Share

Bab 002

last update publish date: 2026-02-17 16:05:57

Wu Teng melompat mundur. Ia menghindar dengan langkah Bayangan Sunyi —tubuhnya bergerak di antara celah cahaya dan asap, seolah menyatu dengan bayangannya sendiri.

Pedang pertama menyapu rambutnya. Pedang kedua menghantam tanah, menciptakan ledakan qi yang mengguncang puing-puing.

Lelaki muda itu mendarat di atas tiang runtuh. Dadanya naik turun.

“Aku tidak ingin melawan Anda, Tetua Han,” katanya, suaranya tertahan.

Tetua Han mendengus. “Bicara tak akan membersihkan darah di tanganmu!”

Ia menyerang lagi.

Kini dua pedangnya berputar membentuk pusaran. Setiap tebasan mengandung gelombang qi tajam yang memotong apa pun di jalurnya.

Api di sekitar mereka terbelah. Asap terseret oleh tekanan angin dari pedang.

Wu Teng tak punya pilihan. Perlahan, ia menghunus pedangnya sendiri.

Bilah itu sederhana, tanpa hiasan mewah. Namanya Bayangan Sunyi —pedang yang ditempa dari baja hitam legam, menyerap cahaya alih-alih memantulkannya.

Saat pedang itu terangkat, suasana berubah. Seolah malam turun kembali di tengah fajar yang belum sempat lahir.

Wu Teng menutup mata sepersekian napas, merasakan qi dalam tubuhnya. Gelap. Dingin. Namun kuat.

Ketika ia membuka mata, tatapannya tidak lagi bingung —melainkan fokus seperti danau yang permukaannya membeku.

Tetua Han menerjang dengan tusukan lurus.

Wu Teng bergerak.

Pedang Bayangan Sunyi menebas dengan sudut aneh, bukan untuk menahan, melainkan untuk menggeser arah energi lawan.

Kedua bilah bersentuhan, memercikkan suara nyaring. Gelombang qi beradu, menggetarkan udara.

Benturan pertama.

Lantai batu meledak. Debu dan bara terangkat ke udara.

Wu Teng memutar tubuh, membalas dengan tebasan horizontal. Gerakannya ringan, hampir tak terlihat. Bayangan pedangnya tertinggal sesaat sebelum menghilang.

Tetua Han menangkis, namun ia mundur setengah langkah. Matanya menyala oleh keterkejutan yang ia sembunyikan.

“Teknik ini…” gumam lelaki sepuh itu. “Semakin dalam kau menekuninya, semakin ia memakan jiwamu.”

Wu Teng tak menjawab. Dalam setiap gerakan, ia merasakan pola hitam di tangannya berdenyut lebih cepat. Qi dalam tubuhnya semakin liar, namun juga semakin kuat.

Aliansi di belakang Tetua Han maju setengah langkah, bersiap menyerbu.

Pertarungan memanas.

Wu Teng melompat tinggi, memanfaatkan sisa tiang sebagai pijakan.

Dari udara, ia menurunkan pedangnya dalam jurus “Bayangan Memotong Senja”.

Tebasan vertikal itu tak hanya mengarah pada tubuh, tetapi pada ruang di sekitarnya —seolah memotong bayangan itu sendiri.

Tetua Han menyilangkan pedangnya membentuk perisai qi. Ledakan terjadi di udara. Angin kencang menyapu puing dan membuat beberapa pendekar aliansi terpaksa mundur.

Darah mengalir dari sudut bibir Wu Teng. Luka di dadanya terbuka kembali.

Pria itu terhuyung. Di balik api dan asap, ia melihat tepi tebing —Jurang Penyesalan, tempat para murid biasa bermeditasi untuk merenungkan dosa dan karma.

Tetua Han mengangkat salah satu pedangnya tinggi-tinggi.

“Berhenti melawan, Wu Teng! Ikat dirimu dan ikut kami. Mungkin kematianmu akan lebih cepat.”

Wu Teng tertawa pahit. “Dan membiarkan kebenaran terkubur bersama sekte ini?”

Lelaki bertubuh kekar itu menatap Tetua Han dengan mata membara. “Aku tidak membunuh mereka. Aku bersumpah atas nama guruku.”

“Buktikan itu di hadapan arwah mereka!” teriak Tetua Han, lalu melepaskan serangan terakhirnya.

Dua pedang bersilangan, membentuk salib cahaya yang memancar lurus ke arah Wu Teng. Gelombang qi yang dilepaskan begitu pekat hingga udara bergetar seperti kain yang diremas.

Wu Teng tahu, jika terkena langsung, tubuhnya akan hancur.

Dalam sepersekian detik, ia membuat keputusan.

Ia memutar tubuh, melepaskan satu tebasan terakhir untuk membelah sebagian energi serangan, lalu melompat mundur.

Tubuhnya melayang ke arah tepi jurang.

Para pendekar aliansi menjerit.

“Dia hendak kabur!”

Wu Teng sempat melihat langit yang kini memucat oleh fajar. Bara-bara terakhir Sekte Cahaya Abadi memancarkan cahaya merah seperti mata yang menangis.

Guru… maafkan muridmu.

Tubuh lelaki itu jatuh ke dalam Jurang Penyesalan.

Angin menderu di telinganya. Batu-batu tebing melesat melewati sisi tubuhnya.

Rasa sakit di dada dan pola hitam di tangannya semakin membara, seolah sesuatu di dalam dirinya sedang terbangun.

Di atas tebing, Tetua Han menurunkan pedangnya perlahan.

“Jika ia hidup,” gumam lelaki sepuh itu, “Jianghu tak akan pernah tenang lagi.”

Asap terakhir membumbung ke langit.

Di bawah, dalam kegelapan jurang yang tak terjamah cahaya, Wu Teng jatuh —membawa misteri, darah, dan bayangan yang belum mengungkap wajah aslinya.

Dan di suatu tempat yang tak terlihat oleh siapa pun, fragmen giok hitam yang sempat ia genggam kini berkilau redup di dasar jurang, seolah menunggu saat untuk kembali berbicara.

***

Tubuh Wu Teng tidak jatuh sampai ke dasar jurang.

Nasib, atau mungkin sesuatu yang lebih ganjil, membuatnya tersangkut di dahan pohon pinus tua yang tumbuh menempel di dinding batu Jurang Penyesalan.

Cabang pohon itu melengkung seperti tangan renta yang menyambut tamu tak diundang.

Benturan keras membuat tulang rusuknya serasa retak, napasnya terhenti, dan pandangannya memercik putih.

Pria itu terkulai, tergantung di antara langit yang memudar dan jurang yang menganga.

Beberapa helaan napas kemudian, rasa sakit datang seperti pasukan berkuda menyerbu gerbang —berlapis, bertubi-tubi, tanpa belas kasihan.

Lelaki bertubuh kekar itu mengerang pelan. Lengannya lecet, pahanya robek oleh batu tajam, dan luka di dadanya kembali menganga.

“Aku belum mati…” gumamnya lirih.

Rembulan pucat mulai naik dari balik awan. Sinarnya menyelinap di antara tebing, memantulkan cahaya perak pada wajah Wu Teng yang dipenuhi debu dan darah.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu menggertakkan gigi, memaksa tubuhnya bergerak. Dengan susah payah, ia memeluk batang pohon dan menarik diri ke arah tebing.

Batu-batu licin oleh lumut. Setiap gerakan mengirimkan gelombang nyeri menelusuri meridian energinya —jalur-jalur halus dalam tubuh tempat qi mengalir.

Qi-nya kacau.

Biasanya, aliran energi dalam tubuh seorang pendekar seperti sungai teratur —mengalir melalui dua belas meridian utama, menyatu di dantian, pusat energi di bawah pusar.

Kini, aliran itu seperti banjir lumpur, tersumbat dan berputar liar.

“Jika begini terus, aku akan mati bahkan sebelum mereka menemukanku,” bisiknya.

Perlahan, Wu Teng merangkak menepi di atas cabang itu. Dari situ ia melihat sebuah celah kecil di dinding jurang —gua sempit yang tersembunyi oleh sulur-sulur tanaman liar.

Kesempatan.

Dengan sisa tenaga, pria itu meloncat pendek, menabrak dinding batu dan nyaris tergelincir.

Jemarinya mencengkeram retakan sempit. Ia menarik tubuhnya, mengabaikan kulit yang terkelupas, sampai akhirnya berhasil merayap masuk ke dalam gua.

Di dalam sana gelap dan lembap. Bau tanah basah bercampur akar liar memenuhi udara.

Wu Teng terbaring, terengah-engah. Setiap denyut jantungnya seperti pukulan gong.

Tangannya secara refleks menyentuh dada —mencari sesuatu.

Fragmen giok hitam itu masih ada di dalam lipatan pakaiannya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 150

    "Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 149

    Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 148

    Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 147

    Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 146

    Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 145

    Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 048

    Tubuh mereka memanjang, tulang menonjol tajam, suara mereka berubah menjadi geraman binatang.Para rahib memukul mundur makhluk-makhluk itu dengan mantra suci, namun setiap kali kabut menyentuh lebih banyak orang, jumlah mereka bertambah.Ketua Zhao berdiri di sisi lain medan, w

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 047

    Ling’er berdiri di sampingnya, napasnya terengah.Wu Teng menoleh padanya, mata pria berumur tiga puluh tahun itu menyala oleh pemahaman yang pahit.“Bukan di gurun,” katanya pelan. “Bukan di lembah.”Kabut hitam semakin tebal, menyelimuti pohon bodhi, gerbang, dan sisa

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 046

    Wu Teng membuka mata. “Aku yang akan membuka jalan,” katanya datar.Sebelum Rahib Agung sempat menahan, Wu Teng melompat turun dari tangga, mendarat tepat di depan gerbang yang mulai retak dihantam ribuan serangan.Pintu kayu raksasa itu akhirnya pecah.Gelombang pertam

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 045

    “Terlarang bukan hanya karena sekte. Bukan hanya karena takdir. Tapi karena darah," lanjut Wu Teng.Hening menggantung seperti pedang.Ling’er maju selangkah. Air mata mulai mengalir, namun suaranya tidak pecah. “Ibuku bukan ibumu. Kesamaan wajah itu bukan kebetulan, tapi juga b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status