แชร์

Bab 004

ผู้เขียน: Nandar Hidayat
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-17 16:07:24

Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.

Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.

Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.

Yang ia cium pertama kali bukan darah.

Aroma herbal.

Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.

Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.

Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.

Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.

Sebuah gubuk kecil.

Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.

Wu Teng mencoba bangkit.

Tubuhnya tidak patuh.

Rasa sakit datang bukan seperti gelombang, melainkan seperti jaring besi yang membungkus tulang dan meridian. Ia memaksa diri duduk, dan dunia langsung berputar.

“Jika kau bergerak lebih jauh, kau akan merobek jahitan qi yang baru kutata,” terdengar suara perempuan, lembut namun tegas.

Wu Teng menoleh cepat.

Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya. Pakaiannya sederhana —hanfu berwarna hijau pucat dengan lengan panjang yang dilipat rapi.

Rambutnya hitam legam, diikat longgar dengan pita putih. Wajahnya tidak dihiasi riasan apa pun, tetapi kulitnya bersih seperti porselen.

Sepasang matanya jernih, seolah menyimpan danau kecil di balik bulu mata.

Ling’er.

Ia memegang mangkuk tanah liat dan seikat jarum perak yang disusun di atas kain putih.

Wu Teng tidak menjawab. Tangannya tetap meraba ke sisi tempat pedangnya seharusnya berada.

Pedang Bayangan Sunyi terletak di dekat dinding, bersandar tenang.

Namun jaraknya terlalu jauh.

Pria bertubuh kekar itu mengangkat tangan, mencoba mengumpulkan qi untuk melompat dan menyambar pedang.

Energi dalam tubuhnya bergolak, tetapi tidak mengalir. Seperti sungai yang terhalang batu besar.

Ia memaksakan satu gerakan.

Tubuhnya goyah.

Dengan sisa insting, Wu Teng melontarkan tangan kiri ke arah Ling’er —bukan serangan penuh, hanya dorongan untuk menciptakan jarak.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh udara di depannya, kekuatannya lenyap.

Lelaki itu terjatuh kembali ke ranjang, napasnya tercekat.

Ling’er tidak mundur. Tidak juga panik. Ia hanya memandangnya dengan ekspresi datar.

“Jika aku ingin membunuhmu, kau tidak akan terbangun untuk mencoba menyerangku,” ujarnya tenang.

Wu Teng menatap gadis itu dengan mata penuh curiga. “Di mana aku?”

“Di gubukku. Tiga li dari dasar jurang,” jawab Ling’er sambil meletakkan mangkuk di meja kecil. “Kau pingsan di tepi sungai. Jika aku terlambat satu jam, racun di tubuhmu akan menyebar ke jantung.”

“Kenapa kau menolongku?” tanya Wu Teng singkat.

Ling’er berjalan mendekat. Aroma herbal yang melekat pada tubuhnya semakin jelas.

“Aku tabib. Menolong orang yang belum mati adalah pekerjaanku,” katanya ringan.

Wu Teng mendengus lemah. “Bahkan pengkhianat?”

Untuk pertama kalinya, alis gadis itu sedikit terangkat.

“Jadi kabar itu sudah menyebar sampai hutan terpencil ini,” gumamnya. “Dunia memang lebih cepat menyebarkan darah daripada kebenaran.”

Wu Teng terdiam.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Dalam Jianghu, terlalu banyak bicara pada orang asing sama dengan membuka leher sendiri pada pedang.

Ling’er mengangkat kain putih berisi jarum. “Aku harus melanjutkan perawatanmu.”

Wu Teng menyipitkan mata. “Jarum?”

“Jika kau ingin tetap hidup.”

Gadis itu duduk di sisi ranjang. Gerakannya anggun namun efisien, seperti seseorang yang telah melakukan hal ini ribuan kali.

“Kau tidak pernah mendengar tentang Jarum Langit?” tanyanya pelan.

Wu Teng terpaku sesaat.

Jarum Langit.

Teknik legendaris dalam dunia pengobatan kuno—konon digunakan oleh tabib istana pada masa awal Dinasti Langya.

Teknik ini menata ulang aliran qi melalui titik-titik akupunktur tertentu, bukan sekadar untuk menyembuhkan luka, tetapi untuk memperbaiki meridian yang rusak.

Teknik itu dianggap telah punah.

“Teknik itu sudah hilang selama dua ratus tahun,” ujar Wu Teng perlahan.

Ling’er tersenyum tipis. “Banyak hal yang dianggap hilang, hanya karena orang-orang berhenti mencarinya.”

Tanpa memberi kesempatan pada Wu Teng untuk membalas, ia menusukkan jarum pertama.

Jarum perak itu menembus titik Tanzhong di dada —pusat qi atas.

Wu Teng tersentak. Rasa panas menyebar, bukan seperti api yang membakar, melainkan seperti matahari kecil yang tiba-tiba terbit di dalam rongga dadanya.

Jarum kedua di titik Qimen. Jarum ketiga di Shenque. Setiap tusukan diiringi napas terukur Ling’er. Tangannya stabil. Tidak ada getaran sedikit pun.

“Qi-mu rusak parah,” ucap gadis itu, suaranya kini lebih serius. “Bukan karena benturan jatuh. Juga bukan karena tebasan pedang.”

Wu Teng menahan rasa panas yang semakin merayap ke seluruh tubuhnya. “Lalu karena apa?”

Ling’er tidak langsung menjawab. Ia menusukkan jarum ke titik di pergelangan tangan Wu Teng —tepat di dekat pola hitam yang merambat di kulitnya.

Begitu jarum menyentuh kulit, pola hitam itu berdenyut kuat.

Ling’er berhenti. Mata gadis itu menyipit. “Menarik,” gumamnya.

Rasa sakit yang sebelumnya berlapis kini seperti ditarik keluar melalui jarum-jarum itu. Wu Teng mengepalkan tangan, urat-urat di lehernya menegang.

“Jawab pertanyaanku,” desaknya.

Ling’er menatapnya lurus. “Luka ini disebabkan oleh energi yang tidak berasal dari dunia ini.”

Wu Teng terdiam.

“Jangan bermain teka-teki.”

“Aku tidak sedang bermain,” balasnya datar. “Energi ini… dingin, padat, dan membawa resonansi yang berbeda dari qi Jianghu. Ia seperti bayangan yang tidak memiliki sumber cahaya. Aku pernah membaca catatan kuno tentangnya.”

“Di mana?”

“Perpustakaan rahasia keluarga kami,” jawab Ling’er tenang. “Catatan itu menyebutnya sebagai sisa energi dari celah dimensi. Kekuatan kegelapan yang menembus batas dunia.”

Wu Teng mengingat penglihatannya di dalam gua —gunung runtuh, langit merah, dirinya berdiri sebagai bayangan yang lebih gelap.

Fragmen giok di sakunya tiba-tiba menghangat.

Ling’er langsung menoleh. “Apa yang kau sembunyikan?”

Wu Teng ragu.

Namun rasa panas itu makin kuat, seolah giok tersebut tidak menyukai disembunyikan.

Dengan perlahan, pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan fragmen hitam tersebut.

Mata Ling’er membesar. Ia mendekat, hampir tak menyentuhnya.

“Fragmen Pemutus Takdir…” bisiknya.

Wu Teng menegang. “Kau tahu benda ini?”

Ling’er tidak langsung menjawab. Ia mengamati ukiran simbol pada permukaannya, lalu menoleh ke pedang Bayangan Sunyi yang bersandar di dinding.

Matanya berpindah dari pedang ke Wu Teng. Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya retak.

“Jadi, pewaris itu benar-benar ada,” gumamnya.

“Apa maksudmu?” tanya Wu Teng tajam.

Ling’er menarik napas pelan.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 008

    Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat.Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat.Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum.Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah.Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata.Lalu ia datang.Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan.Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa.Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam t

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 007

    “Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”Wu Teng terdiam.“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragm

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 006

    Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.Ling’er tidak menjawab.“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”Ling’er berhenti sejenak.“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.Hening jatuh seperti embun.Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.Tangannya bergerak cepat.Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 005

    “Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”Ucapan itu tidak menghibur.Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan s

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 004

    Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.Yang ia cium pertama kali bukan darah.Aroma herbal.Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.Sebuah gubuk kecil.Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.Wu Teng mencoba bangkit.

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 003

    Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”Beberapa tahun silam.Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.Wu Teng menyerang.Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.“Cukup.”Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status