Compartir

PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG
PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG
Autor: Nandar Hidayat

Bab 001

last update Última actualización: 2026-02-17 16:05:12

Langit dini hari di atas Dinasti Langya masih menggantungkan warna abu-abu, seperti kain sutra lusuh yang diseret ke ufuk timur.

Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Tianlu, tempat Sekte Cahaya Abadi berdiri selama seribu tahun —dengan atap lengkung hijau zamrud, pilar kayu cendana berukir naga, dan lentera merah yang biasanya menyala hangat menyambut para tamu dari dunia persilatan.

Kini, tak ada lagi lentera. Yang ada hanya bara.

Wu Teng terbangun dengan rasa sakit yang mengoyak dada. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya dipenuhi abu.

Lelaki itu terbaring di atas ubin batu yang retak dan hangus. Aroma kayu terbakar bercampur darah menyesakkan setiap helaan napasnya.

Ia mencoba bangkit. Pandangannya kabur. Api masih menjilati Aula Utama —tempat para tetua biasa bermeditasi dan mengajarkan Kitab Cahaya Fajar.

Suara kayu runtuh berderak, seperti tulang yang dipatahkan tanpa belas kasihan.

“Apa yang… terjadi?” desisnya lirih.

Pria bertubuh kekar itu memaksakan diri duduk. Jubah putihnya, yang biasanya bersih dan sederhana, kini koyak dan ternoda merah gelap.

Tangannya gemetar. Saat ia mengangkat telapak tangannya ke depan mata, jantungnya berhenti sejenak.

Darah.

Bukan sedikit. Seluruh jemarinya berlumuran darah yang belum kering.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri goyah. Di sekelilingnya terhampar tubuh-tubuh tak bernyawa —murid-murid junior yang dulu menyapanya dengan senyum polos, saudara seperguruan yang pernah berlatih pedang bersamanya di bawah hujan bunga persik.

Langkahnya terseret pelan. Di hadapannya, pintu Aula Utama runtuh dengan dentuman berat. Api memercik dan menerangi wajahnya yang pucat.

Ingatan Wu Teng kosong. Seperti sumur tua yang airnya mengering. Ia hanya ingat pertemuan malam sebelumnya —gurunya memanggilnya secara pribadi.

Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan tentang Aliansi Delapan Sekte Besar. Tentang ketegangan di Jianghu yang kian tak terkendali.

Lalu gelap.

Pria itu meraih dadanya. Rasa sakit luar biasa menjalar dari pusar ke tulang belakang, seperti ada sesuatu yang menggeliat di dalam meridiannya.

Energi dalamnya, qi yang selama ini dilatih dengan tekun melalui Teknik Nafas Cahaya Abadi, terasa kacau. Tidak harmonis. Tidak suci.

Ia memaksa diri melangkah ke tengah aula.

Di sana, di antara sisa tiang yang hangus dan altar leluhur yang hancur, terbaring sesosok tubuh berjubah emas pucat.

“Guru…” suara Wu Teng pecah.

Ketua Sekte Cahaya Abadi —Liu Qingshan, lelaki sepuh dengan alis putih panjang dan tatapan setajam pedang surgawi— terbaring tak bergerak.

Dadanya tertembus luka dalam. Darah menghitam di sekitar pakaian kebesarannya.

Wu Teng berlutut. Lelaki itu menyentuh bahu sang guru dengan tangan gemetar.

“Guru, bangunlah. Ini muridmu…”

Tak ada jawaban.

Di tangan kanan sang ketua, sesuatu berkilau di tengah bara merah. Sebuah fragmen giok hitam —seukuran dua jari, dengan ukiran simbol asing yang tak dikenali Wu Teng.

Pria itu mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat. Pernahkah ia melihat benda ini sebelumnya?

Saat jemarinya mendekat untuk mengambil fragmen itu, angin keras menyibak asap.

“Berani sekali kau masih menyentuh jasadnya!”

Suara lantang bergema dari pintu gerbang sekte yang kini tinggal rangka. Wu Teng menoleh.

Dari kabut dan cahaya bara, muncul barisan pendekar berpakaian beragam warna —hijau giok, biru laut, hitam pekat— dengan lambang sekte masing-masing tersemat di dada.

Aliansi Delapan Sekte Besar.

Di depan mereka berdiri seorang lelaki tua dengan rambut disanggul tinggi, jubah abu-abu berbordir awan perak berkibar tertiup angin. Tatapannya tajam dan dingin.

Tetua Han dari Sekte Pedang Awan.

Lelaki sepuh itu melangkah maju. Sepasang pedang tipis terselip di punggungnya. Wajahnya tegas seperti tebing yang tak pernah digoyahkan badai.

“Wu Teng,” ucapnya berat. “Kau benar-benar tak tahu malu.”

Pria muda itu terdiam. Tangannya masih menggenggam fragmen giok hitam yang kini terasa hangat.

“Apa maksud Tetua?” tanyanya lirih.

Tetua Han tertawa pendek, tanpa humor. “Semua orang di Jianghu tahu engkau satu-satunya murid yang menguasai teknik pedang terlarang itu. Bayangan Sunyi. Sekarang seluruh Sekte Cahaya Abadi musnah, dan engkau berdiri di tengah darah mereka. Apakah masih perlu penjelasan?”

Wu Teng menggertakkan gigi. “Aku tidak melakukan ini.”

“Tidak?” balas Tetua Han, suaranya naik satu nada. “Lalu siapa? Arwah leluhurmu?”

Beberapa pendekar di belakangnya mencabut senjata. Suara logam keluar dari sarung terdengar serempak, seperti nyanyian kematian.

Wu Teng bangkit perlahan. Lelaki itu menatap tubuh-tubuh di sekitarnya.

Hatinya tercabik. Ia sendiri tak mengerti mengapa tangannya berlumuran darah. Mengapa ingatannya kosong. Mengapa qi dalam tubuhnya terasa asing.

“Beri aku waktu,” ucapnya, mencoba menahan amarah dan kepanikan. “Aku akan mencari tahu kebenarannya.”

“Waktu?” Tetua Han melangkah mendekat. “Ratusan nyawa telah hilang. Ketua sektemu terbaring mati. Engkau ingin waktu?”

Pria bertubuh kekar itu menunduk. “Guru tidak mungkin kubunuh. Aku adalah muridnya.”

“Justru murid yang paling dipercayalah yang paling mudah menusuk dari belakang,” sahut Tetua Han dingin.

Angin gunung bertiup lebih kencang. Bara beterbangan. Dalam sekejap, seorang pendekar dari barisan aliansi melompat ke depan.

“Pengkhianat! Mati kau!”

Pedangnya menyabet lurus ke arah leher Wu Teng.

Tubuh Wu Teng bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Tanpa sadar, ia memutar langkah. Gerakannya ringan, nyaris tak terlihat.

Serangan itu hanya mengenai bayangan yang tertinggal sepersekian napas sebelumnya.

Pendekar penyerang terhuyung. Matanya membelalak.

“Apa—?”

Wu Teng sendiri tertegun. Teknik itu mengalir begitu alami dari tubuhnya.

Teknik Pedang Bayangan Sunyi —jurus yang selama ini hanya ia latih diam-diam, dilarang oleh sekte karena dianggap terlalu gelap dan berbahaya.

Tetua Han menyipitkan mata. “Kau lihat sendiri!” serunya kepada yang lain. “Teknik sesat itu!”

Wu Teng mundur dua langkah. “Aku tidak bermaksud menyerang—”

“Diam!” bentak Tetua Han. Lelaki sepuh itu meloncat ke depan, mendarat ringan beberapa zhang dari Wu Teng. “Hanya teknik terlarangmu yang mampu membantai sekte sebesar ini dalam satu malam!”

Seketika qi di udara berubah. Tetua Han mencabut dua pedangnya sekaligus. Kilatan perak menembus asap, membentuk lengkungan seperti sayap burung bangau.

“Aku, Han Yulian, atas nama Aliansi Delapan Sekte Besar, menjatuhkan hukuman mati kepadamu!”

Wu Teng merasakan napasnya menebal. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu menoleh ke arah jasad gurunya sekali lagi.

Hatinya berteriak ingin menjelaskan. Namun kenyataan tak memberi ruang bagi kata-kata.

Dari sudut matanya, ia melihat sesuatu.

Di pergelangan tangannya, di antara darah yang mengering, ada pola hitam aneh.

Seperti akar pohon yang merambat di bawah kulit. Garis-garis gelap itu berdenyut halus, mengikuti detak jantungnya.

“Apa ini…” bisiknya.

Belum sempat ia memahami, serangan Tetua Han tiba.

Dua pedang itu bergerak seperti kilat yang menyilang. Jurus “Awan Membelah Langit” dilepaskan tanpa ragu. Udara teriris, meninggalkan jejak tekanan yang membuat batu di lantai retak.

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 008

    Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat.Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat.Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum.Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah.Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata.Lalu ia datang.Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan.Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa.Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam t

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 007

    “Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”Wu Teng terdiam.“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragm

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 006

    Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.Ling’er tidak menjawab.“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”Ling’er berhenti sejenak.“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.Hening jatuh seperti embun.Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.Tangannya bergerak cepat.Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 005

    “Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”Ucapan itu tidak menghibur.Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan s

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 004

    Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.Yang ia cium pertama kali bukan darah.Aroma herbal.Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.Sebuah gubuk kecil.Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.Wu Teng mencoba bangkit.

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 003

    Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”Beberapa tahun silam.Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.Wu Teng menyerang.Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.“Cukup.”Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sek

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status