Share

Bab 003

last update Date de publication: 2026-02-17 16:06:43

Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.

“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”

Beberapa tahun silam.

Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.

Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.

“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.

Wu Teng menyerang.

Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.

Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.

Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.

“Cukup.”

Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sekte dari siapa pun.”

Ketua Sekte menatap muridnya lama. “Kekuatan bukan masalahnya.”

“Lalu apa?”

“Bayangan Sunyi menyatu dengan emosi terpendammu. Ia tumbuh dari kesedihan, kemarahan, dan keinginan untuk membalas. Setiap kali kau menggunakannya dengan sepenuh hati, ia akan menarik sesuatu dari jiwamu.”

Wu Teng terdiam.

“Guru meragukanku?” tanyanya pelan.

“Bukan meragukan,” sahut Liu Qingshan lembut. “Aku takut dunia ini akan memaksamu menggunakan teknik itu saat kau belum siap menanggung akibatnya.”

Wu Teng membuka mata.

Kata-kata itu kini terasa seperti ramalan.

Di dalam gua, ia mencoba duduk bersila. Meski tubuhnya memprotes, lelaki tersebut memaksa napasnya stabil.

Ia mulai mengatur aliran qi —menarik napas lewat hidung, menurunkannya ke dantian, lalu melepaskan perlahan.

Biasanya, Teknik Nafas Cahaya Abadi memancarkan sensasi hangat dan terang. Namun malam ini, yang muncul adalah gelombang dingin.

Pola hitam di pergelangan tangannya berdenyut lagi.

Wu Teng mengangkat lengannya. Garis-garis gelap itu kini menjalar lebih jauh, seperti akar yang menyusup di bawah kulit.

“Ini pasti akibat teknik itu… atau sesuatu yang lain.”

Ia mengeluarkan fragmen giok dari sakunya.

Di bawah sinar rembulan yang menyelinap masuk ke gua, giok itu tampak seperti pecahan malam pekat. Ukiran simbol di permukaannya samar-samar berkilau.

Ketika Wu Teng menyentuhnya dengan kedua tangan, hangatnya terasa berbeda.

Rasa sakit di dadanya sedikit mereda.

Lelaki bertubuh kekar itu mengernyit. “Apa kau… menyembuhkanku?”

Tiba-tiba, panas menyebar dari fragmen itu, menjalar ke seluruh tubuhnya. Dunia di sekitarnya berguncang.

Gua lenyap.

Wu Teng berdiri di dataran luas di bawah langit merah darah. Gunung-gunung runtuh. Laut terbelah.

Pedang-pedang raksasa tertancap di bumi seperti makam para dewa. Ribuan pendekar saling membantai dalam kesunyian tanpa suara.

Di tengah kehancuran itu, ia melihat sosok berdiri membelakanginya —bayangan dirinya sendiri, namun lebih tinggi, lebih gelap. Mata sosok itu memancarkan cahaya hitam.

Dunia retak seperti cermin.

Wu Teng tersentak kembali ke dalam gua. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya.

Fragmen giok itu kini berkilau redup, seolah puas.

“Penglihatan… atau peringatan?” bisiknya.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu memejamkan mata lagi, kali ini bukan untuk berlatih, melainkan untuk menahan rasa putus asa yang merayap seperti kabut.

Sekte telah hancur. Gurunya mati. Seluruh Jianghu menganggapnya pengkhianat.

Untuk sesaat, pikiran untuk menyerah muncul begitu menggoda. Ia bisa saja tetap di gua ini, membiarkan luka dan racun qi menghancurkan tubuhnya perlahan. Dunia sudah memutuskan nasibnya.

Namun suara lain muncul.

“Cari kebenaran, Wu Teng.”

Suara itu lembut namun tegas —suara gurunya pada malam terakhir.

“Jika suatu hari sekte jatuh, jangan biarkan api kebohongan menyala selamanya.”

Wu Teng membuka mata. Tatapannya kini lebih jernih.

“Aku belum selesai,” ucapnya pelan, seolah berjanji pada kegelapan itu sendiri.

Di atas jurang, suara gong tiba-tiba menggema.

DENTANG!

Suara itu berat dan panjang, membelah malam seperti pedang.

Wu Teng menegang.

Gong pengejaran. Alat khas Aliansi Delapan Sekte Besar untuk menandai perburuan tingkat tinggi. Setiap dentangnya berarti jarak semakin dekat.

Lelaki itu bangkit tertatih. Dari celah gua, ia melihat cahaya obor di puncak tebing. Bayangan orang-orang bergerak cepat.

Mereka tidak akan puas hanya dengan kabar bahwa ia melompat ke jurang.

Ia harus bergerak.

Wu Teng menelan pahit dan merayap keluar dari gua. Dengan hati-hati ia memanjat turun sepanjang dinding tebing, mencari celah dan akar yang bisa dipijak.

Beberapa kali tubuhnya hampir terlepas, namun naluri bertahan hidup membuatnya terus bergerak.

Setelah waktu yang terasa seperti setengah malam, kakinya akhirnya menyentuh dasar jurang.

Di sana mengalir sungai kecil yang berkilau di bawah rembulan. Hutan lebat mengitari aliran air, penuh suara serangga malam dan gesekan daun.

Wu Teng melangkah terseok-seok menuju sungai. Darah menetes dari luka di kakinya, meninggalkan jejak jelas di tanah lembap.

Ia berhenti.

“Anjing pelacak,” gumamnya.

Aliansi tidak hanya mengandalkan pendekar. Mereka memelihara anjing khusus, dilatih untuk mencium bau darah dan qi.

Jika ia terus berjalan di darat, ia akan tertangkap sebelum fajar.

Dengan sisa tenaga, Wu Teng turun ke sungai. Air dingin menusuk luka-lukanya, membuatnya mendesis.

Ia berjalan menyusuri aliran air, menahan napas agar tidak mengerang. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pisau.

Sambil bergerak, ia menggunakan sedikit qi yang tersisa untuk menekan aroma darah.

Teknik pernapasan sederhana untuk menyamarkan jejak —jurus yang biasa diajarkan pada murid untuk latihan berburu.

DENTANG!

Gong terdengar lagi, lebih dekat.

Wu Teng menggertakkan gigi. Dunia terasa berputar.

Fragmen giok di sakunya kembali menghangat, seperti mendorongnya agar tidak berhenti. Rasa sakitnya berkurang sedikit, cukup untuk membuatnya terus melangkah.

Setelah beberapa ratus langkah di dalam air, ia keluar di tepi hutan yang lebih rapat.

Dengan cepat ia mematahkan beberapa cabang dan menggosokkan daun-daun beraroma kuat pada pakaiannya untuk menyesatkan penciuman.

Lelaki bertubuh kekar itu berjalan beberapa puluh zhang lagi sebelum akhirnya kakinya menyerah.

Ia terjatuh di tepi sungai yang berkelok, dada naik turun tak beraturan. Rembulan menggantung tepat di atas kepalanya.

“Shifu… aku akan mencari kebenaran,” bisiknya lemah.

Pandangannya mengabur.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu tak lagi mampu menahan kesadaran. Dunia perlahan memudar, digantikan suara air mengalir yang lembut.

Namun sebelum semuanya gelap, ia mendengar sesuatu.

Langkah kaki.

Ringan. Teratur. Hampir tak menyentuh tanah.

Sepasang kaki berhenti tepat di samping tubuhnya yang tergeletak. Bayangan sosok itu memanjang di bawah sinar rembulan.

Wu Teng tak bisa melihat wajahnya.

Kesadarannya tenggelam dalam kegelapan, tepat ketika angin hutan berdesir pelan —membawa aroma bunga liar dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kehadiran seorang ahli.

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 150

    "Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 149

    Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 148

    Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 147

    Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 146

    Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 145

    Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 017

    Wu Teng berdiri di depan Ling’er. Jubahnya terkoyak oleh badai sebelumnya. Simbol samar di bawah kulit dadanya berdenyut lirih, seolah menjawab panggilan tak terlihat dari dalam gua. “Darah murni,” ulang Wu Teng pelan. “Kau menilai dari garis keturunan… atau dari hati?” Mata biru itu menyala leb

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 016

    Suara itu jelas menyebut namanya. Ia menoleh —tak ada apa pun selain putih. “Wu Teng…” Kali ini lebih dekat. Nada itu… dikenal. Suara seorang rekan sektenya. Chen Rui. Pendekar muda yang tewas malam Sekte Cahaya Abadi hancur. Wu Teng menelan ludah. Badai memutar serpihan salju menjadi bayangan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 015

    Wu Teng melepaskan kendali sedikit saja. Bukan serangan penuh. Hanya celah. Udara di ruangan mendadak berat. Lampu-lampu lentera berkelip. Hawa dingin menjalar, bertabrakan dengan panas tubuh para penjudi. Bayangan di bawah kaki Wu Teng memanjang, lalu bergetar seperti air hitam. Si Tangan Besi

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 014

    Kota Tua Wu-An menyambut mereka seperti rahang seekor binatang purba —lebar, retak-retak, dan mengandung sisa darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan oleh hujan. Salju belum turun penuh di kota itu, tetapi angin gunung sudah mengirim utusannya: dingin yang menusuk tulang dan membuat bau sung

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status