitu jelas.
“Iya, dia adalah anak ketiga dari Ketua Akademi,” jawab Jian tenang.Mendengar hal itu, Kakek Ma langsung membungkuk cemas. “M-maafkan aku, Tuan Muda! Selama ini aku sudah berlaku sembarangan padamu!”Arkan dengan cepat menggeleng dan memegang bahu Kakek Ma. “Tidak apa-apa, Kakek. Lagipula, aku hanya dianggap sebagai aib keluarga oleh Ayah. Tolong ... jangan ubah sikap Kakek padaku. Tetaplah seperti biasa.”Kakek Ma tak habis pikir dengan perlakuan keluarga pimpinan akademi itu. Bagaimana bisa seorang anak kandung dibuang dan diperlakukan sebegitu buruknya?“Aku tahu Zen dan Lie memang tidak menyukaiku. Apalagi dengan kondisi diriku yang lemah ini ...” lanjut Arkan menunduk pelan.Guru Jian menepuk bahu Arkan, menghentikan kalimat anak itu. “Makanya, jadilah kuat. Besok kita mulai latihan,” ucap Jian singkat namun tegas, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Arkan dan Kakek Ma.“Baik, Guru!” seru Arkan penuh tekad.Arkan berusaha memapah Kakek Ma kembali ke gubuk kecil y
Sosok itu melangkah maju dengan amat pelan, sadar betul bahwa Tian Hao tidak mengenali wajahnya dengan jelas.“Aku ...,” ucap pria tua itu dengan suara pelan namun terdengar mantap di tengah aula yang hening. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian menghampiri Arkan yang berdiri mematung di sana.Tian Hao memperhatikan pergerakan itu dalam diam, tatapannya dingin dan tajam. Ia tidak mengenali, bahkan tidak pernah berurusan dengan orang tua tersebut. Ia terus mengamati setiap jengkal langkah si guru tua, menduga-duga apakah selama ini ada sosok di akademinya yang terlewat dari pengawasannya.“Oh ya ... namaku Jian,” ujar pria tua itu memperkenalkan diri dengan senyum tipis. “Kebetulan satu tahun lagi aku pensiun, dan sudah beberapa tahun ini aku tidak aktif mengajar di akademi ini.”Mendengar alasan yang terkesan sekadarnya itu, Tian Hao hanya terdiam dengan dengusan tipis. Baginya, siapa pun gurunya tidak akan berpengaruh apa-apa—memang tidak ada yang bisa diperbaiki dari seorang anak
“Hentikan!!!” teriak Arkan bergetar penuh kemarahan.Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kencang ke arah kedua penjaga itu, berniat menahan mereka. Namun, salah satu penjaga menyenggol dan mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga Arkan yang masih lemah kembali tersungkur ke tanah. Menepis rasa sakitnya, ia bangkit meringis dan kembali mengejar kedua penjaga itu.“Apa yang kalian lakukan pada Kakek Ma?!” bentak Arkan dengan napas terengah-engah.“Jangan halangi kami! Ini perintah langsung dari Ketua!” gertak penjaga itu dingin, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.Arkan seketika mengepalkan tangannya. Rasa kesal dan amarah membakar dadanya, apalagi saat melihat Kakek Ma hanya bisa tertunduk pasrah diseret menuju aula utama. Tidak ingin tinggal diam, Arkan bergegas menyusul mereka menuju aula.Di dalam aula, atmosfer terasa begitu menekan.“Ternyata ini pencurinya,” ucap Tian Hao datar. Ia adalah Ketua Akademi Cakrawala—pria yang terkenal tegas, dingin, dan selalu mengutamakan
Srak srak srakDi depan halaman sebuah akademi, Arkan memegang sapu bambu itu, menjadi kesehariannya. Tidak ada yang tahu jika dia merupakan anak ke-3 dari pemilik akademi.Keberadaannya memang tidak diakui oleh keluarganya karena sejak lahir ia memiliki qi yang sedikit, qi sebagai fondasi awal seseorang bisa berkultivasi. Jadi, ia dibuang oleh keluarganya sendiri.Tian Hao yang merupakan ayahnya pun mengabaikan Arkan. Ia tinggal di akademi hanya untuk bersih-bersih dan ia bahkan tinggal di gubuk dekat kandang kuda. Hanya ada satu orang kakek yang peduli padanya, kakek itu merupakan penjaga kuda di akademi.Hari mulai sore, ia berniat kembali ke belakang akademi. Namun sial, ia dihadang oleh Zen dan Lie yang merupakan kedua kakaknya.Zen menarik kerah Arkan dengan keras lalu membantingnya ke tanah tanpa perikemanusiaan.“Mau ke mana kau, adik kecil? Belum juga latihan sudah mau pulang!” cemooh Zen dengan tatapan licik dan senyum meremehkan.“Aku sudah selesai membersihkan semua...” sa







