Share

5. Kaisar Roh

last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-21 20:42:28

Arkan melanjutkan perjalanan bersama Guru Jian, mengekor tepat di belakang langkah sang guru sesuai instruksinya. Mereka melangkah makin jauh menerobos bagian hutan paling dalam untuk mencari Hewan Roh tingkat Kaisar. Namun, sudah setengah hari mereka berjalan, tak ada satu pun tanda-tanda keberadaan Hewan Roh yang mereka temukan.

“Suasana semakin dalam makin sepi ... apakah di sini sangat berbahaya, Guru?” tanya Arkan memecah keheningan.

“Jelas,” sahut Guru Jian menghentikan langkahnya sejenak, mengamati sekeliling dengan dahi berkerut. “Tapi ini aneh ... kenapa bisa sesepi ini?”

Guru Jian menoleh ke arah Arkan. “Bagaimana kalau kita masuk ke area paling dalam sekalian?”

“A-apa Guru yakin?” Arkan bertanya ragu.

Arkan terdiam seribu bahasa. Sejujurnya ia tidak yakin karena instingnya menyuarakan bahaya. Namun, rasa penasaran yang membakar dadanya jauh lebih besar daripada rasa takut itu.

“Aku ikut apa kata Guru,” jawab Arkan akhirnya dengan mantap.

Guru Jian mengangguk tipis. Mereka kembali melangkah melintasi pepohonan purba yang menjulang tinggi hingga menutupi paparan sinar matahari. Suasana di sekitar mereka berubah menjadi gelap dan lembap. Suara cengkerik maupun kepakan sayap burung yang tadinya terdengar kini lenyap sepenuhnya.

Tiba-tiba, Guru Jian merentangkan tangannya, menghentikan Arkan secara mendadak.

DEG!

Tekanan udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat berat, seolah ada beban berkuintal-kuintal yang menghimpit dada Arkan hingga ia sulit bernapas. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Di depan mereka, tak jauh dari gundukan tulang-belalang raksasa, terlihat seekor binatang misterius sedang meringkuk. Hawa keberadaannya begitu menindas—memancarkan aura kegelapan yang pekat.

“Kaisar ...” bisik Guru Jian dengan suara sangat pelan namun penuh ketegangan. “Itu Hewan Roh tingkat Kaisar. Tapi ada yang tidak beres dengannya.”

Arkan menahan napasnya rapat-rapat. Matanya melotot saat menyadari binatang berukuran raksasa itu sedang mengerami sesuatu di balik kibasan ekornya yang bersisik tajam—sebuah telur berwarna hitam pekat dengan ukiran garis emas yang samar.

Belum sempat mereka bergerak, rintangan baru mendadak menghampiri. Semak-semak purba di balik gundukan batu bergemuruh hebat, disusul oleh hentakan langkah kaki yang tergesa-gesa. Aura kultivasi yang tajam membelah keheningan hutan, merusak kesunyian mencekam yang semula mengepung Arkan dan Guru Jian.

Dari balik kegelapan pepohonan, muncul dua pemuda berkulit bersih yang mengenakan jubah sutra akademi bernilai tinggi. Mereka tak lain adalah Zen dan Lie. Namun, kali ini mereka tidak berburu sendirian. Tepat di belakang mereka, berjalan sesosok pria setengah baya berwajah dingin dengan jubah bersulamkan benang emas bertuliskan lambang keagungan—seorang Guru Agung dari Akademi Cakrawala.

"Lihat siapa yang ada di sini!" seru Lie dengan nada meremehkan saat matanya mendapati sosok Arkan. Ia tertawa berderai. "Bagaimana mungkin seonggok sampah seperti kau bisa menembus hingga ke bagian terdalam Hutan Bulan Perak? Apa kau sedang mencari tempat untuk mati?"

Zen ikut melangkah maju dengan tatapan dingin, menatap Arkan bagaikan melihat bangkai tak berharga. "Kau benar-benar tidak tahu diri, Arkan. Tempat ini bukan arena bermain untuk pemuda tanpa bakat seperti kau. Mengapa pua orang tua tak berguna ini menyeretmu ke sini?"

Guru Jian hanya menghela napas panjang tanpa melayani hinaan tersebut, namun pandangannya tertuju pada Guru Agung yang mendampingi kedua saudara Arkan. Guru Agung itu menatap Guru Jian dengan sorot mata penuh keangkuhan dan penolakan.

"Pergi dari sini, Jian," ujar sang Guru Agung dengan nada merendahkan. "Aku sedang mendampingi dua jenius akademi untuk memburu Hewan Roh tingkat tinggi. Jangan sampai keberadaanmu dan murid sampahmu ini mengganggu proses perburuan kami."

Arkan mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang membakar dadanya. Namun, sebelum pertengkaran itu berlanjut, guncangan hebat mendadak menggetarkan tanah tempat mereka berdiri.

Aura pekat dari balik gundukan tulang raksasa mendadak melonjak drastis. Akibat suara bising dan hawa keberadaan Guru Agung yang terlalu mencolok, Hewan Roh tingkat Kaisar yang semula tertidur kini perlahan mendongakkan kepalanya! Sepasang mata merah darah yang berkilat tajam terbuka lebar, mengunci pandangannya ke arah mereka semua. Raungan mengerikan mengguncang seluruh area hutan, menandakan bahwa sang penguasa hutan telah terbangun dari tidurnya.

Zen menyeringai penuh percaya diri. Tanpa membuang waktu, ia memanggil pedangnya hingga memancarkan kilatan energi yang tajam, sementara Lie mengambil posisi di sisinya untuk bersiap melancarkan serangan kombinasi.

“Serang!” seru Zen dengan nada penuh keangkuhan. Kedua bersaudara itu langsung melesat maju menghujani sang Hewan Roh tingkat Kaisar dengan jurus-jurus terbaik mereka, dibantu oleh tebasan daya tempur yang luar biasa.

Arkan refleks hendak melangkah maju, tetapi tangan kekar Guru Jian dengan cepat menahan bahunya.

“Tahan,” bisik Guru Jian pelan namun tegas, membuat Arkan menghentikan gerakannya. “Jangan bertindak ceroboh. Kau cukup perhatikan saja pertarungan ini baik-baik dari sini. Tidak perlu ikut campur atau mengganggu mereka.”

Arkan menatap sang guru dengan penuh tanya. Namun, melihat sorot mata Guru Jian yang begitu tenang dan dalam, Arkan akhirnya mengangguk paham. Ia mundur beberapa langkah, menyembunyikan hawa keberadaannya di balik rimbunnya semak purba, lalu memfokuskan seluruh pandangannya ke arah medan pertempuran.

Di depan sana, pertarungan sengit meletus. Zen dan Lie membombardir sang monster dengan berbagai tebasan energi, membuat tanah di sekitarnya hancur berantakan. Namun, Hewan Roh tingkat Kaisar itu bukanlah makhluk lemah yang bisa ditundukkan dengan mudah.

Pertarungan berlangsung sangat sengit. Sesuai perintah Guru Jian, Arkan hanya menonton dari balik persembunyian tanpa berani ikut campur. Di dalam hatinya, Arkan terpaksa mengakui kenyataan pahit: kedua kakaknya memang jenius kultivasi sejati. Apalagi dengan bantuan seorang Guru Agung, meladeni serangan dahsyat Hewan Roh tingkat Kaisar seakan bukan masalah besar bagi mereka.

Jurus-jurus tingkat tinggi yang dilancarkan Zen dan Lie menyala terang, membelah kegelapan hutan dan memojokkan sang monster raksasa. Guru Agung hanya perlu melayangkan beberapa pukulan bertenaga dalam untuk mematahkan setiap serangan balasan dari sang penguasa hutan.

Melihat betapa hebatnya kombinasi serangan mereka, dada Arkan terasa sesak. Ada perpaduan antara rasa takjub dan iri yang sangat mendalam. ‘Apakah jarak kekuatanku dengan mereka memang sejauh ini?’ batin Arkan mengepalkan tangan erat-erat.

Namun, Guru Jian yang berdiri di sampingnya justru tersenyum tipis. Sang guru mengamati setiap detail pertempuran itu—bukan untuk mengagumi kekuatan Zen dan Lie, melainkan memperhitungkan kekacauan yang sedang terjadi.

Pertarungan yang makin meluas itu perlahan-lahan menggeser posisi sang Hewan Roh menjauh dari sarangnya. Gundukan batu raksasa di area belakang kini sepenuhnya terbuka tanpa ada yang menjaga.

Telur misterius berwarna hitam pekat bertorehkan garis emas itu tergeletak pasrah di sana.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    97 Menara Kristal

    Bilah energi putih menyilaukan yang tadinya teracung tajam di tangan entitas penjaga itu bergetar hebat. Pendar merah di matanya perlahan berkedip, bertransisi menjadi warna biru safir yang tenang seiring dengan gelombang harmoni yang dipancarkan oleh tongkat Trisula milik Arkan.Ruangan besar itu diselimuti kesunyian tegang. Lyra menahan napasnya, jari-jarinya tetap siaga pada tali busur perak, sementara Kilin merapatkan tubuhnya di bahu Arkan, mengawasi setiap gerak-gerik sang raksasa kristal.Beberapa detik berlalu bagaikan jam. Akhirnya, sang penjaga menurunkan bilah energinya. Suara mekanis yang bergemerincing di kesadaran mereka kembali bergema, kali ini terdengar jauh lebih lembut dan stabil.“Verifikasi selesai... Esensi Harmonizer terdeteksi. Selamat datang kembali, pewaris titisan keseimbangan... Arsip Genesis kini terbuka untukmu.”Begitu suara itu memudar, sang penjaga kristal melangkah mundur perlahan, melebur kembali ke dalam lantai obsidian tanpa menyisakan suara. Cinci

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    96 Arsip Abadi

    Perayaan agung di Nexus Prime berangsur mereda seiring dengan bergesernya konstelasi bintang di langit kosmik. Cahaya keemasan dari menara utama kini memancarkan pendar yang lebih tenang, memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk yang beristirahat di dalam kota antardimensi tersebut.Namun, di ruang observasi tertinggi menara pusat, Arkan tidak memejamkan matanya.Ia berdiri di hadapan layar proyeksi kristal besar yang menampilkan peta galaksi secara menyeluruh. Di sampingnya, Kilin duduk anteng di atas meja, ekor kecilnya melingkar rapi sementara matanya yang tajam mengawasi titik-titik cahaya yang berkedip di layar.Tiba-tiba, sebuah titik kecil di ujung peta—jauh di luar sektor selatan Symphonia, tersembunyi di balik gugusan gas kosmik yang dikenal sebagai Nebula Hitam—berkedip dengan warna merah pekat yang tidak wajar. Sinyal itu sangat lemah, terputus-putus, seolah berjuang menembus dinding tebal radiasi ruang hampa.Arkan menyipitkan matanya. Ia mendekatkan tangan kanannya ke p

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    95 Ketenangan

    Pendar hangat dari permata keemasan Trisula perlahan meresap ke dalam diri sang peri berambut perak, membuat napasnya yang tadinya tersengat kepanikan mulai berangsur tenang. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Arkan dan rekan-rekannya dengan binar kelegaan yang terpancar jelas di matanya."Terima kasih... kehangatan senjatamu berhasil meredam getaran sumbang di dalam dadaku," ucap sang peri dengan suara lembut bagaikan denting harpa. "Namaku Lyrin, salah satu penjaga terakhir dari Kuil Senandung Abadi di dimensi Symphonia ini."Balthazar mendengus pelan, menurunkan palu sucinya sedikit ke tanah sambil melipat tangan di dada. "Katakan, Lyrin, apa sebenarnya yang disebut Discordia itu? Apakah itu makhluk ciptaan Vaelor yang tertinggal, atau sesuatu yang lain?"Lyrin menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan mendalam. "Bukan ciptaan langsung makhluk bernama Vaelor, tetapi sisa-sisa benang void yang ia tinggalkan di celah probabilitas dimensi kami telah merasuki Orchestral Core—inti k

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    94 Melodi Yang Hilang

    Pusaran cahaya keperakan membuka kembali jalan bagi Arkan menuju titik pusat galaksi. Begitu ia melangkah keluar dari portal dimensi Chronos, terpaan angin kosmik yang hangat dan aroma debu bintang yang menenangkan langsung menyambut kedatangannya di anjungan utama Nexus Prime.Di kejauhan, kota megah itu tampak semakin hidup. Jembatan-jembatan cahaya transparan menghubungkan berbagai menara kristal tempat para utusan dari dimensi es, gurun magma, hingga dataran langit saling bertukar pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Bukti nyata bahwa kedamaian lintas dimensi bukan lagi sekadar angan-angan.Kilin di bahu Arkan melompat turun, berlari kecil di atas lantai batu putih sambil mendengking riang, merayakan kembalian mereka dari pertempuran yang melelahkan. "Nyuu-nya!""Selamat datang kembali, Harmonizer!"Sebuah suara akrab menyapa dari balik pilar megah. Balthazar melangkah mendekat dengan senyum lebar terkembang di wajahnya, membawa gulungan perkamen tebal berisi rancangan arsitektu

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    93 Labirin

    Lorong di dalam menara Chronos tidak mematuhi hukum ruang dan waktu yang normal. Begitu Arkan melangkah melewati ambang pintu utama, dinding-dinding batu obsidian bercorak keperakan bergeser pelan, membelah diri menjadi puluhan koridor identik yang berputar perlahan dalam dimensi probabilitas yang berbeda.Kilin di bahu Arkan mendesis waspada, ekor kecilnya mengibas ke kiri untuk memberi isyarat adanya anomali spasial di koridor sebelah. "Nyuu...!""Waspadalah, Arkan," suara proyeksi Kaelen berbisik lembut, melayang mengikuti langkah mereka di udara. "Vaelor telah mengunci jalur utama. Lorong-lorong ini adalah perangkap probabilitas. Jika kau memilih jalur yang salah, kesadaranmu bisa terperangkap dalam perulangan waktu selamanya."Arkan berhenti sejenak. Ia menutup matanya perlahan, menarik napas dalam-dalam dan menyelaraskan detak jantungnya dengan resonansi kosmik Trisula. Di dalam benaknya, ia tidak melihat lorong-lorong yang membingungkan itu sebagai labirin yang rumit, melainkan

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    92 Menara Yang Hialang

    Pendar cahaya keemasan dari Trisula perlahan meredup, meninggalkan proyeksi gelombang energi samar yang berdenyut lembut di udara atas anjungan Nexus Prime. Sinyal itu tipis, namun memiliki frekuensi distorsi yang sangat khas—bukan sisa-sisa kehampaan Malakor yang kasar, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus, hampir menyerupai bisikan.Kilin di bahu Arkan menegakkan tubuhnya, telinganya bergerak tajam menangkap getaran frekuensi tersebut, lalu mengeluarkan dengkingan rendah yang memperingatkan. "Nyuu... chruu..."Lyra melangkah mendekat, matanya menyipit menatap sisa-sisa proyeksi cahaya yang mulai memudar. "Frekuensi itu... tidak berasal dari dimensi-dimensi yang telah kita kenal. Letaknya jauh di luar gugusan terluar galaksi Nexus."Balthazar mendengus pelan sambil melipat tangan di dadanya yang bidang. "Bisa jadi itu hanya anomali kosmik biasa. Setelah ledakan besar benteng Malakor, turbulensi ruang dan waktu pasti masih menyisakan riak di beberapa sektor terpencil.""Tidak, Balt

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status