공유

Bab 010

last update 게시일: 2026-03-05 05:13:23

Ling’er berjalan di samping Wu Teng, sesekali menyapa pedagang lain dengan senyum sopan. “Kain hangat untuk musim dingin! Ramuan untuk sendi tua!” serunya riang, suara yang cukup meyakinkan untuk menipu bahkan angin.

Di sisi gerbang, selembar kain besar tergantung.

Wajahnya.

Poster buronan Wu Teng berkibar di dinding gerbang seperti ejekan yang tak pernah lelah.

Gambarnya dibuat cukup mirip: rahang tegas, mata tajam, jenggot lebat, tatapan yang dianggap berbahaya.

Di bawahnya tertulis: Pengkhianat Aliansi. Dalang Pembantaian Sekte Cahaya Abadi. Hadiah besar bagi yang menyerahkan hidup atau mati.

Ia menatap gambar itu sekilas.

Potret itu tampak lebih pasti daripada dirinya sendiri.

Ling’er memperhatikan dari sudut mata. “Jika kau terus menatapnya, orang akan curiga.”

Wu Teng tersenyum tipis. “Sulit tidak menatap diri sendiri ketika dunia menggambarnya sebagai monster.”

“Monster jarang membawa kain wol dan diskon dua potong satu,” bisik Ling’er.

Mereka mendekati meja pemeriksaan.

Seorang prajurit muda mengamati mereka dengan malas, memeriksa tas dan keranjang.

Di belakangnya berdiri seorang pria lebih tua, berseragam lebih rapi.

Wajahnya keras seperti batu granit yang dipahat menjadi manusia.

Kapten Zuo.

Matanya tidak mengembara seperti bawahannya. Ia mengunci satu orang pada satu waktu, seperti pemburu yang tidak berburu daging, melainkan kebohongan.

“Tujuan?” tanyanya singkat saat Wu Teng maju.

“Menjual kain dan ramuan ke desa-desa utara,” jawab Wu Teng dengan logat datar yang disengaja, lebih sederhana dari biasanya.

Kapten Zuo melirik peti di punggungnya. “Berat.”

“Kain musim dingin tak pernah ringan, Kapten.”

Tatapan mereka bertemu sekejap. Ada sesuatu di mata Zuo —bukan hanya tugas, melainkan kecerdasan yang tak suka dikhianati.

Ling’er menyela dengan senyum manis. “Kapten, jika lutut Anda sering nyeri saat malam dingin, saya punya bubuk akar salju yang sangat manjur. Cukup dua cubit ke dalam air hangat.”

Kapten Zuo tidak tersenyum. “Aku tak minum ramuan dari orang asing.”

“Sayang sekali,” kata Ling’er lembut. “Musim dingin tak pernah memihak mereka yang keras kepala.”

Wu Teng menahan diri untuk tidak tertawa.

Beberapa detik berlalu yang terasa lebih panjang dari jalur utara itu sendiri.

Akhirnya, Kapten Zuo mengangguk ke prajuritnya. “Biarkan lewat.”

Gerbang terbuka lebih lebar.

Namun Wu Teng merasakan sesuatu mengikuti mereka ketika mereka melangkah masuk. Bukan mata biasa. Mata yang mencatat.

Kota Perbatasan adalah tempat yang hidup karena ketakutan.

Lorong-lorongnya ramai, tetapi orang-orang berbicara lebih pelan dari biasanya.

Pasar dipenuhi rumor seperti lalat di atas buah matang.

Di sudut-sudut, beberapa pria berseragam hitam tanpa lambang berdiri mengawasi. Mereka bukan penjaga kota.

Ling’er merendahkan suara. “Itu orang-orang Lembaga Langit Tanpa Nama.”

Nama itu lebih mirip bisikan daripada organisasi. Namun di dunia persilatan, beberapa bisikan lebih berbahaya daripada seribu teriakan.

Lembaga Langit Tanpa Nama dikenal tidak pernah muncul dalam sejarah resmi, namun selalu hadir di momen-momen perubahan besar —perang rahasia, kudeta diam-diam, pembantaian yang disalahkan pada orang lain.

“Aliansi memperketat pengawasan,” lanjut Ling’er. “Sejak rumor tentang Pilar menyebar, mereka panik.”

Wu Teng mengerutkan alis. “Mereka takut pada kiamat, atau pada kehilangan kendali?”

Ling’er tersenyum samar. “Seringkali itu hal yang sama.”

Mereka menyewa kamar di sebuah penginapan kecil bernama Gerigi Musim Dingin.

Pemiliknya seorang pria gemuk bermata waspada. Ia menerima uang tanpa banyak tanya.

Namun malam membawa kebiasaan lamanya: pengawasan.

Wu Teng duduk di dekat jendela kamar, memandang jalanan yang mulai sepi. Salju tipis mulai turun, seperti debu yang dilupakan langit.

Rasa terhina berdesir pelan di dadanya.

Pendekar yang dulu ditantang secara terbuka kini harus menyembunyikan pedangnya dalam peti kayu dan wajahnya di balik jubah kusam.

Ia yang pernah berjalan tegak di aula sekte kini melangkah seperti tikus di lorong gelap.

“Kau membenci ini,” kata Ling’er dari balik meja, sedang meracik sesuatu di mangkuk kecil.

“Aku membenci menjadi bayangan atas namaku sendiri.”

“Bayangan berguna,” jawabnya santai. “Tanpa bayangan, cahaya terlalu mencolok.”

Wu Teng menghela napas. “Kau terdengar seperti seseorang yang menikmati permainan ini.”

Ling’er tidak langsung menjawab. Ia menaburkan bubuk putih ke dalam campuran cairan bening. “Aku menikmati bertahan hidup.”

Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu.

Tiga kali.

Wu Teng dan Ling’er bertukar pandang.

Ketukan berikutnya lebih pelan. Terukur.

“Pemeriksaan rutin,” terdengar suara dari luar.

Kapten Zuo.

Wu Teng bisa merasakan otot-ototnya menegang. Pedangnya tersembunyi, tapi wajah dan geraknya tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Ling’er berdiri duluan. “Tenang.”

Ia berjalan ke pintu dan membukanya setengah.

Kapten Zuo berdiri di sana, ditemani dua prajurit. Tatapannya tajam seperti sebelumnya.

“Aku ingin memastikan para tamu nyaman,” katanya.

“Penginapan ini cukup hangat,” balas Ling’er ramah. “Anda masuk?”

Zuo melangkah masuk tanpa menunggu jawaban.

Matanya menyapu ruangan. Peti kayu. Tas kain. Wu Teng yang duduk bersila, pura-pura menghitung kain.

“Wajahmu,” kata Zuo tiba-tiba, menatap Wu Teng. “Kau pernah ke selatan?”

“Tidak, Kapten.”

“Menarik. Banyak pedagang selatan mencoba menyamar sebagai orang utara akhir-akhir ini.”

Ling’er tertawa kecil. “Jika menyamar bisa menghangatkan musim dingin, semua orang akan melakukannya.”

Zuo mendekat ke peti kayu. Tangannya menyentuh permukaan kasar itu. “Boleh kubuka?”

Jantung Wu Teng berdentum pelan.

Ling’er melangkah cepat. “Kapten, sebelum Anda memeriksa barang dagangan kami… izinkan saya menawarkan minuman hangat. Cuaca ini kejam.”

Tanpa menunggu persetujuan, ia menuangkan cairan dari mangkuk tadi ke dalam cangkir kayu, mencampurnya dengan air panas dari ketel kecil.

Aroma lembut naik —manis, ringan.

Zuo menatapnya sejenak, lalu menerima cangkir itu.

Ia minum satu teguk.

Wu Teng memperhatikan mata Ling’er. Tidak ada senyum di sana sekarang. Hanya perhitungan.

Beberapa detik berlalu.

Kapten Zuo mengerutkan kening.

“Ini…” gumamnya.

Dunia tampak sedikit goyah di matanya.

Ling’er berbicara lembut, hampir seperti membacakan doa. “Aroma akar bulan… menenangkan pikiran. Anda pasti lelah, Kapten.”

Zuo mengedipkan mata. Ruangan seolah memanjang. Wu Teng melihat prajurit di belakangnya saling pandang, kebingungan.

Bubuk halusinogen.

Tidak mematikan. Tidak brutal.

Namun cukup untuk membuat mata paling jeli melihat apa yang ingin ia lihat.

Zuo memandang peti kayu lagi —dan tampaknya melihat isi yang berbeda. Ia tersenyum samar, sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

“Maaf mengganggu,” katanya pelan. “Istirahatlah.”

Ia berbalik, langkahnya sedikit tidak stabil. Prajuritnya mengikuti, bingung tapi patuh.

Pintu tertutup.

Wu Teng menatap Ling’er. “Kau meracuninya.”

“Meracuni adalah kata yang berat,” jawabnya tenang. “Aku hanya membantu pikirannya beristirahat dari kecurigaan.”

“Kau tampak terlalu nyaman melakukan itu.”

Ling’er menatapnya balas. “Di dunia ini, Wu Teng, moralitas sering kalah cepat dari pedang. Aku lebih memilih bubuk daripada darah.”

Hening sejenak.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 150

    "Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 149

    Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 148

    Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 147

    Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 146

    Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 145

    Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 064

    Tubuh mereka berlapis-lapis, transparan, seperti potongan momen yang ditumpuk. Wajah mereka tanpa ciri, hanya pusaran kecil di tempat mata.Penjaga Waktu.Makhluk-makhluk itu tidak menyerang dengan pedang atau sihir.Mereka mengangkat tangan, dan tiba-tiba Wu Teng meras

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 063

    “Namun kau…” bisik Bisik Ratu Es, “kau menyadari risiko dan tetap memilih jalan itu. Itu perbedaan kecil. Namun perbedaan kecil sering kali memisahkan penebus dari perusak.”Ling’er tersenyum tipis. Gadis itu tahu, ini momen keputusan.“Aku akan membantumu,” kata Ratu Es akhirny

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 062

    Wu Teng tahu, satu langkah salah, dan bukan hanya dirinya yang akan tenggelam, tetapi seluruh daratan di bawah langit yang retak. “Tempat ini bukan sekadar dingin,” gumam Ling’er, suaranya hampir tertelan angin. “Ada kesadaran di dalam salju.” Wu Teng mengangguk pela

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 057

    Pilar Ketiga masih terbenam dalam dirinya, bergetar pelan seperti lonceng jauh. Jika ia lengah, alat itu akan bersinar seperti matahari kecil.Zayan melangkah lebih dulu, memetik kecapi sederhana.Lelaki itu tersenyum lebar pada penjaga, lalu mulai menyanyi tentang gadis desa ya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status