Share

BAB 2

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-13 23:12:45

#Pewaris

"...aku menemukanmu."

Bisikan itu menghilang secepat kemunculannya.

Arga tersentak hingga refleks menjatuhkan botol parfum hitam yang baru saja ia pegang. Botol itu terlepas dari jemarinya dan jatuh kembali ke dalam kotak beludru dengan bunyi pelan.

Ia menoleh ke belakang, lalu ke arah pintu kamar, berharap menemukan seseorang yang sedang mempermainkannya. Namun tidak ada siapa-siapa.

Hanya dirinya dan jasad pria tua yang masih terbaring tak bergerak di atas ranjang.

Mungkin aku terlalu tegang.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar kamar.

"Pak! Kamar 1313 di sini!"

Arga langsung tersadar.

Petugas keamanan hotel akhirnya datang.

Pandangannya jatuh pada kotak tua di dekat kakinya. Entah kenapa, ia merasa benda itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Ada dorongan aneh yang sulit dijelaskan, seolah sesuatu di dalam kotak tersebut sedang memanggilnya.

Tanpa berpikir panjang, Arga segera menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam kantong besar troli kebersihannya.

Beberapa detik kemudian, dua petugas keamanan berlari masuk ke kamar.

Wajah mereka langsung berubah pucat saat melihat jasad pria tua di atas ranjang.

"Ya Tuhan..."

Salah satu dari mereka segera menghubungi pihak manajemen.

Tak lama kemudian, suasana hotel berubah kacau.

Manajer, petugas keamanan tambahan, dan polisi mulai berdatangan. Koridor yang biasanya tenang kini dipenuhi suara langkah kaki dan percakapan tegang.

Arga duduk di kursi koridor sambil menunggu giliran dimintai keterangan.

Namun pikirannya tidak tertuju pada mayat yang baru saja ditemukan.

Pikirannya terus tertuju pada kotak tua yang masih tersembunyi di dalam troli.

Kalau polisi memeriksa seluruh barang di sekitar TKP, bagaimana kalau mereka menemukan kotak itu?

Bagaimana kalau mereka menganggapnya pencuri?

Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

"Arga."

Suara yang dikenalnya membuat ia mengangkat kepala.

Frans berdiri di depannya dengan wajah tegang.

"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?"

"Saya menemukan tamu itu sudah meninggal saat masuk kamar."

Frans mengusap dagunya.

"Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang membuat hotel ini bermasalah."

Arga langsung memahami maksud kalimat tersebut.

Bukan rasa khawatir terhadap dirinya.

Frans hanya khawatir reputasi hotel rusak.

Tak lama kemudian, seorang polisi menghampiri.

"Saudara Arga?"

"Iya, Pak."

"Mari ikut sebentar."

Arga mengangguk lalu mengikuti polisi itu menuju ruang rapat kecil yang sementara digunakan untuk pemeriksaan saksi.

Interogasi berlangsung hampir setengah jam.

Polisi menanyakan kapan ia masuk kamar, apa yang dilihat pertama kali, dan apakah ada benda yang tampak mencurigakan.

Ketika pertanyaan mengenai barang-barang di kamar muncul, jantung Arga kembali berdegup lebih cepat.

"Apakah Anda menyentuh sesuatu di dalam kamar?"

Arga terdiam sepersekian detik.

Kotak tua itu langsung terlintas di benaknya.

Namun ia segera menggeleng.

"Tidak, Pak."

Polisi tersebut menatap wajahnya cukup lama sebelum menuliskan sesuatu di buku catatan.

"Baik. Untuk sementara Anda masih berstatus saksi. Jika ada perkembangan, kami akan menghubungi Anda lagi."

Arga mengangguk pelan.

Baru setelah keluar dari ruang pemeriksaan, ia bisa mengembuskan napas lega.

Malam sudah turun ketika seluruh proses pemeriksaan selesai.

Dengan hati-hati, ia membawa pulang troli yang berisi kotak misterius itu. Bahkan selama perjalanan menuju kontrakan, ia beberapa kali menoleh ke belakang karena merasa sedang diawasi.

Setibanya di kontrakan, Arga segera mengunci pintu dan menutup jendela.

Kamar sempit itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Ia meletakkan kotak tua tersebut di atas meja kayu dekat ranjang, lalu duduk di hadapannya.

Untuk beberapa saat, Arga hanya memandang benda itu tanpa bergerak.

Semua masalah yang terjadi hari ini bermula dari kotak tersebut.

Mayat misterius.

Bisikan aneh.

Dan rasa tidak nyaman yang terus menghantui pikirannya.

Dengan perlahan, ia membuka tutup kotak.

Aroma parfum yang sama kembali tercium.

Wangi yang sulit dijelaskan.

Namun cukup kuat untuk membuat siapa pun mengingatnya.

Di dalam kotak masih terdapat tiga benda yang sama.

Botol parfum hitam.

Buku harian tua.

Dan kunci perak kebiruan.

Kali ini Arga mengambil buku harian.

Sampul kulitnya terasa dingin dan kasar.

Saat dibuka, dua halaman pertama terlihat kosong.

Namun ketika ia membalik ke halaman ketiga, tulisan hitam perlahan muncul di atas kertas yang semula kosong.

Arga langsung membelalak.

Tulisan itu muncul tepat di depan matanya.

Seolah tinta tak terlihat sedang perlahan memperlihatkan dirinya.

"Jika kau membaca buku ini, berarti kau telah menemukan Rahasia Kehidupan."

Arga mengernyit.

Rahasia Kehidupan?

Ia melanjutkan membaca.

"Dan jika kau menemukan Rahasia Kehidupan, maka kau adalah pewaris berikutnya."

Pewaris?

Alis Arga semakin berkerut.

Ia membalik halaman berikutnya.

Tulisan baru kembali muncul.

"Parfum ini tidak memilih orang secara acak."

"Parfum ini hanya memilih satu pewaris dalam setiap generasi."

Jantung Arga mulai berdetak lebih cepat.

Entah kenapa, setiap kalimat dalam buku itu terasa nyata.

Seolah ditulis khusus untuk dirinya.

Di bagian bawah halaman berikutnya terdapat dua kalimat yang ditulis menggunakan huruf kapital besar.

GUNAKAN SEPERLUNYA.

JANGAN SERAKAH.

Arga menatap kedua kalimat itu cukup lama.

Peringatan tersebut terdengar sederhana.

Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa jauh lebih mengancam.

Ia membalik halaman berikutnya.

Dan menemukan satu kalimat lain yang ditulis menggunakan tinta merah gelap.

SEMUA PEWARIS SEBELUMMU MENGABAIKAN PERINGATAN INI.

Bulu kuduk Arga langsung berdiri.

Tangannya terasa dingin.

Apa yang terjadi pada para pewaris sebelumnya?

Mengapa mereka mengabaikannya?

Dan apa sebenarnya fungsi parfum itu?

Dengan rasa penasaran yang semakin besar, ia membalik halaman berikutnya.

Kosong, Halaman setelahnya juga kosong.

Begitu pula puluhan halaman berikutnya.

Seolah buku itu hanya ingin memberitahunya sedikit informasi dan menolak menjelaskan lebih banyak.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari atas meja.

Krek...

Arga menghentikan gerakannya.

Pandangan matanya perlahan beralih ke arah kotak.

Botol parfum hitam itu bergerak, Sendiri.

Botol tersebut bergeser beberapa sentimeter di atas meja kayu tanpa ada siapa pun yang menyentuhnya.

Tubuh Arga langsung menegang.

Ia bahkan lupa untuk bernapas.

Perlahan, tutup botol parfum itu mulai berputar.

Krek...

Krek...

Hingga akhirnya terbuka dengan sendirinya.

Aroma misterius yang jauh lebih pekat segera memenuhi seluruh ruangan.

Lampu kamar berkedip beberapa kali, Lalu padam.

Kegelapan langsung menyelimuti kontrakan sempit itu.

Arga berdiri dari kursinya dengan jantung yang berdegup liar.

Pada saat itulah suara yang sama kembali terdengar.

Suara yang pertama kali ia dengar di Kamar 1313.

"Kau akhirnya pulang..."

Suara itu terdengar jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Bukan lagi seperti bisikan.

Melainkan seperti seseorang yang berdiri tepat di samping telinganya.

Dan sebelum Arga sempat bergerak, sesuatu yang dingin menyentuh bahunya dari belakang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rosela You
lanjut thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 72

    OBSESI ENERGI WANITA   Tangan Arga mencengkeram pergelangan tangan Rosela dengan kekuatan yang cukup kuat untuk membuatnya nyeri sekaligus tak berdaya melawan, lalu menariknya berjalan masuk menuju kamar utama mereka ruangan yang dulu rosela pikir adalah kamar pribadinya, namun kini terasa begitu asing, dingin, dan mengerikan di bawah bayang-bayang sosok yang berdiri di sampingnya. Langkah Rosela terasa berat seakan kakinya tertanam di lantai, setiap langkah yang dipaksakan mengikuti arah tarikan tangan itu terasa seperti berjalan menuju tempat hukuman yang tak terelakkan, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, menyadari bahwa tidak ada suara yang akan didengar, tidak ada bantuan yang akan datang, dan tidak ada jalan keluar yang tersisa baginya malam ini. Pintu tertutup rapat di belakang mereka, bunyi kunci yang diputar terdengar nyaring di keheningan ruangan itu, seakan menandakan bahwa pintu itu tidak hanya menutup

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 71

    TUJUAN SEBENARNYA  Rosela berdiri mematung di tempatnya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat seakan diguncang dingin yang tak tertahankan, meskipun udara di sekitarnya justru terasa panas dan menyesakkan. Ia sama sekali tidak mampu memalingkan wajah maupun menggerakkan seujung jari pun, bahkan ketika setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyakitkan, seakan ada sesuatu yang menindas dadanya tanpa ampun. Pemandangan yang baru saja ia lihat sekilas dari balik tubuh Arga kini terpatri begitu jelas di dalam pikirannya, seakan terbakar permanen di sana: Nadia, yang dulu selalu berdiri tegak dan penuh percaya diri, kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tubuhnya dibiarkan tanpa perlindungan apa pun, terikat dalam kesunyian yang memilukan tanpa ada tanda-tanda ia akan segera dibebaskan. Rasa bersalah yang luar biasa segera menyergap hati Rosela saat menyadari bahwa keputusan Nadia untuk berpihak kepadanyalah yang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 70

    Di Balik Pintu TertutupSuara teriakan yang memecah keheningan malam itu terdengar begitu tajam, menusuk hingga ke tulang sumsum, seakan setiap jengkal rasa sakit dan ketakutan dikumandangkan sepenuhnya dari balik pintu kayu tebal yang kini tertutup rapat di hadapan Rosela. Ia hanya berdiri agak jauh di sana, membiarkan kakinya menancap di lantai dingin tanpa mampu melangkah maju maupun mundur. Sementara itu, air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, membawa rasa bersalah yang begitu berat, bercampur dengan ketakutan yang tak terlukiskan.Di dalam sana, Nadia perempuan yang dulu pernah berdiri di sisi Arga, yang pernah bersamanya, bahkan sempat menjadi lawan sekaligus saingannya sedang menanggung akibat dari keberaniannya untuk memilih berpihak kepada Rosela.Setelah sekian lama terjebak dalam keraguan, setelah menyadari segala kebenaran tentang parfum itu, tentang pengaruh yang menguasai Arga, dan tentang rencana mengerikan yang sedang berjalan, akhirnya Nadia memutuskan

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 69

    PINTU YANG TERTUTUPArga tidak memberikan kesempatan kepada Nadia untuk mengatakan apa pun. Dalam sekejap, tangannya meraih rambut perempuan itu dengan gerakan kasar, membuat Nadia terkejut dan refleks berusaha melepaskan genggamannya. Namun, tenaga Arga jauh lebih kuat. Ia menarik Nadia menjauh dari Rosela dan menyeretnya menuju ruangan sebelah, sementara langkah Nadia beberapa kali tersandung karena ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.“Arga, lepaskan aku!” teriak Nadia dengan suara bergetar.Rosela yang melihat kejadian itu langsung bergerak maju, tetapi kakinya terasa begitu lemah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia ingin menghentikan Arga, ingin menarik Nadia kembali, tetapi ketakutan yang begitu besar membuat tubuhnya seolah tidak mau mendengarkan perintahnya.“Arga, jangan!”Arga hanya menoleh sekilas kepadanya. Tatapan sapphire itu membuat Rosela langsung berhenti.Tidak ada lagi Arga yang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 68

    HUKUMAN ARGALaki-laki yang berdiri di hadapan mereka memang masih tampak seperti Arga yang selama ini mereka kenal, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan melihat perubahan pada wajah atau sikapnya. Tatapannya terlihat jauh lebih dingin, ekspresinya terasa asing, dan yang paling membuat Rosela merasa tidak nyaman adalah senyum yang perlahan muncul di bibirnya. Senyum itu sama sekali bukan senyum Arga yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di baliknya, sesuatu yang membuat tubuh Rosela seketika menegang dan tanpa sadar membuatnya menahan napas.Arga menatap mereka berdua secara bergantian tanpa mengatakan apa pun selama beberapa saat, seolah sedang menikmati keterkejutan yang terlihat jelas di wajah mereka. Kemudian, senyum di bibirnya perlahan melebar, berubah menjadi senyum yang begitu aneh dan terasa seperti senyum seseorang yang sudah tidak lagi memiliki keraguan ataupun rasa bersalah dalam d

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 67

    ArgaElena menatapnya dengan ragu.“Bagaimana caranya kau akan mencegah hal itu terjadi jika kau bahkan tidak bisa menghapus darahmu sendiri?”“Aku akan menghancurkan parfumnya dulu,” jawab Erevan mantap.“Kalau hanya parfumnya yang dihancurkan, belum tentu cukup karena kekuatannya sudah terbagi ke dalam banyak hal,” koreksi Elena dengan lembut, namun jujur.“Kalau begitu, aku akan menghancurkan sumber kekuatannya, apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan api yang kembali menyala di matanya.“Elena tahu itu tidak akan mudah dan harganya mungkin sangat mahal,” peringatnya dengan cemas.“Tidak ada yang mudah sejak aku dilahirkan ke dalam keluarga ini,” balas Erevan tegas sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil buku tua yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mereka berdua.Ia membukanya perlahan dengan hati-hati, menelusuri halaman-halaman tua yang dipenuhi tulisan tangan kuno yang sebagian besar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status