LOGINArkan melanjutkan perjalanan bersama Guru Jian, mengekor tepat di belakang langkah sang guru sesuai instruksinya. Mereka melangkah makin jauh menerobos bagian hutan paling dalam untuk mencari Hewan Roh tingkat Kaisar. Namun, sudah setengah hari mereka berjalan, tak ada satu pun tanda-tanda keberadaan Hewan Roh yang mereka temukan.
“Suasana semakin dalam makin sepi ... apakah di sini sangat berbahaya, Guru?” tanya Arkan memecah keheningan.
“Jelas,” sahut Guru Jian menghentikan langkahnya sejenak, mengamati sekeliling dengan dahi berkerut. “Tapi ini aneh ... kenapa bisa sesepi ini?”
Guru Jian menoleh ke arah Arkan. “Bagaimana kalau kita masuk ke area paling dalam sekalian?”
“A-apa Guru yakin?” Arkan bertanya ragu.
Arkan terdiam seribu bahasa. Sejujurnya ia tidak yakin karena instingnya menyuarakan bahaya. Namun, rasa penasaran yang membakar dadanya jauh lebih besar daripada rasa takut itu.
“Aku ikut apa kata Guru,” jawab Arkan akhirnya dengan mantap.
Guru Jian mengangguk tipis. Mereka kembali melangkah melintasi pepohonan purba yang menjulang tinggi hingga menutupi paparan sinar matahari. Suasana di sekitar mereka berubah menjadi gelap dan lembap. Suara cengkerik maupun kepakan sayap burung yang tadinya terdengar kini lenyap sepenuhnya.
Tiba-tiba, Guru Jian merentangkan tangannya, menghentikan Arkan secara mendadak.
DEG!
Tekanan udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat berat, seolah ada beban berkuintal-kuintal yang menghimpit dada Arkan hingga ia sulit bernapas. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Di depan mereka, tak jauh dari gundukan tulang-belalang raksasa, terlihat seekor binatang misterius sedang meringkuk. Hawa keberadaannya begitu menindas—memancarkan aura kegelapan yang pekat.
“Kaisar ...” bisik Guru Jian dengan suara sangat pelan namun penuh ketegangan. “Itu Hewan Roh tingkat Kaisar. Tapi ada yang tidak beres dengannya.”
Arkan menahan napasnya rapat-rapat. Matanya melotot saat menyadari binatang berukuran raksasa itu sedang mengerami sesuatu di balik kibasan ekornya yang bersisik tajam—sebuah telur berwarna hitam pekat dengan ukiran garis emas yang samar.
Belum sempat mereka bergerak, rintangan baru mendadak menghampiri. Semak-semak purba di balik gundukan batu bergemuruh hebat, disusul oleh hentakan langkah kaki yang tergesa-gesa. Aura kultivasi yang tajam membelah keheningan hutan, merusak kesunyian mencekam yang semula mengepung Arkan dan Guru Jian.
Dari balik kegelapan pepohonan, muncul dua pemuda berkulit bersih yang mengenakan jubah sutra akademi bernilai tinggi. Mereka tak lain adalah Zen dan Lie. Namun, kali ini mereka tidak berburu sendirian. Tepat di belakang mereka, berjalan sesosok pria setengah baya berwajah dingin dengan jubah bersulamkan benang emas bertuliskan lambang keagungan—seorang Guru Agung dari Akademi Cakrawala.
"Lihat siapa yang ada di sini!" seru Lie dengan nada meremehkan saat matanya mendapati sosok Arkan. Ia tertawa berderai. "Bagaimana mungkin seonggok sampah seperti kau bisa menembus hingga ke bagian terdalam Hutan Bulan Perak? Apa kau sedang mencari tempat untuk mati?"
Zen ikut melangkah maju dengan tatapan dingin, menatap Arkan bagaikan melihat bangkai tak berharga. "Kau benar-benar tidak tahu diri, Arkan. Tempat ini bukan arena bermain untuk pemuda tanpa bakat seperti kau. Mengapa pua orang tua tak berguna ini menyeretmu ke sini?"
Guru Jian hanya menghela napas panjang tanpa melayani hinaan tersebut, namun pandangannya tertuju pada Guru Agung yang mendampingi kedua saudara Arkan. Guru Agung itu menatap Guru Jian dengan sorot mata penuh keangkuhan dan penolakan.
"Pergi dari sini, Jian," ujar sang Guru Agung dengan nada merendahkan. "Aku sedang mendampingi dua jenius akademi untuk memburu Hewan Roh tingkat tinggi. Jangan sampai keberadaanmu dan murid sampahmu ini mengganggu proses perburuan kami."
Arkan mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang membakar dadanya. Namun, sebelum pertengkaran itu berlanjut, guncangan hebat mendadak menggetarkan tanah tempat mereka berdiri.
Aura pekat dari balik gundukan tulang raksasa mendadak melonjak drastis. Akibat suara bising dan hawa keberadaan Guru Agung yang terlalu mencolok, Hewan Roh tingkat Kaisar yang semula tertidur kini perlahan mendongakkan kepalanya! Sepasang mata merah darah yang berkilat tajam terbuka lebar, mengunci pandangannya ke arah mereka semua. Raungan mengerikan mengguncang seluruh area hutan, menandakan bahwa sang penguasa hutan telah terbangun dari tidurnya.
Zen menyeringai penuh percaya diri. Tanpa membuang waktu, ia memanggil pedangnya hingga memancarkan kilatan energi yang tajam, sementara Lie mengambil posisi di sisinya untuk bersiap melancarkan serangan kombinasi.
“Serang!” seru Zen dengan nada penuh keangkuhan. Kedua bersaudara itu langsung melesat maju menghujani sang Hewan Roh tingkat Kaisar dengan jurus-jurus terbaik mereka, dibantu oleh tebasan daya tempur yang luar biasa.
Arkan refleks hendak melangkah maju, tetapi tangan kekar Guru Jian dengan cepat menahan bahunya.
“Tahan,” bisik Guru Jian pelan namun tegas, membuat Arkan menghentikan gerakannya. “Jangan bertindak ceroboh. Kau cukup perhatikan saja pertarungan ini baik-baik dari sini. Tidak perlu ikut campur atau mengganggu mereka.”
Arkan menatap sang guru dengan penuh tanya. Namun, melihat sorot mata Guru Jian yang begitu tenang dan dalam, Arkan akhirnya mengangguk paham. Ia mundur beberapa langkah, menyembunyikan hawa keberadaannya di balik rimbunnya semak purba, lalu memfokuskan seluruh pandangannya ke arah medan pertempuran.
Di depan sana, pertarungan sengit meletus. Zen dan Lie membombardir sang monster dengan berbagai tebasan energi, membuat tanah di sekitarnya hancur berantakan. Namun, Hewan Roh tingkat Kaisar itu bukanlah makhluk lemah yang bisa ditundukkan dengan mudah.
Pertarungan berlangsung sangat sengit. Sesuai perintah Guru Jian, Arkan hanya menonton dari balik persembunyian tanpa berani ikut campur. Di dalam hatinya, Arkan terpaksa mengakui kenyataan pahit: kedua kakaknya memang jenius kultivasi sejati. Apalagi dengan bantuan seorang Guru Agung, meladeni serangan dahsyat Hewan Roh tingkat Kaisar seakan bukan masalah besar bagi mereka.
Jurus-jurus tingkat tinggi yang dilancarkan Zen dan Lie menyala terang, membelah kegelapan hutan dan memojokkan sang monster raksasa. Guru Agung hanya perlu melayangkan beberapa pukulan bertenaga dalam untuk mematahkan setiap serangan balasan dari sang penguasa hutan.
Melihat betapa hebatnya kombinasi serangan mereka, dada Arkan terasa sesak. Ada perpaduan antara rasa takjub dan iri yang sangat mendalam. ‘Apakah jarak kekuatanku dengan mereka memang sejauh ini?’ batin Arkan mengepalkan tangan erat-erat.
Namun, Guru Jian yang berdiri di sampingnya justru tersenyum tipis. Sang guru mengamati setiap detail pertempuran itu—bukan untuk mengagumi kekuatan Zen dan Lie, melainkan memperhitungkan kekacauan yang sedang terjadi.
Pertarungan yang makin meluas itu perlahan-lahan menggeser posisi sang Hewan Roh menjauh dari sarangnya. Gundukan batu raksasa di area belakang kini sepenuhnya terbuka tanpa ada yang menjaga.
Telur misterius berwarna hitam pekat bertorehkan garis emas itu tergeletak pasrah di sana.
Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"
Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn
"Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe
"Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu
Sementara itu, di dalam aula megah Kediaman Tan Hau, suasana terasa begitu mencekat. Tan Hau berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gusar, menghempaskan langkah kakinya ke lantai batu pualam yang dingin."Masih tidak ada laporan yang berarti?!" geram Tan Hau, suaranya membentak rendah hingga membuat para pengawal di sekelilingnya tertunduk gemetar.Salah seorang mata-mata yang bertugas mengintai Lembah Dalam membungkuk makin dalam. "Ampun, Tetua Tan... Gubuk itu terus-menerus diselimuti asap obat yang amat pekat. Kami hanya melihat Guru Jian keluar sesekali untuk mengambil air, sedangkan Arkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pendar mana ataupun lonjakan energi yang terdeteksi."Tan Hau mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panik perlahan mulai menggerogoti pikirannya."Jian sialan itu..." umpat Tan Hau seraya mengepalkan tinju ke meja kayu di sampingnya hingga retak. "Dia sengaja memasang benteng informasi! Dia melindungi bocah
Arkan mengepalkan jemarinya di balik selimut tebal, merasakan sensasi mana yang mengalir makin tenang dan solid di dalam meridian tubuhnya. Suara langkah kaki kedua pengawal yang makin menjauh dari Lembah Dalam menjadi pertanda bahwa giliran Tan Hau yang kini terjebak dalam permainannya sendiri.Guru Jian menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu gubuk. "Tan Hau berpikir dia memegang kendali penuh atas akademi ini. Namun, racun terbesar bagi seorang pemimpin yang otoriter adalah kecurigaan berlebih. Makin dia berspekulasi tentang kekuatanmu, makin banyak langkah ceroboh yang akan dia ambil.""Lalu bagaimana dengan persidangan Dewan Tetua, Guru?" tanya Arkan seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersila secara perlahan—sama sekali tak terlihat seperti orang yang kemarin nyaris tewas tertebas. "Apakah Tan Hau akan membiarkan Lie lolos begitu saja dari tuduhan melepaskan binatang Tingkat Raja di arena?""Tentu saja tidak seratus persen aman," sahut Gur







