Masuk#Pewaris
"...aku menemukanmu." Bisikan itu menghilang secepat kemunculannya. Arga tersentak hingga refleks menjatuhkan botol parfum hitam yang baru saja ia pegang. Botol itu terlepas dari jemarinya dan jatuh kembali ke dalam kotak beludru dengan bunyi pelan. Ia menoleh ke belakang, lalu ke arah pintu kamar, berharap menemukan seseorang yang sedang mempermainkannya. Namun tidak ada siapa-siapa. Hanya dirinya dan jasad pria tua yang masih terbaring tak bergerak di atas ranjang. Mungkin aku terlalu tegang. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar kamar. "Pak! Kamar 1313 di sini!" Arga langsung tersadar. Petugas keamanan hotel akhirnya datang. Pandangannya jatuh pada kotak tua di dekat kakinya. Entah kenapa, ia merasa benda itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Ada dorongan aneh yang sulit dijelaskan, seolah sesuatu di dalam kotak tersebut sedang memanggilnya. Tanpa berpikir panjang, Arga segera menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam kantong besar troli kebersihannya. Beberapa detik kemudian, dua petugas keamanan berlari masuk ke kamar. Wajah mereka langsung berubah pucat saat melihat jasad pria tua di atas ranjang. "Ya Tuhan..." Salah satu dari mereka segera menghubungi pihak manajemen. Tak lama kemudian, suasana hotel berubah kacau. Manajer, petugas keamanan tambahan, dan polisi mulai berdatangan. Koridor yang biasanya tenang kini dipenuhi suara langkah kaki dan percakapan tegang. Arga duduk di kursi koridor sambil menunggu giliran dimintai keterangan. Namun pikirannya tidak tertuju pada mayat yang baru saja ditemukan. Pikirannya terus tertuju pada kotak tua yang masih tersembunyi di dalam troli. Kalau polisi memeriksa seluruh barang di sekitar TKP, bagaimana kalau mereka menemukan kotak itu? Bagaimana kalau mereka menganggapnya pencuri? Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Arga." Suara yang dikenalnya membuat ia mengangkat kepala. Frans berdiri di depannya dengan wajah tegang. "Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?" "Saya menemukan tamu itu sudah meninggal saat masuk kamar." Frans mengusap dagunya. "Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang membuat hotel ini bermasalah." Arga langsung memahami maksud kalimat tersebut. Bukan rasa khawatir terhadap dirinya. Frans hanya khawatir reputasi hotel rusak. Tak lama kemudian, seorang polisi menghampiri. "Saudara Arga?" "Iya, Pak." "Mari ikut sebentar." Arga mengangguk lalu mengikuti polisi itu menuju ruang rapat kecil yang sementara digunakan untuk pemeriksaan saksi. Interogasi berlangsung hampir setengah jam. Polisi menanyakan kapan ia masuk kamar, apa yang dilihat pertama kali, dan apakah ada benda yang tampak mencurigakan. Ketika pertanyaan mengenai barang-barang di kamar muncul, jantung Arga kembali berdegup lebih cepat. "Apakah Anda menyentuh sesuatu di dalam kamar?" Arga terdiam sepersekian detik. Kotak tua itu langsung terlintas di benaknya. Namun ia segera menggeleng. "Tidak, Pak." Polisi tersebut menatap wajahnya cukup lama sebelum menuliskan sesuatu di buku catatan. "Baik. Untuk sementara Anda masih berstatus saksi. Jika ada perkembangan, kami akan menghubungi Anda lagi." Arga mengangguk pelan. Baru setelah keluar dari ruang pemeriksaan, ia bisa mengembuskan napas lega. Malam sudah turun ketika seluruh proses pemeriksaan selesai. Dengan hati-hati, ia membawa pulang troli yang berisi kotak misterius itu. Bahkan selama perjalanan menuju kontrakan, ia beberapa kali menoleh ke belakang karena merasa sedang diawasi. Setibanya di kontrakan, Arga segera mengunci pintu dan menutup jendela. Kamar sempit itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Ia meletakkan kotak tua tersebut di atas meja kayu dekat ranjang, lalu duduk di hadapannya. Untuk beberapa saat, Arga hanya memandang benda itu tanpa bergerak. Semua masalah yang terjadi hari ini bermula dari kotak tersebut. Mayat misterius. Bisikan aneh. Dan rasa tidak nyaman yang terus menghantui pikirannya. Dengan perlahan, ia membuka tutup kotak. Aroma parfum yang sama kembali tercium. Wangi yang sulit dijelaskan. Namun cukup kuat untuk membuat siapa pun mengingatnya. Di dalam kotak masih terdapat tiga benda yang sama. Botol parfum hitam. Buku harian tua. Dan kunci perak kebiruan. Kali ini Arga mengambil buku harian. Sampul kulitnya terasa dingin dan kasar. Saat dibuka, dua halaman pertama terlihat kosong. Namun ketika ia membalik ke halaman ketiga, tulisan hitam perlahan muncul di atas kertas yang semula kosong. Arga langsung membelalak. Tulisan itu muncul tepat di depan matanya. Seolah tinta tak terlihat sedang perlahan memperlihatkan dirinya. "Jika kau membaca buku ini, berarti kau telah menemukan Rahasia Kehidupan." Arga mengernyit. Rahasia Kehidupan? Ia melanjutkan membaca. "Dan jika kau menemukan Rahasia Kehidupan, maka kau adalah pewaris berikutnya." Pewaris? Alis Arga semakin berkerut. Ia membalik halaman berikutnya. Tulisan baru kembali muncul. "Parfum ini tidak memilih orang secara acak." "Parfum ini hanya memilih satu pewaris dalam setiap generasi." Jantung Arga mulai berdetak lebih cepat. Entah kenapa, setiap kalimat dalam buku itu terasa nyata. Seolah ditulis khusus untuk dirinya. Di bagian bawah halaman berikutnya terdapat dua kalimat yang ditulis menggunakan huruf kapital besar. GUNAKAN SEPERLUNYA. JANGAN SERAKAH. Arga menatap kedua kalimat itu cukup lama. Peringatan tersebut terdengar sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa jauh lebih mengancam. Ia membalik halaman berikutnya. Dan menemukan satu kalimat lain yang ditulis menggunakan tinta merah gelap. SEMUA PEWARIS SEBELUMMU MENGABAIKAN PERINGATAN INI. Bulu kuduk Arga langsung berdiri. Tangannya terasa dingin. Apa yang terjadi pada para pewaris sebelumnya? Mengapa mereka mengabaikannya? Dan apa sebenarnya fungsi parfum itu? Dengan rasa penasaran yang semakin besar, ia membalik halaman berikutnya. Kosong, Halaman setelahnya juga kosong. Begitu pula puluhan halaman berikutnya. Seolah buku itu hanya ingin memberitahunya sedikit informasi dan menolak menjelaskan lebih banyak. Tiba-tiba terdengar suara kecil dari atas meja. Krek... Arga menghentikan gerakannya. Pandangan matanya perlahan beralih ke arah kotak. Botol parfum hitam itu bergerak, Sendiri. Botol tersebut bergeser beberapa sentimeter di atas meja kayu tanpa ada siapa pun yang menyentuhnya. Tubuh Arga langsung menegang. Ia bahkan lupa untuk bernapas. Perlahan, tutup botol parfum itu mulai berputar. Krek... Krek... Hingga akhirnya terbuka dengan sendirinya. Aroma misterius yang jauh lebih pekat segera memenuhi seluruh ruangan. Lampu kamar berkedip beberapa kali, Lalu padam. Kegelapan langsung menyelimuti kontrakan sempit itu. Arga berdiri dari kursinya dengan jantung yang berdegup liar. Pada saat itulah suara yang sama kembali terdengar. Suara yang pertama kali ia dengar di Kamar 1313. "Kau akhirnya pulang..." Suara itu terdengar jauh lebih jelas dibanding sebelumnya. Bukan lagi seperti bisikan. Melainkan seperti seseorang yang berdiri tepat di samping telinganya. Dan sebelum Arga sempat bergerak, sesuatu yang dingin menyentuh bahunya dari belakang.Hutan kota itu kembali sunyi setelah semuanya berakhir. Tidak ada lagi suara perdebatan, tidak ada lagi langkah kaki yang terburu-buru, hanya suara angin yang melewati dedaunan dan gemericik air dari parit kecil di sepanjang jalan setapak.Arga berdiri beberapa meter dari tempat Frans terbaring. Napasnya masih terdengar berat, sementara jemarinya menggenggam botol parfum hitam yang kini terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.Ia menatap cairan di dalam botol dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Jumlahnya bertambah.Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat Arga memahami sesuatu yang mengerikan.Parfum itu menyukainya.Atau mungkin, lebih tepatnya, parfum tersebut menyukai apa yang baru saja ia lakukan.Arga perlahan menunduk dan memandang Frans untuk terakhir kalinya. Pria yang beberapa jam lalu masih berjalan memasuki hutan dengan keyakinan bahwa dirinya sedang menghadiri pertemuan perusahaan kini telah menjadi k
DOSA PERTAMASisa-sisa rasa kemanusiaan yang pernah hidup di dalam diri Arga kini hampir tidak lagi memiliki tempat untuk bertahan. Hari demi hari, perubahan itu semakin nyata, bukan hanya dalam cara ia memandang orang lain, tetapi juga dalam cara ia mengambil keputusan. Dahulu, Arga masih bisa merasa kasihan ketika melihat seseorang kesusahan, masih mampu merasa bersalah setelah melakukan kesalahan, dan masih memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan ketika tindakannya merugikan orang lain. Sekarang semua perasaan tersebut seolah telah dikikis sedikit demi sedikit oleh sesuatu yang tidak pernah terlihat, tetapi terus tumbuh di dalam dirinya.Orang-orang di sekitarnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda dalam pandangannya. Ada yang ia anggap berguna, ada yang dapat menjadi sumber energi, sementara sisanya hanya dianggap sebagai penghalang yang tidak perlu dipertahankan keberadaannya. Bahkan ketika ia menyadari bahwa pikirannya telah sampai pada titik tersebut, Arga tidak
Gejala Pertama yang Tak TerlihatKeputusan itu datang begitu saja, tetapi setelah muncul di dalam kepalanya, Arga tidak lagi mampu mengusirnya. Sosok Frans yang berdiri di ujung lorong terasa seperti sebuah noda yang mengganggu pemandangan sempurna yang sedang ia bangun, terutama karena pria itu mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini berusaha Arga sembunyikan dari semua orang.Arga masih berdiri di balik kaca ruangannya ketika Frans akhirnya berbalik dan berjalan menuju lift bersama dua karyawan lainnya. Wajah Arga tidak menunjukkan kemarahan, bahkan ia sempat tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi tangan yang berada di dalam saku celananya masih menggenggam botol parfum dengan erat.Botol itu terasa hangat.Bukan sekadar hangat seperti terkena suhu tubuh, melainkan seperti memiliki denyut kecil yang bergerak dari dasar botol menuju tutupnya. Arga bisa merasakan getaran halus itu melalui telapak tangannya, seolah parf
Gejala Pertama yang Tak TerlihatDi dalam ruangan berpendingin udara yang megah di lantai paling atas gedung Wijaya Group, Arga menikmati setiap detik dari puncak kejayaannya yang dahulu bahkan tidak pernah berani ia bayangkan. Duduk di balik meja kerja dari kayu jati yang kokoh dengan dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap ibu kota dari ketinggian, ia tidak lagi perlu bersusah payah membujuk siapa pun ataupun mencari muka kepada orang-orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya. Setiap perintah yang keluar dari mulutnya segera dilaksanakan, sementara para staf yang menerima instruksi darinya lebih sering menundukkan kepala daripada mempertanyakan keputusan yang dibuatnya.Perubahan itu terasa begitu sempurna hingga Arga sendiri mulai lupa bagaimana rasanya menjadi seorang petugas kebersihan yang dahulu harus berhati-hati ketika berbicara kepada para manajer. Kini, orang-orang yang dulu bahkan tidak mau menoleh kepadanya justru berdiri menunggu persetujuannya, seolah-olah masa
GAIRAH TERLARANGAda sesuatu yang salah di dalam tubuh Arga, sebuah dorongan liar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hawa nafsu itu merayap dari pangkal tulang belakang, membakar setiap jengkal pembuluh darahnya dengan sensasi panas yang nyaris membuatnya gila. Ia tidak lagi sekadar menginginkan perhatian atau pesona magis dari parfum terkutuk itu, melainkan sebuah gairah lapar yang menuntut untuk dibuaskan secara brutal.Setiap kali matanya menangkap sosok wanita yang melintas di depannya, dadanya bergemuruh hebat dan pikirannya dipenuhi fantasi liar untuk bercumbu dengan mereka saat itu juga. Hasrat tersebut begitu mendesak hingga pandangannya sering kali menggelap, menyisakan bayangan gairah yang sulit dikekang. Terlebih lagi saat ia berhadapan dengan Rosela.Aroma tubuh Rosela, cara wanita itu menatapnya dengan kepatuhan kosong, hingga lekuk lehernya yang terbuka seolah menjadi umpan paling mematikan bagi Arga. Setiap kali Rosela berada di dekatnya, Arga harus mengepalkan tang
Kebangkitan"Karena tubuhmu sudah mengenalku jauh sebelum kau mengenal dirimu sendiri."Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Arga menatap cermin dengan napas yang tidak beraturan. Sosok pria tua di dalam pantulan tersebut masih berdiri dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduknya meremang, tetapi kali ini Arga tidak lagi merasa hanya sedang berhadapan dengan bayangan yang berusaha menakut-nakutinya. Ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penampakan, sebab untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa sosok tersebut mungkin memiliki hubungan dengan dirinya yang tidak pernah ia ketahui.Arga menundukkan kepala dan kembali melihat album foto yang berserakan di lantai. Beberapa lembar foto masa kecilnya masih terbuka, tetapi wajahnya yang seharusnya menjadi bagian paling akrab dari kenangan tersebut perlahan berubah menjadi wajah asing yang tidak pernah ingin ia kenal. Ia meraih salah satu foto dengan tangan gemetar, mengusap permukaann







