INICIAR SESIÓNWu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.
“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.” Beberapa tahun silam. Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah. Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung. “Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu. Wu Teng menyerang. Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara. Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya. Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan. “Cukup.” Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sekte dari siapa pun.” Ketua Sekte menatap muridnya lama. “Kekuatan bukan masalahnya.” “Lalu apa?” “Bayangan Sunyi menyatu dengan emosi terpendammu. Ia tumbuh dari kesedihan, kemarahan, dan keinginan untuk membalas. Setiap kali kau menggunakannya dengan sepenuh hati, ia akan menarik sesuatu dari jiwamu.” Wu Teng terdiam. “Guru meragukanku?” tanyanya pelan. “Bukan meragukan,” sahut Liu Qingshan lembut. “Aku takut dunia ini akan memaksamu menggunakan teknik itu saat kau belum siap menanggung akibatnya.” Wu Teng membuka mata. Kata-kata itu kini terasa seperti ramalan. Di dalam gua, ia mencoba duduk bersila. Meski tubuhnya memprotes, lelaki tersebut memaksa napasnya stabil. Ia mulai mengatur aliran qi —menarik napas lewat hidung, menurunkannya ke dantian, lalu melepaskan perlahan. Biasanya, Teknik Nafas Cahaya Abadi memancarkan sensasi hangat dan terang. Namun malam ini, yang muncul adalah gelombang dingin. Pola hitam di pergelangan tangannya berdenyut lagi. Wu Teng mengangkat lengannya. Garis-garis gelap itu kini menjalar lebih jauh, seperti akar yang menyusup di bawah kulit. “Ini pasti akibat teknik itu… atau sesuatu yang lain.” Ia mengeluarkan fragmen giok dari sakunya. Di bawah sinar rembulan yang menyelinap masuk ke gua, giok itu tampak seperti pecahan malam pekat. Ukiran simbol di permukaannya samar-samar berkilau. Ketika Wu Teng menyentuhnya dengan kedua tangan, hangatnya terasa berbeda. Rasa sakit di dadanya sedikit mereda. Lelaki bertubuh kekar itu mengernyit. “Apa kau… menyembuhkanku?” Tiba-tiba, panas menyebar dari fragmen itu, menjalar ke seluruh tubuhnya. Dunia di sekitarnya berguncang. Gua lenyap. Wu Teng berdiri di dataran luas di bawah langit merah darah. Gunung-gunung runtuh. Laut terbelah. Pedang-pedang raksasa tertancap di bumi seperti makam para dewa. Ribuan pendekar saling membantai dalam kesunyian tanpa suara. Di tengah kehancuran itu, ia melihat sosok berdiri membelakanginya —bayangan dirinya sendiri, namun lebih tinggi, lebih gelap. Mata sosok itu memancarkan cahaya hitam. Dunia retak seperti cermin. Wu Teng tersentak kembali ke dalam gua. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya. Fragmen giok itu kini berkilau redup, seolah puas. “Penglihatan… atau peringatan?” bisiknya. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu memejamkan mata lagi, kali ini bukan untuk berlatih, melainkan untuk menahan rasa putus asa yang merayap seperti kabut. Sekte telah hancur. Gurunya mati. Seluruh Jianghu menganggapnya pengkhianat. Untuk sesaat, pikiran untuk menyerah muncul begitu menggoda. Ia bisa saja tetap di gua ini, membiarkan luka dan racun qi menghancurkan tubuhnya perlahan. Dunia sudah memutuskan nasibnya. Namun suara lain muncul. “Cari kebenaran, Wu Teng.” Suara itu lembut namun tegas —suara gurunya pada malam terakhir. “Jika suatu hari sekte jatuh, jangan biarkan api kebohongan menyala selamanya.” Wu Teng membuka mata. Tatapannya kini lebih jernih. “Aku belum selesai,” ucapnya pelan, seolah berjanji pada kegelapan itu sendiri. Di atas jurang, suara gong tiba-tiba menggema. DENTANG! Suara itu berat dan panjang, membelah malam seperti pedang. Wu Teng menegang. Gong pengejaran. Alat khas Aliansi Delapan Sekte Besar untuk menandai perburuan tingkat tinggi. Setiap dentangnya berarti jarak semakin dekat. Lelaki itu bangkit tertatih. Dari celah gua, ia melihat cahaya obor di puncak tebing. Bayangan orang-orang bergerak cepat. Mereka tidak akan puas hanya dengan kabar bahwa ia melompat ke jurang. Ia harus bergerak. Wu Teng menelan pahit dan merayap keluar dari gua. Dengan hati-hati ia memanjat turun sepanjang dinding tebing, mencari celah dan akar yang bisa dipijak. Beberapa kali tubuhnya hampir terlepas, namun naluri bertahan hidup membuatnya terus bergerak. Setelah waktu yang terasa seperti setengah malam, kakinya akhirnya menyentuh dasar jurang. Di sana mengalir sungai kecil yang berkilau di bawah rembulan. Hutan lebat mengitari aliran air, penuh suara serangga malam dan gesekan daun. Wu Teng melangkah terseok-seok menuju sungai. Darah menetes dari luka di kakinya, meninggalkan jejak jelas di tanah lembap. Ia berhenti. “Anjing pelacak,” gumamnya. Aliansi tidak hanya mengandalkan pendekar. Mereka memelihara anjing khusus, dilatih untuk mencium bau darah dan qi. Jika ia terus berjalan di darat, ia akan tertangkap sebelum fajar. Dengan sisa tenaga, Wu Teng turun ke sungai. Air dingin menusuk luka-lukanya, membuatnya mendesis. Ia berjalan menyusuri aliran air, menahan napas agar tidak mengerang. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pisau. Sambil bergerak, ia menggunakan sedikit qi yang tersisa untuk menekan aroma darah. Teknik pernapasan sederhana untuk menyamarkan jejak —jurus yang biasa diajarkan pada murid untuk latihan berburu. DENTANG! Gong terdengar lagi, lebih dekat. Wu Teng menggertakkan gigi. Dunia terasa berputar. Fragmen giok di sakunya kembali menghangat, seperti mendorongnya agar tidak berhenti. Rasa sakitnya berkurang sedikit, cukup untuk membuatnya terus melangkah. Setelah beberapa ratus langkah di dalam air, ia keluar di tepi hutan yang lebih rapat. Dengan cepat ia mematahkan beberapa cabang dan menggosokkan daun-daun beraroma kuat pada pakaiannya untuk menyesatkan penciuman. Lelaki bertubuh kekar itu berjalan beberapa puluh zhang lagi sebelum akhirnya kakinya menyerah. Ia terjatuh di tepi sungai yang berkelok, dada naik turun tak beraturan. Rembulan menggantung tepat di atas kepalanya. “Shifu… aku akan mencari kebenaran,” bisiknya lemah. Pandangannya mengabur. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu tak lagi mampu menahan kesadaran. Dunia perlahan memudar, digantikan suara air mengalir yang lembut. Namun sebelum semuanya gelap, ia mendengar sesuatu. Langkah kaki. Ringan. Teratur. Hampir tak menyentuh tanah. Sepasang kaki berhenti tepat di samping tubuhnya yang tergeletak. Bayangan sosok itu memanjang di bawah sinar rembulan. Wu Teng tak bisa melihat wajahnya. Kesadarannya tenggelam dalam kegelapan, tepat ketika angin hutan berdesir pelan —membawa aroma bunga liar dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kehadiran seorang ahli. ***Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat.Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat.Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum.Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah.Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata.Lalu ia datang.Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan.Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa.Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam t
“Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”Wu Teng terdiam.“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragm
Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.Ling’er tidak menjawab.“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”Ling’er berhenti sejenak.“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.Hening jatuh seperti embun.Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.Tangannya bergerak cepat.Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan
“Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”Ucapan itu tidak menghibur.Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan s
Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.Yang ia cium pertama kali bukan darah.Aroma herbal.Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.Sebuah gubuk kecil.Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.Wu Teng mencoba bangkit.
Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”Beberapa tahun silam.Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.Wu Teng menyerang.Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.“Cukup.”Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sek







