Share

 PEWARIS PARFUM PENGGODA
PEWARIS PARFUM PENGGODA
Author: Rosela2505

BAB 1

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-13 23:00:05

#Kamar 1313

"Kalau kerjaannya cuma melamun, kapan selesainya?!" Bentakan Supervisor Frans menggema di koridor hotel, merusak ketenangan siang itu.

Arga yang sedang mendorong troli kebersihan langsung tersentak. Beberapa staf menoleh, sebagian besar menyeringai mengejek.

"Wajar saja kamu miskin terus!" lanjut Frans berapi-api. "Kerja lambat, otak juga lambat!"

Tangan Arga mengepal kuat pada besi troli hingga buku jarinya memutih.

Kalau aku tidak butuh uang, aku pasti sudah meninju wajah manajer sialan ini sekarang juga!

Rahangnya mengeras saat batinnya merutuk.

Kenapa harus aku yang dilahirkan miskin?

Dua tahun sudah ia bertahan sebagai cleaning service di Hotel Grand Meridian. Selama itu pula nasibnya tak pernah berubah. Gaji pas-pasan habis untuk kontrakan sempit dan tagihan yang selalu datang lebih cepat daripada tanggal gajian. Namun, beban terberatnya adalah biaya pengobatan ibunya di kampung.

Ponsel di sakunya bergetar, memunculkan nama yang membuat dadanya kian sesak, Ibu.

Arga bergegas mengangkatnya.

"Halo, Bu."

"Ga..." suara lemah ibunya terdengar parau. "Dokter bilang obat bulan ini harus segera ditebus."

Jantung Arga serasa diremas kuat.

"Berapa, Bu?"

"Dua juta lima ratus."

Arga memejamkan mata rapat-rapat. Tabungannya saat ini bahkan tidak sampai setengah dari nominal itu.

"Jangan dipikirkan dulu, Bu. Arga pasti cari jalannya."

"Jangan memaksa diri, Nak."

"Iya, Bu."

Setelah panggilan terputus, Arga menatap nanar layar ponselnya yang menggelap. Angka itu bagai gunung yang mustahil didaki.

"Heh! Jangan main HP saat kerja!" bentak Frans yang kembali mendekat.

Arga buru-buru mengantongi ponselnya.

"Maaf, Pak."

Frans mendengus jijik lalu melenggang pergi.

Belum sempat Arga mengatur napas, sebuah suara ketus terdengar dari arah belakang.

"Permisi."

Arga menoleh.

Seorang wanita muda berpenampilan mewah berdiri di depan lift. Tas bermerek melingkari bahunya, memancarkan aroma parfum mahal yang menusuk hidung.

"Maaf, Mbak."

Arga segera menggeser trolinya ke tepi.

Namun wanita itu justru mengernyit sinis.

"Hotel ini makin turun kualitasnya. Cleaning service dibiarkan berdiri di tengah jalan seperti pengemis."

Beberapa tamu yang lewat seketika menoleh.

Wajah Arga memanas karena malu, namun ia hanya bisa menundukkan kepala. Wanita itu pergi tanpa memedulikan perasaannya.

Hari ini benar-benar terasa menyebalkan.

Menjelang sore, sebagian besar staf mulai bersiap pulang. Arga baru saja merapikan peralatan kerjanya ketika sebuah kartu akses plastik melayang dan mengenai dadanya.

"Cek kamar 1313," perintah Frans yang tiba-tiba berdiri di depannya dengan tangan merengkuh saku.

Arga mengernyit.

"Kamar 1313?"

"Tamunya tidak keluar tiga hari, Telepon tidak diangkat, bahkan layanan kamar selalu ditolak."

Arga melirik jam tangannya yang usang.

"Tapi kenapa saya, Pak? Ini sudah waktunya saya pulang."

"Ya karena cuma kamu yang mau lembur tanpa dibayar!"

Arga mengerutkan dahi.

"Saya tidak pernah bilang mau lembur gratis, Pak."

"Lalu siapa yang mau membiayai obat ibumu?" Frans melangkah mendekat, berbisik mengancam. "Dengar, kalau kamu menolak, silakan berhenti kerja sore ini juga. Gampang, kan?"

Tangan Arga kembali mengepal.

Kalau aku kaya, orang bajingan ini sudah kuhajar.

Namun, realitas menamparnya. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.

Arga akhirnya menunduk pasrah.

"...Baik, Pak."

"Nah, begitu dong," Frans menepuk bahunya meremehkan. "Sekarang cepat periksa."

Arga mengambil kartu akses tersebut. Firasat buruk mendadak menyergap dadanya saat memandangi angka kembar di kartu itu.

1313.

Koridor menuju kamar itu terasa jauh lebih sunyi dibanding area hotel lainnya. Lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan temaram, menciptakan kesan suram yang mencekam. Di depan pintu, tanda "Jangan Diganggu" masih tergantung kaku.

Arga menarik napas dalam-dalam, lalu menempelkan kartu akses ke panel.

Pintu terbuka perlahan, memicu derit halus yang menegangkan.

"Permisi..." panggil Arga.

Tidak ada jawaban.

Ruangan itu sangat sunyi dan gelap gulita.

Arga melangkah masuk, lalu seketika aroma apek bercampur hawa lembap menusuk penciumannya. Sepasang matanya menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya pandangannya terpaku pada ranjang.

Tubuhnya seketika membeku.

Seorang pria tua terbaring kaku di sana. Tidak bergerak, tidak bernapas, dengan kulit pucat yang mengerikan, Mayat.

"Sialan..." Arga mengumpat lirih.

Jantungnya berdegup kencang akibat rasa takut yang luar biasa.

Tangannya refleks merogoh saku untuk menghubungi manajemen hotel. Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, sebuah benda di bawah ranjang mendadak menarik perhatiannya.

Sebuah kotak kayu tua tergeletak di sana, tampak mencolok di antara interior kamar yang mewah. Permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang tertutup debu tebal.

Rasa penasaran tiba-tiba mengalahkan akal sehatnya.

Arga berlutut, lalu menarik kotak itu keluar.

Debu beterbangan saat kotak itu bergeser.

"Barang antik?" gumamnya.

Perlahan, Arga membuka pengait logamnya.

Seketika aroma harum yang sangat pekat menyeruak, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Wanginya sangat asing, mewah, dan entah bagaimana terasa seolah-olah memiliki kehidupan.

Di dalam kotak beludru merah itu, terdapat tiga benda: sebuah botol parfum kaca hitam legam, buku harian tua bersampul kulit, dan sebuah kunci perak kebiruan yang berkilau samar.

Arga meraih botol parfum hitam itu.

Permukaannya terasa sangat dingin, sensasi ekstrem yang tidak wajar karena pendingin ruangan kamar itu mati. Begitu kulitnya bersentuhan dengan botol kaca tersebut, rasa dingin menjalar cepat ke seluruh lengannya, membuat tubuhnya mendadak tegang.

Pada detik yang sama, firasat mengerikan menyergap batinnya.

Ia merasa seolah-olah ada seseorang yang sedang berdiri tepat di belakang punggungnya, mengawasi setiap gerakannya.

Dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis, Arga memutar tubuhnya perlahan.

Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.

Ruangan itu kosong, hanya ada jenazah pria tua yang membisu di atas ranjang.

Arga menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan debaran dadanya.

"Mungkin aku hanya terlalu tegang..." bisiknya menepis ketakutan.

Namun, tepat ketika ia hendak mengembalikan botol tersebut, sebuah suara berat dan dingin mendadak menggema.

Suara itu tidak terdengar dari sudut ruangan, melainkan bergaung langsung di dalam pusat kepalanya.

"Akhirnya..."

Seluruh bulu kuduk Arga berdiri tegak seketika.

Sistem sarafnya lumpuh akibat rasa ngeri yang teramat sangat.

Belum sempat ia mencerna situasi mistis itu, suara asing tersebut kembali berbisik, terdengar jauh lebih jelas dan dekat di telinganya.

"...aku menemukanmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rosela You
huaaaa cerita nya seruuuuu,,,,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 72

    OBSESI ENERGI WANITA   Tangan Arga mencengkeram pergelangan tangan Rosela dengan kekuatan yang cukup kuat untuk membuatnya nyeri sekaligus tak berdaya melawan, lalu menariknya berjalan masuk menuju kamar utama mereka ruangan yang dulu rosela pikir adalah kamar pribadinya, namun kini terasa begitu asing, dingin, dan mengerikan di bawah bayang-bayang sosok yang berdiri di sampingnya. Langkah Rosela terasa berat seakan kakinya tertanam di lantai, setiap langkah yang dipaksakan mengikuti arah tarikan tangan itu terasa seperti berjalan menuju tempat hukuman yang tak terelakkan, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, menyadari bahwa tidak ada suara yang akan didengar, tidak ada bantuan yang akan datang, dan tidak ada jalan keluar yang tersisa baginya malam ini. Pintu tertutup rapat di belakang mereka, bunyi kunci yang diputar terdengar nyaring di keheningan ruangan itu, seakan menandakan bahwa pintu itu tidak hanya menutup

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 71

    TUJUAN SEBENARNYA  Rosela berdiri mematung di tempatnya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat seakan diguncang dingin yang tak tertahankan, meskipun udara di sekitarnya justru terasa panas dan menyesakkan. Ia sama sekali tidak mampu memalingkan wajah maupun menggerakkan seujung jari pun, bahkan ketika setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyakitkan, seakan ada sesuatu yang menindas dadanya tanpa ampun. Pemandangan yang baru saja ia lihat sekilas dari balik tubuh Arga kini terpatri begitu jelas di dalam pikirannya, seakan terbakar permanen di sana: Nadia, yang dulu selalu berdiri tegak dan penuh percaya diri, kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tubuhnya dibiarkan tanpa perlindungan apa pun, terikat dalam kesunyian yang memilukan tanpa ada tanda-tanda ia akan segera dibebaskan. Rasa bersalah yang luar biasa segera menyergap hati Rosela saat menyadari bahwa keputusan Nadia untuk berpihak kepadanyalah yang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 70

    Di Balik Pintu TertutupSuara teriakan yang memecah keheningan malam itu terdengar begitu tajam, menusuk hingga ke tulang sumsum, seakan setiap jengkal rasa sakit dan ketakutan dikumandangkan sepenuhnya dari balik pintu kayu tebal yang kini tertutup rapat di hadapan Rosela. Ia hanya berdiri agak jauh di sana, membiarkan kakinya menancap di lantai dingin tanpa mampu melangkah maju maupun mundur. Sementara itu, air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, membawa rasa bersalah yang begitu berat, bercampur dengan ketakutan yang tak terlukiskan.Di dalam sana, Nadia perempuan yang dulu pernah berdiri di sisi Arga, yang pernah bersamanya, bahkan sempat menjadi lawan sekaligus saingannya sedang menanggung akibat dari keberaniannya untuk memilih berpihak kepada Rosela.Setelah sekian lama terjebak dalam keraguan, setelah menyadari segala kebenaran tentang parfum itu, tentang pengaruh yang menguasai Arga, dan tentang rencana mengerikan yang sedang berjalan, akhirnya Nadia memutuskan

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 69

    PINTU YANG TERTUTUPArga tidak memberikan kesempatan kepada Nadia untuk mengatakan apa pun. Dalam sekejap, tangannya meraih rambut perempuan itu dengan gerakan kasar, membuat Nadia terkejut dan refleks berusaha melepaskan genggamannya. Namun, tenaga Arga jauh lebih kuat. Ia menarik Nadia menjauh dari Rosela dan menyeretnya menuju ruangan sebelah, sementara langkah Nadia beberapa kali tersandung karena ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.“Arga, lepaskan aku!” teriak Nadia dengan suara bergetar.Rosela yang melihat kejadian itu langsung bergerak maju, tetapi kakinya terasa begitu lemah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia ingin menghentikan Arga, ingin menarik Nadia kembali, tetapi ketakutan yang begitu besar membuat tubuhnya seolah tidak mau mendengarkan perintahnya.“Arga, jangan!”Arga hanya menoleh sekilas kepadanya. Tatapan sapphire itu membuat Rosela langsung berhenti.Tidak ada lagi Arga yang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 68

    HUKUMAN ARGALaki-laki yang berdiri di hadapan mereka memang masih tampak seperti Arga yang selama ini mereka kenal, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan melihat perubahan pada wajah atau sikapnya. Tatapannya terlihat jauh lebih dingin, ekspresinya terasa asing, dan yang paling membuat Rosela merasa tidak nyaman adalah senyum yang perlahan muncul di bibirnya. Senyum itu sama sekali bukan senyum Arga yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di baliknya, sesuatu yang membuat tubuh Rosela seketika menegang dan tanpa sadar membuatnya menahan napas.Arga menatap mereka berdua secara bergantian tanpa mengatakan apa pun selama beberapa saat, seolah sedang menikmati keterkejutan yang terlihat jelas di wajah mereka. Kemudian, senyum di bibirnya perlahan melebar, berubah menjadi senyum yang begitu aneh dan terasa seperti senyum seseorang yang sudah tidak lagi memiliki keraguan ataupun rasa bersalah dalam d

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 67

    ArgaElena menatapnya dengan ragu.“Bagaimana caranya kau akan mencegah hal itu terjadi jika kau bahkan tidak bisa menghapus darahmu sendiri?”“Aku akan menghancurkan parfumnya dulu,” jawab Erevan mantap.“Kalau hanya parfumnya yang dihancurkan, belum tentu cukup karena kekuatannya sudah terbagi ke dalam banyak hal,” koreksi Elena dengan lembut, namun jujur.“Kalau begitu, aku akan menghancurkan sumber kekuatannya, apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan api yang kembali menyala di matanya.“Elena tahu itu tidak akan mudah dan harganya mungkin sangat mahal,” peringatnya dengan cemas.“Tidak ada yang mudah sejak aku dilahirkan ke dalam keluarga ini,” balas Erevan tegas sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil buku tua yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mereka berdua.Ia membukanya perlahan dengan hati-hati, menelusuri halaman-halaman tua yang dipenuhi tulisan tangan kuno yang sebagian besar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status